logo text

Bab 11 Awan

Hari terakhir ospek yang tak kuinginkan. Aku mau bolos saja rasanya tapi aku harus datang agar bisa melunaskan cap yang dikasih BEM agar nantinya bisa mendapat sertifikat mengikuti ospek. Dari semalam aku menangis dan sekarang mataku sudah terlihat sembab. Aku benci sama Wildan. Meskipun dia sudah minta maaf dengan alasan terbawa suasana aku masih belum bisa memaafkannya.
“Nduk, udah jam setengah tujuh apa nggak telat nanti, ayo gek maem terus berangkat kuliah. Katanya masih ospek kan?”
Aku kembali menyeka air mataku dan keluar untuk sarapan.
“Kamu nangis Nduk?”
Aku diam saja.
“Yaudah ini makan yang banyak ya,”kata Mbok Inah dan langsung menyerahkan piring yang sudah berisi nasi dan rendang. Aku memakannya dalam diam. Setelah selesai aku langsung pamit dan ke halte bus. Aku yakin akan telat. Biarin aja. Aku masih menunggu bus datang hingga beberapa menit. Ini hal yang sangat menyebalkan. Setelah itu baru aku masuk bus dan sampai di kampus udah jam tujuh lewat. Ini juga gara-gara di jalan masih macet. Aku berlari ke FIB dan di sana sudah ada komisi disiplin yang mengecek peserta ospek.
“Maaf Kak saya terlambat.”
“Kenapa kamu bisa terlambat?”
“Tadi macet Kak.”
“Emang kamu berangkat jam berapa?”
“Jam tujuh kurang lima belas menit Kak,”
“Kamu ikut barisan yang melanggar sampai ospek hari ini berakhir!”
Aku langsung menuju barisan peserta yang melanggar. Aku masuk di barisan terakhir. Mungkin ini malah menguntungkan karena aku nggak akan ketemu dengan Wildan. Iya, ini lebih baik.
“Perhatian semuanya! Istirahat di tempat grakk.”
“Saya ambil alih ya, jadi setelah ini kalian menuju aula karena habis ini ada acara dari Unit Kegiatan Mahasiswa FIB. Mereka akan menampilkan kebolehan mereka di aula. Nah setelah acara nanti selesai jangan pergi dulu, karena setelahnya kalian harus meminta cap dari setiap Unit Kegiatan Mahasiswa. Mengerti?”
“Baik kak mengerti!”jawab peserta serempak.
“Kalau begitu setelah ini silakan langsung menempatkan diri di aula.”
Setelahnya kembali diambil alih komisi disiplin dan dibubarkan olehnya.
Aku dengan malas berjalan. Suasana hatiku benar-benar tidak baik. Di FIB ada beberapa unit kegiatan mahasiswa salah satunya yang menarik perhatianku adalah lembaga pers mahasiswa. Saat ini aku disodori formulir serta majalah dari lembaga pers mahasiswa ini. Aku menerimanya. Setelah itu aku nggak begitu tertarik dengan UKM lain. Hingga saatnya meminta cap di luar aula. Begitu berdesakan dan aku memilih menunggu dengan duduk di tangga aula sambil melihat keriuhan peserta ospek yang meminta cap.
Setelah sudah nggak rame aku langsung menuju stand nomor satu untuk meminta cap dan berlangsung hingga stand nomor sembilan yang terakhir. Azan zuhur sudah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu dan kini aku segera menuju masjid fakultas agar tidak terlalu memakan waktu.
Usai salat aku terpaksa berlari karena BEM sudah mengumpulkan peserta di lapangan. Aku langsung baris di belakang sendiri sesuai kelompokku yang tadi.
“Setelah ini kalian penasaran kan acaranya apa?”
“Jadi setelah ini kalian akan senang-senang dengan outbond di sini. Kami dari BEM dan mahasiswa pendamping juga akan ikut outbond ini. Alasannya karena ini hari terakhir ospek dan kami ingin mengakrabkan diri bersama kalian. O iya dan juga dari komisi disiplin juga akan ikut outbond. Mereka sekarang adalah yang memakai kaos merah marun.”
Oke, ini surprise banget kalau komisi disiplin juga ikut, dan wajah mereka, wajah mereka kini tersenyum.
“Mungkin dari komisi disiplin ingin menyampaikan sesuatu?”
“Baik saya perwakilan dari komisi disiplin ingin meminta maaf kepada kalian semua karena sikap kami selama ini mungkin sudah bikin kesel, takut, deg-deg an seperti tidak manusiawi. Terlebih dari itu kita hanya menjalankan tugas untuk mencetak kalian menjadi mahasiswa yang disiplin, berani, dan menerima konsekuensi. Jika kalian sampai sekarang masih takut maka kalahkan ketakutan itu sendiri, jika kalian tidak percaya diri maka taklukkan dia, dan jika kalian tidak suka aturan maka sukailah kedisiplinan. Terima kasih dan setelah ini mari kita bersenang-senang dan mengakrabkan diri.”
Semua bertepuk tangan dan saling bersalaman serta berpelukan. Aku masih diam melihat kebahagian serta keharuan ini. Sampai ada wanita berkerudung yang menyalamiku.
“Aku Nabila, kamu siapa?”
Ini adalah aneh ketika di hari terakhir dan baru kenalan tapi ini kenyataan karena dari tadi aku hanya diam di kelompok pelanggar aturan ini. Aku pun tersenyum dan menyalaminya.
“Awan.” Tanganku terulur akan menyalaminya.
Dengan tiba-tiba dia memelukku, aku masih terdiam kaku.
“Maaf ya tadi aku diam dan nggak menyapa kamu.”
Aku menggeleng pelan. Ini salah. Kenapa dia harus minta maaf?
Pelukan kami terlepas saat outbond sudah dimulai. Outbond yang sangat seru dan berkesan. Aku akan menyesal jika tadi memilih bolos. Momen seperti ini tidak akan muncul dua kali dan aku juga tidak akan berencana menjadi mahasiswa pendamping atau BEM yang mungkin akan merasakan momen ini lagi. Aku cukup merasakan momen ini sekali dan mengambil sesuatu darinya. Keberanian, kedisiplinan, dan percaya diri.
Usai asyar peserta ospek dikumpulkan lagi di lapangan. Setelah itu kami bersalaman dan saling memaafkan atau cukup tersenyum dan tertawa bagi mereka yang telah dibebaskan dari belenggu ospek yang menyeramkan dari komdis. Bahkan sekarang komdis sudah tersenyum dan tertawa.
Aku segera menuju halte untuk menunggu bus, tapi tiba-tiba Rita, Putri, Novi, dan Sinta ada di depanku. Aku dirangkul mereka dan dibawa ke suatu tempat. Hey, ini penculikan!
“Lo masih marah sama Wildan?” tanya Putri
Ya iyalah aku marah.
“Tadi dia nanyain lo dan kayaknya dia merasa bersalah. Tapi kalau lo mau masih marah sama Wildan ya nggak papa gue sangat mendukung.”
Terus ini kenapa aku diculik ya? Heloo?!
“Iya aku juga setuju.” Novi bilang gitu sementara Sinta hanya diam.
“Yang jadi pertanyaannnya sekarang adalah kenapa lo kayak juga musuhi kita ya?”Rita bilang dengan ekspresi ‘bukan main’. Lalu aku tatap mereka satu per satu.
“Aku nggak memusuhi kalian aku cuma benci sama kelompok 37 karena ada Wildan yang harus aku hindari. Aku muak lihat wajahnya.”
“Jadi gimana rasanya dicium sama orang yang lo benci?”Putri mencoba menggodaku tapi ini nggak lucu.
“Apaan sih.”
“Yaudah kan lo cuma benci sama Wildan, jadi kita hari ini harus merayakan pertemanan kita yang sudah terjalin selama ospek ini. Pokoknya gue nggak mau setelah ini ada yang sombong dan nggak mau gaul lagi bahkan udah lupa caranya menyapa sohibnya. Gue mau kita jadi simpul mati selamanya, best friend forever.”
Kita lalu berpelukan dan merayakan persahabatan kita secara kecil-kecilan. Kita sudah membeli es teh, cilok, dan sempolan di depan kampus. Selanjutnya kita ke gazebo kampus untuk memakannya bersama. Awalnya kita mau ke balkon gedung FIB tapi aku melarang. Ini bukan saat yang baik karena segala kemungkinan buruk pasti akan terjadi. Balkon FIB sudah berstatus merah yang harus diwaspadai.
Angin sepoi-sepoi dan kita ngakak bareng, cerita sana-sini sampai nggak terasa udah jam lima. Kita lalu pulang ke rumah dan kos masing-masing.

Komentar Buku (45)

  • avatar
    Yxztna_28

    Ceritanyaa bagussss bangeet ini masi ada lanjutannya kan thorre cepet lanjutinn ya thore sumpah ini beneer2 bagus bangeeeetttttttttttttt semangaaat ya thorrrr aku tunggu kelanjutannyaaaaa

    22/01/2022

      1
  • avatar
    M Raffi

    bagus

    14/12

      0
  • avatar
    CuakzRill

    mantab

    21/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru