23

Seperti yang sudah dijanjikan Langit kepada Senja beberapa hari yang lalu bahwa weekend kali ini akan berkunjung kerumah Bu Ida Ibunda dari Senja.
"Sayaang sudah siap?" tanya Langit
"Sudah mas,, ayo kita jalan sekarang'' ucap Senja sambil menggandeng lengan suaminya.
Lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh supir.
" Pak,, saya mau nyetir sendiri saja. Bapak jaga dirumah saja siapa tahu bibi butuh bantuan atau barang kali mau pergi biar bapak yang antar" ucap Langit kepada pak Ahmad selaku sopir Langit.
"Baik Den" jawab pak Ahmad
"Kami berangkat ya pak" pamit Senja
"Iya hati-hati non" balas pak Ahmad.
Lalu Langit dan Senja menaiki mobil. Dalam perjalanan Senja membuka suaranya memecah keheningan.
"Mas aku kok belum hamil ya" keluh Senja
"Nggak usah terlalu dipikirkan Yank,,, nanti juga kalau sudah saatnya pasti akan diberi tanpa diminta lagian kita kan masih pengantin baru" ucap Langit menenangkan istrinya agar tidak terlalu memikirkan masalah momongan.
"Sudah lima bulan mas" keluhnya lagi
"Lima bulan itu masih baru sayang bahkan ada yang bertahun-tahun baru dikasih kepercayaan. Kamu sabar saja sayang lagian mas masih ingin bermanja sama kamu, nanti kalau sudah punya anak pasti fokus kamu akan terbagi" ucap Langit dengan menggoda Senja
"Kamu mah mikirnya gitu terus" ucap Senja
"Mikir apaan sih Yank,, kamu kali yang mikirnya mesum" goda Langit lagi
"Iya kan kamu gurunya" jawab Senja
"Masa sih,, berarti mas berhasil dong jadi guru kan muridnya cepet nangkep pelajaran yang mas kasih" kata Langit
" Iya iya mas guru yang hebat " jawab Senja sambil mengacungkan kedua jempolnya
"Pasti dong" balas Langit dengan pede nya.
Tidak terasa kini Langit dan Senja telah sampai dikediaman Bu Ida.
"Assalamualaikum Bu" sapa Senja dan Langit ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Ida dari dalam lalu menghampiri Putri dan menantunya.
Senja dan ibunya sedang melepas rindu sedangkan Langit hanya menjadi penonton meskipun sesekali ikut menimpali pembicaraan antara mertua dan istrinya itu.
Ditengah pembicaraan itu Langit mendapat pesan dari seseorang.
[Lang,aku mau minta tolong sama kamu buat datang kerumah orangtuaku untuk menjelaskan tentang hubungan kita,, bisa? please!] isi pesan tersebut.
[Memangnya kenapa dengan orang tuamu] balas Langit
[Ceritanya panjang,, nanti kalau ketemu aku jelasin] balasan dari Lena
Yah yang mengirim pesan kepada Langit adalah Lena.
"Bu,, Yank,, aku mau keluar sebentar ya" pamit Langit pada Senja dan ibunya.
"Kamu mau kemana mas?" tanya Senja
"Ini aku dapat pesan dari teman ngajak ketemuan mumpung lagi didekat sini" jawab Langit berbohong
Entah karena alasan apa Langit tidak berkata jujur pada Senja.
"Baiklah mas,, salam buat teman kamu" ucap Senja mengizinkan Langit pergi.
Setelah kepergian suaminya Senja kembali menghampiri ibunya lalu memeluknya.
"Kamu kenapa Nja?" tanya sang ibu
"Ibu,, bolehkah aku curiga dengan mas Langit?" tanya Senja
"Memangnya Langit kenapa?" tanya balik Bu Ida
"Sepertinya mas Langit masih berhubungan dengan mantannya Bu" ujar Senja
"Berhubungan yang bagaimana?" tanya Bu Ida lagi
"Entahlah Bu,," jawab Senja sendu
"Alangkah baiknya kau tanyakan saja langsung,jangan biarkan pikiran negatifmu mempengaruhi. Kau harus ingat pesan ibu dalam rumah tangga harus saling terbuka jika ada masalah jangan sampai orang luar tau. Jika ada yang mengganjal maka dibicarakan baik-baik jangan dipendam sendiri lalu akhirnya jadi berspekulasi buruk." Tutur sang Ibu menasehati putrinya.
"Iya Bu nanti akan Senja tanyakan pada mas Langit langsung" ucap Senja.
***
Sedangkan Langit kini sedang dalam perjalanan menuju kerumah orangtua Lena.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit akhirnya Langit tiba di kediaman pak Burhan ayah dari Lena.
Setelah Langit memarkirkan mobilnya Langit segera berjalan ke pintu utama disana sudah ada Pak Burhan dan Lena sedangkan ibu dari Lena sudah tiada.
"Permisi" sapa Langit ketika sampai didepan pintu dan orang yang disana pun mengalihkan pandangannya kearah asal suara.
"Masuk" jawab Pak Burhan mempersilahkan Langit masuk
"Silahkan duduk" lanjutnya lagi ketika Langit sudah berada didekatnya.
Hening beberapa saat ketika Langit sudah mendudukan dirinya diatas sofa berhadapan dengan pak Burhan langsung.
Seperti orang yang akan dihakimi pikir Langit.
"Pah,,," ucapan Lena terhenti ketika sang papah mengangkat tangannya untuk diam
"Apa kau yang sudah menghamili putriku" ucap Pak Burhan dengan mengintimidasi
"Maksudnya apa Om?" tanya Langit bingung
"Bukankah kau yang selama ini menjalin hubungan dengan putriku" ucap pak Burhan
"Sepertinya ada kesalahpahaman disini biar Langit jelaskan,, " ucapan Langit langsung dipotong pak Burhan
"Apa yang perlu dijelaskan anak muda,, apa kau mau lari dari tanggung jawabmu" sentak pak Burhan
"Pah,, sudah Lena bilang bukan Langit pah" Lena menyela ucapan papahnya
"Kau tidak udah membelanya Lena,, apa kau ingin menggugurkan kandungannya atau kau akan menanggung malu jika anakmu lahir tanpa adanya pernikahan." kata pak Burhan
"Pah ,, Lena akan membesarkannya sendiri" bantah Lena
"Tidak bisa ,, pokoknya lelaki ini harus tanggung jawab" ucap pak Burhan
"Saya tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang saya tidak pernah lakukan" ucap Langit tegas
"Satu lagi tindakan anda juga salah jika Anda menyuruh Putri Anda untuk menggugurkan kandungannya. Putri anda sudah berdosa jadi jangan menambahnya lagi dan perlu saya ingatkan saya sudah menikah, hubungan saya dan putri Anda juga sudah berakhir, Permisi" ucap Langit dengan geram lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa dipersilahkan.
***

Komentar Buku (565)

  • avatar
    KhotimahHusnul

    baguss banget

    26/01

      0
  • avatar
    Oyow Suk

    soswet

    20/01

      0
  • avatar
    KuswardaniDiah

    bagus ceritanya..😍😍

    13/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru