Hanya malam yang mengerti bahwa aku sering gelisah tanpa sebab. Ada sesuatu yang membuat ini terasa sesak sendiri. Tapi malam ini ada alasan yang menyebabkan aku gelisah. Kejadian sore tadi saat aku kembali menemui Wildan. Hanya Wildan. Saat itu aku dibawah kendali akal sehatku, aku tarik Wildan ke balkon FIB. Aku berencana menghajarnya yang kemarin sudah kurang ajar mencium Awan. “Apa alasan kamu mencium Awan?” Dia masih diam dan dengan brengseknya berani menatapku penuh seringai di bibir. Aku merasa diremehkan. Siapa kamu sebenarnya? “Memangnya salah jika itu cuma drama?” “Itu nggak ada di skrip.” Aku berbicara penuh penekanan. “Tapi nggak ada hal buruk yang terjadi kan? terus penonton juga mengapresiasi. Toh yang setuju memilih drama sejak awal kan kamu. Kak,” Kurang ajar “Kamu mau main-main ya?” “Kenapa harus marah?” Plak Aku sudah nggak tahan dengan sikap songongnya. Dia terhuyung ke belakang sambil memegang bibirnya yang sepertinya berdarah. “Sorry aku nggak bermaksud sejauh itu.” Aku masih punya rasa bersalah saat membuat bibirnya berdarah. Tapi ini bukan karena aku nggak bisa tegas. Aku bisa tegas dan aku cuma tidak ingin dia berpikir aku jahat. Dug Kali ini aku yang terkejut karena Wildan yang memberi pukulan tepat di perutku yang demi apa ini sangat sakit. “Untuk lo kakak tingkat yang sok tahu! Gue nggak takut sama sekali sama lo. Lo itu lemah! Dan gue nggak suka sama Awan. Target gue itu lo. Ternyata insting gue bener kalian berdua ada apa-apanya. Gue akan terus buat hidup lo nggak tenang mulai saat ini sebelum lo tahu apa kesalahan lo!” Aku tertegun ternyata target dia itu justru aku. Tapi kenapa dia melakukan ini. Apa salahku? Dia pergi dan lalu berbalik mendekat, “Gue juga bukan banci. Gue cuma pura-pura.” Bgsd. Jadi ini semua sudah direncanakan. Dia sudah mengawasiku sedari awal. Siapa lo sebenarnya, Wildan? Jam sudah menunjukkan pukul satu. Aku coba melupakan peristiwa itu dan mencoba fokus menghafal An Naziat ayat satu sampai sepuluh. Tiga hari yang lalu aku udah menghafalkan An Naba dengan ayah yang senantiasa menerima setoran hafalanku. Sekarang aku merasa mulai memudarkan kekesalanku pada ayah. Aku rasa beban yang sejak SMA aku bawa mulai terangkat saat aku mulai berdamai dengan ayah. Ayah itu keren dan selamanya akan menjadi keren. Ayah selalu bikin bunda tenang saat di rumah. Jika ayah pergi bertugas dan tidak pulang ke rumah maka bunda sepanjang malam akan terjaga dan tidak menghentikan zikir yang terus ia lafazkan. Setelah berulang kali aku mengulang membaca dan menghafal kemudian menyetel alarm pukul 3 lalu mulai merebahkan diri dan mencoba memejamkan mata meski belum ngantuk. Alarm berbunyi dengan nyaring dan aku mulai terganggu dengan itu. Mataku sedikit terbuka dan tanganku berusaha menjangkau ponsel yang ada di meja. Melihat jam yang pastinya jam tiga lalu aku ingat tujuanku adalah ingin shalat malam. Lalu aku ke kamar mandi dan wudhu. Langkahku lalu ke ruang mushola. Rumah kami memang tidak bertingkat dan juga tidak luas. Alasannya biar mudah dibersihkan saja, lagian rumah ini juga tidak menyediakan pembantu. Ayah ada di ruang mushola dan dia tersenyum saat melihatku. Aku yakin ayah sudah menunggu ini lama sekali, tapi aku butuh waktu untuk bisa membiasakan diri. Aku butuh mengumpulkan niat yang kuat agar bukan sekadar karena ayah ingin tapi aku juga ingin dan ikhlas. Ayah kemudian berdiri dan mulai menjadi imam. Bunda datang dengan terburu-buru dan kami melaksanakan shalat tahajud bersama. Tahajud pertamaku bersama keluarga. Aku merasakan setiap ayat yang dibacakan ayah yang begitu indah. Aku semakin mengagumi ayah. Saat ayah membacakan surat Ar Rahman ayat satu sampai sepuluh seluruh hatiku terasa berdesir. Salam terakhir dan ayah mulai terdengar berzikir. Aku juga berzikir. Setelahnya ayah berdoa yang membuatku semakin tak kuat mendengarnya. Aku tidak menangis hanya berdesir semacam hatiku telah tersentuh atas segala doa-doanya yang begitu menyayangi keluarga dan selalu mengharapkan kebahagiaan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Sekarang aku meminta kepada Allah agar membuat keluargaku seperti ini terus. Bisa sholat bareng, makan bareng, pokoknya selalu bersama. Seharusnya nikmat kebersamaa ini aku sadari dan aku syukuri sedari dulu. Ya. Terkadang kita selalu mengeluh atas berbagai hal tapi melupakan untuk bersyukur. Padahal dengan bersyukur semakin membuat kita hidup bahagia dan berkecukupan. Dengan rasa syukur kita selalu merasa cukup dan tidak iri dengan apa yang sudah didapatkan oleh orang lain. Allah itu maha penyayang dan maha pengasih. Kalau kita masih merasa kurang dan tidak bersyukur berarti belum paham akan sifat Allah tersebut. Kalau sudah paham pasti akan bersyukur dan menjalani hidup penuh rasa syukur tanpa sifat-sifat jelek dan pikiran-pikiran buruk. Selalu positif dan melakukan segala hal untuk meraih ridho Allah. Usai zikir, aku mencium tangan ayah dan bunda lalu mencium kening Nashwa. Ayah pun melanjutkan dengan murajaah hafalannya bersama bunda, sedangkan Nashwa yang berada di pangkuan bunda terdiam mendengarkan. Aku pun mengambil Al Qur'an dan ikut memurajaah apa yang sudah kuhafal sampai subuh tiba.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (45)
Yxztna_28
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt
semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa
22/01/2022
1bagus
14/12
0mantab
21/03/2025
0Lihat Semua