Pintu kamar yang tidak aku kunci terbuka, segera aku menoleh ke sana. Seorang lelaki dengan kaos hitam itu nampak ragu-ragu untuk memulai. "Dek …," panggil lelaki yang berdiri di ambang pintu dengan sorot sendu. "Boleh mas masuk?" tanyanya pelan. "Masuk, Mas." Aku yang sedang tiduran di ranjang, menarik napas panjang, lalu segera duduk bersila menunggu kedatangan Mas Ilham. "Kenapa?" Kini lelaki itu duduk di tepian tempat tidur, tepat di sebelahku. "Apanya, Mas?" ucapku lemah, menundukan wajah sambil memainkan kuku jari-jari di pangkuan. "Ada apa?" Tangan besar lelaki itu mengangkat daguku perlahan, memaksaku membalas tatapan netra bermanik kecoklatan itu. "Dari kemarin kamu banyak berubah, tidak mas temukan lagi Raina yang lemah lembut, sabar, dan manja seperti dulu." Sepasang netra itu semakin lekat menatap, bahkan aku menemukan kaca bening di sana. Setelah sekian banyak cobaan pahit menerpa, tidak bolehkah aku meninggalkan sifat lama yang lemah? Aku ingin terlihat kuat walau hatiku telah lumpuh. Beberapa menit berlalu dan kami hanya saling membisu, beradu pandang seolah sedang berbicara dengan kalbu. Melihat caranya menatapku, aku yakin lelaki depanku masih menginginkan diri ini dan mencintainya dengan tulus. "Maaf karena mas menikah saat kamu sedang berjuang untuk hidup," katanya dengan butiran air bening satu-persatu turun dari sepasang netranya. "Apa alasan, Mas Ilham menikahi Monita?" Air mata yang susah payah aku tahan pun menetes juga pada akhirnya. "Rumit, yang jelas aku melakukan ini untuk kamu. Percayalah tidak ada kesengajaan dari semua ini, cinta ini masih seutuhnya milikmu," ucapnya dengan penuh keyakinan. Jadi … semua ini gara-gara aku? Karena permintaanku sebelum dilarikan ke rumah sakit. Dan kini, aku menyesali keputusanku itu. "Jangan menangis, aku mohon." Tangannya mengusap pipiku yang basah oleh air mata. "Aku nggak mau dimadu, Mas," isakku semakin menjadi. Hati teriris saat mengingat fakta yang ada. Telapak tangan menutup mulut, pundak naik turun dengan cepat, tangis ini sulit sekali aku kendalikan. "Mba Ina!" Suara teriakan terdengar. Aku dan Mas Ilham menoleh ke pintu bersamaan. Monita, berjalan cepat ke arah kami. "Ngapain kamu di sini?" Mas Ilham segera bangkit, meriah tangan Monita hendak membawanya keluar. "Lepaskan aku, Mas!" Wanita dengan dress merah muda tanpa lengan itu menarik paksa tangannya hingga terlepas. "Bukannya, Mba Ina sendiri yang menyuruh kami menikah!" Telunjuk berkuku panjang itu menunjuk-nunjuk wajahku. "Kenapa sekarang malah Mba Ina yang berlagak seolah menjadi korban?" Napasnya tersengal-sengal. Tubuh meremang mendengar penuturannya. Ucapannya memaksa otakku untuk mengingat-ingat hari itu. Masa-masa buruk yang ingin sekali aku lupakan seumur hidup. Hari terakhir di mana calon anakku masih mengisi rahim. Tangisku semakin menjadi-jadi, goresan luka yang belum pulih kembali menganga dan perih. Entah kemana sosok Raina baru yang belum lama ini menguasai diriku. Raina yang kuat, mandiri dan tanpa ampun membalaskan dendam. "Monita, bukan saatnya untuk memperkeruh suasana. Tolong mengertilah," ucap Mas Ilham penuh permohonan. Tangannya mengelus pundakku, mencoba menenangkan diri ini yang terus-terusan kembali rapuh. Tidak pernah terlintas dalam benak akan berbagi cinta dalam hidup, berbagi suami dalam biduk rumah tangga ini, berbagi dalam segala hal yang menuntut keadilan dalam rumah. Namun, hal yang belum pernah terpikirkan itu, kini aku tengah menjalaninya. Tangan mengusap kasar air mata di pipi. Bangkitlah Raina, kuatkan hatimu, jangan jadikan dirimu lemah terus-menerus. Selalu itu yang aku bisikkan dalam hati, tapi aku yang tersakiti tak memiliki kekuatan menaklukan dia yang tak memiliki hati nurani. "Kamu harus adil dong, Mas. Aku juga istrimu, istri sah dimata hukum dan agama!" Monita menarik kuat tangan Mas Ilham, hingga lelaki itu beralih ke sisinya. "Jangan buat aku marah!" Mas Ilham terdengar murka, menyentak paksa tangan istri keduanya dari tangannya hingga terlepas. Lalu menunjuk ke pintu. "Keluar! Jangan pernah sekalipun kamu masuk kamar ini lagi!" Aku terkesiap, suara nyaring Mas Ilham membuat nyaliku menciut, meskipun amarahnya bukan dia tujukan padaku. Wajahnya merah gelap, sepasang netranya melotot tajam, membuatku bergidik ngeri suamiku seperti kerasukan. Selama pernikahan, Mas Ilham belum pernah seperti ini. Ini kali pertamanya, dan beruntungnya bukan aku sasarannya. "Kamu jahat, Mas! Aku hanya minta keadilan, apa itu salah?" Suara Monita bergetar, tangan meremas dress-nya kuat-kuat, air mata pun terlihat mengaliri kedua pipinya. "Salah! Kamu di sini saja adalah suatu kesalahan besar!" "Mas …," panggilku bersuara serak. Bibir tiba-tiba kelu, tidak mampu berucap satu katapun lagi. Napas lelaki itu tak beraturan, karena terus-terusan berteriak. Aku tahu betul, lahar amarah telah melelehkan kesabarannya. Perlahan aku turun dari ranjang, menarik napas dalam-dalam lalu memeluk lelakiku dari belakang. "Mas …." Aku sandarkan kepala pada punggungnya yang lebar, semakin mengeratkan pelukan. Lelaki itu terdiam, tapi dadanya masih naik turun tak beraturan. "Mas …." Aku mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada tengkuk lehernya. Berharap dapat mengembalikan kesadaran dan kewarasannya. Mematikan api amarah yang berkobar dalam dirinya. Maduku mendengus kesal, netra sipitnya membulat melihat pemandangan ini. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang basah. Lalu membalik badan, berlari keluar kamar serta membanting pintu. Aku tahu dia kesal, marah, cemburu, dan sedih, tetapi mau bagaimana lagi jika tidak begini aku takut Mas Ilham akan melakukan kekerasan fisik padanya. "Dek, mas rindu," ucap pria dalam dekapanku. Membalik tubuhnya menghadapku, lalu menarik diri ini ke dalam pelukannya. "Aku kangen … banget …." Lelaki itu mengusap-usap kepalaku, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. 'Aku juga sama sepertimu, Mas,' ucapku hanya dalam hati, ada rasa dalam dada yang sulit sekali dijelaskan, membuat bibir ini kelu dan tidak bisa mengatakannya langsung. Akan tetapi, kerinduan yang membumbung tinggi membuat suamiku kehilangan kendali. Bibirnya mulai menjelajahi area leherku, kecupan-kecupan yang ditinggalkannya di sana membuatku sedikit kewalahan. "Mas ...." Aku berontak, tangan mendorong dadanya untuk segera menjauh. Menghentikan laju kecupan rindu yang mulai memburu. Pun rindu ini menggerogotiku, memberikan keresahan pada jiwa dan raga ini. Namun, aku belum siap menerima sentuhan lebih daripada ini. Hati pun masih ragu untuk membuka kembali. "Aku mau istirahat, Mas," ucapku lirih. Dalam diam Mas Ilham melepas pelukan. "Tidurlah, kalau butuh apa-apa panggil saja. Mas ada di luar." Netranya melihat sembarang arah, enggan menatapku. Setelah mendapatkan sahutan singkat dariku, lelaki yang sedang menundukan kepala itu berjalan ke pintu. Menutup pintunya dengan pelan.
"Maaf Mas," gumamku menatap pintu kayu yang sudah tertutup rapat. Sungguh, aku juga rindu, tapi hati ini masih menolak rindu yang bersemayam itu. Aku membaringkan diri dalam peraduan, menarik selimut hingga menutupi leher. Ya Allah, jika memang aku masih berjodoh dengannya, hilangkan lah keraguan ini, dan berikanlah keikhlasan untuk aku menunaikan kewajiban. Berikanlah kekuatan untuk aku menanam kembali cinta pada suamiku. Agar bisa menyiramnya dengan kasih dan sayang, dan memupuk dengan kesetiaan. Agar cinta kami tidak mudah tumbang seperti sekarang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua