Sabda menyipitkan mata karena silaunya matahari. Pria itu mendesis lirih akibat merasakan sakit yang luar biasa di area lehernya, serta pria itu merasa kedinginan. Sabda meraba dadanya sendiri, pria itu tersentak kaget karena dirinya tidak memakai pakaian. Sabda mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Yang dia ingat, dirinya akan menjemput Cinta, tapi tiba-tiba saja kesadarannya hilang. Sabda mengedarkan pandangan, mengernyit bingung karena saat ini dia berada di ruangan yang tampak asing baginya. Sekali lagi dia memandangi tubuhnya yang tidak memakai pakaian. Batinnya bertanya-tanya, apa yang terjadi tadi malam, kenapa dia bangun tidak memakai baju seperti ini? Cinta, nama itu kembali teringat di kepala Sabda. Membuat pria itu langsung melompat dari ranjang itu. Dia mencari-cari bajunya yang entah ada di mana. Pintu dibuka dari luar dengan keras. Spontan Sabda menoleh. Mata pria itu membelalak ketika melihat ada Cinta, Ricko, Kezia, dan juga Lina, mama tiri Cinta. Tatapan Sabda dan Cinta bertemu, namun hanya sesaat karena Cinta langsung membuang muka, membuat hati Sabda sakit. Tadi malam dirinya setengah mati mencari keberadaan Cinta, tapi yang dia dapat dari Cinta seperti itu. Bugh! Sabda jatuh terjungkal akibat pukulan Ricko. Pria itu meringis kesakitan sambil menatap Ricko dengan raut wajah bingung. "Om, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku dipukul?" tanya pria itu. Ricko tersenyum sinis. "Aku hanya menyuruhmu untuk menjaga Cinta, tapi kenapa kamu tiduri Kezia, hah!" bentak Ricko. "Pake acara pura-pura lupa segala," lanjut pria paruh baya itu. Sabda mendadak linglung. Tidur? Dengan Kezia? Apa maksud dari semua ini? Batinnya selalu bertanya-tanya seperti itu. Niatan itu sama sekali tidak pernah hadir dipikiran Sabda, tapi kenapa dirinya dituduh yang tidak-tidak? Sabda menoleh ke arah Kezia, dia melihat wanita itu tampak menangis tersedu dipelukan sang mama. Sabda mengusap wajahnya dengan kasar. "Tidak! Aku tidak pernah tidur dengannya. Tolong jangan fitnah aku seperti ini!" tegas Sabda. Ricko tertawa menggelegar sambil bertepuk tangan. "Tidak tidur dengannya? Tapi kenapa kamu saat ini sedang berada di kamar Kezia, dan juga kenapa kamu tidak memakai baju, lihatlah badanmu, penuh dengan merah-merah," tandas Ricko. Sabda meneliti tubuhnya, matanya melotot tak percaya, karena apa yang diucapkan oleh Ricko memang benar adanya. Pria itu refleks menutupi badannya menggunakan kedua tangannya. Berkali-kali pria itu menggeleng cepat. Sabda menampar pipinya dengan keras, sangat berharap jika yang tengah dia hadapi hanya mimpi, tapi ternyata semua memang nyata. Lagi-lagi Sabda menatap Cinta, tapi sayangnya Cinta tak menoleh ke arahnya. Wanita itu malah pergi begitu saja. Sabda langsung berdiri, ingin menyusul Cinta untuk menjelaskan bahwa semua ini tidak benar. Namun, tangannya lebih dulu dicekal oleh Ricko. "Mau kemana? Lari dari tanggung jawab?" tanya Ricko tajam. Sabda menghempaskan tangan Ricko dengan kasar. "Apa yang harus aku pertanggung jawabkan. Aku sama sekali tidak melakukan apapun," tandas Sabda. Pria itu menatap Kezia bengis. Sabda yakin jika semua ini ulah Kezia. Ya, dia sangat yakin dengan hal itu. "Kamu masih ingin mengelak? Dasar pria berengsek!" Bughh! Ricko kembali memukul Sabda, membuat pria itu kembali terjatuh. Sabda sungguh tak berdaya. Saat ini yang ada dipikirannya adalah Cinta. Bagaimana caranya agar wanita itu mau mempercayainya. Sabda berdiri, berjalan dengan tertatih untuk mendekati Kezia. "Aku tahu kalau kamu menjebakku, katakan pada orang tuamu kalau kamu yang melakukan semua ini, cepat katakan, Kezia!" bentak Sabda. Kezia menggeleng cepat, wanita itu malah semakin terisak. Sabda sungguh muak dengan tingkah wanita itu. Sangat licik. "Cepat katakan yang sebenarnya! Yang aku butuhkan adalah jawabanmu, bukan tangisanmu!" sentak pria itu yang tampak sangat emosi. "Cukup, Sabda. Kamu membuat anakku sangat ketakutan!" bentak Lina. "Dia ini sangat licik, kenapa kalian mudah tertipu dengan tampang wajahnya, hah!" Plak! Lina menampar pipi Sabda begitu keras, membuat Sabda tersenyum sinis. Rasanya percuma jika berhadapan dengan mereka, Ricko dan Lina sudah dibutakan oleh Kezia. "Aku akan mencari buktinya sendiri. Jika aku tidak terbukti melakukannya, maka rasakanlah akibatnya," ancam Sabda. Sebelum dia pergi, Sabda menoleh ke arah Ricko sebentar. "Om, Anda begitu sangat mengkhawatirkan kondisi anak tirimu, sampai-sampai Anda lupa jika ada darah daging anda yang tengah terluka." Setelah mengatakan hal itu, Sabda langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Melangkah dengan tergesa, mencari keberadaan Cinta. Seluruh rumah sudah Sabda telusuri, tapi tidak ada sosok Cinta di sana. Sabda menghela napas berat. "Maafkan aku, Cinta," lirih pria itu. *** Cinta duduk di pinggir jalan seorang diri. Tatapannya tampak kosong. Kejadian tadi benar-benar sangat menamparnya. Ingin tidak mempercayai, tapi matanya sudah melihat secara langsung. Sabda tengah berada di kamar Kezia dengan kondisi tidak memakai pakaian. Cinta tertawa miris. Entah kenapa ada rasa sakit yang muncul di dadanya. "Aku tidak menyangka jika kamu seperti itu, Sabda. Aku kira kamu adalah lelaki yang berbeda, ternyata kamu sama saja seperti laki-laki pada umumnya. Tapi kenapa? Kenapa harus Kezia? Kenapa tidak dengan orang lain saja. Kamu tahu, Sabda. Kamu membuat hatiku hancur berkali-kali lipat. Kamu hebat, bisa membunuhku secara perlahan," gumam wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Suara petir saling bersahut-sahutan, tapi Cinta tidak perduli. Dia malah sangat menantikan hujan deras datang. "Gila! Kamu ngapain ada di sini?" Cinta menoleh ke samping. Mengernyit heran karena rivalnya ada di sampingnya. "Ngapain kamu di sini, ganggu aja," gerutu Cinta. "Kangen." Cinta menatap laki-laki itu dengan sorot mata tajam. "Kangen balapan maksudnya, kalau nggak ada kamu nggak asyik banget. Jadi, kapan kamu akan balapan lagi?" Cinta mengedikkan bahunya acuh. "Lagi nggak tertarik, biar bayarannya mahal, tetap saja aku tidak minat. Lagi fokus menata hidup," jawab Cinta sekenanya. Dika tersenyum tipis. "Nggak nyangka aja, di balik sifat sombongmu itu, ternyata kamu mempunyai hati nurani, ya." "Ngomong apa sih, nggak jelas banget. Kayak ngerti kehidupanku aja. Ingat ya, kita itu hanya sebatas rival," cetus Cinta. "Iya sih. Tapi itu kan hanya di area balapan. Kalau di luar itu, bisa dong kita temenan," goda Dika. Cinta diam saja. Wanita itu malas menanggapi celotehan pria itu. Saat ini dirinya benar-benar ingin sendiri, tapi malah ada saja yang mengganggunya. "Terserah," jawab Cinta ketus. "Nah, gitu dong. Perkenalkan, namaku Dika, kalau kamu?" tanya Dika sambil menyodorkan tangannya. Cinta memutar bola matanya malas. "Nggak lucu ya," dengkus wanita itu. "Bercanda. Yakin nih, tanganku nggak disambut." "Cinta," jawabnya cuek sambil membalas uluran tangan Dika. "Salam kenal, Cinta Revalina."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (185)
Rizki Maulana Putra
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
24/01/2022
1baik
21/05
099292o3o3oo3o3o3oep
13/03
0Lihat Semua