logo text

bab enam belas

Seseorang yang melihat Senja dan Langit berpelukan itu langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah seseorang itu langsung memanggil istrinya
"Sayang," panggil Bara kepada Mentari dengan nafas terengah-engah.
"Kamu kenapa pih,, kaya dikejar setan sampe ngos-ngosan gitu. Nih minum dulu" kata Mentari sambil menyodorkan minum kepada suaminya.
Yah seseorang itu Bara ,kakak dari Alan.
"Apa kamu tau tentang Langit dan calon istri Alan" tanya Bara
"Maksud kamu apa pih" jawab Mentari bingung.
Apa suaminya itu sudah tau kalau Senja itu mantan kekasih Langit.
"Jawab jujur sayang,, kalau memang mereka masih mencintai, aku akan mengatakan pada Alan untuk membatalkan pernikahannya. Bukankah adikmu itu berubah karena ditinggalkan kekasihnya" kata Bara
"Sudahlah pih,, mungkin mereka tidak berjodoh. Lebih baik kita tidak usah ikut campur " ucap Mentari 
"Tapi ini masalah adikku Tar,, bagaimana kalau mereka masih saling mencintai dan mereka akan mengkhianati Alan. " kata Bara mengkhawatirkan adiknya.
"Entahlah aku juga tidak tau" ucap Mentari melemah.
"Lebih baik Alan tau semuanya dari awal, dari pada nanti setelah menikah pasti akan lebih menyakitkan." ucap Bara 
***
Di rumah Gunawan kini semuanya berkumpul termasuk Alan, Langit , Bara dan istrinya.
"Apa yang ingin kau bicarakan Bar" tanya pak Gunawan yang duduk di sebelah istrinya .
"Saya mau membicarakan tentang Langit dan calon istri Alan" kata Bara
"Maksud kakak apa" tanya Alan menyela ucapan kakaknya
"Dengarkan dulu. Langit dan Senja adalah mantan sepasang kekasih yang masih saling mencintai" ucap Bara 
Sedangkan Langit hanya menunduk, memang kenyataanya dia masih mencintai Senja.
"Tapi saya tidak akan merestui mereka" ucap pak Gunawan tegas.
"Jadi lanjutkan saja pernikahan Alan dengan gadis itu" sambungnya lagi
"Pah,," tegur Bu Ratna sambil mengusap lengan suaminya.
"Apa benar begitu Lang" tanya Alan kepada Langit
"Iya " jawab Langit
"Baiklah saya akan mengalah untuk melepaskan Senja kepadamu jika Ayahmu merestui kalian. Tapi jika tidak, maka lupakan senja dan relakanlah bersamaku" kata Alan mencoba berhati lapang .
Setelah mengatakan itu pada Langit dia langsung pergi .
"Saya permisi" ucap Alan melenggang pergi.
Begitupun dengan Bara yang meninggalkan rumah itu diikuti Mentari.
Intinya Bara sudah mengatakan yang seharusnya ia katakan. Sebelum terlambat.
***
Kini hanya tinggal tiga orang di ruangan itu.
Pak Gunawan, Bu Ratna dan Langit.
"Pah,, kumohon restui kami" pinta Langit dengan mengiba
"Keputusan papah sudah bulat. Lupakan gadis itu dan menikahlah dengan Lena" kata pak Gunawan
"Kalau Langit tidak menikah dengan Senja, itu berarti Langit tidak akan pernah menikah" ucap Langit membantah papahnya.
Langit pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Sungguh ingin sekali Langit membantah papahnya lebih jauh lagi, tapi Langit masih memikirkan perasaan ibunya.
Biarlah, jika memang Senja bukan jodohnya Langit bisa apa. Bukan Langit tidak ingin memperjuangkan cintanya, tapi jika Langit tidak ingin bertengkar dengan papahnya. Jika Langit bertengkar sudah pasti ibunya yang sakit,dan Langit tidak ingin itu terjadi.
Lebih baik Langit pergi meninggalkan tempat ini sejenak untuk menenangkan hatinya.
"Halo,, saya tidak kekantor untuk sebulan ke depan.kau urus semuanya" ucap Langit dalam panggilan teleponnya.
Saat ini Langit sedang menuju kesuatu tempat untuk mendinginkan hatinya.
***
Sama halnya dengan Alan,, kini Alan pun tengah duduk menyendiri dipinggiran danau.
"Apa aku harus merelakan Senja untuk Langit, tapi Pak Gunawan tidak merestui mereka. Lalu bagaimana dengan hatiku,, aku juga sakit ternyata alasan Senja belum mencintainya karena masih mencintai mantan kekasihnya . Dan mantannya itu Langit. Sungguh sempit dunia ini" gumam Alan merasa miris.
Jika saja mantan Senja bukan Langit mungkin saja Alan akan tetap mempertahankannya. Tapi dia Langit, Alan tau betul bagaimana perubahan Langit.
Langit yang dulu selalu menebar senyum, Langit yang selalu menggodanya dengan ucapan konyolnya ,itu semua menghilang dari diri Langit setelah ditinggalkan kekasihnya. Dan itu Senja..
"Hah,, aku harus bagaimana Tuhan,," kata Alan menghela napas.
***
"Lang,, bangun,, kenapa malah tidur sih. Ini hari pernikahan senja dan Alan. gue ingetin sekali lagi sebelum terlambat, gue yakin bokap Lo lama-lama juga luluh" kata Dion membangunkan Langit yang sudah beberapa hari ini berada di villanya. 
Dion sengaja datang pagi-pagi sekali untuk menemui Langit . Mengingatkan Langit bahwa hari ini pernikahan orang yang dicintainya.
"Gue harus gimana" tanya Langit dengan lesu
"Kenapa harus nanya sih,, buruan Lo pulang, sebelum Alan yang ngucapin ijab kabulnya. Kata Dion
Akhirnya Langit bergegas untuk pulang bersama Dion.
Dia harus meyakinkan sang papah untuk merestuinya.
***
Sesampainya dirumah keluarga Gunawan, rumah itu terlihat sepi , hanya ada satpam di pos penjaga. Bahkan pembantu juga tidak ada.
" kemana semua orang" tanya Langit pada Dion
"Sudah pada berangkat kali Lang" jawab Dion santai
" terus kenapa Lo malah bawa gue pulang, nanti kalau terlambat bagaimana" ucap Langit menaikkan suaranya
"Yaelah,, terus Lo ke acara pernikahan dengan penampilan yang seperti saat ini Lo pakai gitu. Yang ada tidak boleh masuk" kata Dion sambil menunjuk kearah Langit.
Yah saat ini Langit hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Dan jangan lupakan,Langit juga belum mandi hanya cuci muka. 
"Ckk,, tunggu kalau gitu gue siap-siap" gerutu Langit.

Komentar Buku (565)

  • avatar
    KhotimahHusnul

    baguss banget

    26/01

      0
  • avatar
    Oyow Suk

    soswet

    20/01

      0
  • avatar
    KuswardaniDiah

    bagus ceritanya..😍😍

    13/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru