"Aneh! Tadi itu beneran lho! Aku jalan bareng sama dia," Mawar Keukeuh meyakinkan adiknya supaya percaya akan perkataannya. "Iya, tapi sekarang ke mana teman kamu jalan itu? Sudah ah! Teh Mawar sepertinya berhalusinasi saja," "Ini beneran lho! Aku tidak berhalusinasi," Mawar masih celingukan mencari keberadaan sosok yang tadi berjalan bersamanya. "Ya sudah, sekarang kita cepat-cepat pulang saja, tuh lihat! Kita berada di mana? Di sekeliling kita tempat apa coba?" Bisik Ridwan perlahan. Dia berkata begitu, berharap kakaknya tidak mencari sosok yang tadi katanya menemaninya jalan. "Aneh, ya, tadi aku benar-benar berjalan bareng dia, bahkan kami berbincang di depan rumahnya.Tapi, kenapa dia pergi tidak bilang-bilang?" Mawar terus bergumam sendiri, netranya tak lepas memindai sekeliling tempat itu. "Di mana teteh bertemu sama orang itu?" Ridwan bertanya ingin tahu. "Di sana, di depan, di bawah rumpun bambu kuning yang dekat sawah itu," ujar Mawar menjelaskan kepada adiknya. "Berarti, dari pertigaan depan?" Ridwan bertanya kaget. "Iya, memangnya kenapa?" Mawar balik bertanya. "Tidak apa-apa, cuma anehnya tiba-tiba bisa hilang," ujar Ridwan dengan asumsinya. "Masa, bisa tiba-tiba hilang?" Mawar sepertinya tak terima, dia mulai merasa bulu kuduknya meremang. "Buktinya, tadi kan enggak ada orangnya. Padahal, menurut teh Mawar, tadi ada di samping teh Mawar, jadi aneh kan?" Ujar Ridwan lagi. "Teh Mawar, jangan-jangan orang itu, iiiih!" ujar Ridwan setelah Mawar turun dari motornya karena sudah sampai di teras rumahnya bu Mayang, ibu mereka. "Kamu jangan nakut-nakuti aku!" Teriak Mawar sambil memukul bahu adiknya. "Ada apa ini? Kok! Ridwan cuma sebentar sudah balik lagi?" Bu Mayang membukakan pintu rumahnya, karena mengetahui anak-anaknya sudah datang. "Iya bu, kami bertemu di depan pemakaman itu," sahut Mawar sambil mencium punggung tangan ibunya. "Lho! Berarti dari depan kamu jalan kaki sendirian?" Bu Mayang nampak sangat kaget di buatnya. Tak terbayangkan olehnya kala anak gadisnya berjalan sendirian di tengah malam buta, mana sangat minim pencahayaan lagi. "Enggak, bu, Alhamdulillah ada teman yang sama-sama baru pulang kerja, jadi kami jalan bareng," sahut Mawar menenangkan hatinya bu Mayang. "Syukurlah kalau begitu, dia kerja di mana?" tanya bu Mayang lagi. "Dia kerja di perusahaan textile, bu, " sahut Mawar sambil masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tak lama dia sibuk membuat segelas susu hangat, dan di bawanya ke ruang tengah, di mana ibunya berada. "Ibu mau di bikinin susu juga? Aku bikinin sekalian," Dia menawarkan kepada ibunya. "Ibu sudah bikin tadi, tuh sudah habis, tinggal cangkirnya." bu Mayang menunjukkan cangkir yang sudah kosong, yang berada di hadapannya. "Aku mau dong, " Ridwan meminta. "Iya sebentar!" Mawar membuatkan secangkir susu hangat buat adiknya. "Itu tadi, temannya kamu itu rumahnya di mana?" Bu Mayang melanjutkan pertanyaannya, sepertinya dia merasa penasaran dengan teman barunya Mawar, anak gadisnya. "Di sana, bu, di dekat rumpun bambu kuning yang dekat pemakaman Desa kita, di pertigaan ke dua ini yang dekat dengan rumah kita," Mawar mencoba menjelaskan kepada ibunya, setelah dia menyesap susu hangat yang masih mengepulkan asap. "Tapi, anehnya bu, dia itu tak terlihat oleh aku," ujar Ridwan memberikan penjelasan juga. "Ah! Masa, iya, tidak terlihat gimana?" Bu Mayang sedikit terperanjat kaget. Dia menduga bahwa anak gadisnya itu berjalan bersama sosok makhluk yang tak kasat mata. "Iya, ibu, tadi waktu aku mau jemput teh Mawar, aku melihat teh Mawar jalan sendirian di dekat pemakaman yang di depan sana itu, tapi, kata teh Mawar dia jalan bersama temannya dari depan sana, aku jadi bingung, bahkan aku mengira itu bukan orang. Tapi, iiih!" Ridwan berujar lagi di akhiri dengan mengendikkan bahunya karena merasa takut. "Kamu jangan nakut-nakuti aku!" Teriak Mawar kesal, tangannya refleks mengambil bantal kursi dan di lemparkan kepada adiknya. "Eits! Enggak kena," Ridwan menepisnya. "Jadi ini, toh, yang tadi diributkan di luar itu?" tanya bu Mayang. "Iya, bu, nih! Ridwan terus saja nakuti aku dari tadi," Mawar mengadu sambil cemberut. "Tadi katanya di mana rumahnya?" Bu Mayang seperti yang penasaran. "Di dekat rumpun bambu kuning yang di sini, bu, yang dekat dengan pemakaman, dekat warungnya bu Ijah," jelas Mawar kepada ibunya. Bu Mayang nampak mengerutkan keningnya seperti yang tengah mengingat-ingat sesuatu. "Sebelah mana rumahnya?" tanya bu Mayang lagi, dia semakin penasaran. "Tepat, di samping rumpun bambu kuning itu, bu," sahut Mayang lagi. "Seingat ibu, tidak ada rumah di sana." ujar bu Mayang. "Makanya kata aku juga, jangan-jangan... Iiiiiiih! Ngeri!" Lagi-lagi Ridwan bergidik ngeri sendiri. "Sudah! Sudah malam! Mendingan kalian istirahat, sana! Ibu juga sudah ngantuk banget, nih," ujar bu Mayang sambil masuk ke dalam kamarnya. "Iiiih! Teh Mawar jalan bareng hantu," ujar Ridwan sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. "Biarin! Hantunya juga ganteng!" sahut Mawar enggak mau kalah. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. "Katanya dia sudah lama tinggal di sana, tapi, kenapa aku baru bertemu dengannya barusan? Padahal, setiap hari aku selalu pulang dan pergi lewat jalan yang sama," Mawar bergumam sambil terlentang di kasur empuknya. Bayangan wajah pria yang tampan dan putih pucat itu tak bisa lepas dari ingatannya. "Apa benar dia itu bukan orang?" gumamnya kemudian. "Kalau bukan orang, kenapa bisa ngobrol dan jalan bareng?" Mawar bergumam lagi. "Tapi, tangannya terasa sangat dingin sekali waktu tanganku menyentuhnya tadi, kalau benar dia itu makhluk astral, astagfirullahaladzim, berarti benar kata adikku, aku telah berjalan dengan makhluk halus, ya Allah," Mawar tersentak kaget sendiri. Dia segera menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian dia memejamkan kedua matanya, walau tidak mengantuk. Kini Mawar merasa ketakutan sendiri. "Apakah aku jadi bisa melihat wujud yang tak kasat mata lagi? Bukankah kata ibu mata batinku sudah di tutup? Apa sekarang penutupnya sudah lepas lagi? Ya Allah, aku harus bagaimana?" Mawar berkata sendiri. * Rangga sengaja tidak menampakkan wujudnya di hadapan Ridwan, adiknya Mawar. Perempuan yang sudah lama dia nantikan kehadirannya. Karena, wajahnya sangat mirip dengan Ratna, tunangannya dulu. Dia mendekati Mawar, karena ingin meminta bantuannya. Rangga merasa bahwa Mawar bisa membantunya. Belasan tahun Rangga menunggu kesempatan itu. Dari dulu dia ingin supaya Ratna, sang pujaan hati, cinta pertama dan cinta matinya itu berada dekat dengannya. Namun, hal itu tak mudah. Karena, menurut seseorang yang pernah di mintai bantuannya, mengatakan bahwa, keinginannya itu bisa terwujud bila Rangga sudah menemukan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Ratna, tunangannya itu. Dan, katanya perempuan itu akan bisa melihat wujudnya. Rangga sudah berkeliling ke sana ke mari, mencari perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Ratna. Hingga malam ini dia menemukan sosok Mawar yang bukan hanya wajahnya saja yang sangat mirip. Tapi, postur tubuhnya dan juga gaya bicaranya juga, sangat mirip dengan Ratna, tunangannya yang selama ini dirindukannya. Ini sangat membuat Rangga yakin, kalau Mawar bisa membantunya. Namun, kemiripan Mawar dengan Ratna, membuat Rangga semakin merindukan Ratna, tunangannya. Dia semakin merasa wajah tunangannya menari-nari di hadapannya. Diapun merasa tak sabar, ingin segera menyampaikan maksudnya kepada Mawar, seorang gadis cantik yang baru di kenalnya tadi. "Aku yakin, pasti Mawar mau dan bisa membantuku," dia bergumam sambil bibirnya tersenyum menyeringai. Sebuah harapan besar terpancar di wajahnya. "Ratna, sebentar lagi keinginan kita untuk bisa selalu berdekatan, akan segera terwujud. Aku kini sudah menemukan orang yang akan bisa membantu kita, tunggulah beberapa sa'at lagi Ratna, tunanganku," Rangga bergumam sendiri, di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu kuning yang katanya itu adalah rumahnya. "Besok malam, aku akan membuat adikmu tertidur lagi, hingga dia tidak bisa menjemput kakaknya. Biar aku yang akan datang untuk menjemputnya," ujarnya lagi dengan suatu rencana di dalam isi kepalanya. "Dan kini, aku akan datang dalam mimpinya Mawar, supaya dia tidak merasa takut ketika bertemu lagi denganku," ucapnya sambil merubah wujudnya menjadi segumpal asap putih yang perlahan-lahan memudar di terpa dinginnya angin malam. Asap putih itu perlahan masuk ke sela-sela ventilasi yang ada di rumahnya bu Mayang, berputar-putar sebentar, lalu masuk ke dalam kamarnya Mawar, dan asap putih itu memasuki alam bawah sadarnya Mawar, yang baru saja memejamkan kedua bola matanya. Sementara itu, Mawar sudah mulai dapat memejamkan kedua bola matanya. Di dalam mimpinya Mawar bertemu lagi dengan seseorang yang tadi baru di kenalnya. Dia adalah Rangga! Dalam mimpinya, Rangga membawanya ke sebuah rumah nan cantik dan mungil. Di rumah itu dia di kenalkan dengan seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan wajahnya. "Mawar, dia adalah tunanganku, tapi sayang dia kini berada sangat jauh dariku. Aku ingin dia selalu berada di dekatku," ucap Rangga di mimpinya Mawar. Mawar seakan tak percaya dengan indera penglihatannya. Kenapa wajah dan juga tubuh perempuan itu sama persis dengan dirinya. Namun, Mawar tak bisa bicara apa-apa. Bibirnya seakan terkunci dengan rapatnya. Lidahnya terasa kelu tanpa sebab. "Aku minta tolong padamu, Mawar, kamu pasti bisa untuk menolongku, " ujar Rangga, memohon. Mawar tak bisa mengatakan apapun juga, ingin dia bertanya kepada Rangga tentang maksud dari ucapannya Rangga. Namun, bibirnya seperti ada yang menguncinya dengan sangat rapat. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
20/02
0game ini sangat seru
16/01
0bagus ceritanya sangat jelas
28/09/2025
0Lihat Semua