"Bagaimana?" tanya suamiku setelah kami memasuki rumah. Aku manggut-manggut, mata memindai sekeliling. Rumah dengan cat dominan warna biru itu terlihat sangat indah, warnanya selaras dengan sofa di ruang tamu. "Rumahnya bagus, Mas." Netraku terpaku pada ruangan sebelah kanan kami. "Itu dapur. Mau lihat?" tawarnya dan langsung mendapat anggukan antusias dariku. "Bersih, rapih, tiap hari kesini ya, Mas?" Ku usap kitchen set dengan dominan warna kayu itu. Peralatan dapur pun lengkap, seperti rumah yang sudah ditinggali. "Ada ART yang datang setiap pagi untuk beberes rumah, Mba Sari namanya. Peralatan dapur baru diisi minggu lalu, sepulang dari nglamar kamu." Aku kembali menganggukkan kepala. "Kulkasnya penuh, Mas!" seruku saat membuka kulkas 2 pintu, yang tingginya hampir sama denganku. Berbagai macam sayur dan buah-buahan tertata rapih di dalam. "Tadi pagi mas minta Mba Sari belanja buat isi kulkas," jelasnya. "Aldo dimana, Mas?" "Aldo balik dulu ke apartemen, besok baru mas jemput. Biar nggak ganggu!" Mataku membeliak saat tangan Mas Adi melingkar di pinggangku. "Nggak mau lihat kamar?" bisiknya menggelitik kalbu, membuat tubuhku meremang seketika. Kepala ini langsung tertunduk, menyembunyikan wajah yang kian merona, debaran jantung pun kembali membuat gaduh. Aku diam, bingung mau menanggapinya seperti apa, rasanya masih terlalu canggung untuk bersentuhan. Bibir pun seakan terkunci, mengatup dengan rapatnya. "Ayo!" Mas Adi menggenggam jemariku, lalu menuntunku ke arah tangga. Perlahan kami menyusuri tangga dengan tangan masih bertaut, dalam diam. "Kamar kita di lantai dua!" ungkapnya setelah sampai di depan pintu kayu berplitur. "Iya." Aku menanggapinya singkat dengan kepala masih menunduk. "Kamar Aldo di lantai bawah." "Iya." Aku mengangguk singkat. Lagi-lagi bibir ini hanya mampu berucap singkat. "Mau masuk?" "Emm!" "Lucunya ...." Mas Adi mengusap puncak kepalaku. "Kenapa kita seperti ini? Kita sama-sama memiliki pengalaman dalam hal ini, tapi ... kenapa masih malu-malu begini ya. Canggung jadinya." Lanjutnya, sembari tertawa. Tawa yang terdengar di buat-buat. "Masuk." Mas Adi membuka pintu kamarnya. Kamar bernuansa serba hitam. Tembok hitam, seprai hitam, pokoknya hampir semua bercat hitam. "Ma-mau mandi dulu?" tanyanya terbata. Kontras sekali dengan tingkahnya tadi di dalam mobil, yang tanpa ragu menggodaku, dan tanpa canggung memanggilku sayang. "Mandi dulu aja, Mas!" "Bentar, mas ambilkan tas kamu di bawah!" Dengan berlari Mas Adi keluar kamar. Bismillahirrahmanirrahim, InsyaAllah aku siap, bilamana suamiku akan meminta haknya malam ini juga. Keputusanku sendiri menerima pinangannya waktu itu, maka tak seharusnya diri ini mengecewakannya. Entah apa yang kurasakan saat ini terhadap Mas Adi, yang jelas, rasa aman dan nyaman selalu kudapatkan saat bersamanya. *** "Mas ...." panggilku canggung, kepala menyembul di sela pintu kamar mandi dalam kamar. "Hemm?" sahut Mas Adi yang tengah berdiri di depan ranjang king size miliknya. Tanpa menoleh, netranya fokus pada layar ponsel di tangan. "Anu ... tolong ambilkan tas itu ... tas yang isi bajuku!" Ku lihat koper hitam milikku tepat di sebelah kaki Mas Adi. Mas Adi melempar ponselnya ke tengah ranjang, lalu menarik nafas panjang dan tangan di lipat ke dada. "Ambil sendiri!" ucapnya sembari menoleh ke arahku. "A-anu, Mas. Anu ... itu ...." Aku pun terbata-bata. Degup jantung pun belum mau bersahabat. Ada rasa takut, ragu, was-was, tapi tak ingin membuat kecewa. Mas Adi telah duduk di tepian ranjang, tubuhnya condong ke belakang dengan kedua lengannya sebagai penyangga. Kaki kanannya menyilang di atas kaki kiri. "Anu itu anu itu apa? Kemari lah, Sayang!" Panggilnya membuat tubuhku kembali meremang. Ku tekan dada dengan tangan kanan, di mana letak jantung yang sedari tadi berdendang hebat, menarik nafas panjang, dan membuangnya perlahan. "Ayo Raina kamu bisa, kamu sanggup." gumamku dalam hati, tangan kiri mengepal kuat, memberi semangat. Tanpa ragu, aku melangkah keluar kamar mandi. Menghadap Mas Adi yang sudah menegangkan punggungnya, tangan menyilang dipangkuan, dan manik hitam miliknya menatapku lekat. Manik mata suamiku memindai tubuh ini dari atas hingga bawah. Ku lihat lehernya naik turun menelan ludah. Tentu saja dia pria normal. Melihatku yang hanya menggunakan handuk piyama sepanjang pertengahan paha, pasti membuat nalurinya bangkit. Mas Adi bangkit dari duduknya, melangkah mendekat dengan tatapan masih terpaku padaku. Aku sedikit panik, ingin sekali lari dan bersembunyi di dalam kamar mandi, namun aku langsung menggeleng, menepis segala pikiran untuk menghindar. Aku tak ingin mengecewakannya. Dia suamiku. Suami sah dimata hukum dan agama, aku sudah berjanji untuk mempertahankannya. Mas Adi membuka handuk yang melilit rambutku, lalu melemparnya sembarangan. "Siap?" tanyanya seraya merapihkan rambutku yang berantakan. Aku mengangguk. Mas Adi menuntunku ke arah ranjang. Lalu mendudukkan ku di tepiannya. "Mas ...." Ku dorong dada bidangnya untuk menjauh, saat wajah kami sudah semakin dekat. "Salat sunnah dulu yuk, Mas!" seruku ragu, takut Mas Adi marah karena ku hentikan aktivitasnya. Pria di sampingku tersenyum manis. "Ya ampunnnn, sudah lama nggak begini jadi lupa diri," ucapnya seraya menjawil hidungku, lalu mengecup kening. "Pakailah baju mu, aku mau ambil wudhu dulu." Mas Adi bangkit lalu memasuki kamar mandi, aku pun mengikutinya dengan piyama di tangan. *** Ku amati wajah pria yang terlelap di sampingku. "Matanya sedikit sipit." Ku sentuh pelan pelupuk mata indahnya yang mengatup rapat. "kulitnya putih." Ku sejajarkan punggung tanganku dengan punggung tangannya di atas dada, cukup kentara perbedaannya, kulitnya putih sedangkan milikku kuning langsat. "Wajahnya bersih, halus." Aku membelai pipinya perlahan. "Hidungnya mancung." Ku sentuh pelan hidungnya, lalu menyentuh hidungku untuk perbandingan. "Mau satu ronde lagi?" Aku terkesiap, Mas Adi berucap dengan mata masih memejam. "Mas Adi, sudah bangun?" Dia tersenyum dengan mata masih tertutup. Mengeratkan lengannya yang merangkul bahu. Lengan yang ku jadikan bantal selepas penyatuan dini hari tadi. "Satu kali lagi gimana, Dek?" Matanya terbuka, sekitar manik matanya nampak merah. "Udah mau subuh, Mas!" Telunjukku menunjuk jam kecil di atas nakas. Mas Adi mengikutinya. "Baru juga setengah empat! Bisa lah sekali lagi!" katanya. Tak ku pedulikan rengekannya. Ku raih piyama yang teronggok di sebelah kaki, memakainya lalu turun dari ranjang. "Mau kemana?" "Mandi!" "Bareng," ucapnya manja dengan suara serak. Aku pun mengangguk, lalu melangkah menuju kamar mandi, Mas Adi pun mengekor di belakang. *** "Mau di masakin apa, Mas?" tanyaku saat kami menyusuri tangga, bergandengan. "Terserah!" Langkahku terhenti. "Jangan terserah dong, Mas! Aku kan nggak tahu mana yang mas Adi suka dan nggak suka!" Bibir bebekku keluar. "Apa saja, Sayang. Mas bukan pemilih makanan kok!" Mas Adi menjawil hidungku. Ada rasa bahagia meluap di dalam dada. "Mas keruang kerja dulu, ya. Ngecek email, sama nglanjutin kerjaan ada yang belum selesai." Kami pun berpisah di meja makan, Mas Adi masuk ruang kerjanya, sedangkan aku memasuki dapur. Rumah ini ada tiga kamar, kamar di lantai atas 1, kamar bawah 2 saling bersebelahan. Kiri dekat tangga kamar Aldo, kanan dekat dapur kamar tamu yang di sulap jadi ruang kerja Mas Adi. "Mas Adi ...." Aku memekik dari meja makan. "Iya ...." sahutnya nyaring. "Sarapan sudah siap!" "Iya, wangi banget baunya." Mas Adi keluar dari ruang kerjanya. Di meja makan sudah tersaji, nasi putih, sop bunga kol, tahu dan tempe goreng, dan telor bulat balado. "Mau pakai apa, Mas?" tanyaku setelah menaruh satu centong nasi di atas piringnya. "Semua! Enak semua kayanya!" Mas Adi nampak bersemangat. "Iya dong!" ucapku membanggakan diri. Lalu menyendokkan satu persatu lauk ke dalam piringnya dan juga piring ku. Mas Adi makan dengan lahapnya. Bahkan sampai nambah satu centong nasi lagi. Aku senang melihat suamiku begitu menikmati masakan yang ku buat. "Nanti jemput Aldo jam berapa, Mas?" Ku raih piring bekas makannya, lalu menumpuknya dengan piring bekas makanku. "Mau ikut?" Aku mengangguk. "Yakin?" Mataku memicing. "Nggak boleh ya, Mas?" Mas Adi meminum air dalam gelasnya dengan tiga kali tegukan. Menghela nafas panjang, lalu menatapku, nampak keragu-raguan dalam tingkahnya. "Kenapa, Mas?" "Monita pulang. Aku ... di minta menjemputnya di bandara!" "Ya sudah jemput saja, Mas!" Mas Adi nampak terkejut dengan respon yang aku tampilkan. "Dia tidak sendiri. Dia bersama suaminya, Ilham!" Tanganku meremas kuat ujung khimar di bawah meja. Aku kira tiga tahun waktu yang cukup lama untuk melupa. Aku kira rasa sakit ini telah sirna. Aku salah! Rasa sakit, kecewa, dan luka hati ini masih ada, masih menganga, masih mengingat jelas, meski sudah tiga tahun lamanya mencoba melupakan. "Masih mau ikut?" "Ya!" jawabku singkat, lalu menuju dapur membawa piring kotor. Untuk membuka lembaran baru yang bahagia, aku harus terlebih dahulu berdamai dengan masalalu. Tanpa terasa air mata yang sedari ku tahan, akhirnya meluap sedikit demi sedikit. Ku katupkan kuat bibirku, agar isakan tak menyeruak dan terdengar Mas Adi yang tengah sibuk dengan ponselnya di meja makan. Kamu bisa Raina.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua