logo text

Bab 16 Doa yang Dikabulkan

“Astaghfirullohaladzim, Laa Ilaahaillalloh ….”
Tubuhku terguncang, jantungku rasanya mau copot! Mata ini masih membulat dan tak mau berkedip melihat penampakan di hadapanku. Isi paperbag yang berserakan itu membuatku sesak napas.
Dengan susah payah aku bangkit dari atas kasur, lalu mendekat ke arah paperbag. Sungguh hati ini masih kaget, tanganku sampai gemetaran memunguti lembaran merah uang seratusribuan yang sangat BANYAK sekali!
“Ya Alloh, benarkah semua ini adalah uang? Pantas saja paperbag besar itu sangat berat dan isinya penuh. Ternyata uang! Merah-merah semua!” ucapku dengan bibir gemetar.
Aku terus memunguti lembaran seratus ribuan ini, tanpa menghiraukan suara Citra dan Ibu Mertua yang masih saja ribut menyindirku di luar.
Kumasukkan lagi uang-uang ini ke dalam paperbag. Lalu aku membaca surat yang diberikan oleh Ayah Mertua. Ternyata dia menyelipkan sepucuk surat untukku dalam paperbag ini.
Menantuku, Dewi.
Terimalah uang tiga ratus juta rupiah ini. Ayah sengaja memberinya untukmu. Kau boleh gunakan untuk apa saja. Asal, jangan sampai orang lain tahu. Kamu harus merahasiakan tentang uang ini termasuk dari suami dan anakmu.
Kenapa Ayah mau memberimu uang sebanyak ini?
Karena Ayah tahu pengorbananmu menjadi istri anakku Bambang sangatlah berat. Kamu juga selalu dimusuhi dan dihinakan oleh ibu mertuamu dan juga Citra.
Selain itu, uang ini juga sebagai ucapan terimakasih sekaligus permintaan maaf Ayah padamu, karena Ayah yang telah menjodohkanmu dengan Bambang hingga mungkin kamu harus banyak bersabar dan berkorban untuk menjadi istrinya.
Sebenarnya, Ayah rasa uang ini belum cukup. Nanti akan Ayah tambah lagi, ya.
Salam.
Ayah mertuamu.
Seketika airmataku menetes. Entah harus sedih atau senang dengan semua ini. Aku pun masih tak percaya. Rasanya seperti mimpi. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat uang tiga ratus juta, apalagi memegangnya ….
Selama ini setiap habis sholat aku selalu berdoa minta diberi rezeki nomplok, dan hari ini doaku dikabulkan!
*
Suara orang mengaji di mesjid mulai terdengar lewat pengeras suara. Aku bangun dari tidurku, kemudian menyalakan lampu kamar. Kuperiksa kembali isi paperbag yang kusimpan dalam lemari baju. Isinya masih sama seperti semalam, yaitu uang tunai tiga ratus juta rupiah!
“Ya Alloh, ternyata semua ini bukan mimpi!” bisikku. Mataku yang tadinya masih mengantuk, jadi segar saat melihat uang ini.
Cepat-cepat kubungkus kembali paperbag dan menyimpannya ke tempat semula. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan sekaligus mengambil air wudhu. Sebentar lagi adzan Subuh berkumandang, kewajibanku menunaikan perintah-Nya.
“Betapa tenangnya hati ini sekarang. Aku memegang banyak uang di tangan,” ucapku lagi dengan pelan.
Setelah selesai sholat Subuh, aku mengintip rumah kayuku lewat jendela kamar kontrakanku. Bagaimana pun, aku tetap kepikiran suamiku. Jam segini biasanya aku menemaninya beberes sayuran, tapi kali ini dia harus melakukannya sendirian. Terlihat Mas Bambang tengah mengangkat keranjang sayur dan meletakkannya di atas boncengan motor.
Kemarin, Mas Bambang minta ikut denganku pindah ke kontrakan. Katanya, dia gak sanggup kalau kutinggalkan. Namun, aku menolak. Lebih baik dia tetap tinggal di rumah kayu, karena jika dia ikut, Ibu Mertua dan Citra pasti akan mudah memasuki kontrakanku.
“Sementara ini lebih baik kita tinggal terpisah dulu, Mas. Rasakanlah bagaimana jika tidak ada aku, selama ini aku ada di sisimu pun, kau tak pernah mau membelaku. Sekarang, kalau ada apa-apa, silakan minta tolong ke Citra atau ke ibumu—ke orang-orang yang selalu kau bela itu!” jawabku ketus, saat Mas Bambang minta ikut denganku kemarin.
Kulihat Mas Bambang menoleh ke arah kontrakanku, dan menatap lama sekali. Aku cepat-cepat menarik tubuhku dari dekat jendela. Lalu meraih paperbag dan mengambil uang sebanyak lima juta.
“Tiga juta untuk biaya masuk TK anakku, akan kusekolahkan dia di tempat yang mahal. Satu juta untuk membayar kontrakan dua bulan, dan satu juta lagi untuk berbelanja,” ucapku saat menghitung.
Jam setengah enam aku menghampiri Bu Tini yang sedang berbelanja sayur bersama Ibu-Ibu yang lain di depan rumah kayuku. Ada Ibu Mertua juga di sana.
“Bu Tini,” panggilku.
Bu Tini menoleh diikuti oleh yang lain. Termasuk Ibu Mertua, dia sangat mendelik sinis padaku.
“Ya, jadi begitulah Ibu-Ibu, ceritanya. Rumah kayu ini aku yang beli. Sengaja kuberikan pada anakku Bambang untuk tempat tinggal dia dan istrinya. Eh tapi istrinya itu gak tahu terimakasih, dia malah suka gosipin aku dan Citra pada kalian,kan?!” kata Ibu Mertua saat aku datang. “Nih, orangnya dateng. Menantuku ini selain miskin, dia juga baperan. Baru kugebrak dikit aja langsung minggat, dia merasa aku mengusirnya, padahal aku cuma nakut-nakutin aja. Eh, dia malah takut beneran! Hahaha …,” ledek Ibu Mertua sambil ketawa jahat.
Tak ada yang merespon Ibu Mertua, Ibu-Ibu yang termasuk dalam geng Pasukan Tetangga itu kembali memilih sayur.
“Aduh, Bu Tini kenapa mau nampung si Dewi, sih?” lanjut Ibu Mertua lagi, kali ini dia bicara pada Bu Tini. “Nanti dia ngerepotin Bu Tini, lho. Gimana dia bisa bayar kontrakannya? Dia kan kere! Aduh, aku gak mau tanggungjawab lho ya,” lanjutnya.
Bu Tini pun tak merespon, dia terlihat pura-pura tak mendengar.
“Bu Tini,” panggilku lagi. “Aku mau bayar kontrakan. Dua bulan dulu, ya. Karena rencananya aku mau bikin rumah gedong di sini. Jadi, bulan depannya lagi juga udah gak akan ngontrak,” kataku sambil menyerahkan uang satu juta rupiah pada Bu Tini.
“Wah, alhamdulillah kamu udah punya uang, Wi. Makasih ya, aku terima uang ini. Mudah-mudahan kamu betah di kontrakanku,” jawab Bu Tini.
Semua orang pada melongo mendengarku akan bikin rumah dan melihat aku memegang uang yang cukup banyak.
Terlebih Ibu Mertua, matanya melotot, bibirnya menganga, dia bolak-balik melihat ke uangku lalu ke wajahku. “Dewi, dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?” tanyanya dengan masih berkespresi seperti tadi.
Aku tak menjawab ibu mertuaku. Dan lebih memilih berbicara pada Ibu-Ibu yang lain. “Bu-Ibu, ayo pilih semua sayuran yang kalian mau. Hari ini aku akan traktir kalian! Tenang aja!” ucapku.
“Wah? Bener, nih, Wi? Asyiiiikkkkk!!!“ Seketika mereka bersorak. Lalu berebutaan mengambil sayuran.
“Adudududuuhhh, pusing kepalaku lihat si Dewi punya uang!” gerutu Ibu Mertua di saat yang lain sibuk memilih sayur. “Heh, Dewi, dari mana kamu punya uang sebanyak itu? Kamu mencuri uangku pasti, kan?!” lanjutnya meracau, seperti kebakaran jenggot.
Aku tak mempedulikan ocehan itu, dan langsung berbalik badan pulang ke kontrakanku.
“Hey, Ibu-Ibu. Mana mungkin si Dewi punya uang! Dia pasti sudah mencuri! Ayo Ibu-Ibu, pulang dulu ke rumah kalian, cek isi dompet dan tempat kalian nyimpan uang, siapa tahu dicuri si Dewi!” teriak Ibu Mertua.

Komentar Buku (67)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus endingnya...

    10/01

      0
  • avatar
    RIDWAN123MUH RIDWAN

    krren

    06/12

      0
  • avatar
    SaputraAdit

    bagus bgt

    06/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru