Bab 19 Rahasia 300 Juta

"Itu si Dewi!" seru Ibu Mertua
Aku langsung masuk ke dalam setelah mengucap salam. Mereka masih menatap kagum padaku.
"Wi, ini beneran kamu?" tanya Mpok Siti.
"Iya bener, Mpok. Ini aku, memangnya siapa lagi?" jawabku balik bertanya.
"Tadi kukira kamu Citra Kirana, Wi!" seru Bi Minah.
"Iya lho, Wi. Kamu mirip Citra Kirana kalau dandan begini!" timpal yang lain.
Aku teripu malu. Usiaku memang baru tiga puluh tahun, masih terbilang muda dan cantik jika punya modal untuk merawat diri.
Tak lama setelah aku bercengkerama dengan para tamu, Bu Tini sang tuan rumah muncul dari kamarnya, dia sedikit terperanjat saat melihat keberadaanku.
"Wah, Ibu-Ibu ... apa kita punya tetangga baru?" tanya Bu Tini setelah dia melihatku.
"Enggak kok, Bu," jawab para tamu bersamaan.
"Lalu ini siapa? Seperti artis Citra Kirana." Bu Tini keheranan sambil terus memperhatikanku.
"Ini saya Dewi, Bu," jawabku.
"Lho? Gak salah, Wi? Kamu beda banget. Saya sampai gak ngenalin kamu. Alhamdulillah kalau kamu sekarang sudah bisa tampil lebih baik."
"Ah, Bu Tini bisa aja," jawabku. "Aku hanya pakai bedak sama lipstik doang kok, tidak perlu berlebihan memujinya," balasku.
Tak lama kemudian, Bu Mulyani juga muncul dari kamar Bu Tini. Aku cukup terkejut bertemu dengan Bu Mulyani di sini, dia melempar senyum padaku. Aku pun membalas dengan senyuman. Rasanya ingin aku berpindah tempat duduk ke dekat Bu Mulyani untuk menanyakan perihal tanah, tapi Ustadzah yang hendak memberikan ceramah sudah datang.
"Lagi bahas apa ini, Ibu-Ibu?" tanya Bu Ustadzah sebelum memulai pengajian.
"Ini lho Bu, tetangga kami ada yang mirip artis," jawab Bu Tini. "Biasanya dia berpakaian 'sederhana' dan gak pernah dandan."
Bu Ustadzah otomatis melihat ke arahku seraya berkata, "kecantikan yang sebenarnya bukan terletak pada make up dan pakaian mahal, melainkan dari pancaran hati."
Mendengar penjelasan itu, aku refleks melihat ke Citra dan Ibu Mertua. Mereka tertunduk malu seakan tersindir oleh kata-kata Bu Ustadzah.
Setelah selesai menyapa kami, Bu Ustadzah memulai acara pengajian dengan membaca Al-Quran terlebih dahulu, kemudian ceramah.
Selama pengajian, tak sengaja kulihat Citra dan Ibu Mertua terus berbisik-bisik sambil mendelik padaku. Aku sudah paham apa yang tengah mereka bicarakan.
"Kita harus sabar apabila medapat hinaan, suatu saat nanti keadaan pasti berubah. Karena roda kehidupan terus berputar. Orang yang tadinya sering dihina, suatu hari nanti bisa saja menjadi yang paling mulia," jelas Bu Ustadzah di tengah-tengah ceramah.
Hatiku seketika merasa sejuk, apa yang dikatakan Bu Ustadzah terasa sangat menyentuh hatiku.
Pengajian berlangsung selama satu jam, setelahnya dilanjutkan acara makan bersama. Kami duduk membentuk lingkaran sambil menyantap jamuan dan berbincang.
Bu Mulyani menghampiriku dan saat itu juga Ibu Mertua mengajak Bu Mulyani bicara.
"Eh, Mulyani!" seru Ibu Mertua. "Tanahmu yang di belakang rumah Bambang itu buat aku aja, biar aku bayar tiga puluh juta!" lanjut Ibu Mertua ceplas-ceplos di hadapan kami. Dia sangat tak sopan sekali bicara setengah teriak begitu di rumah orang lain hingga bisa didengar oleh semua yang hadir, apalagi yang dia bicarakan adalah urusan pribadi.
Bu Mulyani langsung menoleh, namun dia hanya mendelik sinis pada Ibu Mertua.Sementara para tamu yang lain melihat ke Ibu Mertua sambil berbisik satu sama lain.
"Ya Alloh, malu-maluin banget ni mertuaku," ucapku dalam hati.
"Bu Dewi, bagaimana jual-belinya?" bisik Bu Mulyani padaku.
"Deal. Setelah pulang pengajian, langsung ke kontrakanku untuk pembayaran dan serah terima dokumennya, ya. Bu Mulyani bawa dokumennya lengkap, kan?"
"Iya, tenang saja, Bu," jawab Bu Mulyani.
Kami lanjut menyantap jamuan. Sesekali berbincang dengan yang lain. Sementara Ibu Mertua dan Citra terus mendelik padaku, sepertinya mereka juga heran tentang kedekatanku dengan Bu Mulyani.
*
Malam hari, aku pergi ke rumah Haji Sadeli–pemborong bahan bangunan–hendak menanyakan biaya yang dibutuhkan untuk membangun rumah gedong. Aku sedang memperkirakan budget-nya, apakah uangku akan cukup atau tidak. Karena tadi sore aku sudah membeli tanah dari Bu Mulyani, maka sekarang aku tinggal memikirkan biaya membangun rumahku.
" Ente punya duit berapa, memangnya?" tanya Haji Sadeli setelah aku tiba di rumahnya dan kami ngobrol di ruang tamu.
"Ada lah, Pak Haji. Pokoknya saya mau tahu berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan kalau mau bangun rumah sebesar yang saya sebutkan tadi?" jawabku, balik bertanya.
Haji Sadeli lalu membisikkan angkanya di telingaku. Aku cukup kaget mendengarnya.
"Gimana? Ada gak duitnya?" tanya Haji Sadeli. "Itu terbilang murah, karena ente beli langsung sama ane, tidak lewat perantara lagi."
Aku berpikir sejenak. Sebenarnya uang yang kumiliki saat ini cukup untuk membeli bahan bangunan seharga yang disebutkan tadi, tapi jika kubelanjakan maka uangku akan sisa sedikit.
"Kalau duitnya gak ada, mending bikin rumah yang biasa-biasa saja lah, yang murah! Buat apa ente bikin rumah gedong?" tanya Haji Sadeli saat melihatku tengah menimbang-nimbang.
"Enggak, Pak Haji. Saya tetap mau rumah gedong," jawabku.
"Jangan maksain diri. Keluargga ente kan ekonomi menengah ke bawah. Sorry nih ye, bukannya mau ngehina. Tapi rumah gedong itu cocoknya untuk orang kaya, pegawai, pengusaha. Kalau kayak ente gini mendingan yang biasa aja lah, suami ente aja kan cuma tukang sayur. Gak cocok. Bukannya apa-apa, udah banyak kejadian kok orang-orang dari kalangan rakyat jelita yang pengen gegayaan bangun rumah gedong sampai ngutang ke ane buat beli bahan bangunannya, sampai sekarang belum lunas-lunas. Ditagih susah banget! Ane gak mau ente kayak begitu, Wi. Demi bergaya dan gengsi malah menyulitkan diri sendiri! Nyusahin ane juga ngutang kagak dibayar-bayar. Noh, kayak adik ipar ente, dia masih punya utang banyak ama ane bekas bangun rumah gedongnya!" jelas Haji Sadeli panjang lebar.
Aku sangat terkejut mendengar perkataan Haji Sadeli yang terakhir itu. Dia bilang rumah gedong adik iparku ... berarti Citra, dong! Citra ngutang sama Haji Sadeli! Padahal dulu dia ngakunya rumah itu dibangun dengan uang cash, rupanya si Citra itu ngebohong. Hmm, aku tahu 'kartunya' sekarang!
"Maksud Pak Haji, adik ipar saya si Citra?" tanyaku hendak meyakinkan.
"Iya, dia! Dulu yang ngutang itu ibunya. Ya sama aja lah, mereka berdua sebelas-duabelas. Susah banget kalau ditagih, banyak gaya doang duit kagak punya!" jawab Haji Sadeli menggerutu. "Ibu mertua ente bilang akan bayar bulan ini, setelah suaminya dapat proyek tiga ratus juta rupiah. Tapi mana, kagak ada tuh sampe saat ini ane tungguin! Penipu, dasar!"
Aku terlonjak kaget mendengarnya, namun cepat-cepat kukendalikan rasa kagetku di hadapan Haji Sadeli.
Hmm, jadi uang tiga ratus juta itu adalah hasil pembayaran proyek yang dikerjakan Ayah Mertua? Dan dia malah memberikan uang itu untukku, bukan untuk Citra atau Ibu Mertua.
Bagaimana kalau Ibu Mertua tahu, ya?
"Oh iyakah, Pak Haji. Saya baru tahu masalah itu lho. Soalnya dulu Citra bilang bangun rumah itu cash. Tapi Pak Haji tenang aja, saya gak akan seperti mereka. Karena saya mau ngumpulin uangnya dulu baru nanti balik ke sini lagi," jawabku. Kemudian pamit pulang.
*
Tiba di halaman rumah kontrakanku, aku mendapati Azfar, Mas Bambang, Citra, dan Ibu Mertua tengah berdiri menantikan kedatanganku. Mereka berjajar di teras membuatku bertanya-tanya ada apa gerangan.
"DEWI!" teriak Ibu Mertua memanggilku dengan matanya yang melotot.
Deg!
Jantungku tiba-tiba tak karuan. Mereka sepertinya akan membuat perhitungan denganku.
Apakah ini tentang uang tiga ratus juta rupiah yang diberikan Ayah Mertua padaku?

Komentar Buku (67)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus endingnya...

    10/01

      0
  • avatar
    RIDWAN123MUH RIDWAN

    krren

    06/12

      0
  • avatar
    SaputraAdit

    bagus bgt

    06/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru