55

Tengah malam,Senja terbangun dari tidurnya. Dan dilihatnya suaminya tidak ada disampingnya. Lalu Senja turun dari ranjang untuk melihat suaminya di kamar mandi namun tidak ada disana.
Di karenakan Senja terbangun karena haus dan tidak ada air di atas mejanya,Senja turun menuruni anak tangga menuju ke dapur.
Dan Senja melihat suaminya sedang berdiri membelakanginya di depan lemari pendingin.
Senja langsung menghampiri suaminya dan langsung memeluknya dari belakang. Keadaan dapur hanya remang remang karena lampunya tidak dinyalakan.
beberapa detik Senja memeluk orang yang Senja pikir suaminya itu,Senja baru menyadari kalau aromanya berbeda dengan milik Langit,sedangkan orang itupun terkejut dan hanya diam di tempatnya.
Baru saja Senja akan melepaskan pelukannya dan orang itu juga akan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang sudah memeluknya lampu dapur sudah menyala terlebih dahulu.
"Sayaang,, Bang Alan ,, kalian,,," ucap Langit lalu pergi meinggalkan area dapur tanpa melanjutkan ucapannya setelah melihat istri dan adik ipar kakaknya itu sedang berduaan disana dengan keadaan gelap gelapan.
"Mas,,," panggil Senja segera menyusul suaminya tanpa melihat ke arah Alan yang diam mematung sambil membawa gelas bekas minumnya.
Langit tidak mengindahkan panggilan istrinya, Langit terus melangkah untuk kembali ke kamarnya.
Senja akhirnya tiba juga di kamarnya, suaminya tidak ada di ruangan itu, mata Senja memindai kamarnya itu guna mencari keberadaan suaminya dan ketika melihat ke arah balkon,ternyata Langit sedang disana. Dengan segera Senja menghampiri suaminya.
"Mas" panggil Senja namun Langit tak bergeming.
"Tadi tidak seperti yang kamu kira mas" ucap Senja
"Tadi aku nyariin kamu,, tapi nggak ada terus aku ke dapur dan aku pikir tadi itu kamu mas" ucap Senja lagi mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada suaminya.
Namun sepertinya kali ini Langit benar benar marah karena Langit tidak menanggapi ucapan Senja.
"Mas aku,,," belum Sempat Senja menyelesaikan ucapannya,Langit malah masuk kedalam dan pergi meninggalkannya.
Senja mencoba sabar dengan menghela napasnya panjang.
Senja menyusul suaminya kedalam dan dilihatnya, Suaminya sudah memejamkan matanya dengan posisi membelakangi istrinya.
Senja pun ikut berbaring di samping Langit namun tidak langsung memejamkan matanya. Senja masih memikirkan bagaimana caranya agar suaminya tidak salah paham kepadanya dan mau memaafkannya.
Tidak terasa air mata Senja menetes,Senja tidak terbiasa didiamkan oleh Langit seperti ini. Jadi Senja sangat sedih melihat perlakuan suaminya yang seperti ini pertama kalinya.
****
Pagi telah menyapa. Semua keluarga sedang sarapan bersama dalam satu meja. Kali ini terlihat berbeda dari biasanya karena tidak ada kebucinan Langit terhadap istrinya. Bu Ratna yang peka dengan raut wajah putranya hanya diam.
Dimeja makan hanya ada suar Aura dan Mentari sesekali Bu Ida dan Bu Ratna menimpali ucapan Aura.
"Tumben kamu Lang diem aja,, biasanya sudah manja manjaan sama Senja. Sariawan ya" ledek Mentari yang sepertinya belum menyadari raut wajah antara tiga orang disana salah satunya adiknya sendiri.
"Lang,," panggil Alan namun terpotong oleh Langit.
"Saya sudah selesai,,permisi" ucap Langit yang berdiri dari duduknya meninggalkan mereka yang bingung dengan sikap Langit,bahkan Langit tidak berniat mendengarkan ucapan Alan.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Bu Ratna kepada Alan.
"Tidak,,, hanya sedikit kesalah pahaman" ucap Alan.
"Senja,, habiskan sarapanmu lalu setelah itu susul suamimu" titah Bu Ida kepada putrinya.
"Iya Bu" jawab Senja sambil menganggukan kepalanya.
Tidak butuh waktu lama untuk Senja menghabiskan makanannya karena Senja juga sebenarnya tidak ingin melanjutkan makannya lagi setelah kepergian suaminya jadi Senja dengan cepat menelan makanannya.
"Senja nyusul mas Langit dulu Bu, mah, kak" pamit Senja pada semua orang yang ada dimeja makan kecuali Alan.
"Mereka ada masalah apa kamu terlibat Al?" tanya Mentari pada adik iparnya itu.
"Mungkin" jawab Alan ambigu.
"Saya permisi berangkat ke kantor" lanjut Alan yang tidak ingin diinterogasi oleh para wanita itu.
Lalu Alan menyalami Bu Ratna,Mentari dan mantan calon mertuanya yaitu Bu Ida.
Setelah kepergian Senja dan Alan, mereka bertiga kembali melanjutkan makannya dengan hening,hanya denting sendok yang berbunyi.
***
Kini Senja sudah duduk di samping Langit yang tengah melihat ke layar ponselnya.
"Mas,,, aku minta maaf soal yang semalam" ucap Senja sambil memilin ujung bajunya. Sungguh Senja ingin sekali menangis di perlakukan seperti itu oleh Langit.
"Kau minta maaf apa berarti itu benar seperti yang aku pikirkan?" sarkas Langit. untuk pertama kalinya Langit berbicara cukup kasar kepada Senja dan memanggil istrinya itu tanpa embel-embel sayang dari selama mereka pacaran.
Biasanya kalau pun tidak memanggil sayang dan hanya memanggil nama pasti dengan nada lembut.
Sepertinya Langit sedang benar benar cemburu.
"Maksudku bukan seperti itu mas,, mas salah paham" ucap Senja membela diri.
"Aku akan keluar sebentar" pamit Langit tanpa menghiraukan ucapan istrinya yang masih mencoba menjelaskan.
Langit keluar kamar lalu segera turun menuruni anak tangga meninggalkan Senja yang mana air matanya sebentar lagi menetes jika Senja berkedip.
"Lang,, kamu mau kemana?" tanya Bu Ratna mencegah putranya yang akan keluar rumah.
"Keluar sebentar mah" jawab Langit sambil tetap melanjutkan langkahnya.
"Langit" panggil Bu Ratna dengan meninggikan suaranya namun Langit tidak mengindahkannya.
Langit yang seperti ini membuat Bu Ratna ingat beberapa tahun lalu yang saat itu Langit diputuskan Senja.
"Sudah Bu,, mungkin nak Langit keluar untuk menenangkan pikirannya" ucap Bu Ida menenangkan besannya.
"Maaf kan sikap putra saya Bu Ida,, saya sungguh tidak enak kepada ibu dengan perilaku Langit tadi" sesal Bu Ratna.
"Tidak apa Bu ,, namanya rumah tangga pasti akan ada pertengkaran. Namun kita sebagai orang tua tidak perlu ikut campur,biarlah mereka mengatasinya sendiri. Kita hanya perlu memantau dari jauh saja,beri ruang anak anak kita untuk berfikir dengan jernih dengan saling menyendiri" ujar Bu Ida.
"Iya Bu,, terimakasih yang sudah memahami Langit" ucap Bu Ratna.
Lalu kedua wanita paruh baya itu duduk kembali di ruang tengah. Mereka sudah memutuskan untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga anak mereka,kecuali anak anak mereka meminta pendapatnya barulah sebagai orang tua akan memberi nasehat.
*****

Komentar Buku (565)

  • avatar
    KhotimahHusnul

    baguss banget

    26/01

      0
  • avatar
    Oyow Suk

    soswet

    20/01

      0
  • avatar
    KuswardaniDiah

    bagus ceritanya..😍😍

    13/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru