logo text

Bab 23 Pulang

Cinta mengumpat kesal karena tidak menemukan pakaian yang cocok untuknya. Semua bajunya kotor, sedangkan dilemari itu penuh dengan pakaian Cika dan Vera.
"Ya ampun. Kenapa lemarinya diacak-acak gitu sih!" teriak Vera sambil berkacak pinggang.
"Aku sedang mencari bajuku, tapi nggak ada. Ke mana sih, apa jangan-jangan kalian buang ya?" tanya Cinta dengan sorot mata tajam.
Vera mendekati Cinta, lalu menoyor kepala wanita itu dengan sedikit keras.
"Buang baju kamu? Yang benar saja. Tuh lihat, baju kamu kotor semua. Harusnya kamu cuci, bukannya malah nuduh orang sembarangan," decak Vera.
Cinta nyengir lebar. "Kamu mau cucikan bajuku?"
"No!" jawab Vera tegas.
"Tenang aja, pasti aku bayar. Gimana, mau apa nggak?" tanya Cinta sambil menaik-turunkan alisnya.
"Nah, kalau seperti ini bisalah dibicarakan secara baik-baik. Berapa?" tanya Vera balik.
Cinta memutar bola matanya malas. Temannya memang seperti itu kalau menyangkut hal yang berbau dengan uang.
"Berapa aja. Yang penting kamu urus baju-bajuku. Cuci bersih, jangan lupa kasih pewangi biar nggak bau apek."
"Oke," jawab Vera sambil tersenyum lebar.
Cinta langsung bangkit dari tempat tidurnya, tanpa merapikan kembali baju yang sudah dia acak-acak itu.
"Heh! Mau ke mana? Beresin dulu itu!" bentak Vera.
Cinta mengedikkan bahunya acuh. "Sekalian kamu yang beresin, katanya mau uang," ejek Cinta.
Vera menggeram kesal, akan tetapi dia tidak berani lagi membantah Cinta. Mulut wanita itu tampak komat-kamit, seperti sedang mengumpat Cinta tanpa suara.
"Kamu mau ke mana?" tanya Vera yang melihat Cinta naik dimotornya.
"Pulang," jawab wanita itu singkat.
"Udah ingat rumah rupanya," ejek Vera.
Cinta mendengkus. "Kalau bukan karena baju, aku juga nggak bakalan pulang. Bye!"
Cinta melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Vera geleng-geleng kepala.
"Tuh anak belum ngerasain nyium aspal kali," gumam Vera.
***
Berkali-kali Cinta menghela napas panjang, dia gugup karena harus kembali masuk ke rumah itu. Gara-gara pakaiannya yang kotor semua, dia harus kembali pulang.
Cinta melihat rumah itu tampak sedikit ramai, sepertinya ada tamu yang datang. Cinta mengedikkan bahunya acuh, dia tak peduli siapa itu. Saat ini dia harus cepat-cepat mengambil pakaiannya, lalu pergi dari sini.
"Aku bersumpah tidak pernah menyentuh Kezia sama sekali!"
Langkah Cinta terhenti. Wanita itu tertegun, dia sangat mengenali siapa pemilik suara itu.
"Terus, kalau kamu tidak menyentuhnya, kenapa Kezia bisa hamil?!" teriak Ricko.
Deg! Tubuh Cinta menegang, telinganya terasa berdengung, dadanya pun terasa berhenti berdetak.
Hamil? Kezia? Cinta tertawa sinis sambil menggeleng pelan.Mata wanita itu tampak berkaca-kaca. Apakah Sabda benar-benar melakukan hal serendah itu? Jika iya, Sabda sungguh sangat berubah. Jika dulu Sabda memiliki sifat yang sangat pendiam dan cuek, tapi kenapa sekarang pria itu bertindak seperti itu?
Cinta memundurkan langkahnya, tiba-tiba saja dia ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Dia belum siap menerima kenyataan ini. Namun takdir seolah sedang tidak berpihak padanya, Ricko terlebih dahulu memanggil namanya.
"Cinta! Kamu sudah pulang? Kenapa tidak masuk, Nak?"
Cinta menahan napas ketika mendengar suara Ricko, mau tak mau dia membalikkan badannya, menatap sang ayah sambil tersenyum tipis.
"Ah, rupanya benar. Kemarilah, Ayah sungguh merindukanmu. Sudah lama kamu meninggalkan rumah ini."
Lagi-lagi Cinta tertegun ketika melihat mata ayahnya tampak berkaca-kaca, serta menampilkan senyuman tulus untuknya.
Sudah lama Cinta tak pernah melihat Ricko berekspresi seperti itu. Tanpa sadar membuat Cinta mendekat. Namun tak berapa lama dia kembali menghentikan langkahnya, wanita itu menahan napas ketika melihat Sabda yang saat ini juga tengah memerhatikannya.
Cinta melihat ada binar bahagia ketika pria itu melihat ke arahnya. Namun Cinta tak boleh terpesona, wanita itu buru-buru membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Aku mau ke kamar dulu," pamit Cinta.
Ketika Cinta ingin melangkah, tangannya tiba-tiba saja dicekal oleh Ricko, membuat Cinta menghela napas berat.
"Kamu sudah lama tidak pulang, apakah kamu akan pergi lagi? apakah kamu tidak merindukan Ayah?" tanya Ricko dengan suara berat.
Cinta tertawa pelan ketika mendengar suara ayahnya yang tampak frustrasi.
"Ayah kenapa jadi seperti ini, bukannya tiap hari tingkahku selalu begini?" tanya Cinta dengan alis bertaut.
"Duduklah dulu, ada yang sedang kami rundingkan, Ayah juga perlu tahu pendapatmu."
Cinta mengerutkan keningnya. Menurutnya, sifat Ricko agak berubah. Mau tak mau Cinta mengangguk pasrah. Cinta pun bergabung, duduk dikursi itu dengan senyum dipaksakan. Pasalnya, saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian.
"Kenapa nggak dilanjutin lagi ngobrolnya?" tanya Cinta basa-basi.
Kezia yang mendengarnya memutar bola matanya malas, walaupun begitu, diam-diam dia tersenyum licik.
'Bagus kamu ada di sini. Kita lihat, seberapa besar nyalimu itu untuk datang ke tempat ini,' batin Kezia sinis.
"Ekhem, jadi bagaimana, Sabda. Kamu mau, kan, tanggung jawab," ujar Kezia dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Mata Cinta terbelalak ketika Kezia menyebut nama Sabda, wanita itu refleks menoleh ke samping. Dilihatnya Sabda sedang tersenyum manis padanya. Sial! Cinta melupakan hal itu. Dan lebih parahnya lagi saat ini mereka berdua tengah duduk bersebelahan.
"Kamu apa kabar?" tanya pria itu.
"Baik," jawab Cinta cuek. Wanita itu berusaha untuk menutupi kegugupannya.
"Aku--"
"Sabda! Aku sedang berbicara padamu!" pekik Kezia.
"Maaf, Kezia. Aku tidak merasa berbuat hal semacam itu padamu. Tidak mungkin kalau itu anakku!"
Lagi-lagi Cinta menahan napas. Wanita itu benar-benar merutuki kebodohannya, harusnya tadi dia tidak datang ke sini untuk mendengar berbagai kalimat yang cukup menyakiti perasaannya.
"Kalau kamu tidak melakukannya, kenapa kamu bisa berada di kamar Kezia? Ditambah lagi tidak memakai baju, masih bisa mengelak?" tanya Lina sinis.
Sabda menyugar rambutnya dengan kasar, mau beribu-ribu kali dia menjelaskan, rasanya percuma, tidak ada yang mau memercayainya.
"Sudah, kalian berdua kenapa selalu saja berdebat. Kali ini biar Ayah yang bicara pada Sabda. Ayah sudah memutuskan apa yang terbaik untuk kalian berdua."
Baik Sabda, Cinta, Lina, maupun Kezia kompak menatap Ricko dengan pandangan yang berbeda-beda.
Ricko menghela napas panjang, pria paruh baya itu menatap Sabda lekat-lekat, Sabda yang ditatap seperti itu pun seketika gugup.
"Kamu masih ingat, bukan? Tentang pembicaraan kita waktu itu. Jika kamu berhasil membuat pribadi Cinta berubah menjadi lebih baik, maka kamu akan Om jodohkan dengan salah satu putri Om. Maka dari itu--"
"Aku mau ke kamar, capek!" sela Cinta cepat.
"Loh, Ayah belum selesai ngomong, Cinta. Kamu mau ke mana?"
Cinta sengaja menulikan telinganya, dia buru-buru melangkah menuju kamarnya. Sungguh, apapun yang keluar dari mulut ayahnya, dia tidak ingin mendengarnya. Cinta yakin kalau ucapan Ricko akan menyakiti hatinya.
Ketika Cinta sudah sampai di kamar, wanita itu menutup pintu dengan cepat, tak lupa dikuncinya pintu itu. Tubuhnya seketika luruh, Cinta menangis dalam diam.
"Sekarang apa lagi, Ayah? Bahkan Ayah tega ingin memisahkanku dengan orang yang aku sayang," lirih Cinta.

Komentar Buku (185)

  • avatar
    Rizki Maulana Putra

    Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut

    24/01/2022

      1
  • avatar
    Linda hrp Rifky

    baik

    21/05

      0
  • avatar
    Syahrudin.tahakiArun

    99292o3o3oo3o3o3oep

    13/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru