Biru masih menguntit kemanapun Wildan pergi. Dari pulang kuliah, Biru sudah menunggu Wildan di parkiran motor dengan melakukan penyamaran agar tidak dikenali. Biru memakai jaket hitam, dan menutup wajahnya dengan helm full face. Lima belas menit berlalu dan Wildan baru berjalan menuju parkiran bersama seseorang yang asing bagi Biru. Raut wajah Wildan terlihat serius. Saat Wildan mulai menaiki motor dan perlahan mulai menjauh, Biru segera mengikuti di belakangnya. Wildan terus melaju melewati gang kecil yang banyak belokannya, membuat Biru harus hati-hati agar tidak terlihat mencurigakan. Wildan terus membawa motornya hingga terlewat jauh dari kampus, bahkan jalurnya berbeda dengan kemarin saat mereka ke markas Max dan gengnya. Ini sedikit membingungkan. Entahlah ketika pulang nanti apakah Biru masih mengingat jalannya. Wildan akhirnya berhenti di sebuah warung yang sepi pelanggan, tapi masih terlihat penjual yang melayani beberapa laki-laki dan perempuan yang berbaju serba hitam serta rambut mereka yang dicat warna-warni. Wildan pun segera masuk bersama temannya yang berpostur tinggi agak gemuk dengan rambut yang keriting. Mereka berdua juga berbaju hitam tapi tidak mengecat rambutnya. Setelah Wildan dan temannya masuk ke dalam warung, Biru masih terdiam, karena memikirkan cara supaya ia bisa masuk tanpa mencurigakan. Akhirnya ia mencopot jaketnya dan hanya memakai kaos hitam, celana hitam, topi hitam dan kacamata hitam. Lalu ia masuk seperti sudah berkali-kali ke situ. Alhasil berhasil, tak ada yang mengenali Biru. Biru duduk paling pojok agar bisa mengamati kondisi sekitar. Di dalam warung ternyata banyak sekali meja dan kursi. Sangat menipu jika hanya dilihat dari luarnya saja. Biru memesan soto dan es teh, setelah pesanan datang, ia pura-pura menyendok soto sambal matanya tetap mengekor ke sekitar. Ia terus mengawasi Wildan yang saat ini mulai gelisah saat temannya memberikan kotak hitam kepadanya. Temannya terus menatap mata Wildan dengan tajam dan beberapa kali memukul pelan bahunya. Di tepukan yang terakhir, temannya membuka telapak tangan Wildan dan meletakkkan benda itu di atas telapak tangannya, lalu temannya pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan Wildan yang susah dijelaskan ekspresinya. Wildan menghela napas berat dan memasukkan benda itu ke dalam tasnya. Lalu ia berdiri dan berjalan meninggalkan warung. Biru tersedak dengan Wildan yang tiba-tiba pergi begitu saja. ia segera mengelap bibirnya, minum satu teguk dan mengikuti Wildan. Namun, lagi-lagi ia harus banyak bersabar saat pemilik warung meneriakinya karena belum membayar. Terpaksa ia segera mengambil uang di dompet, menyerahkan, dan segera mengejar Wildan. Namun, ia sudah ketinggalan jejak. Ia berjalan tanpa henti, lalu ia memutar haluan, berpikir kalau Wildan belum jauh. Sebab, mustahil Wildan secepat itu bisa menghilang. Saat memasuki gang sempit, tiba-tiba ada yang memukul tengkuknya, hingga ia oleng dan jatuh tak sadarkan diri. Saat ia terbangun tiba-tiba sudah berada di ruangan pengap. Lalu ia berdiri dengan pusing berat. Semua pintu dan jendala tidak ada yang terbuka. Semuanya terkunci. Ia kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya. Biru berusaha mengingat-ingat kejadian sebelum ia bisa dikurung di ruang gelap seperti ini. Setahunya ia akan menguntit Wildan, lalu terus menguntitnya hingga Biru sadar bahwa ia telah dipukul oleh seseorang. Ia pun bangkit kembali dan mencari jalan keluar agar bisa secepat mungkin keluar dari tempat gelap ini. Biru mencoba membuka semua pintu dan mencari-cari celah jika ada opsi kedua jika semua pintu terkunci yaitu memukul kaca jendela dan keluar dari situ. Namun sebelum niat itu diwujudkan terdengar langkah kaki yang terburu-buru lalu membuka kunci pintu. Seorang perempuan berambut pendek serta berhem kotak-kotak berwarna coklat serta memakai celana jeans panjang hitam mendekati Biru yang mengamati perempuan itu dengan penuh tanda tanya. “Jangan takut sama gue, gue yang menyelamatkan lo dari geng Max. Untung mereka nggak sampai menangkap lo tadi. Kalau mereka sampai menangkap lo, udah almarhum lo di tangan mereka.” ujar perempuan itu. “Terus apa motif lo mau menolong gue?”tanya Biru dengan penuh selidik. Siapa tahu perempuan ini kaki tangan Max yang pura-pura menolongnya. Perempuan itu tersenyum kecut, “Sudah gue duga lo akan curiga sama gue.” Perempuan itu membuka dompetnya dan menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan foto Max sedang menampar gadis berjilbab. “Gue tahu tindak bejat yang dilakukan Max tapi gue nggak berani buat ngungkapin itu semua. Dan setelah gue tahu lo berusaha buat mengorek tentang Max, gue juga nguntit kemana lo pergi. Gue mau bantu lo buat ngungkap kebejatan Max yang selama ini udah menyiksa dan menindas wanita berjilbab. Gue juga tahu mereka geng besar yang sudah membuat sarang maksiat di balkon FIB. Ya. Memang tak mudah tapi setidaknya gue punya info yang lo belum tahu itu.” pungkasnya. Biru mengangguk, berpikir bahwa perempuan itu tidak mungkin pura-pura karena kalau dia pura-pura pasti tidak akan menjelek-jelekkan dan membocorkan kelemahan Max. “Oke, gue percaya sama lo. Sekarang lo bilang info apa aja yang gue nggak tahu tentang geng Max!” “Sebelum itu kenalin dulu nama gue.” Perempuan itu mengulurkan tangannya, Biru sedikit ragu untuk membalas uluran tangnnya, tapi akhirnya uluran itu disambut juga, sehingga mereka saling bersalaman. “Nama gue, Sania. Lo?” “Biru.” Jawab Biru dengan singkat dan saat itu pula melepas jabatan tangan mereka. “Okay, jadi langsung aja ya. Max adalah anak dari pengusaha kaya yang sangat mandiri. Dia diberi modal oleh orangtuanya untuk memiliki rumah sendiri dan memiliki usaha sendiri karena orangtuanya tidak mau Max seperti kakaknya yang autis dan hanya menghabiskan uang saja. Max dididik agar mandiri dan sukses. Namun karena Max adalah anak yang ambisius maka ia pun mampu membeli rumah dan memiliki usaha yang membuatnya semakin kaya, namun usaha itu sangat terlarang. Bisnis gelap yang tidak diketahui kedua orangtuanya yang sangat bersih dari bisnis gelap. Sebab orangtuanya nggak tahu itulah, ia semakin disayang orang tuanya karena usahanya yang dianggap berhasil dan sukses. Hingga tahun ini ia akan diresmikan sebagai penerus perusahaan ayahnya yang bercabang di Jakarata Selatan. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Ayahnya Max adalah mantan dokter yang mampu mendirikan perusahaan atas kerja kerasnya selama menjadi dokter spesialis dan ibunya yang mantan apoteker.” “Tunggu…, lo kok bisa sedetail itu mengetahui kehidupan Max?” “Gue, gue mantannya Max.” Biru sedikit terkejut akan hal itu, terlihat dari matanya yang mengerjap lalu menatap Sania, seperti memastikan sosok Sania yang baru saja mengaku sebagai mantannya Max. Apakah benar? “Terus kenapa lo tiba-tiba udah nggak sama dia lagi?” “Awalnya gue bisa nerima bisnis gelapnya, sambil gue terus berusaha untuk membujuk dia mau menghentikan bisnis gelap itu. Tapi setelah gue tahu kalau dialah yang membunuh sahabat gue, Miftah. Gue nggak bisa maafin dia. Saat itu juga gue benci dia. Tambah benci lagi saat dia bilang gak benar-benar cinta sama gue. Gue cuma dipacari dia karena gue anak orang kaya. Brengsek kan?!!”serunya dengan berapi-api yang membuat Biru prihatin melihatnya. “Dan sekarang saatnya gue balas dendam sama dia,”lanjutnya. Sania menggerakkan pandangannya ke arah Biru yang masih terdiam. Ia kemudian berdehem menetralkan emosinya. “Lo perlu berhati-hati sama Max karena dia punya massa yang banyak. Kelemahan dia cuma satu dan cukup simple. Dia takut sama kucing.” “Hah? Apa?” Biru berusaha mempertajam pendengarannya. “Yap, gue nggak bohong, dia itu benci dan paling menghindari kucing.” “Kalau begitu, mudah dong buat Max segera diringkus dengan kelemahannya yang sungguh remeh itu.” “Memang remeh tapi jangan lupakan dengan kacung-kacungnya yang masih setia dengannya,”sanggah Sania yang membuat Biru membenarkan ucapannya dalam hati. “Lalu apa rencanamu?”tanya Biru. “Lo awasi terus Max sampai dia lengah. Setelah dia lengah barulah lo bisa ringkus dia. Dia sering di markas utama. Markas utama itu pusat bagi geng Max untuk musyawah, diskusi, dan kegiatan lain yang penting dan rahasia.” “Dimana markas utamanya?” “Ikut gue, gue antar lo ke markas utamanya.” Biru pun mengikuti kemana Sania akan pergi membawanya ke markas utama Max. Sania membuka pintu mobil. “Masuk!”perintah Sania yang membuat Biru agak kesal karena sikap Sania yang membuatnya seolah-olah laki-laki manja yang harus dibukakan pintu mobil. Lagian biasanya kan yang membukakan pintu itu yang cowok bukan cewek. Namun Biru hanya menurut masuk mobil dan setelahnya Sania masuk mobil dan langsung mengemudi menembus jalanan yang saat itu lumayan lengang. Sekitar sepuluh menit berlalu dan Sania pun menghentikan mobilnya di tempat yang tidak terlihat. Sania memakai kerudung hitam dan kacamata hitam. Lalu menurunkan kaca mobil. “Lo lihat di depan sana, ada rumah cat hijau dan di halamannya banyak motor terpakir.” Sania menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah sebuah rumah yang lumayan luas tapi tidak bertingkat. Biru pun segera mengedarkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Sania. Di situlah tampak geng Max dan beberapa orang yang masih asing baginya duduk sambil membahas sesuatu. “Okey, gue turun sekarang.” “Jangan sekarang. Besok aja. Kalau sekarang lo pasti akan ketahuan.” Biru mengurungkan niatnya dan saat itu pula Sania memutar balik mobilnya. “Hari ini lo pikirkan aja dulu cara yang tepat buat mencari tahu tentang geng Max dan besok lo bisa ke sana dengan apa yang udah lo persiapkan. Kalau sekarang lo belum ada persiapan.” Biru hanya diam tanpa menanggapi. “Lo turun dimana?” “Di kampus aja.” “Seriusan? Ini udah malem lho.” “Pokoknya turunin gue di situ.” “O—ke.” Setelah turun dari mobil, Biru buru-buru ke masjid kampus dan sholat jamak magrib dan isya. Ia menjamak sholat karena tadi ia pingsan dari magrib dan baru bisa bangun pas isya. Setelah itu Biru mengganti pakaiannya dan menyamar jadi petugas kebersihan kampus. Ia berjalan membawa ember dan pel lantai lalu menuju balkon FIB. Benar saja di balkon FIB sudah ramai oleh banyak orang dengan kemilau lampu yang hanya bisa diketahui saat telah masuk ke dalamnya. “Pak, bapak ini amnesia ya? Sudah dibilang kalau malam bapak nggak usah ke sini.”hardik seorang lelaki yang tahu ada petugas kebersihan datang lagi dengan membawa ember dan pel. Hal itu sangat mengganggu pemandangan. Biru pura-pura gugup dan ketakutan, “I..iya maaf. Tadi saya lupa soalnya biasanya saya suka bersihin di sini pagi, siang, dan malam.” “Yaudah balik gih!” “I..i..ya.” Biru melirik pemandangan sekitar sebelum akhirnya pergi keluar. Biru kembali merekam setiap kegiatan yang ada di dalam tadi. Sebuah mini bar, wanita dan laki-laki yang saling minum tapi belum mabuk, beberapa adegan tak pantas juga sempat ia lihat. Pertanyaan yang selama ini belum terjawab adalah siapa dalang dari semua ini? Apakah Max? tapi kenapa Max tidak ada di sini? Kalau orang lain, siapa? Biru beranjak ke kamar mandi dan kembali menjadi dirinya. Ia memesan go car dan menunggu di gazebo dekat masjid. Selang beberapa waktu mobil datang dan Biru memastikan itu kalau go car yang dipesannya, setelah benar baru dia masuk ke dalam.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (45)
Yxztna_28
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt
semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
22/01/2022
1bagus
14/12
0mantab
21/03/2025
0Lihat Semua