Mereka langsung membuka pintu rumah kontrakanku tanpa mengetuk atau mengucap salam terlebih dahulu, seperti sedang memburu seorang penjahat. Segera kuhapus semua riwayat panggilan dalam ponselku, untuk berjaga-jaga seandainya Citra dan Ibu Mertua mengecek siapa saja yang menelponku terkait uang itu. Bisa gawat jika mereka tahu. "Dewi!" teriak Ibu Mertua seraya membuka pintu kamarku. Aku tersentak kaget saat mereka berdua memasuki kamar dengan tatapan menuduh. Pelan-pelan aku mundur hingga menabrak ranjang tempat tidurku, dan berhenti. "Kak Dewi, kenapa Kakak seperti ketakutan begitu melihat kedatangan kami?" tanya Citra, menginterogasi. "Iya Dewi, kenapa kau ketakutan?" timpal Ibu Mertua. Aku diam saja dan tak mau menjawab, hanya memandangi mereka berdua sambil menebak-nebak apa yang akan mereka perbuat terhadapku. "Sepertinya, Kak Dewi merasa punya kesalahan sama kita, Ma!" ucap Citra pada Ibu Mertua. "Ya, betul sekali. Sangat terlihat jelas dari ekspresi wajah dan gerak-geriknya. Dia pasti menyembunyikan sesuatu dari kita," balas Ibu Mertua sambil tak henti memandangiku sinis. "Pasti tentang uang itu, Ma!" tebak Citra cenderung menuduh. Mereka semakin mendekat padaku, hingga aku terduduk di tepi ranjang karena tak bisa lagi melangkah mundur. "Jawab, Dewi! Kamu, kan, yang memegang uang dari suamiku itu?" tanya Ibu Mertua mendelik sinis. "U—uang apa, Ma? Aku gak tahu apa-apa soal uang itu, Ma," jawabku berbohong. "Jangan bohong deh, Kak Dewi! Kami tahu kok, uangnya ada di sini, keliatan banget Kakak nyembunyiinnya dari kami. Kembaliin uang itu sama kami, Kak. Uang itu milik kami!" kata Citra. "Ta—tapi aku memang gak tahu apa-apa soal uang itu." "Kamu ingat, beberapa minggu lalu ayah mertuamu memberimu oleh-oleh dalam paperbag? Asal kamu tahu ya Dewi, salah satu dari paperbag itu berisi uang tiga ratus juta. Suamiku itu pasti telah salah memberikan paperbag, seharusnya yang dikasihkan ke kamu itu paperbag berisi kue biskuit untuk Azfar. Tapi sepertinya tertukar, kamu malah dapat paperbag berisi uang. Iya, kan?" tebak Ibu Mertua. "Ap—apa yang Mama bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti," jawabku terbata. Ibu Mertua dan Citra saling berpandangan, lalu beralih menatapku tajam. "Percuma bertanya sama malingnya langsung, dia gak akan ngaku. Ayo kita geledah saja seisi kamar ini!" kata mereka. Sigap, mereka mulai mengobrak-abrik isi lemari tempatku biasa menyimpan paperbag itu, namun beruntung paperbagnya tidak ada di sana karena memang hilang. Sampai semua isi lemari dikeluarkan semua pun, tetap saja paperbag itu tidak ketemu. Aku yang tadinya was-was, jadi bernapas lega karena mereka tidak dapat menemukannya. "Gak ada, Ma!" Citra bicara pada Ibu Mertua. "Ayo kita geser lemari ini, siapa tahu dia nyembunyiin uangnya di belakang lemari!" kata Ibu Mertua. Mereka berdua menggeser lemari itu, namun tetap saja tak menemukan paperbag. Aku pun ikut was-was saat mereka mengecek belakang lemari itu, sambil terus bertanya-tanya di mana sebenarnya paperbag itu berada. Bisa gawat jika sampai mereka yang menemukannya terlebih dahulu. "Gak ada. Coba kita periksa ranjangnya, siapa tahu si Dewi menyembunyikannya di sana. Kamu tahu gak, jaman dulu orang-orang suka nyimpan uang di bawah kasur. Si Dewi ini kan dari kampung, pasti dia masih mengikuti cara kuno seperti itu!" ucap Ibu Mertua pada Citra, dia meledekku. "Hahaha...." Mereka berdua menertawakanku. Setelah puas tertawa, mereka langsung memeriksa ranjangku. Kasur diangkat dan sprei dilepas, tetap saja paperbag itu tak ada. Mereka lalu berpindah ke ruang tengah hingga dapur, semua isi rumahku disisir mereka namun tetap saja paperbag itu tak ditemukan. Akhirnya mereka pun menyerah. "Hah ... cape banget! Cepet katakan di mana kamu nyimpan uang itu, Dewi!" seru Ibu Mertua. "Aku gak tahu, Ma. Aku gak pegang uang itu," jawabku. Ibu Mertua mendengus. Dia lalu menggerutu. "Gimana dong ini, Cit!" ucapnya pada Citra. "Mungkin bener kata Papa, kalau paperbag verisi uang itu memang hilang," balas Citra. "Haduh, ada-ada aja papamu itu. Duit segitu banyak kok sembarangan nyimpannya sampai bisa hilang!" gerutu Ibu Mertua. "Ayo kita pulang saja!" Akhirnya, Citra dan Ibu Mertua pun pulang meninggalkan rumah kontrakanku yang berantakan. Membuatku semakin bertambah pusing karena harus membereskan semuanya. Meskipun begitu, aku bersyukur juga karena mereka tak berhasil menemukan uang itu. Kubereskan sedikit demi sedikit barang-barang yang berantakan ini. Mulai dari ruang tengah, dapur, hingga kamar. Ketika sedang membereskan lemari, perhatianku tertuju pada laci di dalam lemari itu. Tiba-tiba aku ingat, malam lalu aku memindahkan paperbag itu ke dalam laci ini. Cepat-cepat kubuka laci ini, dan benar saja uangnya ada di dalamnya! Seketika aku jatuh lemas, terduduk di lantai. Ternyata uangnya tidak hilang, tetapi karena memang aku lupa menyimpannya. Untung saja tadi Citra dan Ibu Mertua tidak membuka laci lemari ini! Tak bisa kubayangkan andai mereka menemukan uang ini, mereka pasti akan merebutnya dariku! Aku masih mengatur napas, masih dilanda easa terkejut sekaligus lega, ketika kudengar Azfar memanggil namaku sambil masuk ke dalam kamar. "Bu ... Ibu! Ayah tiba-tiba sakit, Bu. Ayah bilang dia meriang dan minta Ibu supaya datang ke rumah kayu untuk melihat keadaan Ayah," kata Azfar. Aku khawatir sekaligus teringat tentang uang yang dimiliki Mas Bambang. Dia tidak mencuri uangku, lalu dari mana dia dapat uang untuk beli motor N-Max yang mahal. "Baik, nanti Ibu ke sana. Sekarang kamu temani ayahmu dulu di rumah kayu, ya. Ibu mau ke depan dulu beli obat buat ayahmu," kataku. Azfar mengangguk lalu pergi lagi ke rumah kayu. Segera aku bangkit dan mengantongi uang itu, aku hanya menyisakan lima juta untuk bekal sehari-hari. Setelah semua siap, aku pergi ke rumah Sadeli hendak menyerahkan seluruh uangku untuk beli semua bahan bangunan dan membayar tukang untuk membangun ruko. Tak apa, lebih baik aku membayarnya lunas di awal, agar uang pemberian Ayah Mertua ini aman dan tidak diganggu Citra lagi. Aku berencana membangun ruko itu secukupnya uang yang kuberikan pada Haji Sadeli saja, tak apa-apa andai nantinya rukoku tak sebesar yang diharapkan. Yang terpenting, usahaku nanti berjalan lancar dan laris manis. * Sepulang dari Haji Sadeli, aku langsung menemui suamiku di rumah kayu. Dia sedang terbaring lemas. Dari bibirnya keluar racauan yang tak jelas, badannya juga menggil, namun saat kusentuh keningnya dengan punggung tangan, suhu badannya terasa panas. "Kamu kenapa, Mas?" tanyaku. "Gak tahu, Wi. Tadi setelah makan, tiba-tiba saja aku meriang seperti ini." Mas Bambang menjawab dengan susah payah sambil menahan sakitnya. "Aneh ya," gumamku. Aku mencoba berpikir keras, kenapa suamiku bisa begini kondisinya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh ya, Mas. Tadi waktu aku nyari barangku di kamarmu, aku menemukan buhul. Lalu kubawa buhul itu dan membakarnya." Aku coba memberitahu Mas Bambang tentang hal itu, karena aku yakin sakitnya itu ada kaitannya. Seketika mata Mas Bambang melotot saat mendengar perkataanku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus endingnya...
10/01
0krren
06/12
0bagus bgt
06/10/2025
0Lihat Semua