EPISODE 10

Perlahan, Badra memutar gagang pintu, membukanya pelan. Beberapa pikiran buruk masuk dikepalanya.
Kreeek.
Terlihat tubuh Alice tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Spontan, Badra berlari menghampirinya. Dengan tergesa-gesa ia mengangkat tubuh Alice dan langsung berlari membawanya ke mobil. Badra menekan gas, melaju secepat mungkin. Beberapa kali ia terpaksa harus menerobos lampu merah. Pikirannya kalut, tak dapat berfikir jernih. Ia hanya beruaha secepat mungkin sampai di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, petugas medis langsung bergerak cepat. Badra terduduk sembari mengamati para petugas bergerak ke sana kemari. Badra tak bisa berbuat banyak, hanya bisa duduk, menunggu semuanya berjalan dengan baik. Selama ini, Badra tak pernah sekali pun mendengar Alice mengeluh sakit hingga situasi ini terjadi. Kejadian ini bak petir disiang bolong bagi Badra, tak pernah ia duga.
Satu jam berlalu, dokter keluar dari ruang IGD dengan raut wajah tidak baik. Dokter menghampiri Badra seraya bertanya, “Apakah Anda keluarga pasien?”
“Aku kakaknya. Apa yang terjadi?” Badra semakin khawatir.
“Mohon maaf, Pak. Secepatnya kita harus memiliki pendonor ginjal untuknya. Pasien sudah dalam kondisi stadium lima,” ungkapnya.
Badra mematung. Tubuhnya seperti tersambar petir. Selama ini Badra tak pernah mengetahui Alice memiliki riwayat penyakit kronis. Tanpa pikir panjang, Badra langsung mengajukan diri untuk mendonorkan satu ginjalnya. Hanya itu satu-satunya cara.
“Ambil satu ginjalku,” kata Badra menawarkan diri.
“Kalau begitu, kita lakukan uji kesehatan terlebih dahulu. Setelah itu, silakan ke bagian administrasi untuk mengurus surat pernyataan dan biaya operasi.”

***
Dari samping tempat tidur, Badra memandangi wajah Alice yang tak kunjung sadarkan diri. Alice adalah satu-satunya keluarga yang Badra miliki saat ini. Meski harus bertaruh nyawa, Badra siap untuk melindunginya.
'Setelah ini, mungkin akan ada banyak hal yang berubah. Aku menunggumu Alice, ucap Badra dalam hati.
“Pak.Badra, bisa ke ruanganku?” tanya dokter.
“Tentu,” jawab Badra.
Badra diantar salah seorang perawat menuju ruang Dokter Azhar dengan kursi roda. Setelah oberasi kemarin, kondisi Badra belum pulih total. Ia masih harus mendapatkan perawatan itensif. Paska operasi wajah Badra masih terlihat pucat.
“Begini, Badra,” ucap Dokter Azhar sembari menghela napas. “Operasi ini memang berjalan lancar. Hanya saja kami khawatir dengan kondisimu.”
Badra tersenyum.
“Kau harus rutin untuk mengontrol kondisi kesehatanmu,” kata dokter.
“Aku tahu itu. Tenang saja,” ucap Badra tersenyum.
“Ini, simpanlah nomor teleponku. Hubungi aku kapan pun kau butuh,” ucap Dokter Azhar menyodorkan secarik kertas. “Aku pernah memiliki adik perempuan sama sepertimu. Sampai akhir hidupnya, aku belum pernah sekali pun menjadi kakak yang baik untuknya. Itulah alasan mengapa aku menjadi seorang dokter. Andai saja ia masih ada, aku akan melakukan hal yang sama sepertimu. Kau adalah kakak yang baik.”

“Terima kasih. Kau juga orang yang baik. Tolong bantu adikku.”

“Aku pastikan adikmu akan segera pulih,” ucap Dokter Azhar tersenyum.
Satu minggu kemudian, Alice pulang dari rumah sakit. Dokter sudah menyatakan kondisinya membaik meski masih harus rutin kontrol ke rumah sakit. Semenjak di rumah kondisi Alice semakin membaik. Kini ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
“Ayo kita makan. Aku memasak masakan kesukaanmu” Badra mengajak Alice makan bersama.
“Ayo, Kak. Aku sudah lama tidak makan enak. Di rumah sakit makanannya tidak ada yang enak,” keluhnya.
“Makanlah sesukamu,” ucap Badra.
Alice makan dengan begitu lahapnya. Badra tersenyum melihat kondisi Alice yang sudah kembali pulih. Setelah kejadiaan kemarin, Badra jadi lebih berhati-hati untuk urusan makanan. Ia benar-benar ingin melindungi Alice sepenuh jiwanya, hanya dengan begitu rasa rindunya pada Fefi sedikit terbayarkan.
Alice yang sedang menikmati makanan tiba-tiba melihat ekspresi kakaknya yang tak biasa. Badra tampak memegangi perut sebelah kirinya. Wajahnya sedikit meringis menahan sakit.
“Kenapa, Kak?” tanya Alice.
“Tidak apa-apa, sepertinya aku terlalu banyak makan pedas. Aku ke toilet dulu.” Badra berdiri menuju toilet.
Di dalam toilet, Badra memegangi erat perutnya. Ekspresinya meringis dengan napas yang tak beraturan. Keringit terlihat menetes di dahinya.
'Aku akan merasakan ini seumur hidupku. Kuharap kau tak mengetahuinya, Alice.'
Semenjak hidup dengan satu ginjal, Badra harus menerima kenyataan bahawa tubuhnya tak lagi sempurna seperti sediakala. Beberapa kali ia mengalami sakit yang amat hebat di bagian perutnya. Tak ada pilihan lain selain menerimanya.
Badra berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Ia tak ingin siapapun mengetahuinya, Termasuk Alice, meski beberapa kali Alice mempertanyakan soal itu.
***
Pagi ini Alice ada janji dengan seseorang di rumah. Namanya Rahma, ia adalah tetngga yang belum sempat ia sapa semenjak pindah ke ruumah baru. Agenda hari ini adalah masak bersama.
tok tok tok!!
Seseorang mengetuk pintu. Badra yang kebetulan sedang berada di ruang tamu menghampirinya dan mbukakan pintu. Saat mengetahui kalau tamunya perempuan, Badra langsung bingung harus menanggapi bagaimana.
"Permisi"
"Mmm bagaimana" jawab Badra sekenanya.
"Salam kenal, namaku Rahma, tetangga anda. Apakah Alice ada di rumah"
"Oh, ya, ada, Alice ada di dalam. Masuklah" kata Badr mempersilakan.

Komentar Buku (195)

  • avatar
    SUPRIADICEPI

    Cerita yang banyak sekali dinamika yang terjadi dan ada inspirasi yang bisa kita ambil, Terimakasih kepada penulis sudah memberikan cerita yang kaya akan alur

    03/04/2022

      0
  • avatar
    francescaFioren

    ceritanya sangat menarik, ceritanya mudah di pahami, banyak pesan moral, wajar ratingnya tinggi, cerita alurnya sangat menarik, sangat bagus cerita nya, saya akan memberi tau temen saya untuk ikut melihat cerita/novel ini

    02/03/2022

      8
  • avatar

    Novel yang menceritakan kisah yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat mudah dipahami. Bahasa yang digunakanpun mudah dicerna dan dimengerti. Bravo buat sang penulis.

    28/02/2022

      4
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru