Beranda/Secangkir Kopi Panas/
Bab 32. Para Wanita
Beberapa hari berlalu tanpa ada yang mengungkit masalah yang sempat membuat Wijaya Sasongko meradang. Dia tidak ingin putranya, meskipun hanya seorang putra yang lahir di luar pernikahan, berhubungan dengan putri dari keluarga Hutama.
Bukan tanpa alasan Wijaya bersikap demikian. Sebagai seorang usahawan dia tidak menutup matanya hanya untuk harta. Dia tidak ingin berlaku ceroboh meskipun keluarga Hutama dari sisi manapun akan sangat cocok berpasangan dengan keluarga Sasongko.
Wijaya tidak menginginkan sebuah hubungan yang bersifat sementara. Hubungannya dengan Aryo Hutama memiliki fase panas dingin yang tidak menentu. Adakalanya mereka berseberangan dan ada saat mereka bergandengan tangan.
Sebuah hubungan yang sangat riskan untuk menjalin kekerabatan apalagi dengan pernikahan putra-putri mereka. Jika Damar dibesarkan di tengah-tengah keluarga Sasongko seperti putra-putrinya yang lain, dia tidak akan sekhawatir itu. Putra-putrinya dididik untuk memahami posisi dan status mereka.
Sedangkan Damar sedari kecil di asuh oleh ibu kandungnya dan lebih dekat dengan Irawan, putra bungsu keluarga Sasongko yang di cap anak pemberontak semasa mudanya. Membuat Damar tidak memiliki karakter selayaknya keluarga Sasongko yang lain.
Damar cenderung introvert dan bebas dalam menjalani hidupnya. Dia tidak memiliki keinginan untuk berbaur dalam lingkaran sosial yang sama dengan saudara-saudaranya dan memilih untuk tenggelam dalam dunianya sendiri.
Hanya Irawan dan Marco sosok yang menghubungkannya dengan lingkaran sosial yang hampir tidak pernah dimasukinya. Keluarga Sasongko yang lain tidak pernah mempedulikannya. Terutama Djenar dan putra-putrinya. Ibu dan saudara-saudara tirinya selalu menganggapnya tidak layak menjadi bagian dari kehidupan mereka.
"Ada yang tidak benar diantara mereka," Djenar bergumam.
Wanita cantik itu bersedekap tangan, menatap pemandangan di luar jendela ruangan yang cukup luas. Dia tengah berbincang-bincang dengan suaminya, Wijaya Sasongko, adik iparnya dan Marco de luca.
Akhir-akhir ini Djenar dipusingkan dengan ulah putra tirinya. Cukup lama semenjak terakhir dia harus beradu argumentasi dan bahkan hampir berpisah dengan sang suami, putra di luar pernikahan sang suami kembali menaburkan duri dalam kehidupannya.
"Siapa yang kau maksud?" Wijaya Sasongko, pria setengah baya yang masih terlihat gagah dan tampan, menanggapinya dengan tenang.
Dinyalakannya rokok di tangannya. Perlahan dihisapnya rokok itu dan menghembuskan asapnya kembali. Meski terlihat tenang dan santai, namun tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang dipikirkannya.
"Putramu dan Semira," kali ini nada bicara Djenar terdengar tegas.
Cukup membuat ketiga pria yang tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, memperhatikan ucapannya.
"Jangan asal bicara, Djenar. Itu tidak mungkin!" Wijaya menanggapinya dengan ucapan yang lebih terdengar seperti teguran.
"Aku tidak asal berbicara, Jay. Kalau kau ada di sana saat itu, kau pun akan berpikiran yang sama denganku," bantah Djenar tak kalah tegas.
"Aku rasa tidak seperti itu. Kedekatan mereka wajar saja," Irawan menengahi keduanya.
"Wajar? Apa menurutmu itu wajar? Kamu lihat sendiri bagaimana keponakan kesayanganmu itu memanggil dan berbicara pada Semira," Djenar terdengar kesal dengan tanggapan adik iparnya itu.
"Itu bukan percakapan antara seorang yang lebih muda dengan orang yang sepatutnya dihormatinya. Mereka berbicara seperti sepasang kekasih," Djenar kembali berargumen.
Irawan dan Marco saling berpandangan mendengar ucapan Djenar. Marco menghela napas kesal. Dia tidak pernah bisa memahami jalan pikiran Djenar yang menurutnya berlebihan. Apapun itu jika mengenai Damar, bisa membuatnya bak kebakaran jenggot.
"Djenar, seandainya ada sesuatu diantara mereka itu tidak akan merugikanmu bukan?" Marco membalas argumen Djenar dengan sinis dan tanpa basa-basi.
Djenar menoleh dan mengalihkan tatapannya dari jendela. Ditatapnya Marco dengan tajam. Jelas tersirat kemarahan di mata wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir mendekati setengah abad itu.
"Sudah pasti itu akan merugikanku juga anak-anakku, Signor," sarkasnya membalas ucapan Marco tadi.
"Apa kerugianmu? Apa hanya itu yang ada diotakmu? Tidakkah kau lebih memikirkan hal lain jika benar Damar dan Semira memiliki hubungan yang tidak selayaknya?" Irawan tiba-tiba menyela dengan keras.
Pria itu berdiri dan menghampiri kakak iparnya yang terkejut dengan sikapnya yang tidak seperti biasanya. Irawan jarang ikut campur urusan keluarga kakaknya.
"Tentu saja hanya itu yang aku kupikirkan. Sedari kelahirannya dia sudah merugikan posisiku dan anak-anakku. Aku tidak mau dia berdiri sejajar dengan putra-putriku, karena dia memang tidak pantas dan layak!" Djenar setengah berteriak.
"Cukup! Tidak ada gunanya kalian berdebat. Aku akan membicarakan ini dengan Semira. Dan kau Djenar, jangan ikut campur urusan ini!" Wijaya yang sedari tadi diam menyela perdebatan ketiganya.
"Kamu selalu melindungi perempuan murahan itu, Mas!" Sebuah suara mengejutkan mereka berempat. Sontak mereka menoleh kearah sumber suara.
Seorang wanita cantik berdiri di ambang pintu. Dia kini berjalan ke arah mereka dengan anggun.
"Kanaya? Kapan kau kembali?" Djenar membelalakkan mata seperti tidak percaya.
"Kenapa? Kau terkejut melihatku kembali, kakak ipar?" Senyum sinis mengembang di bibir Kanaya Sasongko.
"Kay, jangan memperkeruh keadaan. Bagus kamu bisa kembali ke Indonesia. Aku harap kamu mengerti posisimu sekarang!"
Wijaya Sasongko bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Kanaya, wanita yang baru saja tiba di ruangan itu yang tidak lain adalah adik perempuan satu-satunya.
"Mengerti posisiku? Jangan bercanda mas. Aku Kanaya, putri tunggal keluarga Sasongko, siapapun tahu posisiku," Kanaya berdecak kesal.
"Nama Sasongko di belakang namamu tidak bisa menjamin hidupmu selamanya! Seandainya ibu tidak menjatuhkan harga dirinya dengan memohon pada Semira apa kamu pikir kamu masih bisa menghirup udara bebas? Kamu pikir kamu bisa mengalahkan Semira Sanjaya hanya dengan mengandalkan keluarga Sasongko? Kamu hampir membuat keluarga Sasongko kehilangan separuh asetnya!"
Wijaya berbicara dengan cukup tegas di depan adik perempuan satu-satunya itu. Semua ucapannya tidak hanya membuat sang adik terkejut. Bahkan Djenarpun setengah tidak mempercayai ucapan Wijaya.
Hanya Irawan dan Marco yang memahami kebenaran ucapan Wijaya. Adik dan sahabat karibnya itu sangat jelas dengan semua hal yang membelit keluarga Sasongko hanya karena ulah putri tunggal mereka.
"Jangan mengada-ada mas. Aku tahu kamu hanya menggertakku," Kanaya masih bersikukuh dengan pendapatnya.
"Silakan kalau kamu tidak percaya! Coba saja kamu mengganggu Semira lagi, aku sendiri yang akan memastikanmu menanggung resikonya! Aku pastikan kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga Sasongko lagi," Wijaya terlihat serius dan tidak main-main dengan ucapannya.
"Jaga sikapmu! Begitupun denganmu, Djenar." Sambung Wijaya dengan tegas.
Kanaya dan Djenar saling bertukar pandang dengan gugup. Kedua wanita yang tidak bisa dikatakan cukup dekat namun juga tidak berseteru itu sepertinya masih belum sepenuhnya memahami ucapan Wijaya.
"Kay dan Mbak Djenar tolong jangan membuat situasi semakin tidak terkendali. Jika kalian berdua memperumit keadaan jangan salahkan Mas Jay, Ibu ataupun aku mengambil tindakan tegas. Camkan itu!" Irawan turut mempertegas ucapan sang kakak.
"Sudahlah! Wan, Marc ayo kita keluar sebentar. Aku pusing dengan dua wanita ini," Wijaya mengajak kedua pria itu meninggalkan kedua wanita yang masih terpaku itu.
"Puas kamu! Kalau kamu berulah lagi dan membuat Mas Jay serta putra-putriku iku menanggung akibatnya, aku pastikan kamu tidak akan tenang selama sisa hidupmu!"
Djenar turut meninggalkan ruangan setelah mengucapkan ancaman yang bisa dikatakan tidak main-main. Kanaya menatap mereka hingga mereka menghilang di balik pintu keluar.
Kedua tangannya tergenggam dengan erat. Seakan-akan kuku-kuku jari tangannya yang tajam menggali daging telapak tangannya.
Wajah cantiknya tak lagi menunjukkan pesona seorang wanita yang menggoda hasrat para pria. Kini hanya ada amarah, kecewa dan kebencian yang mendistorsi wajah cantik nan rupawan Kanaya Sasongko.
Wajah cantik yang membuat Panji Wardhana lebih memilihnya dan meninggalkan Semira, istri yang telah menemaninya dalam suka duka. Wajah cantik yang membuat Panji melupakan putri tunggalnya hingga kini.
Begitulah wanita, dengan kecantikan dan kemolekannya terkadang merusak sebuah tatanan hingga perasaan. Kanaya Sasongko tidak sendiri. Djenar Sasongko pun berada dalam situasi yang sama. Pun Semira dan Betari, ibu kandung Damar.
Mereka berempat, para wanita dengan kecantikan, kecerdasan dan kelebihan masing-masing, yang membuat prahara tanpa mereka menyadarinya. Menempatkan pasangan, keluarga dan bahkan karir mereka dalam situasi yang tidak menyenangkan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ok menarik
01/01
0bagus
20/12
0ceritanya sangat bguss
18/03/2025
0Lihat Semua