Kezia mengepalkan tangannya karena melihat perdebatan kedua orangtuanya dari arah kejauhan. Baru kali ini dia melihat Ricko tampak murka pada mamanya karena membahas tentang Cinta, sebelumnya Ricko tak pernah bersikap seperti itu. Cinta, dia senang karena selama beberapa hari ini wanita itu tidak pulang. Kezia malah berharap kalau Cinta tidak akan pernah kembali lagi, dengan begitu, dia bisa mengambil semua hak yang ada pada Cinta. "Sebentar lagi aku akan menyingkirkan kamu, Cinta. Nikmatilah kehancuranmu itu," desis Kezia dengan sorot mata tajam. Dia harus melakukannya sekarang, memulai untuk membuat drama bahwa saat ini dia tengah hamil anak Sabda. Lagi-lagi wanita itu tersenyum licik, dia sangat tidak sabar menanti raut wajah Cinta yang begitu menyedihkan. Ponsel Kezia seketika berdering, dahinya mengernyit heran karena nama Farel yang tertera dilayar ponselnya. 'Bukankah aku sudah menyuruh Dika untuk menjauhiku dari pria itu?' batin Kezia. Kezia memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan itu, menurutnya sangat tidak penting. Namun, berkali-kali ponselnya terus berdering membuat Kezia berdecak kesal. "Halo," kata Kezia dengan nada malas. "Sekarang permainan apa lagi yang akan lo mulai?" tanya Farel dari ujung sana dengan suara dingin. "Bukan urusanmu!" "Lo benar-benar licik, Kezia. Gue pastiin semua rencana yang lo buat, akan gue gagalin, gimanapun caranya!" Kezia tertawa mengejek. "Silakan kalau kamu bisa." Kezia mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, tiba-tiba saja tubuhnya gemetar hebat. Dia tidak tahu kenapa badannya bisa bereaksi seperti ini. Mungkin karena efek belum sarapan, dan juga kaget karena tiba-tiba saja Farel menghubunginya serta mengancamnya. 'Dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu, aku yakin dia hanya menggertak saja. Lagipula, Dika sudah mengurus pria itu. Cih, kau memang menggairahkan, Farel. Hanya saja, kamu tidak mempunyai masa depan. Siapa yang mau sama kamu, menikah? Yang benar saja,' batin Kezia sambil tersenyum sinis. Kezia kembali melihat ponselnya, dia berniat untuk memblokir nomor Farel, setelah itu, dia pun mencoba menghubungi nomor Dika untuk memastikan sesuatu. "What happen?" tanya Dika dari ujung sana. Kezia menghela napas panjang. "Kamu gimana sih, katanya bisa mastiin kalau Farel nggak bakal nemuin aku lagi, kok bisa gagal?" tanya Kezia. Wanita itu tengah kesal setengah mati. "Benarkah?" tanya Dika pura-pura terkejut. "Setahuku, dia sudah aku bawa ke tempat terpencil. Kenapa bisa menghubungimu? Padahal di sana susah sinyal, loh." Kezia mendengkus keras. "Aku nggak tanya di sana ada sinyal atau nggak. Yang aku tanyakan, kenapa dia bisa menghubungiku lagi. Aku sudah bilang sama kamu, jangan pernah temuin aku sama dia lagi!" geram Kezia. Kezia mendengar tawa Dika begitu menggelegar di ujung sana. "Dia hanya menghubungimu, bukan menemuimu, kenapa kamu takut sekali. Percaya saja, dia tidak akan menemuimu. Kalaupun suatu hari nanti kalian bertemu kembali, tandanya kalian memang ditakdirkan untuk bersama." "Tutup mulutmu itu! Aku tidak suka mendengarnya. Ingat, aku pegang kata-katamu, awas saja kalau dia sampai datang, bisa-bisa rencanaku gagal karena dia!" "Dengar, aku sudah menuruti semua keinginan kamu, dia muncul atau tidak, itu udah bukan urusanku lagi. Ingat Kezia, dalam perjanjian kita aku ditugaskan untuk menjauhimu dari Farel, nggak lebih!" tegas Dika dari ujung sana. Setelah Dika berkata demikian, sambungan telepon pun terputus. Kezia mengepalkan tangannya dengan erat. Sudah sejauh ini dia melangkah, dia tidak ingin semuanya hancur berantakan karena Farel. Tidak! Dia tidak akan pernah mengizinkan siapapun bisa membatalkan rencananya. Langkah selanjutnya yang akan dia pikirkan adalah Sabda. Ya, dia harus menemui pria itu segera mungkin. Ketika ingin melangkah, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, penglihatannya terasa sangat buram. Ringisan kecil pun akhirnya muncul dari bibirnya. Sial! Kezia melupakan satu hal bahwa saat ini dia sedang hamil, ditambah lagi sejak tadi dia sama sekali belum menyentuh nasi. Kezia mengepalkan kedua tangannya. "Bayi sialan! Bisanya menyusahkan saja!" geram wanita itu. *** Sabda mendengkus kesal karena melihat Kezia sedang berada di hadapannya. "Ada apa?" tanya pria itu sinis, sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Kezia memerhatikan sekitar, wanita itu tampak sedang meneliti kontrakan Sabda, tak lama kemudian wanita itu tersenyum menyeringai. 'Ya, lumayan lah. Setidaknya dia bisa bertanggung jawab untukku,' batin Kezia. "Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, lebih baik kamu pulang saja," dengkus Sabda. Sabda ingin menutup pintu itu, namun secepat kilat Kezia mencegahnya, membuat Sabda memutar bola matanya malas. Sabda sungguh benci melihat wajah Kezia. Padahal wanita itu tidak pernah membuat kesalahan padanya, tapi entah kenapa kebenciannya terhadap wanita yang ada di hadapannya bisa sebesar itu? Ya, Sabda tahu, alasannya adalah Cinta. Apa yang Cinta suka, dia juga akan suka, begitupun sebaliknya. "Kamu tega sekali terhadap wanita. Masa iya aku dibiarin di luar sendirian. Nggak disuruh masuk nih?" tanya Kezia dengan suara menggoda. Sabda tertawa sinis. "Nggak!" jawabnya tegas, "aku sedang sibuk, sebaiknya kamu pergi saja dari sini," usir pria itu ketus. "Jahat banget. Kenapa setiap kali kamu berbicara denganku selalu menggunakan nada seperti itu? Beda banget kalau bicara sama Cinta." Sabda menggertakkan giginya. Cinta, sudah beberapa hari ini Sabda tak pernah melihat wajah wanita itu, membuat Sabda sering kali uring-uringan tak jelas. "Cinta itu pengecualian," jawab Sabda datar. "Hah, sudahlah. Aku sungguh muak membahas tentang wanita itu. Selalu saja dibela. Ayah bela dia, dan sekarang kamu juga memujinya. Nggak habis pikir sama jalan--" "Cukup!" bentak Sabda. Pria itu menatap Kezia dengan bengis. "Kamu pergi sekarang, atau kalau nggak. Aku bisa berbuat kekerasan terhadapmu," desis Sabda. Kezia tersenyum remeh. "Coba aja kalau bisa. Seandainya saja kamu berani melakukan hal itu, maka aku akan berteriak dan berbicara pada orang-orang sekitar bahwa kamu berniat melecehkanku." Sabda mengepalkan tangannya. Jika dia ceroboh sedikit saja, maka akan dipastikan akan masuk perangkap wanita itu. Kezia memang sungguh licik. Sabda menghela napas berat. 'Cinta, aku sungguh merindukanmu. Cuma kamu yang bisa membuatku tenang,' batin Sabda. "Ck! Katakan, apa yang membuatmu datang ke sini untuk menemuiku?" tanya Sabda malas. "Eh, nggak disuruh masuk nih. Aku ini tamu kamu loh," goda Kezia. "Tidak akan! Aku tidak mau terjebak lagi oleh wanita licik sepertimu. Cepat katakan saja, aku nggak punya banyak waktu." Kezia mendengkus sebal. Sabda sungguh susah sekali untuk dirayu. Padahal saat ini dia tengah memakai pakaian yang begitu seksi, tetap saja Sabda tak sedikitpun tertarik padanya. 'Sial!' batin Kezia. "Aduh, kepalaku sakit sekali. Tolongin aku, Sabda," ringis Kezia sambil memegangi kepalanya. Bukannya khawatir, pria itu malah tersenyum mengejek. "Taktik apalagi yang akan kamu gunakan? Sorry, aku tidak mudah tertipu dengan wanita licik sepertimu." Kezia menatap Sabda dengan berang, habis sudah kesabarannya kali ini. Wanita itu tampak emosi. Bukan kalimat lembut yang Kezia dapatkan dari Sabda, melainkan cercaan. "Fine! Jika kamu nggak mau diajak bicara baik-baik, maka aku akan berbicara langsung tujuanku datang ke sini," kata Kezia dengan napas memburu. Kezia menatap sekitar, banyak pasang mata yang tengah melihat perdebatan mereka, lagi-lagi Kezia menyeringai. "Aku hamil!" pekik wanita itu, membuat tubuh Sabda menegang seketika.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (185)
Rizki Maulana Putra
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
24/01/2022
1baik
21/05
099292o3o3oo3o3o3oep
13/03
0Lihat Semua