Langit pergi dengan mengendarai mobil yang kemarin disediakan oleh Bara,suami kakaknya. Kemarin turun dari stasiun sudah ada tiga mobil yang menjemput keluarganya. Satu di tumpangi oleh Langit,Senja dan Bu Ida. Satunya di tumpangi oleh Alan,Mentari dan Bu Ratna sedangkan yang satunya untuk orang yang mengantarkan mobil mobil itu. Langit terus melajukan mobilnya tidak tentu arah,, Langit hanya mengelilingi jalanan kota Jogja dengan pikirannya kepada istrinya. Sungguh Langit sangat cemburu melihat istrinya memeluk pria lain. Apalagi pria itu mantan tunangan Senja yang mungkin masih mencintai istrinya itu. Sedangkan Senja dikamarnya masih terduduk di sofa dengan lelehan air mata yang menetes di pipinya. Sungguh Senja tidak sengaja memeluk pria selain suaminya. Senja pikir itu suaminya,karena di kamar Senja tidak melihat keberadaan suaminya. Namun setelah mendekap tidak terlalu lama,Senja baru menyadari kalau itu bukan suaminya dari aroma yang biasa Senja cium. *** Sedangkan di lantai bawah,dua orang wanita paruh baya yaitu Bu Ida dan Bu Ratna sebenarnya cemas dengan putra dan putrinya. Namun mereka tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga anaknya itu. "Mah,,, Langit kenapa sih?" tanya Mentari yang saat ini akan pergi atas keinginan putrinya,namun karena adik adik nya sedang ada masalah jadi ia pergi minta dikirim sopir dari perusahaan. "Mamah juga nggak tau Tar" jawab Bu Ratna lesu. "Kata Alan ada kesalah pahaman,, apa Langit cemburu sama Alan?" tanya Mentari lagi. "Sepertinya begitu,, tapi emang ala yang dilakukan Senja dan Alan hingga nak Langit cemburu" ucap Bu Ida "Kita tanyakan saja sama Senja Bu,, Mah" saran Mentari. "Iya nanti kita tanyakan sekarang biarkan Senja menenangkan diri" kata Bu Ida. "Ya sudah Tari mau keluar yah Mah, Bu,, sopir sudah datang" pamit Tari pada kedua wanita paruh baya itu. Setelah Mentari pergi, Bu Ida dan Bu Ratna kembali menikmati acara televisi sambil berbincang ringan. "Bu,, kita ke belakang saja yuk" ajak Bu Ratna "Iya ayo" jawab Bu lda. ****** Sudah beberapa jam berlalu, Senja yang masih didalam kamar menunggu suaminya pulang namun belum juga datang akhirnya turun kebawah. Sepi,, tidak ada orang. Mungkin sedang pada pergi pikir Senja. "Bibi kemana semua orang?" tanya Senja pada bibi yang baru saja melintas. "Nona Mentari sedang keluar bersama putrinya,sedang Bu Ida dan Bu Ratna ada di taman belakang non. Apa non mau ke sana?' tawar Bibi " Tidak Bi,, Senja disini saja"ucap Senja . Lalu bibi berpamitan pergi ke dapur menyiapkan makan siang, Sedangkan Senja kembali duduk diruang tengah dengan menyalakan televisi sambil menunggu kedatangan suaminya. Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil masuk ke pelataran rumah, Senja pikir itu suaminya. Senja masih menunggu agar suaminya masuk terlebih dahulu. Setelah mendengar derap langkah kaki masuk ke rumah,Senja menengok ke arah sumber suara derap langkah itu. Namun tidak seperti keinginannya, karena yang datang bukan Langit melainkan Alan. "Lia,, kau sendiri disini?" tanya Alan ketika melihat keberadaan Senja. Yah Alan masih saja memanggil nama Senja dengan Lia. "Iya mas" jawab Senja mencoba bersikap biasa saja. "Boleh aku bicara sebentar?" tanya Alan meminta persetujuan mantan tunangannya itu. Dan Senja mengangguk. Lalu Alan duduk di samping Senja namun dengan jarak. "Lia,, Aku minta maaf gara gara aku, Kamu dan Langit jadi ada masalah. Nanti aku akan bicara sama Langit kalau yang ia lihat hanya salah paham" ucap Alan. "Tidak perlu minta maaf mas,, ini juga salah ku yang teledor" ujar Senja. Baru saja Alan akan menimpali ucapan Senja,namun Langit datang dan melihat Alan dan Senja yang masih duduk bersama meskipun jarak nya jauh. "Huh,, aku pergi dan kalian malah mencari kesempatan untuk bertemu di belakangku" ucap Langit yang begitu sinis. "Lang,,, kita bicarakan baik baik,ini semua hanya salah paham. Mari kita selesaikan segera" ucap Alan yang tidak ingin berlarut larut dalam kesalah pahaman. "Apa lagi yang mau dibicarakan baik baik,, bukankah kalian memang masih mempunyai hubungan di belakangku,,, atau jangan jangan ini alasanmu yang tidak ingin segera risign dari pekerjaanmu saat itu karena masih ingin berhubungan dengannya" terka Langit yang begitu menyakitkan hati Senja. "Aku tidak seperti itu mas,,, aku hanya nyaman dengan pekerjaanku saat itu dan kami juga tidak pernah bertemu" ujar Senja. "Aku mana tau kalau kalian tidak pernah bertemu berdua di belakangku sedangkan aku berbeda kantor mana melihatnya." ucap Langit sambil menyedekapkan kedua tangannya didada. "Apa yang diucapkan Lia maksudku Senja benar Lang,,kami memang tidak ada hubungan apa apa selain atasan dan bawahan" ucap Alan membenarkan ucapan Senja. "Kompak sekali kalian membela diri,, jika kalian masih saling mencintai kenapa kalian tidak menikah saja saat itu,bukan malah menyuruhku untuk menikah" kata Langit. "Langit,,," bentak Bu Ratna yang ternyata sudah ada disana bersama Bu Ida. Mereka mendengar suara ribut ribut jadi kedua wanita paruh baya itu menghampiri untuk melihat siapa yang sedang ribut itu. "Kenapa?,,, apa mamah juga mendukung mereka berselingkuh dibelakang Langit" ucap Langit. Entah apa yang sedang merasuki Langit hingga emosinya tidak terkendalikan. "Apa maksud ucapanmu itu Langit,, mamah benar benar tidak habis pikir dengan apa yang kamu ucap kan itu" ucap Bu Ratna yang menyusul Bu Ida duduk disamping Senja yang tengah menangis tanpa mengeluarkan suara. "Memang benar kalau mereka selingkuh di belakang Langit,, semalam mereka berpelukan di dapur dan sekarang mereka duduk berdua di sini padahal ada mamah dan ibu di rumah ini, itu berarti kalian juga mendukung mereka untuk berhubungan di belakang Langit. Bu Ratna memijit pelipisnya karena memang pusing,,entah mendapat pemikiran dari mana putranya itu mengatakan bahwa istrinya berselingkuh dan dirinya mendukung nya, benar benar pemikiran yang salah. Mana ada orang tua yang membiarkan menantunya menghianati putranya. ****
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baguss banget
26/01
0soswet
20/01
0bagus ceritanya..😍😍
13/05/2025
0Lihat Semua