"Sialan!" Aku terkesiap, Mas Adi tiba-tiba menggebrak meja. Dadanya naik turun, wajahnya semakin merah padam. Sepertinya amarahnya belum tersalurkan seluruhnya. "Aku, harus melaporkannya pada kepolisian!" serunya kemudian, dengan sepasang netra melihat langit-langit toko dan tangan memijat pelipis. "Jangan, Mas!" ujarku memekik. Sejujurnya itu pula yang aku inginkan, tapi entah kenapa mendadak aku teringat akan nasib Rani, dia pasti sedih jikalau suaminya masuk hotel prodeo. Belum lagi, rasa tak enak hati pada kedua orang tua Ojan, mereka sudah banyak membantu kami sejak bapak masih ada dulu. "Aku nggak tenang, Raina!" Tangan besar milik Mas Adi menangkup pipiku. Wajahnya makin dekat, detik itu pula kening kami saling beradu. Aku diam, pasrah dengan perlakuannya. "Minggu depan kita menikah! Aku yang urus semuanya!" Mas Adi melepaskan tangannya dari wajahku. Mengambil ponselnya dalam saku celana, lalu berjalan menuju teras dengan ponsel menempel di telinga. Tidak berselang lama, laki-laki itu kembali menujuku. "Aku suruh orang untuk menjagamu dan Ibu!" Aku mengangguk. Otak ini seakan memerintahkan tubuh untuk pasrah begitu saja dengan perlakuan over protektif calon suamiku itu. "Ayo, aku bantu kami tutup toko. Sekalian aku antar pulang, mau ngomong sama ibu dengan rencanaku menikahimu Minggu depan," ucap Mas Adi seraya mengusap pipiku. Dan lagi-lagi menautkan kening kami, cukup lama dia melakukan itu. "Tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti wanitaku!" Aroma mint yang segar keluar dari mulut lelaki itu saat berucap, menyapu wajahku yang basah dan panas karena kejadian barusan. Tapi, aku masih bersyukur hanya Mas Adi dan Aldo saja yang mendengar teriakanku. Aku tidak mampu membayangkannya seandainya warga sekitar pun turut dengar, aku tidak mau menjadi bahan gunjingan. "Biar Aldo di sini saja, jagain mamah!" Suara Aldo mengagetkanku. Dengan canggung aku menarik diri, dari ke intiman antara aku dengan Mas Adi. "Wah, jagoan kita sudah besar ya, Sayang." Pipiku merona mendengar panggilan baru dari Mas Adi. Sayang? Sa-yang? Terdengar kikuk sekali, tapi aku harus berusaha terbiasa dengan itu. Kamipun bersama-sama membereskan kekacauan yang Ojan dan Mas Adi lakukan tadi di dalam gudang. Setelahnya langsung menutup toko. "Mas Adi ... Aldo ...." Panggilku saat perjalanan pulang. "Hem ...?" Kedua laki-laki itu menoleh bersamaan ke arahku yang berada di tengah-tengah mereka. "Jangan cerita apapun masalah tadi pada Ibu, ya!" pintaku, seperti perintah yang tak bisa diganggu gugat. "Loh, kenapa? Bukannya nanti beliau bisa berhati-hati dengan Ojan?" Mas Adi mengehentikan langkahnya. Aku dan Aldo mengikuti. "Aku nggak mau Ibu khawatir, Mas!" ucapku penuh penekanan. "Alasan! Bilang saja kamu masih ada rasa sama Ojan, kan?" tuduh Mas Adi yang membuat mataku membeliak tak percaya dengan apa yang baru saja melewati indra pendengaran. Mungkinkah dia cemburu? "Jangan asal ngomong, Mas! Baik dulu maupun sekarang, aku nggak pernah punya rasa sama dia!" kataku berapi-api, tak terima dengan tuduhan lelaki dewasa itu. "Seharusnya tadi aku patahkan saja tangannya yang sudah berani menyentuhmu! Mencongkel matanya yang sudah berani melihat rambutmu!" Dada Mas Adi kembali naik turun, lalu menjambak rambutnya, frustasi. "Papah ... cemburu?" ucap Aldo dengan polosnya. Aku mengulum senyuman, akhirnya pertanyaan dalam benak sudah tersampaikan. Mas Adi diam, membuatku menoleh mencoba memastikan jawaban apa yang akan tersampaikan. Tatapan kami beradu. Manik hitam itu menatap lekat. "Ya!" ucapnya singkat, dan berhasil membuat pipiku merona seketika. "Cie, cie, cie!" Aldo meledek dengan semangat 45. "Apa sih?" Bibirku mencebik, lalu berjalan cepat meninggalkan mereka yang tengah cekikikan. Sebal! Sepertinya hanya aku yang salah tingkah. "Assalamualaikum, Bu." Salamku seraya memasuki rumah. "Wa'alaikumsallam, Nduk …." Ibu keluar dari ruangan tengah. "Loh, kok sendiri? Adi sama Aldo kamana?" tanyanya sambil celingukan ke arah belakangku. Aku tidak menjawabnya, dengan bibir mengerucut aku melanjutkan langkah menuju kamar. Tidak berselang lama salam kembali terdengar, dua orang yang dicari-cari ibu akhirnya masuk ke rumah juga. Segera aku memasuki kamar, lalu menutup rapat pintunya. Bersembunyi dari dua orang yang membuatku tersipu. "Bu, ada yang mau Adi katakan." Aku menempelkan telinga ke daun pintu, menajamkan indra pendengaran. "Duduk dulu. Ngomongnya sambil duduk aja, ya." Tidak berselang lama derit kursi ditarik pun terdengar dari. "Bu …." Mas Adi sengaja menjeda kalimatnya. "Saya mau meminta izin untuk menikahi Raina minggu depan," katanya terdengar yakin. "Ap-apa? Beneran ini, Di?" Ibu pun begitu antusias menanggapinya. "Iya, Bu." "Tapi, acaranya gimana, Di? Apa tidak terlalu cepat? Ibu belum ada persiapan apapun." Ibu sepertinya meragu. Baiklah, mungkin di sinilah aku harus menampilkan diri. Segera aku keluar kamar. "Biar saya yang urus semuanya, Bu," kaya lelaki yang agak sedang melihatku yang sedang menujunya dengan senyuman. "Aku maunya sederhana saja, Mas." Aku segera menimpali, kemudian mendudukan diri di kursi sebelah Mas Adi. Mas Adi mengangguk. "Iya, aku persiapkan sesuai keinginan calon mempelai wanita." Mas Adi tersenyum manis sekali. Subhanallah, sungguh indah dan memikatnya senyuman milik lelaki itu. *** Satu minggu berlalu, entah kenapa terasa begitu lama buatku. Pagi ini, seperti hari yang sangat aku tunggu-tunggu, dengan debaran jantung yang tak menentu sedari awal membuka mata. Tak sabar rasanya melihat lelaki itu. Pria yang sudah menggetarkan hati, dan menguasai pikiranku beberapa hari ini. Dengan irama jantung yang berdentam-dentam kuat, aku menyambut kedatangan Mas Adi beserta keluarganya di ambang pintu. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna putih senada dengan kebaya yang aku kenakan. Pun sapu tangan hitam terselip di sakunya. Rambutnya cepak, jambang panjangnya seminggu lalu telah dipangkas habis. Tiga kata yang pantas disematkan untuknya, tampan, berwibawa, dan muda. Isi kami terpaut 5 tahun, tapi dia terlihat jauh lebih muda dariku. "Cantik," ucap Mas Adi saat sampai di hadapanku, netranya terpaku mengarah padaku tanpa berkedip. Sontak, aku menundukkan kepala malu-malu. "Adi!" Suara besar memanggil nama pria di hadapanku. "Iya, ayah," ucap lelaki itu setelah menoleh kebelakang, dan aku pun mengikuti arah pandangnya. "Ah, iya Raina, kamu mungkin sudah tahu mereka siapa, tapi akan aku perkenalkan lagi secara baik dan resmi. Perkenalkan, ini Ayah Tobi, dan Mamah Rita. Orang tuaku." Mas Adi memperkenalkan dua orang paruh baya yang baru saja berdiri tepat di kedua sisinya.
"Bagaimana kabarmu, Raina?" Tangan Tante Rita terulur ke arahku. Aku sempat ragu untuk meraih tangan itu. Tiba-tiba saja, goresan luka pada hati ini kembali terbuka, amarah menyeruak, dan kecewa akan perlakuan mereka dulu, untuk memisahkanku dengan Mas Ilham kembali terlihat dalam benak. "Raina?" panggilan Mas Adi membuyarkan lamunanku. "Tangan mamah kok di anggurin?" Aku terkesiap beberapa saat. "Ah, maaf." Dengan setengah hati aku menjabat tangan calon ibu mertuaku itu, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. "Maafkan kesalahan kami yang dulu ya, Raina." Beliau meremas pundakku. Maaf? Entahlah.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua