logo text

Bab 88 Rumah baru

"Mau mampir hotel dulu nggak?" Mataku mengerjap dengan mulut sedikit membuka. Hotel? Ngapain?
"Mau nggak?" Dia mengedipkan sebelah mata.
Aku menghela napas panjang. "Mas …!" Mataku mendelik, kedua tangan di pinggang, aku tahu maksudnya tapi aku belum siap.
"Iya … iya, kamu ini, belum bisa diajak senang-senang ya …." Lagi-lagi lelaki itu menggaungkan tawa.
"Apa … setelah sampai rumah, Mas Adi langsung meminta haknya padaku? Apakah aku sudah siap untuk itu?" gumamku dalam hati, seraya menggelengkan kepala pelan, mengusir pikiran-pikiran yang terus-terusan berkecamuk dan benak.
"Kenapa geleng-geleng? Ngantuk ya? Tidur aja nggak apa-apa, Sayang," ucap lelaki sebelahku.
Ah, Mas Adi ini enteng sekali memanggilku sayang. Padahal, aku saja masih canggung berdekatan dengannya.
"Iya, Mas, lumayan ngantuk memang," kilahku menyembunyikan kegugupan.
"Tidurlah, sudah malam juga. Bentar lagi sampai kok." Pria bermata mirip bulan separuh itu menoleh padaku sekilas, kemudian kembali fokus melihat jalanan depannya.
Aku memejamkan mata sesuai titah sang suami, meskipun hanya sekedar menutup rapat, karena kantuk belum membelai pelupuk mata ini. Tidak tahu apakah aku mampu terlelap mengingat gemuruh dalam jantung ini belum juga mereda sedari tadi.
***
"Raina ... bangun, Sayang!" Aku menggeliat saat tubuhku terasa terguncang.
"Em ... Mas Adi?" Sepasang netraku mengerjap, menatap bingung lelaki yang duduk dengan setengah badan condong ke arahku.
"Sudah sampai," katanya. "Nyenyak bneget tidurnya." Dia tersenyum sambil mengusap-usap kepalaku yang tertutup khimar.
Aku kira tidak akan bisa tidur, rupanya terlelap tanpa sadar.
"Sudah sampai, Mas?" tanyaku dengan suara parau. Mata memicing mempertegas pandangan pada sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas di depan sana.
"Iya." Aku tersentak saat lelaki itu semakin mendekatkan dirinya padaku.
"Mau apa, Mas?" Reflek mataku menutup rapat.
Ceklek!
Pengunci sabuk pengaman telah dibuka.

"Buka ini," ucapnya membuatku langsung membuka mata. Terlihat jelas lelaki itu sedang mengulum bibirnya, ternyata dia masih menggodaku.
"Sengaja kamu ya, Mas?" tanyaku penuh selidik.
"Sengaja apa, sih? Aku hanya bantu kami buka sabuk pengaman."
"Modus!" Segera aku membuang muka saat lelaki itu semakin memajukan wajah.
"Modusin istri sendiri boleh dong." Dia menjawil hidungku, sedangkan aku mendengus kesal. Sejak hubungan kami halal beberapa jam lalu lelaki berparas gagah itu tak henti-hentinya memepet diriku. Akan tetapi, aku masih merasa canggung dengannya.
"Apa mas modusin istri orang aja?" katanya sambil tertawa renyah. Aku terdiam menatap suami dengan wajah sedih. Belum juga 1 hari menikah, tapi lelaki itu sudah berniat melakukan itu? Apakah dia berniat poligami? Aku nggak sudi memiliki madu, seperti dulu.

"Ma-Mas hanya bercanda, jangan nangis," katanya setelah beberapa bulir bening menetes dari mataku.
"Mas Adi mau poligami ya?" Suaraku bergetar.
"Ya Allah, nggak! Mas janji, nggak bakalan seperti itu, dan nggak akan bercandain kami dengan hal-hal seperti itu lagi." Dia nampak panik, tangannya menangkup wajahku dengan ibu jari yang mengusap-usap lembut pipi. Sorot matanya pun dalam penuh kehati-hatian.
"Aku nggak mau dikasih madu seperti dulu, Mas." Aku tergugu.
"Nggak! Aku nggak akan begitu! Janji!" ucapnya mantap, lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. "Jangan nangis lagi, ya. Maaf …." Lelaki itu mengusap-usap punggungku yang naik turun tak beraturan.
Aku menyusut hidung, lantas melepaskan diri dari rangkulan suami. "Maaf ya, Mas, aku jadi terbawa suasana begini," kataku sambil mengelap pipi dengan tangan.
"Pakai tisu, Sayang." Mas Adi mengambil beberapa lembar tisu, memberikannya padaku.
"Iya, makasih." Dengan bibir mencebik aku meraih benda putih dari tangannya, menggunakannya untuk mengelap wajah.
Bukannya membantu menyeka wajah lembab ini, lelaki itu malahan terbahak-bahak dengan tingkahku. Tinggal bersamanya yang ada dia akan terlihat lebih muda dari usianya, karena lebih banyak tertawa. Sedangkan aku, cepat tua karena marah-marah melulu.
"Turun, yuk," ajaknya sembari membuka pintu sebelahnya, perlahan menurunkan diri dari mobil. Aku pun mengikutinya.
"Rumah baru, Mas?" tanyaku setelah kami bersama-sama melewati pintu gerbang. Setahuku Mas Adi tinggal di apartemen Monita yang dulu.
"Nggak kok. Bukan rumah baru, tapi memang baru ditempati," jelasnya merangkul pundak, lalu menuntunku melewati halaman, menuju teras rumah.
"Tetap saja namanya rumah baru, Mas!" Aku mbesengut.
"Rumah lama, baru ditempati, Sayang." Mas Adi masih kukuh pada pendapatnya. "Karena aku ingin menempati rumah ini hanya denganmu, istriku." Aku tertegun saat lelaki berwajah bulat itu mengecup puncak kepalaku.

"Hadiah biar nggak ngeyel." Dia terkekeh. "Apa mau ngeyel terus biar dicium lagi?" lanjutnya membuatku semakin salah tingkah.
"Apaan sih! Tetap saja namanya rumah baru!" Aku membuang muka, berpura-pura ngambek guna menyembunyikan wajah yang merona.
"Eh, masih ngeyel. Sepertinya mau hadiah dari sekedar kecupan nih!" Rangkulannya di pundakku terasa semakin erat.
"Nggak!"
"Ini malam pertama kita, loh! Sudah mau berantem?" Mas Adi berbisik di telinga, membuat bulu-bulu halus dalam diriku meremang seketika. Aku menggelengkan kepala dengan pasrah, terlebih saat dia menekankan kata malam pertama membuat hati ini menciut seketika. Aku … takut belum siap melayaninya.
"Rumah lama, hanya baru ditempati!" ulangnya yang kini disambut anggukan dariku, menjadi istri penurut.
"Uluh-uluh, istriku penurut banget." Mas Adi mengusap puncak kepalaku kemudian turun ke pipi. Lagi-lagi otakku memerintahkan tubuh untuk patuh dan pasrah pada apa yang dilakukan pria di hadapan.
"Tunggu, mas masukin mobil dulu ke garasi," ucap lelaki itu sesampainya kami di depan pintu. Mas Adi segera berbalik, lalu berlari menuju mobilnya.
Aku duduk di kursi besi yang tersedia di teras, menunggu sang suami kembali. Mengeluarkan ponsel dari dalam tas, mengisi waktu selagi menunggu. Aku membuka aplikasi pesan berwarna hijau, mengabari ibu bahwa anak dan menantunya sudah sampai di rumah dengan selamat.
Perlahan mobil hitam mengkilap milik Mas Adi memasuki area rumah. Setelah terparkir pada tempatnya, sang pemilik turun dengan gagahnya. Lalu berjalan santai ke arahku.
"Masuklah, ini kuncinya. Aku mau, istriku yang pertama kali memasuki rumah ini," pintanya setelah sampai depanku sembari menyodorkan sebuah kunci.
"Tapi, Mas …."
"Kenapa kamu ragu? Kamu istriku, ruang ini juga milikmu, kan?" Tangan besar lelaki itu menangkup pipiku, kemudian mengecup kening ini cukup lama. Ada desiran aneh merambati raga saat suamiku melakukan itu. Ada rasa bahagia yang membuncah dalam dada, dan ingin meluap begitu hebatnya. Perlakuannya benar-benar hangat dan manis sekali.
"Mau kan?" Dia mengulurkan kuncinya lagi. Dan Aku manggut-manggut saat menerimanya.
"Ayo." Dia meraih tanganku, membawanya ke depan pintu.
"Bukalah!" Aku menatap lekat manik mata Mas Adi, kemudian menganggukkan kepala dengan senyuman lebar di bibir ini.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapku seraya memasukkan kunci pada tempatnya, lalu memutarnya dengan keyakinan penuh dalam dada. Semoga ini awal yang baik untuk rumah tanggaku, Ya Allah.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru