logo text

Bab 27 Batal

"Apa lagi yang kamu tunggu, Sabda. Semuanya sudah pada datang. Apa kamu sengaja mengulur waktu?" tanya Lina dengan geram.
"Sebentar lagi, Tante. Ada yang sedang aku tunggu."
Lina memutar bola matanya malas. "Kalau sampai orang yang kamu tunggu tidak datang dalam waktu setengah jam, maka kamu harus menyudahinya. Lihatlah, banyak orang yang tengah menanti ijab kabulnya," ujar Lina sinis.
Sabda menghela napas berat. "Iya," sahutnya lirih.
Sabda keluar dari rumah itu. Duduk di teras dengan gelisah. Dia sangat yakin jika Cinta akan datang, hanya saja wanita itu datang terlambat. Ya, pikiran Sabda sepositif itu.
Lima belas menit dia sudah menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Cinta akan datang, Sabda mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat sekali bahwa saat ini Sabda tengah gusar.
"Cinta, kalau kamu memang cinta sama aku, aku yakin kamu pasti datang," lirih pria itu.
Tiba-tiba hujan datang begitu deras, hal itu semakin membuat Sabda resah. Kemungkinan Cinta akan datang rasanya sangat mustahil. Apakah hidupnya akan berakhir seperti ini? Apakah Kezia memang jodoh Sabda? Tapi kenapa pria itu sangat tidak rela.
"Sabda, ayo segera kita mulai. Semua orang tengah menunggumu," tegur Ricko.
"S-sebentar lagi, Om."
"Sabda, sebenarnya apa siapa yang sedang kamu tunggu?" tanya Bunga lembut, mama Sabda.
Sabda menelan salivanya dengan susah payah, dia menengok ke belakang, sudah tidak ada Ricko di sana, membuatnya bernapas lega.
"Cinta, Ma," kata Sabda lirih.
Bunga menghela napas panjang sambil mengusap punggung anaknya.
"Kalau dia menghormati kakak dan orangtuanya, pasti akan datang, Nak."
Sabda menggeleng cepat, untuk alasan itu, tidak mungkin dia akan datang. Sabda tahu itu.
"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, jangan lemah seperti ini. Ayo, masuklah, ada darah dagingmu di dalam perutnya. Itu yang harus kamu prioritaskan," nasehat Bunga.
"Ma," sela Sabda.
"Mama masuk dulu."
Sabda mengacak rambutnya, lalu tersenyum miris, Cinta tidak akan datang, bahkan wanita itu tidak akan pernah ada niatan untuk pulang. Cinta sudah memberitahunya lewat pesan, tapi kenapa dia masih menyangkal?
Sabda berdiri dari duduknya, menatap ke dalam rumah dengan sendu.
"Baiklah, Cinta. Kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Semoga kamu selalu bahagia, Cinta," lirih Sabda.
Pria itu menghela napas panjang, kemudian masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan gamang.
***
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Sabda Pramudya bin Muhammad Abian dengan putriku, Kezia Alnaira binti Ricko Abraham dengan mas kawin uang seratus ribu rupiah dan seperangkat alat salat, dibayar tunai."
Suara Sabda tiba-tiba tercekat. Seolah-olah bibirnya enggan untuk mengungkapkannya. Lima detik, sepuluh detik, dua puluh detik. Hening, Sabda masih terdiam.
Semua orang yang ada di sana sudah berbisik-bisik, Kezia dan Lina pun menjadi gusar.
Ricko pun kembali mengulang ijabnya, Sabda menghela napas berat, sepertinya dia sudah rileks.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Cinta Revalina ...."
Semua orang di sana tersentak kaget ketika Sabda salah menyebut nama mempelai wanita. Suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi ricuh.
Sedangkan Sabda, pria itu terpaku, dia malah menyebut nama Cinta, bukan hanya nama, tapi nama lengkap wanita itu. Hal itu membuat Kezia sangat kecewa sekaligus murka. Sekarang dia sangat menyadari bahwa Sabda benar-benar mencintai Cinta.
Ricko pun kembali mengucapkan ijabnya. Suasana menjadi sangat tegang, dan Sabda sendiri ragu antara lanjut atau tidak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kezia Alnaira binti Ricko Abraham dengan mas kawin tersebut dibayar--"
"Tunggu!"
Tangan Sabda langsung terlepas dari genggaman tangan Ricko. Entah kenapa hatinya saat itu menjadi lega. Siapapun orang itu, dia harus mengucapkan banyak terima kasih.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, termasuk Sabda. Pria itu tertegun ketika melihat Farel datang dengan pakaian basah kuyup. Sabda melirik Kezia sekilas, wajah wanita itu tampak pias.
"Pernikahan ini dibatalkan!" kata Farel tegas.
"Tidak, pernikahan ini akan tetap dilanjutkan," sela Kezia cepat.
Farel menggeleng sambil tersenyum menyeringai.
"Perlu kalian ketahui, saat ini Kezia sedang mengandung anakku, harusnya aku yang bertanggung jawab, bukan dia," tunjuk Farel pada Sabda.
Sabda bernapas lega ketika mendengarnya. Farel mendekati Sabda, menatap Sabda cukup lama.
"Kenapa lo mau menikah dengannya?" tanya Farel.
"Kamu pasti tau liciknya Kezia seperti apa," pungkas Sabda.
"Lalu bagaimana dengan Cinta?"
"Cinta?" ulang Sabda.
"Bodoh!" umpat Farel. "Gue tau lo sayang sama dia, tapi kenapa lo pilih nikahin Kezia."
Sabda tersenyum tipis, memeluk Farel sebagai tanda terima kasih, Farel pun membalasnya.
"Terima kasih, karena telah menyelamatkan hidupku," kata Sabda tulus.
"Nggak perlu bilang kayak gitu, semua ini udah tugas gue. Cepat cari Cinta, dia kalau suasana hatinya lagi memburuk bisa menggila. Sampaikan maaf gue ke dia, maaf karena udah nyakitin hati dia. Tapi sejujurnya, dari hati gue yang paling dalam, gue masih sayang sama dia, hanya saja gue nggak pantes dapetin dia lagi. Buruan gih, sebelum semuanya terlambat. Lo tau, kan, saat ini ada yang lagi deketin Cinta, jangan sampai lo keduluan sama dia."
Sabda mengangguk mengerti, sekali lagi dia menepuk pundak Farel.
"Sekali lagi terima kasih, aku pergi dulu."
Sabda keluar dari kerumunan orang-orang itu, dia harus mengejar Cinta-nya. Dia sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya. Sudah cukup selama ini mereka selalu dilanda salah paham.
"Sabda! Kita harus menikah, kamu mau ke mana, kamu harus bertanggung jawab!" pekik Kezia.
"Biar gue yang tanggung jawab, itu anak gue. Kenapa harus orang lain yang lo libatkan. Sabda nggak ada sangkut-pautnya sama kita, jangan rusak kebahagiaan dia. Apa kamu belum puas mengambil kebahagiaan Cinta, hah?!" bentak Farel.
"Stop, Farel!" jerit Kezia.
"Segera nikahkan kami, Pak," kata Farel ke penghulu.
"Pernikahan tidak bisa dilanjutkan, karena mempelai wanita sedang hamil, kalian bisa menikah ketika anak itu sudah lahir. Baiklah, saya permisi dulu," pamit penghulu itu.
"Tidak!" jerit Kezia.
Rusak sudah rencananya yang sudah dia siapkan secara matang-matang. Kezia menatap Farel dengan bengis. Kebenciannya semakin membesar pada pria itu. Dia sangat menyesal karena sudah mengenal pria itu.
"Ayah benar-benar sangat kecewa denganmu, Kezia," kata Ricko.
Kezia memandangi ayahnya, hatinya mencelos ketika melihat raut wajah Ricko tampak tak seperti biasanya. Ada sorot mata kecewa, benci, marah, dan sedih.
Setelah mengatakan hal itu, Ricko melenggang pergi begitu saja. Bahkan Lina memanggilnya pun tak didengar.
Lina menampar pipi Farel, membuat pria itu tersenyum sinis.
"Puas, sudah menghancurkan rencana anakku, puas?"
"Cih, kalian berdua sama aja. Sama-sama licik. Dan lo," tunjuk Farel pada Kezia. "Kalau lo nggak mau nikah sama gue, biar gue yang tanggung jawab sama anak gue. Gue sanggup urus dia sendiri."
Farel perlahan menjauh, dia tidak akan lagi menuntut Kezia agar mau menikah dengannya. Berbalik badan, kemudian pergi meninggalkan Kezia yang saat ini tengah meraung.

Komentar Buku (185)

  • avatar
    Rizki Maulana Putra

    Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut

    24/01/2022

      1
  • avatar
    Linda hrp Rifky

    baik

    21/05

      0
  • avatar
    Syahrudin.tahakiArun

    99292o3o3oo3o3o3oep

    13/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru