logo text

Bab 12. Jatuh Cintalah

Lomba masih berlangsung dengan seru. Irawan memperhatikan anak-anak asuhannya yang ikut bertanding. Tim mereka, Black Lotus, memiliki reputasi yang baik di kalangan pehobi Mountain Bike.
"Damar masih yang paling menonjol ya Wan," Marco yang berada di sebelahnya berkomentar.
"Benar. Bocah itu memiliki bakat alami ditambah dengan nyalinya yang besar membuatnya tidak pernah ragu beratraksi di setiap lomba," Irawan tersenyum bangga.
Damar salah satu anggota timnya yang memiliki performance stabil. Meski sering bersikap seenaknya sendiri, dalam hal ini dia sangat berdisiplin.
Hampir tiada hari tanpa latihan. Dia juga rajin menjaga kondisi badannya. Damar tidak pernah memprotes program tim seperti latihan, diet dan juga beberapa treatment lain yang bisa mendukung performance mereka.
Hanya di akhir pekan dia bersantai. Salah satunya dengan mengikuti balapan liar di kota. Irawan tidak bisa melarangnya meski berkali-kali memperingatkannya akan resikonya.
Bukan hanya resiko kecelakaan namun juga berurusan dengan pihak berwajib. Sekali pun balapan liar ini tidak meresahkan warga kota selayaknya geng motor namun tetap saja itu melanggar hukum. Setidaknya mereka telah menyalahgunakan fasilitas yang sedianya untuk umum.
Jika hingga kini tidak ada campur tangan pihak berwajib itu dikarenakan tidak ada laporan dari warga kota yang mengeluhkan balapan liar ini. Bahkan sudah menjadi rahasia umum di kota kecil ini jika balapan liar ini di sponsori kaum kaya dan ekspatriat kota ini.
Damar bukan hanya dikenal sebagai anggota tim Black Lotus Mountain Bike, tapi juga Black Lotus Race. Irawan dan Marco lah yang menyeponsori tim itu.
Dua pria itu selalu mendukung Damar dengan sepenuh hati. Apa pun yang dibutuhkannya mereka selalu memenuhinya.
Meski menyadari hak istimewanya, Damar tidak pernah bertingkah. Dia selalu bersikap acuh tak acuh. Kadang justru bersikap seenaknya sendiri.
Lomba kali ini diadakan di luar kota. Di salah satu kawasan wisata yang cukup populer. Tidak heran jika antusiasme pengunjung cukup tinggi.
Meski Mountain Bike bukanlah olahraga yang populer seperti sepakbola dan bulutangkis, namun olahraga ekstrem ini memiliki cukup banyak penggemar setia. Terbukti dengan banyaknya penonton yang menyaksikan lomba ini dan juga banyak tim yang ikut bertanding.
Lomba usai menjelang sore hari. Tim mereka kembali memenangkan beberapa kategori. Prestasi yang cukup membanggakan bagi mereka.
Irawan dan Marco terlihat sangat puas dengan hasil yang diperoleh tim mereka. Marco bahkan mengadakan pesta kecil-kecilan di villa miliknya.
Karena di akhir pekan, pihak sponsor menyediakan villa untuk beristirahat melepaskan penat setelah pertandingan. Semestinya mereka tidak perlu menginap karena jarak lokasi lomba hanyalah satu jam perjalanan dari kota.
Namun menurut Marco tidak ada salahnya mereka sesekali berlibur di kawasan wisata ini. Karena itu dia meminta Irawan untuk menyiapkan salah satu villa miliknya untuk mereka menginap.
Malam itu mereka mengadakan acara barbeque. Sambil mengobrol mereka menikmati makanan dan suasana pegunungan yang indah di malam hari.
Damar mencari sosok Semira di antara beberapa orang dari pihak sponsor yang hadir. Namun wanita itu tidak nampak batang hidungnya sedari tadi.
Bahkan pesannya dari semalam pun tidak dibalas. Terkadang wanita itu seperti menguji kesabarannya. Dia sering mengabaikan pesannya dan membuatnya menunggu. Namun hal ini tidak membuatnya kesal apalagi marah. Dia mengerti kesibukan Semira.
Damar melamun menatap pemandanga kota wisata itu di malam hari. Sangat indah di hiasi kelap-kelip lampu villa yang berjajar di atas bukit hingga ke bawah.
Tiba-tiba dia teringat malam saat dia mencium Semira. Suasananya mirip dengan malam ini.
"Aih kenapa aku ingat dia terus?" Keluhnya dalam hati.
Damar tidak pernah mengerti arti merindu. Jika dia merasa sepi dan membutuhkan seseorang dia akan menghubungi gadis atau wanita mana saja yang bisa dihubunginya.
Dia tidak pernah memberikan label spesial pada para wanita itu. Jika satu menolaknya maka dia akan berpindah ke yang lain.
Namun kali ini dia sungguh mengingat dan menginginkan Semira. Dia menginginkan aroma wanginya, pelukannya dan sikap cerianya.
Damar mengeluarkan smartphone-nya dari sakunya. Berharap wanita itu telah membalas pesannya. Namun hanya tanda terbaca saja yang tertera di layar gawainya.
Damar mendesah pelan. Dia ingin mengirimkan pesan lagi tapi tidak ingin mengganggu wanita itu.
"Mar, sendirian?" Seseorang menyapa dan menepuk bahunya.
Damar terlonjak dan menoleh. Marco berdiri di belakangnya dengan membawa dua cangkir minuman. Disodorkannya cangkir itu pada Damar.
"Eh, Om Marco. Bikin kaget saja," Damar nyengir dan menerima cangkir yang disodorkan pria Italia itu.
"Kenapa menyendiri di sini? Ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya pria itu penuh selidik.
"Nggak kok Om. Sedang ingin sendiri saja. Om sendiri kenapa kemari?" Damar balik bertanya.
"Om lihat kamu melamun sendiri di sini jadi om putuskan untuk temani kamu," Marco tersenyum dan duduk di kursi kayu yang tersedia di situ.
Damar mengikutinya duduk di kursi kayu di hadapannya.
"Kadang-kadang aku ingin menyendiri Om. Pernahkah Om merasa bosan dengan semua rutinitas keseharian yang Om jalani?" Damar bertanya dengan serius pada pria seumuran ayahnya itu.
"Pasti ada rasa bosan, Mar. Tapi harus di jalani. Terkadang kita memang membutuhkan sesuatu yang bisa membangkitkan semangat kita lagi. Kenapa? Apa kamu bosan membalap?" Marco berbicara cukup panjang.
"Nggak Om. Bukan itu. Aku hanya merasa hidupku membosankan. Terkadang merasa sepi dan sendirian. Seperti tidak ada tujuan dan harapan yang ingin aku raih Om. Hambar itu saja," Damar menerawang jauh saat mengucapkan semua itu.
"Mar, cobalah untuk belajar mencintai seseorang dalam hidupmu. Dengan begitu ada banyak hal yang ingin kau lakukan dan membuat hidupmu lebih berwarna," nasihat Marco padanya.
Damar tertawa hambar. Mungkin benar yang dikatakan Marco. Dia membutuhkan cinta dalam hidupnya. Namun permasalahannya dia tidak perrnah bisa membedakan perasaannya setiap dekat dengan seorang wanita.
Apakah dia jatuh cinta, tertarik saja, penasaran atau hanya tertantang untuk mendapatkan seorang wanita. Semua perasaan menggebu di awal berdekatan dengan seseorang lambat laun akan menguap dan semakin lama menghilang tanpa sisa.
"Om dulu juga sepertimu. Hidup hanya bekerja dan bekerja. Hingga suatu saat Om bertemu dengan seseorang yang membuat hidup Om berubah," sambung Marco.
"Siapa orang itu Om?" Damar bertanya menggoda.
"Ada. Suatu saat nanti kamu akan tahu siapa orang itu," Marco tertawa menanggapi godaan Damar.
"Oh iya Om. Biasanya Ibu Semira ikut di acara seperti ini. Kali ini dia tidak ikut. Kemana dia?" Damar bertanya dengan kesan sambil lalu saja.
"Dia sibuk menulis. Dia seorang novelis yang bagus," Marco menjawab pertanyaannya dengan santai.
Damar hanya ber-oh saja. Dia baru tahu ternyata Semira seorang penulis.
Tiba-tiba Damar merasakan getaran di saku celananya. Di ambilnya gawainya.
"Sudahlah. Om mau istirahat dulu. Kamu jangan terlalu lama di luar, nanti masuk angin. Dan jangan lupa Mar, jatuh cintalah biar hidupmu tidak hambar lagi," Marco berpamitan sambil tidak lupa mengingatkannya untuk jatuh cinta dengan gaya bercandanya.
Damar hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan pria itu pergi.
[Maaf baru sempat balas pesanmu. Bagaimana lombanya hari ini]
Pesan dari Semira tertera di layar gawainya saat Damar menyentuh benda pipih itu.
[Tak apa. Menang dong. Kamu sedang apa]
Dibalasnya pesan itu sesegera mungkin.
[Mau bobok. Kamu belum bobok?]
Balasan dari Semira cukup cepat dari biasanya.
[Nggak bisa bobok. Ingat kamu]
Damar tersenyum saat membalas oesan wanita itu. Pasti pesannya akan membuat wanita itu tertawa.
[Heleh, nggak usah gombaladun bambang. Sudahlah, ayok bobok. Aku ngantuk]
Damar tertawa membaca balasan pesan dari Semira. Wanita itu tidak pernah menanggapinya dengan serius.
[Bobok bareng ya]
Balas Damar menggoda Semira lagi.
[Iya terserah deh. Met bobok ya bambang]
Damar kembali terkekeh. Wanita itu selalu saja bisa membuatnya tertawa lepas.
[Ya udah yok bobok bareng, markonah]
Damar menyertakan sticker dua kucing lucu yang tidur bersama dalam satu selimut.
Semira hanya membalasnya dengan stiker kucing yang sama. Kucing yang memberikan ciuman pada kucing yang lain.
Damar tersenyum. Ditutupnya gawainya. Dan dia pun bersiap untuk tidur. Entah mengapa kantuk mendatanginya setelah Semira membalas pesannya.

Komentar Buku (82)

  • avatar
    LOHZIKRUL

    ok menarik

    01/01

      0
  • avatar
    Indah Hapsary

    bagus

    20/12

      0
  • avatar
    TalitaJihan

    ceritanya sangat bguss

    18/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru