Beranda/Hanya Rumahku yang Selalu Dilewati/
Bab 31 Pertengkaran
"Astaghfirulloh, menaruh racun di adonan bakwan? Mana mungkin aku melakukannya, Ma! Jangan sembarangan menuduh!" ucapku.
"Siapa yang sembarangan menuduh? Kan kamu lagi bikin ruko buat usaha salon, bisa jadi kamu menumbalkan suamimu sendiri, Dewi!" tuduh Ibu Mertua dengan begitu kejamnya.
Aku menekan dada sekuat tenaga, sesak rasanya. Jengkel dan marah bercampur jadi satu, entah bagaimana jadinya jika emosi itu tidak kutahan. Mungkin mulut Citra dan Ibu Mertua sudah babak belur.
"Benar atau tidak, Kak? Karena jaman sekarang itu lagi musim tumbal-tumbalan. Di depan sana pernah kejadian tumbal warung soto yang baru saja di bangun, setiap anak kecil yang lewat di depannya akan ketabrak mobil. Ada juga yang menumbalkan suaminya sendiri untuk melancarakan usahanya. Itu semua fakta lho, Kak. Lagian, Kakak kan dapat uang banyak secara mendadak ya, bisa jadi itu semua didapatkan dengan ilmu hitam yang menuntut tumbal! Dan Kakak memilih Mas Bambang sebagai tumbalnya. Wajar kan kalau kami menyangka demikian?" cetus Citra, ikut mengompori.
"Aku tidak pernah bermain dukun seperti kalian!" balasku setengah berteriak. "Justru kalian lah yang suka melakukan hal itu—"
"Tutup mulut kamu, Dewi! Kan Mama sudah pernah bilang, kalau Mama memang suka main dukun tapi tak pernah mengorbankan anggota keluarga sendiri!" Ibu Mertua menyela.
"Iya, Kak Dewi. Kakak juga gak enak kan barusan kami sembarangan menuduhmu? Sama, Kak, aku dan Mama juga gak enak selama ini Kakak menuduh kami berbuat jahat terhadap keluargamu!" timpal Citra.
Aku mengatur irama napas, agar bisa bicara dengan tenang dan tak salah bicara.
"Tapi semua yang kutuduhkan adalah kenyataan! Asal kalian tahu, tadi sebelum subuh aku memergoki Kirno menyiramkan sebotol air ke sekeliling rumah kayu! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" jelasku.
Citra dan Ibu Mertua mengernyit lalu saling berpandangan. Ekspresi heran dan tak mengerti tergurat di wajah mereka.
"Ngomong apa, kamu?" tanya Ibu Mertua seakan minta penjelasan, aku pun menjelaskan kembali.
"Jangan-jangan, Kirno yang menyebabkan Mas Bambang tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri! Air yang disiram itu pasti mengandung tujuan jahat, kalau tidak ... untuk apa Kirno menyirami sekeliling rumah kayu dengan air dari botol? Apalagi dia melakukannya di pagi buta, saat orang lain masih terlelap! Untung saja aku melihatnya," jawabku sinis.
Citra terperangah, dia berbisik pada Ibu Mertua. "Pantas saja tadi pas jam setengah empat subuh aku bangun, Mas Kirno gak ada di sampingku, Ma. Aku cari-cari ke penjuru rumah tetep gak ketemu."
"Masa sih, Cit? Apa jangan-jangan bener yang dikatakan si Dewi? Haduh, cari masalah saja suamimu itu. Apa yang dia lakukan itu?" respon Ibu Mertua tak mengerti.
"Gak tahu, Ma. Citra juga kaget denger penjelasan Kak Dewi ini," kata Citra.
Mereka berdua saling berbisik. Aku menajamkan pendengaran dan pelan-pelan melangkah hingga mendekat ke arah mereka, sehingga samar-samar aku dapat mendengar bisik-bisik itu.
"Kirno!" panggil Ibu Mertua.
Kirno datang dengan wajah grogi. "Ada apa, Ma?" tanyanya pada Ibu Mertua.
"Ke mana kamu pergi dini hari tadi?"
"Aku pergi ke masjid, Ma. Menggelar sajadah untuk para jamaah sholat subuh, kebetulan sajadah-sajadah itu habis dicuci. Kenapa memangnya, Ma?" tanya Kirno pura-pura tak mengerti.
Aku melihat kebohongan dalam perkataannya. Kurangajar orang ini!
"Dewi bilang, dia melihatmu menyiramkan sebotol air ke sekeliling rumah kayu? Benar itu?" tanya Ibu Mertua.
Kirno mengernyit, "apaan itu, Ma? Aku gak ngerti Mama bicara apa. Sebotol air untuk apa?"
"Jangan ngeles, Kirno! Jelas-jelas tadi aku melihatmu! Kamu juga nyebut namaku, kan!" kataku.
"Mungkin Kak Dewi salah lihat, bisa jadi itu orang lain atau jin yang menyerupai aku," jawab Kirno.
Sungguh pintar lelaki itu mengelak dan membuat alasan! Dia berbohong untuk menutupi perbuatannya! Aku benar-benar marah kali ini, karena harga diriku di pertaruhkan. Jika aku tak dapat membuktikan kebenaran ucapanku, Ibu Mertua akan mengecapku sebagai menantu tukang fitnah.
"Heh, Kirno! Akui saja perbuatanmu! Aku akan memaafkanmu sekarang juga jika kau mau mengakuinya, tapi jika kau tak mau mengaku ... sampai kapan pun aku tak akan mau memaafkanmu!" tegasku.
"Cukup!" kata Ibu Mertua. "Kamu dengar sendiri, kan, Dewi! Kirno bilang dia tak melakukannya! Kenapa sih kamu suka banget memfitnah Mama dan keluarga adik iparmu?"
"Tapi Ma—"
"Sudah, Mama tidak mau berurusan lagi dengan kamu. Sana atasi suamimu sendiri! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Bambang, kamu harus bertanggungjawab, Dewi!" kata Ibu Mertua seraya masuk ke dalam rumah. Dia menangis bercucuran air mata. "Sakit hatiku dituduh yang tidak-tidak oleh menantu miskin!" lanjutnya.
Hatiku sesak. Padahal aku berniat minta tolong, tapi malah terjadi pertengakaran di sini. Kenapa sekarang hubungan kami sering panas? Dulu, meskipun aku sering dihina tapi tak pernah sampai terjadi pertengakaran antara aku dan keluarga suamiku.
Kuusap air mata yang menetes di pipi. Sedih rasanya harus bertengkar dengan mertua dan saudara ipar, aku merasa bahwa aku bukan diriku lagi. Dulu, begitu mudahnya aku bersabar. Tetapi sekarang, aku mudah terpancing emosi. Padahal menurut nasihat ibuku, di dalam kehidupan rumahtanggaku memang akulah yang harus paling banyak bersabar agar suasana harmonis, kuncinya adalah aku. Tapi bagaimana bisa harmonis, aku pun sudah tidak bisa bersabar lagi.
Dalam keadaan hati tak karuan, aku berjalan menuju rumha dengan setengah berlari. Khawatir dengan kondisi Mas Bambang, takut jadi semakin parah karena aku meninggalkannya lumayan lama.
"Mas ... Mas ...."
Aku memanggil suamiku saat aku sudah sampai di depan pintu rumah. Namun, aku cukup kaget sekaligus bersyukur karena Mas Bambang sudah siuman. Dia bahkan membereskan oecahan oiring dan bakwan yang tumpah ke lantai.
"Mas, kamu gak apa-apa?" tanyaku, dengan cepat menghampiri dan membantu Mas Bambang membersihkan lantai.
"Gak apa-apa, Wi," jawabnya.
"Tapi tadi kamu kenapa? Aku panik banget lihat kamu tiba-tiba pingsan!"
Mas Bambang selesai membuang pecahan kaca dan bakwan, ia lalu menyapu lantai dan setelah itu mengajakku duduk di kursi.
"Mas memang sering begitu, tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Awalnya juga Mas heran, Mas berobat ke dokter tapi katanya Mas gak sakit apa-apa. Akhirnya Mas ke orang pintar, dan katanya memang ada yang tak suka dan ingin menghalangi jalan rezeki Mas karena takut tersaingi, pelakunya adalah anggkta keluarga sendiri," jelas Mas Bambang.
"Astaghfirulloh, siapa Mas?"
"Kirno. Sudah beberapa minggu ini Mas memang bermusuhan dengan Kirno, karena setelah penjualan tanah Juragan itu dia iri Mas diangkat jadi orang kepercayaan Juragan yang dapat banyak keuntungan. Apalagi setelah kamu menemukan buhul itu, Kirno semakin kesal pada kita," jawab Mas Bambang.
"Jadi, yang menyimpan buhul di rumah kayu itu juga Kirno, Mas?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (67)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus endingnya...
10/01
0krren
06/12
0bagus bgt
06/10/2025
0Lihat Semua