"Aku hamil," ujar Kezia dengan raut wajah tak terbaca. Saat ini Kezia sedang berdiri di hadapan Farel. Pikiran Kezia campur aduk. Dia bingung harus bagaimana, dan juga bagaimana reaksi mama dan papanya jika mengetahui dirinya tengah berbadan dua. Farel menatap Kezia dengan tajam. Setelah itu dia tertawa keras, tak percaya dengan ucapan Kezia. Yang Farel pikirkan Kezia memang pandai bersandiwara. Wanita itu pintar bersilat lidah, hingga dirinya pun akhirnya terjebak dengan rayuannya. "Bohong! tandas Farel. Kezia tersenyum sinis. "Apa kamu masih ingat dengan kata-katamu, sebelum kita melakukannya, kamu sudah berjanji jika terjadi sesuatu padaku, kamu akan bertanggung jawab, tapi sekarang apa? Kamu menyangkalnya, kan?" tanya Kezia seraya melipatkan kedua tangannya di dada. "Gue tau itu bukan anak gue," papar pria itu dengan rahang mengeras. Plak! Kezia menampar pipi Farel dengan keras. Dia benar-benar tidak terima dengan kalimat yang Farel lontarkan. Kezia akui, memang selama ini dirinya terlibat dalam pergaulan bebas selama dirinya berpacaran. Ya, dia berpacaran memang sudah sejauh itu. Hanya saja dia selalu bermain cantik, tidak seperti Cinta yang terang-terangan melakukannya. Semua itu dia lakukan agar tetap dilihat sebagai anak yang penurut, bukan pembangkang. Farel tersenyum sinis karena mendapat tamparan itu, menurutnya ini tidak ada apa-apanya. "Selama ini kita selalu melakukannya berkali-kali, apa kamu lupa, hah?!" jerit Kezia. Farel menggeleng. "Gue nggak lupa, cuma gue nggak percaya kalau itu anak gue!" sentak Farel. "Kamu!" geram Kezia. "Kamu benar-benar laki-laki kurang ajar, ya. Mana katamu yang bilang akan tanggung jawab, bulshit!" Tawa Farel pecah, kemudian dia menarik dagu Kezia cukup keras, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Perlu gue ingetin sekali lagi. Elo bilang kalau hal yang kayak gini nggak bakalan kejadian, karena elo udah berpengalaman, tapi sekarang apa? Elo hamil? Ya tanggung sendirilah, lagian selama ini yang terus ngajakin, kan elo. Gue sebagai lelaki ya mau-mau aja, ibaratnya kucing dikasih ikan, siapa yang nggak mau? Elo pikir secara logika. Dan satu lagi yang perlu elo ingat, zaman sekarang pacaran itu nggak perlu pakai cinta, yang penting nafsu sudah tersalurkan semuanya beres," ucap Farel dengan bangga. Kezia menatap Farel nyalang, dan lagi-lagi wanita itu menampar pipi Farel cukup keras. "Pukul aja sepuasnya, semua itu nggak bakal mengubah keputusan gue," kata Farel dengan senyum menyeringai. "Dari sini gue bisa lihat perbedaan elo dengan Cinta. Cinta memang urakan, tengil, sombong, suka mabuk, dan dia udah dipandang jelek sama bokapnya. Tapi satu hal yang harus elo tau, hatinya tidak kotor macam elo, yang katanya gadis baik-baik, yang selalu dibanggakan oleh mama dan papanya, yang katanya gadis penurut. Cih, kenyataannya, hatinya sangat buruk, lebih tepatnya wanita murahan, sangat murahan!" sarkas Farel. Plak! "Tutup mulut kotormu itu! Aku datang ke sini bukan untuk diceramahi, aku hanya ingin memberitahu agar hubungan kita berakhir sampai di sini!" Farel mengernyit heran, tetapi detik berikutnya dia tersenyum menyeringai. 'Benar dugaan gue, anak itu bukan anak gue,' batin Farel. "Apa yang akan lo lakuin sama bayi itu?" tanya Farel datar. "Bukan urusanmu," ujar wanita itu sambil mengelus perutnya yang masih datar. Senyuman Kezia membuat Farel curiga. Entah apa lagi yang akan Kezia buat, Farel sangat yakin jika kali ini Kezia akan kembali berbuat licik. "Yang pasti, aku akan mencari ayah yang baik untuk bayi ini," gumam Kezia dengan senyum liciknya. Benar dugaan Farel. Kezia tetap Kezia, wanita yang mempunyai seribu kelicikan. "Siapa?" tanya Farel. Entah kenapa, tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Kezia menatap Farel dengan tatapan yang sulit diartikan, kemudian berjalan mendekat ke arah pria itu. Kezia mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik ditelinga Farel. "Sabda." Farel tercengang, sontak dirinya mendorong tubuh Kezia tanpa memedulikan wanita itu hamil atau tidak. "Gila!" umpat Farel. "Lo emang nggak waras." "Ya, inilah aku. Wanita yang kamu sebut gila, yang tengah mengandung anakmu, tapi sayangnya kamu tidak ingin bertanggung jawab," sindir Kezia. Farel mengusap wajahnya dengan kasar. Bertanggung jawab sama saja artinya mereka harus menikah. Tidak! Pikiran Farel masih belum ke arah sana, saat ini dia hanya ingin bermain-main saja, tidak ingin serius dengan wanita manapun. Tapi ... di dalam perut Kezia, ada buah cinta mereka yang tengah bersemayam. Lagi-lagi Farel menatap Kezia dengan perasaan campur aduk. Ingin menyangkal jika bayi itu bukan anaknya, tapi di sisi lain dirinya yakin jika itu adalah darah dagingnya. Pria itu menghela napas berkali-kali, memijit pelipisnya dengan perlahan, kemudian matanya kembali terbuka. "Oke, gue bakal tanggung jawab, gue akan nikahin elo, puas!" Kezia tersentak, detik kemudian wanita itu menggeleng cepat. "Nggak! Nggak perlu." Farel mengerutkan keningnya. "Why? Bukannya ini yang elo mau?" tanya pria itu heran. "Aku, kan, udah bilang, kalau aku akan mencarikan ayah yang baik untuk bayi ini. Bukan kamu!" "Nggak! Hal itu nggak akan gue biarin, setelah elo udah berhasil membuat hubungan gue sama Cinta hancur, sekarang elo mau ganggu hubungan mereka juga? Elo benar-benar nggak punya hati tau nggak." Kezia terbahak mendengarnya. "Kamu tau apa dengan hubungan mereka. Mereka tidak mempunyai hubungan apapun. Hanya sebatas nyonya dan bodyguard. Jangan sok tau deh," kesal Kezia. Dia tidak suka jika nama Cinta selalu terdengar ditelinganya, dirinya sungguh sangat membenci wanita itu. Karena Cinta mempunyai segalanya. Ayah yang baik, anak orang kaya, dan juga mempunyai pacar yang selalu ada untuknya. Sedangkan dia, dia hanya anak dari seorang janda yang tidak mempunyai apa-apa. Beruntung sekali karena mamanya menikah dengan orang berada. Dan kini semua yang Cinta miliki sudah dia genggam. Tapi entah kenapa dia tidak pernah merasa puas? "Mereka memang tidak memiliki hubungan. Tapi tatapan mata pria itu tidak bisa berbohong, kalau dia mempunyai perasaan lebih pada Cinta, melebihi seorang bodyguard pada bosnya," tutur Farel, membuat Kezia terpaku. Kezia kembali mengingat tingkah Sabda selama ini padanya. Pria itu selalu menatapnya sinis, tapi berbeda ketika pria itu menatap Cinta. Bahkan ketika Cinta memakinya, Sabda tetap saja tersenyum. "Itu anak gue, kenapa elo mau nikah sama pria itu? Apa lebihnya dari dia. Apa selama ini servis gue kurang memuaskan?" Kezia diam saja, waspada karena Farel saat ini tengah mendekatinya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya karena lagi dan lagi dia kalah dengan Farel. Untuk kali ini mungkin dirinya tidak bisa berpikir jernih, karena ada Farel yang tengah menghimpitnya. Tapi bukan berarti dirinya akan merubah keputusannya. Dia tetap memilih Sabda sebagai calon suaminya. 'Sabda, kita lihat aja nanti. Siapa yang kalah, aku atau kamu,' batin Kezia.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (185)
Rizki Maulana Putra
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
Inilah bacaan yang bisa dirasakan dan seolah-olah kita yang lagi memerankan hal tersebut
24/01/2022
1baik
21/05
099292o3o3oo3o3o3oep
13/03
0Lihat Semua