"Mas, sudah malam kok Aldo belum diantar pulang ya?" tanyaku pada lelaki yang duduk di sebelahku. Sehabis salat isya berjamaah, kami bertiga pun duduk di sofa ruang tamu, sambil menonton TV. Kami duduk berjajar tiga, dengan Mas Ilham berada di antara istri-istrinya. Benar-benar potret keluarga berpoligami yang akur dan bahagia, kelihatannya seperti itu. "Nggak tahu, Dek, coba aku hubungi Dokter Adi." Mas Ilham meraih ponselnya di meja, mengutak-atiknya sebentar. "Nggak usah, Mas. Tadi, Mas Adi sudah mengabariku, katanya Aldo nginep di rumahnya, kangen sama apartemen," Monita berucap, seraya menyuapkan anggur yang sudah dibuang bijinya ke dalam mulut Mas Ilham. Mas Ilham pun membuka mulutnya lebar, seakan welcome atas perhatian yang istri barunya berikan. Dan interaksi mereka membangkitkan api cemburu dalam diriku. "Aku ke kamar dulu, Mas. Ngantuk," pamitku, lalu beranjak dari duduk. Mas Ilham diam, menatapku dengan pandangan yang tak bisa aku artikan. Aku berjalan menuju kamar, meninggalkan dua sejoli yang masih asik suap-suapan. Bagaimana kabar hatiku? Tentu saja sakit sekali. Lelaki itu bahkan tidak memanggil, ataupun mengejarku ke kamar. Aku memang aneh, tadi menolak didekati olehnya, sekarang aku ingin dirayu oleh lelaki berwajah bulat itu. Serba salah memang. "Nggak tidur sama Mba Ina, Mas?" Aku menajamkan indera pendengaran saat sayup-sayup suara Monita terdengar, membuka lebih lebar pintu kamar yang belum ditutup sempurna olehku. "Nggak!" Suara lelaki itu terdengar ketus. "Ya sudah, tidur sama aku saja, Mas, lagian nggak ada Aldo." Suara monita mendayu-dayu, dan sepertinya mulai merayu. Langsung saja aku menutup rapat pintu, menguncinya. Berlari menuju ranjang, membanting tubuh di atasnya. Menarik selimut dan seluruh tubuhku meringkuk di dalamnya. "Mas Ilham tidak akan seperti itu. Mas Ilham tidak akan berbagi kehangatan dengan Monita, 'kan?" ucapku mencoba mengurai cemburu dan kegelisahan yang kian dalam merasuk hatiku. "Tapi, mereka juga pasangan halal, sudah sepatutnya Mas Ilham memberikan nafkah batin pada Monita." Aku menyingkap selimut yang menutupi kepala. Ah, nggak tahulah, memikirkannya saja rasanya bikin kesal sekali. Aku meraih bantal yang biasa Mas Ilham pakai sebagai alas kepalanya, memeluknya erat. Berat sekali kehidupan rumah tangga seperti ini. Satu suami dua istri, sungguh aku tidak sanggup berbagi. *** "Mas, kok tidur di sini?" Aku mengguncang-guncang bahu milik lelakiku yang tengah terlelap di atas sofa ruang tamu. Tanpa sadar bibir ini menyunggingkan senyuman melihat Mas Ilham tidak di dalam kamar Monita. "Mas, Mas Ilham," panggilku lagi karena tak kunjung mendapat respon darinya. Lelaki itu masih menutup matanya rapat-rapat. "Mas Ilham, bangun. Sudah pagi." Suaraku lebih tinggi sekarang. "Em ...?" Ada pergerakan sekarang. Pria berkaos polos itu menggosok-gosok pelan netranya, mengerjap berulang kali. "Kenapa nggak di kamar, Mas?" tanyaku saat mata lebar itu terbuka, meski belum sepenuhnya. "Lah, 'kan nggak boleh sama kamu, Sayang." Suara terdengar berat, khas bangun tidurnya. Mas Ilham mengganti posisinya, yang sebelumnya meringkuk di bawah selimut dan hanya kepalanya saja yang menyembul keluar, sekarang terlentang dengan kaki dilipat ke atas. Selimut masih rapat menutup tubuhnya. Panjang sofa tak sepadan dengan panjang kaki jenjang itu. Detik berikutnya, sepasang netra itu kembali memejam. "Semalam kok pintunya dikunci, Dek? Mas 'kan mau ambil selimut." Dia berbicara dengan mata tertutup rapat. "Untung saja di lemari kamar Aldo ada selimut cadangan. Biarpun nggak tebal, tapi lumayanlah bisa mengurangi dingin," katanya lagi. Aku menarik napas panjang. Semalam pintu memang sengaja aku kunci dari dalam. Kesal telah menguasai diri ini. "Maaf ya suamiku sayang." Aku menjawil hidungnya, yang seketika mendapatkan balasan senyuman tipis dari lelaki itu meskipun masih setengah tertidur. "Jangan tidur lagi, Mas. Bangun, salat subuh dulu, gih!" kataku seraya menarik tangannya untuk bangun. "Jam berapa sih, Dek?" tanyanya malas, mendudukan dirinya dengan mata tetap terpejam. "Jam lima, Mas. Buruan bangun. Hari ini berangkat kerja, 'kan? Nanti telat loh." Tanganku merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Iya, iya Istriku yang bawel." Dia bangkit dari duduknya, dengan sempoyongan menuju ke arah kamar utama. "Dasar," gumamku sambil menggelengkan kepala. Melipat selimut tipis yang semalaman sudah menggantikan tugasku menghangatkan tubuh Mas Ilham. Walaupun merasa tidak enak karena masih membuatnya kedinginan, tapi aku bersyukur juga lelaki itu tidak mencari kehangatan dari istri keduanya. Mendengar penuturannya barusan, membuatku tersenyum simpul, tak ada salahnya mempercayai naluriku semalam. Sepertinya lelakiku tidak berbohong soal kemarin malam, dia belum pernah tidur dengan Monita. "Ternyata kamu masih layak aku percayai, Mas." Aku bergumam lagi, mendudukkan diri di sofa. Menarik napas panjang seraya mendorong punggung ke belakang. Bersandar sambil melihat atas. Ingatan semalam saat mencuri dengar percakapan Mas Ilham dan Monita tiba-tiba berkelebat dalam ingatan. "Nggak tidur sama Mba Ina, Mas?" "Nggak!" "Ya sudah, tidur sama aku saja, Mas, mumpung nggak ada Aldo." "Aku tidur di sofa saja." "Ayolah, Mas, dari menikah kita belum pernah tidur bareng loh, Mas." "Dasar wanita haus belaian, sampai yang begitu saja dia yang memintanya duluan," ucapku lirih, sembari mengelus-elus bantal kepunyaan Mas Ilham. "Sudah dibilangin, aku tidur di sini saja, Monita!" Wah, Mas Ilham mulai murka nih, pasti seru kalau nonton langsung drama ruang tangga yang sedang mereka mainkan. "Mas, aku istrimu, sudah sepatutnya kamu memberikan hak 'itu' padaku!" "Monita, tolong, tolong jangan membahas ini sekarang!" "Kenapa? Takut Mba Ina dengar? Takut dia sakit hati dan nangis, terus ngamuk-ngamuk lagi, terus minta pisah? Begitu 'kan yang kamu takutkan, Mas?" Benar. Semua yang dikatakan Monita benar. Aku memang lemah dan gampang menangis. Tapi, hati ini ingin menyangkalnya, ada rasa tak terima dalam hatiku mendengar kelemahanku dari mulut kotor Monita. Payah. Aku memang sepayah itu. "Sudah. Cukup! Aku ngantuk, ingin tidur sekarang!" Setelahnya, tidak terdengar percakapan lagi, hanya suara pintu yang ditutup keras menjadi penutup drama sepasang pengantin baru itu. Aku senang Mas Ilham menolak ajakan Monita, tapi hatiku pun diremas secara bersamaan. Aku kecewa pada diriku sendiri, apa yang diucapkan monita semuanya adalah sebuah kebenaran. Dia juga istri Mas Ilham, haknya sama denganku. *** Aku yang bersiap-siap untuk masuk di dapur pun seketika melihat ke arah pintu kamar Aldo yang baru saja terbuka. Wanita yang memakai piyama terusan tanpa lengan sepanjang paha itu keluar dari kamar itu. Monita seksi, walaupun rambutnya sudah di potong pendek seperti laki-laki wajah ayunya tetap terpancar, sepertinya tidak ada laki-laki yang bisa menahan pesonanya itu. Kecuali, suamiku pastinya. "Monita," panggilku. Wanita itu terdiam, bahkan menoleh pun tidak, seolah tak mendengar panggilan itu. "Monita." Aku memanggilnya lagi. Wanita itu tetap melewatiku begitu saja yang masih terpaku melihatnya dari dapur. "Nita!" panggilku bernada keras, mulai kesal. Tetap saja wanita itu seolah tak mendengar, langkahnya tetap maju memasuki kamar mandi sebelah dapur, tanpa menoleh sedikitpun padaku. Kenapa dia terlihat marah? Apa karena semalam ditolak Mas Ilham makannya dia melampiaskannya padaku sekarang? Ngapain juga aku memikirkannya? Mau Monita marah atau tidak, itu bukan peduliku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua