logo text

Bab 56 Harus selalu lapor

"Ah, masa!" Kini aku bersedekap. Haruskah aku percaya? Tadi pagi saja dia bisa berbohong padaku, apalagi sekarang. Laki-laki yang melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Monita itu bagai kucing melihat ikan. Nggak bakalan tenang hidupnya sebelum ikan itu dimakan.
"Serius! Makannya mas boleh ya tidur di sini. Paling tidak untuk malam perpisahan sebelum kamu ke rumah ibu," ucap lelaki itu mengiba. Namun, aku tidak merasa tersentuh sama sekali, tangan kembali fokus memasukan sisa pakaian ke dalam tas.
Akhirnya, Mas Ilham mengizinkanku di rumah Ibu selama empat hari saja, tapi aku tetap akan lebih lama di sana. Semakin lama di rumah ini, bisa-bisa aku tua sebelum waktunya, yang lebih parah gila karena pikiran yang mulai koslet karena ulah istri kedua Mas Ilham.
"Dek ...."
Aku menghela napas panjang, lelaki itu terus saja merengek. Dan itu benar-benar mengganggu.
"Kamu itu udah tua, Mas. Nggak pantes merengek terus!" Aku mulai sewot.
Ransel yang sudah penuh dengan pakaian aku angkat, hendak meletakkannya ke sisi kosong sebelah lemari. Namun, tiba-tiba saja tangan Mas Ilham menarik tas itu.
"Apa sih, Mas?" pekikku, menatapnya nyalang. Mas Ilham diam, sorot matanya datar, tidak seperti biasanya. Mendadak, menyembunyikan ransel itu ke balik punggungnya.
"Apa-apaan sih kamu, Mas?" teriakku semakin kesal dengan tingkahnya.
Lelaki itu bergeming, wajah tanpa ekspresinya terpaku padaku.
"Mas! Ayolah, jangan seperti anak kecil! Aku hanya ingin meletakkan tas itu ke pojokan dekat lemari," ucapku frustasi seraya menunjuk ke tempat yang aku maksudkan.
"Jawab dulu!" Wajahnya masih tanpa ekspresi, tatapannya datar dan kaku seperti papan triplek.
"Apa?" Aku mendengus kesal, melipat tangan di depan dada, lalu menatap tajam suamiku yang masih saja bergeming di tempatnya berdiri sedari tadi.
Lelaki itu membuang napas panjang, melunakkan pandangannya. "Mas boleh ya tidur di sini?" ucapnya dengan senyuman. "Kamu nggak rindu sama suamimu ini?" tanyanya terlihat ragu.
Aku berdiam cukup lama seraya mengembuskan napas panjang berulang-ulang.
"Nggak tahu lah, Mas," kataku seraya membalikkan badan, melangkahkan kaki keluar kamar. Meninggalkan suami yang sepertinya memiliki banyak pertanyaan dalam benak.
"Dek …," panggilan Mas Ilham tidak aku hiraukan, kaki tetap melangkah menuju pintu.
"Dek, kalau ada yang panggil itu menyahut!" Aku tersentak kaget saat
Mas Ilham menarik lengan kananku hingga berbalik menghadapnya.
"Sakit, Mas!" rintihku mencoba menarik diri darinya, tapi percuma. Cengkramannya pada lenganku semakin kuat aku rasa.
"Lepasin, Mas!" Aku meringis kesakitan, memohon dilepaskan. Akhirnya, lelaki itu membebaskan tanganku dari belenggunya. Aku kembali melanjutkan langkah keluar kamar.
"Dek …." Suamiku memanggil lagi, dan itu membuat langkahku seketika berhenti di depan pintu.
"Apa lagi, Mas?" tanyaku malas tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
"Dek …." Lelaki itu berucap lirih, tapi aku masih jelas mendengarnya.
Tubuhku menegang seketika saat Mas Ilham tiba-tiba saja memelukku dari belakang.
"Dek, jangan tinggalkan aku," bisiknya dengan suara serak.
"Apaan sih, Mas?" Aku melepaskan tangan Mas Ilham yang melingkari di pinggangku.
"Jangan pergi!" Dia kembali melingkarkan tangannya di pinggangku, dan lebih erat dari sebelumnya.
Aku menghela napas panjang, tidak ada lagi penolakan dariku sekarang.
"Oke, mas tidur di luar, tapi jangan pergi." Dia berbisik tepat di telinga.
"Aku 'kan hanya pergi ke rumah Ibu, Mas. Masa nggak boleh, sih?"
"Perginya besok saja, Dek." Mas Ilham melepaskan pelukannya, memutar tubuhku, hingga kami saling berhadapan sekarang.
"Besok saja ya, malam ini sama mas dulu, sudah lama mas gak meluk kamu saat tidur." Sungguh, aku ingin tertawa mendengar ucapannya barusan. Dulu, ucapan seperti itu memang bisa membuatku melayang, tapi tidak untuk sekarang.
Apa penyebabnya? Apa cinta telah hilang? Nggak! Cinta ini masih ada untuknya, mungkin lebih tepatnya rasa cinta yang menggebu sudah menjadi hambar.
"Mas, aku juga perginya besok, bukan sekarang," kataku sambil geleng-geleng kepala. Sekarang sudah sore, jika melakukan perjalanan saat ini juga sampai rumah ibu pasti tengah malam. Jika Mas Ilham bisa mengantar sih nggak apa-apa, lah ini kan nggak bisa.
"Ini kamu mau ke mana?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Astaghfirullah, Mas, aku mau ke dapur. Ambil minum, haus! Sekarang aku harus laporan sama kamu kemanapun aku pergi? Saat ke dapur pun aku juga harus minta ijin dulu sama kamu?" Aku mendelik melihatnya, kedua tangan di pinggang, Mas Ilham benar-benar membuatku kesal.
"Mas 'kan cuma tanya, Dek, kok kamu marah sih? Ya, nggak usah lapor-laporan segala kalau masih dalam rumah sih. Kalau keluar rumah barulah minta izin dulu."
"Lagian apa-apa di tanyain! Merengek terus dari tadi, aku cuma mau masak, Mas. Sudah sore, lauk untuk makan malam belum ada, apa iya harus beli lagi? Sayang uangnya!" Aku menarik napas dalam, bicara keras tanpa jeda cukup membuat dadaku sesak.
"Mau seperti ini nggak boleh? Mau seperti itu nggak boleh? Keluar pun nggak boleh? Aku bukan tahanan, Mas! Apa-apa aku harus izin dulu? Sedangkan kamu sendiri, nikah sama Monita nggak ada tuh izin dulu sama aku. Suami itu kalau mau nikah lagi butuh persetujuan istri pertama, Mas! Masa nggak ada omongan apa-apa tahu-tahu sudah sah punya madu!" lanjutku dengan dada naik turun, hidung kembang kempis, mata pun mulai berkaca-kaca lagi. Sudah berkata banyak, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam dada. Ingin sekali aku ucapkan semuanya sekarang juga.
"Dari kemarin-kemarin sudah aku sabarin, Mas, tapi kamu nggak ngerti-ngerti juga! Aku lelah, capek banget rasanya! Aku baru saja keluar dari rumah sakit, baru kehilangan anak, ragaku belum stabil apalagi psikisku, tapi kamu semaunya sendiri tanpa pedulikan aku yang masih menahan sakit! pekikku seraya menunjuk-nunjuk wajah lelaki depanku yang mematung. Memandangku seolah tidak percaya bahwa istri pertamanya bisa marah seperti ini.
"Dek ...." Mas Ilham hendak menyentuh, tapi aku segera menepisnya. Memundurkan langkah, membuat jarak.
"Dek … mas hanya takut kehilanganmu. Apa itu salah?" Dia masih saja tidak mengerti perasaanku. Bukan tidak mengerti, tapi dia memang tidak mau mengerti.
"Nggak, Mas!" Telapak tanganku kini mengarah kepadanya, berharap mampu menghentikan laju langkahnya yang semakin mendekat. Namun, pria itu tidak acuh pada larangan itu. Sepasang kaki panjang lelaki itu tetap menujuku, menarik diriku ke dalam dadanya yang bidang.
"Le-lepas!" Tentu saja aku memberontak, tangan memukul keras punggung laki-laki yang memeluk semakin erat.
"Maaf. Seharusnya, mas tahu rasa sakit yang Adek rasakan saat tahu mas menikah lagi tanpa izin. Seharusnya mas nggak egois, menganggap semuanya akan baik-baik saja, semua akan berjalan seperti sediakala. Maafkan Mas, yang selalu memaksakan kehendaknya sendiri," ucapnya lembut sekali. Melepaskan pelukan, lalu meninggalkan kecupan di puncak kepalaku.
"Maaf, Sayang." Tangannya mengusap pipiku yang basah. Aku menundukkan kepala, dan diam seribu bahasa. Membalik tubuh, melanjutkan langkah ke dapur.
Rumah ini sepi sekali, Monita pasti sedari tadi di dalam kamar. Segera aku menendang pintu kamar Monita yang tertutup rapat saat melewatinya dalam perjalananku menuju dapur. Aldo sedang tidak ada di dalamnya, remaja itu pergi bersama Dokter Adi sedari siang.
"Woy! Bangun! Maghrib nih, nanti kesurupan setan tidur!" teriakku seraya berjalan pelan.
***
"Mba Ina, boleh salat bareng nggak?" Aku dan Mas Ilham yang sudah memakai atribut salat lengkap saling melempar pandangan setelah melihat ke asal suara. Wanita yang yang berdiri di ambang pintu itu mulai mendekat dengan ragu-ragu.
"Ambil wudhu dulu," titah suamiku.
"Sudah, Mas. Aku juga sudah bawa mukena. Ini," ungkapnya seraya mengeluarkan lipatan kain putih beserta sajadah dari balik punggungnya. Mas Ilham kembali menatapku, yang juga sedang melihatnya. Kepalaku mengangguk tipis, mengiyakan permintaan Monita. Toh, dia juga bagian dari keluarga.
"Ya sudah, sini. Kita salat bersama-sama." Suamiku yang bicara.
Entah ada angin apa tiba-tiba Monita meminta salat bersama. Bagus, tapi apa ada niat terselubung dari semua tingkahnya ini? Mengingat dulu pun dia pernah melakukan hal yang sama. Berubah hanya untuk berpura-pura.
Niatnya memang baik, aku pun menyetujuinya. Siapa tahu setelah rajin salat, tabiat buruknya akan berubah. Tapi, Jika mengingat kejadian lampau, membuat hatiku sedikit meragukan niat baiknya itu. Astaghfirullah.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru