logo text

Bab 26 I Like You

"Tumben ngajakin aku jalan. Lagi galau, ya?" tanya Dika serius.
"Nggak," jawab Cinta cuek.
Saat ini mereka sedang berada di taman kota. Keadaan di sana tidak terlalu ramai, membuat hati Cinta terasa tenang. Dia bisa menikmati suasana taman itu ketika di malam hari.
Dika menatap Cinta dalam diam, dia tahu kalau saat ini Cinta sedang tidak baik-baik saja. Dia tahu kalau Sabda dan Kezia akan menikah besok, mungkin itu yang sangat mengganggu pikiran wanita itu.
"Hubungan kamu sama Farel gimana?" tanya Dika basa-basi.
"Udah putus," jawab Cinta.
"Putus?" ulang Dika. Pria itu pura-pura terkejut.
"Hemm."
"Kok bisa?"
"Ya bisalah, namanya juga nggak jodoh. Apaan sih, kenapa jadi bahas dia," gerutu Cinta.
Dika menghela napas berat sambil tersenyum tipis.
"Heran aja sih, dulu kalian ke mana-mana selalu berdua. Setiap mau balapan, Farel selalu nyemangatin kamu. Kenapa bisa putus?" tanya Dika lagi.
Cinta mengedikkan bahunya acuh. "Nggak tau, tanya aja sama orangnya sendiri," sahut wanita itu dengan malas.
"Apa karena orang ketiga?"
Cinta langsung menoleh ke arah Dika, menatap pria itu dengan sorot mata tajam, membuat Dika salah tingkah.
"Kenapa? Apa pertanyaanku salah?" tanya pria itu.
"Nggak, tebakanmu memang benar. Haish! Nggak tau juga sih, mungkin Farelnya aja yang udah bosen sama aku. Lagian mana ada yang mau sama aku. Cewek tomboy, petakilan, nakal, ya ... gitulah."
"Yang suka sama kamu ada kok. Mungkin kamunya aja yang kurang peka."
Lagi, Cinta kembali menatap Dika.
"Kamu?" tanya Cinta to the poin.
Mata Dika mengerjap, kenapa Cinta bisa tahu kalau dirinya sedang tertarik pada wanita itu. Apa raut wajahnya gampang ditebak?
"Bukan," elak Dika sambil tertawa kecil.
Cinta mengangguk mengerti, wanita itu kembali menatap lurus ke depan.
"Ada yang cerita ke aku, setiap aku pergi, selalu ada yang mengikutiku. Entahlah, aku juga tidak tahu motifnya itu apa. Dan orangnya itu adalah kamu. Bahkan ketika aku pergi ke Club dan mabuk berat, kamu juga ada di sana. Bisa kamu jelaskan maksudnya apa, Dika? Kamu dendam sama aku?" tanya Cinta blak-blakkan.
Dika mengusap tengkuknya dengan kasar. Sial! Lagi-lagi Cinta mengetahuinya.
Karena tak mendapat jawaban, Cinta menoleh ke arah Dika.
"Dan kemarin, ketika kamu mengajakku untuk jalan bareng. Sebenarnya kamu mempunyai niat terselubung, kan? Ingin membuatku baper dan jatuh cinta padamu. Lalu, begitu aku sudah tertarik padamu, kamu bebas memperlakukanku sama seperti Farel melakukannya padaku," kata Cinta serius.
"Nggak!" jawab Dika tegas. "Oke, aku akan jelasin semuanya sama kamu, Cinta. Tapi terserah kamu mau percaya atau tidak. Jadi ... aku nggak sengaja ketemu sama Farel, dan aku juga nggak sengaja menguping pembicaraan mereka. Farel deketin kamu itu bukan murni cinta, tapi dia memanfaatkan uangmu dan juga ... tubuhmu," jelas Dika.
Mata Cinta melotot. Ingin berbicara tapi Dika menginterupsi agar jangan berbicara terlebih dahulu.
"Bahkan Farel berani taruhan, kalau sampai dia nggak bisa tidurin kamu, dia akan memberikan motornya pada temannya. Kamu tahu apa yang saat itu aku rasakan, Cinta? Harusnya aku senang, bukan? Tapi nyatanya tidak, aku marah, ingin menonjok wajah pria itu, tapi aku nggak mau gegabah. Maka dari itu, aku memutuskan selalu mengikuti ke mana pun kamu pergi. Dan untuk di Club itu, puncaknya Farel ingin menjebakmu, dia sengaja merecokimu alkohol agar dia bisa tidur denganmu. Tapi aku bersyukur karena semuanya gagal karena kehadiran Sabda, dia sangat khawatir ketika melihatmu tidak sadarkan diri. Pria itu langsung membawamu keluar dari Club. Sabda bahkan menjagamu sangat baik, dia tidak menyentuhmu sama sekali," kata Dika seraya tersenyum kecut.
Sial! Niat hati ingin melupakan pria itu, Dika malah menyebut nama Sabda begitu jelas, membuat Cinta menjadi gusar. Tidak tahukah Dika, bahwa saat ini hati Cinta sedang patah?
Dika melihat reaksi Cinta biasa saja, membuat pria itu mengernyit heran.
"Kamu tidak terkejut dengan ucapanku, Cinta?" tanya Dika heran.
Cinta menggeleng pelan.
"Kamu sudah tau?"
"Ya, aku udah tau semuanya, dan aku mendengarnya dari Farel sendiri. Wanita mana yang tidak sakit hatinya ketika kekasihnya berbicara seperti itu. Tapi aku bersyukur karena sudah dijauhkan dari laki-laki seperti itu," jawab Cinta sambil tersenyum tipis. "Dan untuk Sabda, dia memang pria yang baik, dia selalu mematuhi peraturan ayah, selalu mendengar apa saja ayahku ucapkan. Dia benar-benar menjagaku dengan baik," lanjut wanita itu dengan suara bergetar.
Dika mendengar suara Cinta yang tampak ingin menangis, tapi dia tidak ingin merusak suasana itu. Ini adalah hari dirinya dengan Cinta, dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam pembicaraan mereka. Hanya ada Dika dan Cinta, itu saja yang pria itu inginkan, tidak lebih. Biarlah dia dianggap sebagai pria yang egois.
"Ingin makan sesuatu?" tawar Dika.
"Boleh."
"Kamu ingin makan apa?"
Cinta menatap sekeliling taman kota tersebut.
"Siomay kayaknya enak deh."
Dika mengangguk. "Minumnya?" tanya pria itu lagi.
"Es teh aja."
"Oke, kamu tunggu di sini dulu, ya," pinta Dika.
"Sip."
Cinta menatap punggung Dika yang semakin lama semakin menjauh. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah pada pria itu, karena telah mengajaknya pergi malam ini hanya untuk melupakan Sabda sejenak. Cinta sangat berharap jika Dika tidak menganggap malam ini dengan serius, walaupun dia sangat tahu kalau sebenarnya Dika memang mempunyai ketertarikan padanya.
***
"Ih, Dika. Kamu makannya kok belepotan gini sih," gerutu Cinta sambil mengelap es krim yang ada di sudut bibir Dika.
Dika tersentak kaget ketika ibu jari Cinta berada di bibirnya. Pria itu bahkan menahan napas ketika tatapan mereka bertemu.
Cinta menyadari tatapan Dika tampak berbeda, dia pun langsung menarik tangannya kembali.
"Sorry, aku nggak sengaja," ucap Cinta dengan raut wajah menyesal.
"Nggak apa-apa kok," jawab Dika lirih.
"Pulang yuk," ajak Cinta.
"Kok sebentar banget."
"Udah ngantuk nih. Sebentar lagi juga kayaknya mau hujan. Emang kamu mau sakit?"
"Kalau sama kamu, aku rela kok," kelakar Dika.
"Itu kan maumu, ya udah, aku pulang duluan, ya. Lagian kita juga nggak searah," ucap wanita sambil berdiri dari duduknya.
"Cinta, tunggu!" teriak Dika.
"Apa lagi?"
"Besok Kezia akan menikah, apakah kamu akan datang?" tanya pria itu takut-takut.
Dika melihat raut wajah Cinta berubah, dia sungguh sangat menyesal karena sudah bertanya seperti itu.
"Aku pulang," pamit Cinta.
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi dia menghentikan langkahnya karena Dika terus memanggilnya.
"Apa lagi sih," sahutnya ketus.
"I like you."
Cinta tertawa pelan ketika mendengarnya. "Aku lebih memilih ucapan laki-laki yang begitu lembut daripada laki-laki yang berbicara terlalu manis," kata Cinta lirih.
Dan tanpa Cinta dan Dika sadari, sedari tadi ada seseorang yang tengah melihat mereka dengan perasaan remuk redam.
"Cinta, kenapa mudah sekali bagimu untuk melupakanku, apa hanya aku saja terlalu berharap padamu?" lirih pria itu.
Ya, dia adalah Sabda.

Komentar Buku (185)

  • avatar
    Rizki Maulana Putra

    Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut

    24/01/2022

      1
  • avatar
    Linda hrp Rifky

    baik

    21/05

      0
  • avatar
    Syahrudin.tahakiArun

    99292o3o3oo3o3o3oep

    13/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru