logo text

Bab 76 Pesona Mas Adi (S2)

"Tengah malam laki-laki itu pulang dalam keadaan mabuk, Bu." Selepas kepergian Wisnu, Rani memutuskan untuk bercerita kejadian yang membuat matanya lebam. Dan aku menyimak dengan tangan terkepal kuat. Sungguh, setiap kali wanita berjilbab lebar itu menceritakan suaminya ada rasa kesal yang meluap. Karena kisahnya selalu sepahit empedu.
"Aku nggak tahu dia ada masalah apa di luaran sana, hingga dia sangat-sangat sensitif karena satu buah pertanyaan." Dia terkekeh sambil menundukkan kepala.
"Darimana, mas? Kok, baru pulang? Aku hanya bertanya seperti itu." Kristal bening mengucur deras dari sepasang netra bulat miliknya saat wajahnya terangkat. "Apa aku salah bertanya demikian?" tanyanya menyayat hati ini, melukai batin, dan menghancurkan perasaan.
Aku menggigit bibir bawah kuat-kuat seraya menggeleng kepala pelan. Tidak, kamu tidak salah Rani, laki-laki yang begitu kamu sayangilah yang jahat.
"Aku tidak mengerti letak salahku di mana? Aku bertanya pun dengan lembut, tidak ada kemarahan dari setiap kata yang terlontar, tapi Mas Ojan langsung memukuliku, perut ditendang, rambut pun tak lepas dari tarikan tangannya." Wanita itu menatap kosong ke depan dengan air mata yang terus-terusan keluar dari peraduan.
"Untung saja, Sigit di rumah neneknya semalam. Dia tidak melihat saat ibunya diperlakukan bagai kucing liar yang mencuri ayam di meja." Rani tersenyum kecut, dengan pandangan yang masih kosong.
"Aku masih bersyukur, Mas Ojan mungkin benci padaku, tapi dia tidak melupakan kewajibannya pada anak sambungnya. Aku memang dipukul, tapi setelah itu dia selalu memanjakan anakku, membelikan apapun yang anak itu inginkan, mengajaknya jalan-jalan. Mas Ojan memang seperti binatang buas, tapi dia ayah yang baik untuk Sigit. Dan itu yang membuatku bertahan," lanjutanya, lalu membuang napas panjang.
"Mertua kamu tidak membela?" Rani masih menumpang tinggal di rumah mertuanya.
Wanita malang itu melihatku sambil tersenyum lebar, senyum yang dipaksakan lebih tepatnya. Ada banyak luka pada lengkungan di bibir itu.
"Bapak pergi, ada orderan antar barang ke luar kota. Ibu ... Ibu ...." Air matanya keluar lagi. Rani menggeleng, tubuhnya bergetar hebat, pun tangannya membekap mulut agar tak mengeluarkan suara, meredam tangisan yang meluap.
Sudah jadi rahasia umum, jikalau Bu Jani tidak menyukai menantunya. Beliau masih mengharapkanku menjadi pendamping anak semata wayangnya. Tidak sudi aku bersuamikan pria durjana seperti Ojan.
"Apa Ibu mertuamu diam saja kamu diperlakukan seperti itu?" tanyaku setelah tangisan Rani mulai reda, tanpa bertanya pun aku tahu jawabannya.
"Beliau juga perempuan, Bu. Mana mampu melerai anaknya yang lagi kesetanan begitu," belanya, dengan senyuman getir.
"Tinggalkan saja suamimu Rani!" Jujur aku marah, sangat marah jika ada kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi pelaku dan korban, sama-sama orang yang aku kenal.
Wanita ayu itu lagi-lagi tersenyum.
"Tidak, Bu. Selama Mas Ojan baik sama Sigit, memanjakannya dan masih mau menafkahiku, InsyaAllah saya ikhlas menjalaninya. Perceraian bukanlah solusi, Bu. Lagipula Allah SWT juga membencinya, meskipun dunia ini tidak melarangnya." Rani meraih jemariku, sepasang netra basahnya menatap dalam.
"Tapi, kamu berhak bahagia, Rani!" Tanganku mengepal kuat, gemas sekali melihat wanita ini terlalu pasrah dengan hidupnya. Rani melepas tangannya, kemudian menarik napas panjang, membuang pandangan ke depan.
"Waktu, Bu Ina tahu Pak Ilham menikah lagi, aku yakini hati Ibu sakit. Tapi, Ibu masih mencoba mempertahankannya meski marah dan merasa dikhianati. Karena apa, Bu?"
Aku diam, tak mampu menjawab. Dadaku sesak, entah kenapa pertanyaan Rani sulit sekali untuk dijawab.
"Karena, Ibu yakin semua pasti akan berjalan baik, kalau sabar menjalaninya. Benarkan, Bu? Seperti itu kan, Bu seharusnya?" Wajah Rani menghadapku.
Wajah dengan pipi tirus itu aku tatap lekat-lekat. Ketegaran pemiliknya benar-benar membuatku malu. Walau kehidupan yang dia jalani begitu menyakiti, tapi dia tetap memilih untuk bertahan. Dia memang bodoh, bodoh sekali, tapi membuat salut secara bersamaan. Dia bertahan karena buah hatinya telah merasa nyaman dengan ayah sambungnya.
"Entahlah, Rani. Aku saja tak tahu kenapa dulu sempat bertahan, meski tangis dan pertengkaran selalu menghiasi setiap harinya." Diiringi helaan napas panjang aku berjalan ke teras toko, mengangkat sedikit kepala, menatap mega biru yang diselimuti awan putih yang bergulung-gulung bagai ombak dilautan.
Berharap menemukan suatu jawaban di sana, tapi kosong. Jawaban itu tak pernah sekalipun aku temukan.
"Wanita itu pada dasarnya lemah, Ran. Yang membedakan, bagaimana cara mereka menyimpan ataupun menutupi kelemahan mereka. Ada yang ditempa ratusan kali tapi masih sanggup berdiri, dan ada yang ditempa satu kali sudah tak sanggup melanjutkan," ucapku seraya menoleh, lalu berjalan ke arahnya.
"Baiklah, bila itu keputusanmu. Aku tidak akan memaksa," kataku seraya menepuk pundak Rani, "tapi ingatlah, kalau sampai ada apa-apa denganmu maupun Sigit, jangan ragu untuk datang padaku." Wanita malang ini sudah aku anggap seperti bagian dari keluarga sendiri, dan tidak akan aku biarkan orang lain menyakiti mereka.
"Baiklah, Bu." Rani mengangguk antusias, sudut bibirnya melebar, memberikan senyuman ketulusan.
"Sekarang pulanglah, istirahat. Badan kamu pasti sakit semua. Hari ini juga tidak terlalu ramai, aku bisa handle sendiri," perintahku dan tak ingin digugat.
"Tapi, Bu ...."
"Mau pulang sendiri, apa aku seret sampai depan rumahmu?" ucapku menarik lengan kanan Rani.
"Iya, iya, Bu Bos yang baik hati, tidak sombong, suka menabung dan cantik." Wanita berhidung bangir itu meringis, sambil tertawa.
"Sedang memuji atau menghina ini?" Aku mencubit pelan pipi putihnya, dan seketika berwarna merah.
"Sakit, Bu …." Rani mendengus, sembari mengusap pipi yang semerah tomat.
"Eh, bantuin aku tutup toko dulu lah." Lebih baik aku menutup toko, daripada pikiranku terbagi-bagi dan kehilangan konsentrasi.
Rani menatap jam bulat yang tergantung di atas rak besi, tempat stok barang tersusun rapi. "Masih siang loh, Bu!"
"Nggak apa-apalah, hari ini rada sepi juga, tidak ada packing untuk pengiriman barang. Sekali-kali tutup lebih awal, lah." Rani mengangguk setuju.
Tanpa komando lagi wanita kurus itu langsung membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja. Setelah itu, kami pun menutup toko bersama-sama.
Setelah itu kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Rani dengan sepeda motornya, dan aku berjalan kaki karena jarak yang teramat dekat.
Mobil siapa itu? Batinku berbisik saya melihat kendaraan roda empat terparkir di latar. Mobil hitam mengkilap, body besar, dan bertuliskan Range Rover di bagian depannya, terlihat asing di mataku.
Sepertinya tamu yang datang bukan orang sembarangan bila dilihat dari tunggangannya itu. Tapi, siapa? Aku tidak ada janji dengan siapapun, pun ibu tidak mengatakan apapun perihal tamu itu.
Segera langkah kaki ini aku percepat, penasaran pada siapa gerangan yang datang.
"Assalamualaikum," sapaku seraya memasuki rumah. Seketika mataku membulat lebar mendapati dua laki-laki tengah duduk di ruang tamu.
"Wa'alaikumsallam," jawab mereka bersamaan. Melihatku yang membeku di ambang pintu.
"Loh, sudah pulang kamu, Nduk?" Suara ibu membuatku tersentak kaget, lalu menoleh ke arahnya yang baru saja menyembulkan kepalanya di sela tirai merah motif burung bangau, kain pemisah ruang tamu dan ruang tengah yang biasa untuk menonton TV, bersebelahan dengan ruang makan. Detik berikutnya, sepasang netraku kembali terpaku pada dua sosok laki-laki yang duduk di kursi kayu jati ruang tamu.
Mereka berdua orang sama yang datang beberapa tahun lalu.
***
Maaf, karena terlalu lama untuk update.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru