logo text

Bab 7. Fairy Race

Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Dia harus mengejar mobil di depannya.
Bukan hanya demi hadiah yang akan diterimanya jika dia memenangkan balapan kali ini, namun dia tidak ingin mengalah pada pesaingnya itu apa pun yang terjadi.
Balapan liar seperti ini sudah menjadi jalan hidupnya. Semenjak remaja dia telah tertarik dengan olahraga ekstrem yang memacu adrenalin.
Diawali dari hobinya bersepeda gunung, kini Damar menekuni balapan liar ini sebagai salah satu sumber penghasilannya sekaligus menyalurkan hobinya.
Entah yang keberapa kalinya dia menyemarakkan balapan liar di kota ini. Dia tidak ingat telah berapa kali menang, kalah atau bahkan mengalami kecelakaan akibat menekuni dunia yang penuh resiko ini.
Malam ini dia kembali turun ke lintasan balap yang merupakan jalanan umum untuk mendapatkan sejumlah hadiah yang telah disepakatinya bersama para pembalap lain.
Balapan liar tentu berbeda dengan balapan resmi. Tidak ada aturan resmi yang membatasi mereka. Hanya ada satu peraturan, yang sampai lebih dahulu di area finish dialah sang pemenang.
Damar kini menyalip mobil di depannya dengan kecepatan tinggi dan membuat mobil lawannya hampir terbentur dinding tebing. Namun itu tidak terjadi. Damar telah memperhitungkan waktu yang tepat hingga dia bisa menyalip tanpa membuat lawan mengalami celaka.
Meski tanpa regulasi yang pasti, membalap dengan penuh etika tetaplah menjadi hal yang dipegang teguh oleh para pembalap liar ini. Termasuk Damar. Dia dikenal sebagai salah satu raja jalanan di kota ini.
Tidak ada yang meragukan kemampuan membalapnya. Teknik drift-nya kerap membuat para pecinta balapan berdecak kagum. Dia pun selalu merajai lintasan setiap dia turun membalap.
Lintasan yang digunakan para pembalap liar ini merupakan jalanan umum kota yang berada di perbukitan tertinggi. Jalanannya melingkar namun landai tanpa tanjakan.
Namun ada beberapa tikungan yang cukup berbahaya. Apalagi jika cuaca tidak bersahabat seperti di kala hujan.
Damar melaju dengan kecepatan tinggi dan sesekali aksi drift-nya menjadi selingan setiap dia melewati tikungan yang cukup berbahaya. Dia hapal kondisi dan tikungan jalanan ini.
Dia telah beratus kali melalui jalanan ini. Entah itu sekadar lewat atau di saat membalap seperti ini.
Tinggal beberapa tikungan lagi dia akan tiba di finish paling pertama. Mobil lawannya tertinggal cukup jauh.
Jarak yang cukup aman baginya. Bisa dipastikan kali ini pun dia kembali memenangkan balapan ini.
Namun, tiba-tiba Damar melihat dari spion mobilnya, sebuah mobil berwarna putih melaju kencang di belakangnya. Mobil itu menyusulnya dengan kecepatan tinggi.
"Hei, siapa dia? Aku tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya? Apakah dia peserta balapan?" Gumam Damar dalam hatinya.
Damar pun memacu mobilnya lebih cepat. Dia tidak ingin tersalip mobil putih di belakangnya.
Siapa pun pengemudi mobil itu jika dia tiba terlebih dahulu maka itu akan menodai reputasinya. Dan Damar enggan jika harus kalah oleh pebalap yang tak dikenalnya.
Satu tikungan lagi, garis finish ada di depannya. Damar membanting stir untuk menghalangi laju mobil putih dan membuat pengemudinya memperlambat laju mobilnya.
Aksi drift-nya sukses membuat mobil putih itu memperlambat laju mobilnya. Rupanya sang pengemudi memilih untuk menghindari benturan dengan mobilnya.
Damar tersenyum, saat melihat mobil itu kembali tertinggal di belakangnya. Tinggal beberapa meter lagi dia akan tiba di garis finish. Nampak beberapa rekan, atau pun penikmat balap liar telah berkerumun di area finish.
Tiba-tiba mobil putih itu kembali melaju kencang menyusulnya. Damar terkejut saat melihatnya di kaca spion. Dia pun kembali memacu mobilnya.
Mobil putih itu melaju dengan kecepatan tinggi dan menyalipnya tepat sesaat sebelum garis finish. Namun mobil itu tetap melaju tanpa berhenti. Dia mengabaikan sorak sorai para penonton di pinggir jalanan.
Damar menghentikan mobilnya di area finish. Dia disambut beberapa temannya. Pembalap lain menyusulnya finish di belakangnya. Mereka pun kembali berkerumun.
"Siapa pengemudi mobil putih itu?" Tanya Damar pada kerumunan itu.
"Entahlah. Bagaimana ini? Seharusnya dialah pemenangnya?" Seorang gadis menjawabnya.
"Bagaimana bisa begitu? Dia kan bukan peserta lomba?" Yang lain menyahut dengan kesal.
"Tetap saja Damar pemenangnya!" Seru sebagian besar para pebalap itu.
Damar hanya tersenyum. Baginya bukan masalah hadiahnya. Tapi dia ingin tahu siapa pengemudi mobil itu?
Selintas dia hanya melihat rambut berwarna pink yang tertiup angin dari kaca spionnya. Bisa dipastikan dia seorang wanita.
"Damar ini hadiahmu. Abaikan mobil putih tadi. Aku rasa dia hanya kebetulan lewat saja dan dalam kondisi darurat."
Salah satu pembalap liar menepuk bahunya dan memberikan amplop coklat serta sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik.
"Apa ini?" Damar menimang kotak kado dengan heran.
Biasanya hadiah lomba berupa uang atau benda yang mereka pertaruhkan. Entah mobil, motor bahkan pernah ada yang mempertaruhkan tempat usaha mereka. Terkadang keributan pun tak terelakkan jika ada pihak yang ingkar janji atau pun tidak puas dengan hasil lomba.
"Entahlah. Zura yang menyiapkannya." Pembalap tadi mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Damar berikan saja kado hadiah itu untuk pacarmu." Seorang gadis mengusulkan.
Para gadis tertawa mendengarnya. Siapapun tahu jika Damar memiliki banyak gadis. Dan tentunya dia tidak bisa memberikan kado hadiah tadi pada salah satu gadisnya.
"Aku sarankan simpan hadiah itu hingga kau menemukan wanita yang benar-benar kau cintai."
Gadis berambut sebahu yang dari tadi diam menepuk bahu Damar dan kemudian pergi meninggalkannya.
Damar tertegun mendengar ucapan gadis itu. Cinta? Apa ada wanita yang bisa dia cintai dengan tulus? Damar menatap kotak hadiah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebaiknya kotak ini kuberikan pada pengemudi mobil putih tadi." Putus Damar setelah bimbang beberapa saat.
Para gadis yang mendengar ucapan Damar tertawa. Mereka cekikikan dan menggelengkan kepala dengan kocak.
"Semoga saja pengemudi itu seorang gadis. Kalau cowok memang kamu mau Mar dibilang jeruk makan jeruk." Tawa mereka menggodanya lagi.
Damar hanya tersenyum mendengarnya. Ditimangnya kotak itu dengan hati-hati.
"Oke, aku pulang dulu. Aku mau mencari tahu siapa pengemudi mobil putih tadi." Damar membuka pintu mobilnya bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
"Mar, aku rasa mobil putih tadi dikendarai fairy race." Tiba-tiba salah seoran pebalap berteriak padanya.
Damar turun dari mobil dan mendekati pebalap yang berteriak tadi.
"Fairy race? Siapa dia? Hantu?" Tanyanya dengan bingung.
"Bukan. Itu seperti urban legend di sini. Sepuluh tahun lalu ada pengemudi mobil yang selalu mengalahkan para pembalap di sini. Namun dia tidak pernah berhenti di area finish. Seperti tadi." Ungkap seorang pebalap padanya.
Damar terhenyak mendengarnya. Sepuluh tahun lalu dia belum tinggal di kota ini, wajar saja jika dia tidak mengetahui kisah itu.
"Apakah dia seorang wanita?" Tanyanya lagi pada mereka.
"Sepertinya. Karena ada salah seorang pembalap yang pernah melihatnya sekilas. Dia berambut panjang dan rambutnya di cat dengan warna mencolok." Seorang gadis menimpali cerita rekannya.
"Baiklah. Sudah kuputuskan. Kado ini akan kuberikan pada fairy race." Damar tersenyum,
kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Bro, aku tinggal dulu! Sepertinya aku harus mengejar fairy race tadi!" Serunya sebelum melajukan mobilnya dan pergi.
"Gila kau Mar!" Para pembalap itu hanya bisa meneriakinya. Dan kerumunan pun bubar.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    LOHZIKRUL

    ok menarik

    01/01

      0
  • avatar
    Indah Hapsary

    bagus

    20/12

      0
  • avatar
    TalitaJihan

    ceritanya sangat bguss

    18/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru