Bab 10. Gosip

"Mira, ada waktu? Aku ingin ngobrol denganmu. Sudah lama kita tidak ngobrol-ngobrol santai kan?" Irawan menyapa Semira, saat mereka selesai menghadiri meeting bersama dewan direksi.
"Boleh, sekarang saja sekalian makan siang," Semira melirik jam tangannya dan mengiyakan ajakan koleganya itu.
"Oke, mari kita ke kantin," Irawan mengajaknya ke kantin untuk makan siang.
Suasana di kantin cukup ramai. Namun masih ada satu dua meja yang kosong. Mereka berdua sengaja memilih meja di sudut agar lebih leluasa dan tidak terganggu dengan pengunjung kantin yang lain.
Setelah memesan makanan, Irawan dan Semira berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Mira, apa kau mulai membalap lagi akhir-akhir ini?" Irawan memulai percakapan diantara mereka.
"Tidak. Hanya kebetulan berpapasan saja dengan para pembalap liar," Semira menanggapinya dengan santai.
"Heleh, bukannya dari dulu juga begitu. Kamu selalu beralasan seperti itu," Irawan terkekeh mendengar ucapannya.
Semira pun tertawa. "Aku sering berpapasan dengan mereka saat balapan dimulai. Mau tidak mau aku harus ikut berbaur dan berpacu kecepatan bukan? Jika aku menunggu balapan selesai, dini hari aku baru sampai di rumah," Semira beralasan.
"Iya juga. Dulu kita bertiga juga sering kepergok mereka, dan akhirnya ikut melintas bersama mereka." Irawan menyetujui alasan yang dikemukakannya barusan.
"Wan. Apa kamu tahu kisah Fairy race?" Semira tiba-tiba teringat cerita Damar beberapa waktu lalu.
"Aku pernah mendengarnya. Aku rasa julukan itu ditujukan pada kita. Waktu itu kita kerap mendahului mereka di garis finish," Irawan tersenyum geli.
Semira tertawa mendengar ucapan Irawan. Masuk akal memang. Dahulu, dia, Irawan dan Marco kerap berbaur dengan para pembalap liar melintasi jalanan yang mereka jadikan sirkuit.
Dan pada akhirnya lebih sering mereka bertiga yang sampai di garis finish terlebih dahulu. Biasanya para pembalap liar itu menetapkan garis start dan finish di jalanan sebelum mencapai kompleks hunian. Jalanan itu sepi dan berkelok serta memiliki banyak tikungan.
Sebenarnya mereka tidak pernah berniat untuk mengikuti balapan liar. Hanya saja, mereka sering melintasi jalanan itu di saat balapan di mulai. Karena itu mereka pun hanya ikut berbaur agar bisa mencapai rumah tepat waktu tanpa pernah berpikir mengenai hadiah balapan yang cukup menggiurkan.
"Eh, darimana kamu tahu aku ikut membalap lagi?" Semira tiba-tiba teringat sesuatu.
"Damar. Kemarin dia bertanya tentang dirimu dan juga kisah Fairy race," Irawan menjelaskan.
"Oh begitu. Aku juga baru tahu dia ternyata ikut balapan liar," Semira mengangguk mengerti.
"Ah bocah itu. Dia menyukai segala sesuatu yang berbau tantangan. Terkadang aku sulit mengontrolnya," Irawan mengeluh dengan kesal.
"Wajar saja Wan. Dia masih muda, adrenalinnya masih tinggi." Semira tersenyum menenangkan rekannya itu.
"Iya Mir. Tapi terkadang aku khawatir. Semua aktivitasnya cenderung menantang bahaya. Anak itu memang memiliki keberanian yang lebih," Irawan kembali berkeluh-kesah.
"Eehhmm, sepertinya dulu aku juga mengenal orang yang seperti itu?" Semira melirik Irawan, menggodanya.
Irawan tergelak mendengar ucapan Semira. Dia pun menepuk dahinya.
"Keberanianku masih jauh dibawahnya Mir," senyumnya mengembang saat mengucapkan itu.
Semira tertawa. Dan obrolan pun mengalir dengan akrab di sela-sela menikmati makan siang mereka. Keduanya memang cukup dekat, bukan saja di pekerjaan namun juga secara pribadi.
Semira memiliki hari-hari yang cukup sibuk. Dia tidak banyak bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Apalagi berteman dekat.
Irawan merupakan salah satu yang bisa dekat dengannya selain Marco, CEO mereka berdua. Rekan kerja lainnya hanya sekadar berhubungan baik sehubungan dengan pekerjaan saja.
Sedangkan di lingkungan tempat tinggalnya, Semira hanya menjaga hubungan baik dengan lingkungan hanya sebagai formalitas saja.
Meski begitu dia merupakan sosok yang memiliki integritas tinggi baik di tempat kerja maupun lingkungan tempat tinggalnya. Semira tidak akan segan untuk berbaur jika ada kegiatan sosial mau pun acara yang musti dihadirinya.
Sikapnya yang cenderung tertutup membuat orang segan untuk mendekatinya. Terutama para pria. Mereka tidak berani memperlakukannya dengan sembarangan. Sedangkan para wanita menganggapnya cuek dan acuh tak acuh.
"Eh tadi ada Mas Damar kemari kan?" Semira tanpa sengaja mendengar bisik-bisik serombongan karyawati yang tengah makan siang di dekatnya dan Irawan.
"Iya. Kasihan Ana ya, cuma di php saja olehnya," salah seorang karyawati itu berucap.
"Lagian Ana juga nekat. Sudah di kasih tahu kalau Damar cuma main-main saja dia nggak percaya," rekannya menimpali.
"Tahu nggak, Damar putus juga lho dengan Violeta," suara lain terdengar lagi membicarakan Damar.
Semira dan Irawan saling memandang. Keduanya hanya menggeleng dan kembali melanjutkan makan siang mereka.
"Aih, kok bisa mereka putus? Violeta kan cinta sejatinya Damar." seorang gadis terkikik, cukup untuk membuat Semira kembali mendengar obrolan para karyawati itu.
Sebagian dari mereka adalah para SPG, meski ada juga dari bagian lain seperti resepsionis dan HRD.
"Cinta sejati dari Hongkong! Bucinnya Damar ada di mana-mana," kesal seorang SPG.
"Nggak mungkin Damar serius dengan cewek-cewek seperti Ana, Violeta atau yang lain. Dia lho suka tante-tante tajir," ungkap yang lain dengan nada bercanda.
Mereka tertawa mendengar ucapan gadis SPG itu. Dan entahlah beberapa gosip lagi mereka bicarakan. Tapi yang menjadi topik utama mereka masihlah Damar dan kisahnya dengan sejumlah gadis dan wanita.
Semira tertegun mendengar ucapan gadis SPG itu. Tante tajir? Entah mengapa dia kurang nyaman dengan ucapan gadis itu.
"Gosip Damar nggak ada habisnya kalau soal wanita," Irawan menggelengkan kepalanya dengan kesal.
"Biasalah Wan. Cewek-cewek cenderung menyukai pria seperti dia," Semira menanggapi dengan asal saja.
"Mungkin. Tapi yang aku heran mereka yang mengejar dan menginginkan Damar meski tahu dia hanya main-main saja. Parahnya mereka merasa tidak tersakiti dengan perlakuannya," Irawan terdengar sangat kesal.
Semira hanya tersenyum. Dia enggan menanggapi lebih gosip mengenai Damar. Baginya gosip hanyalah gosip. 
Semakin dia tahu dan mendengar banyak cerita dan gosip mengenai pria itu, semakin dia merasa tidak nyaman. Akan lebih baik kalau dia tidak tahu apa pun.
Semira dan Irawan menyelesaikan makan siangnya dan kembali ke ruangan mereka. Kembali sibuk dengan pekerjaan mereka.
[Kamu sudah makan?]
Sebuah pesan WhatsApp masuk ke gawainya, saat Semira baru saja tiba di ruangannya.
Pesan dari Damar. Semira bimbang, haruskah dia membalas pesan itu? Setelah mendengar para SPG bergosip mengenai Damar, dia merasa enggan untuk melakukan apa pun yang berkaitan dengan pria itu.
Bukan dia terpengaruh gosip itu atau merasa menjadi seperti wanita-wanita yang digosipkan tadi. Dia hanya merasa tidak nyaman saja. 
[Sudah. Kamu jangan lupa makan juga. Aku kerja dulu ya]
Akhirnya Semira membalas pesan Damar dengan singkat tanpa memberi peluang pria itu untuk membalasnya lagi.
[Oke]
Balasnya singkat. Namun beberapa saat kemudian satu pesannya kembali datang. 
[Aku baru tahu, kotak musik itu di pesan oleh salah seorang pembalap yang baru berlibur di Turki. Mimi ayo berlibur ke sana]
Semira tertawa saat membaca pesan Damar yang baru saja masuk ke gawainya. Rupanya dia masih memikirkan tentang rencana liburan ke Turki.
[Kita bicarakan nanti saja. Aku masih kerja]
Balasnya dengan singkat lagi.
[Oke]
Hanya balasan singkat saja darinya. Satu hal yang dia sukai dari Damar, pria itu tidak pernah berlebihan padanya.
Berkirim pesan pun sekadarnya. Dia tahu kapan saat harus berbalas pesan dan kapan saat berhenti. Dia pun tidak pernah menganggunya dengan perhatian sepele. Hanya sesekali saja dia mengirim pesan seperti tadi. Tidak lebih dari itu. 

Komentar Buku (82)

  • avatar
    LOHZIKRUL

    ok menarik

    01/01

      0
  • avatar
    Indah Hapsary

    bagus

    20/12

      0
  • avatar
    TalitaJihan

    ceritanya sangat bguss

    18/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru