"Mas Ilham." Aku menoleh ke sumber suara, tapi segera berpaling lagi. Wanita yang berdiri di ambang pintu itu hanya mengenakan kaos dalam pas badan berkerah rendah hingga menampilkan sebagian dadanya. Belum lagi celana super pendek yang dikenakannya membuatku semakin berdecak kesal. "Sudah pulang?" Derap langkah terdengar semakin dekat. "Em …." jawabku singkat, malas berkata-kata panjang dengan wanita tak punya hati seperti dia. "Ayah keluar dulu, ya," kataku setelah mengecup kening jagoan mudaku yang sedang tersenyum, saat Monita sudah sampai di sampingku. Memutar badan, dan pergi meninggalkannya begitu saja. "Mau kemana, Mas?" Kaki yang baru mengayun beberapa langkah terpaksa harus berhenti. "Ikut aku! Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu!" kataku ketus tanpa menoleh sedikitpun padanya, menatap datar arah depan. Bergegas keluar kamar Aldo diiringi langkah Monita yang mengekor di belakang. Aku membawanya masuk ke kamar utama. Aku sampai kamar lebih dulu, berdiri samping jendela. "Ada apa, Mas?" Aku segera berbalik, wanita itu tengah berdiri di sebelah ranjang. "Duduk!" Netraku melirik tepian ranjang. "Pernikahan kita baru besok loh, Mas, udah gak sabar ya?" katanya seraya mendekat, membuatku semakin kesal. Apalagi senyum malu-malu yang dia tampilkan membuatku ingin menamparnya saja. Sebenarnya apa yang dia pikirkan sekarang? Dengan percaya dirinya, wanita berambut panjang itu mengalungkan tangannya ke leherku, menempelkan dadanya dengan dadaku. Menjijikkan. Nampaknya dia salah mengartikan perintahku barusan. Tangannya yang melingkari leherku kusentak kasar, lalu mendorongnya untuk membuat jarak. Risih dan jijik. Sepasang netranya seketika mendelik, pipi yang semula merah merona kini merah padam menahan marah. "Apa yang kamu lakukan, Mas?" Keningnya berkerut dalam. Aku memutar bola mata malas. "Kamu tahu jawabannya!" Sudut bibirku terangkat sebelah, merendahkan wanita depanku. "Jangan menatapku seperti itu, Mas! Tatapan jijikmu membuatku marah!" Dia berteriak sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan telunjuknya. "Kamu yang apa-apaan! Jangan harap aku akan menyentuhmu! Seujung rambutmu pun bagai najis besar untukku!" pekikku tertahan, menahan gejolak amarah yang kian berkobar. Monita menghentakkan kakinya, bibirnya mbesengut, napasnya pun tersengal, tapi aku tak peduli dengan amarahnya itu. "Aku memintamu duduk, ya duduk!" kataku seraya menunjuk pinggiran ranjang. Andai Aldo sedang tidak ada di rumah, aku bakal mengajaknya bicara diruang tamu saja. Bukannya di sini dan membuatnya kegatelan! Monita bersidekap, dengan malas menuruti perintahku mendudukkan dirinya di tepian ranjang. "Apa?" serunya dengan bibir mencebik. "Oke. Besok kita menikah!" ucapku yang langsung disambut senyuman lebar dan muka cerah Monita. "Ada syaratnya!" "Apa?" Dia sangat antusias menanti syarat dariku. "Rahasiakan ini dari istriku!" "Nggak!" Bibirnya kembali mencebik. Wanita itu bangkit dari duduknya, berkacak pinggang menghadapku. "Hanya satu bulan, selebihnya ... terserah padamu!" Aku berjalan menujunya. Ya, cukup satu bulan, karena setelah itu kita akan bercerai. "Oke. Setuju!" Senyum lebarnya kembali lagi, mengulurkan tangannya tanda kesepakatan. Tentu saja langsung kusambut tangan itu dengan senang hati. "Deal!" kataku saat menyatukan tangan. Kesepakatan pun telah terjadi. Cukup. Aku rasa satu bulan cukup untuk mencari kebenarannya. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu, Monita si ular berbisa *** "Ayah, siap?" tanya anak lelakiku yang disambut senyuman miris dariku. Raga mungkin siap, jiwa yang tidak akan siap sampai kapanpun. Aku pria setia, tapi dipaksa untuk mendua. Ini sulit. "Ayah berharap ini memang jalan yang terbaik sekarang," kataku menatap kosong ke luar jendela kamar. Hal yang sering kulakukan setiap kali hati merana. "Maafkan Aldo ya, Yah," ungkap remaja yang berdiri tepat di sebelahku. Senyumku terkembang saat menoleh pada remaja yang sedang menampilkan wajah sedihnya. Aku mengusap kepalanya. "Seberat apapun ini, akan ayah lalui dengan ketegaran hati! Kamu berada di pihak ayah, 'kan?" Aku menatapnya nanar, semoga kelak, kisah cintamu tak serumit kisah cinta ini Aldo. "Jangan menangis." Aku terkekeh saat melihat butiran air bening turun dari sudut matanya. Anak lelaki sebelas tahun itu tersenyum, lalu mengusap pipi dan matanya yang basah. "Ayah baik-baik saja." Aku menarik jagoan kecilku ke dalam pelukan. Ya, dari luar aku harus terlihat baik, meskipun hatiku hancur, remuk. Bukankah kata orang, semua bakal indah pada waktunya? Ya, tidak ada salahnya aku mempercayai itu. Aku berjalan menuju meja rias, menautkan diri di depan cermin yang hanya terlihat setengah badan. Rambut klimis disisir ke belakang. Setelan jas berwarna hitam pekat pun telah membalut badan ini. Tidak lupa dasi kupu-kupu sebagai pelengkap di bagian kerahnya. Pakaian formal nan elegan, tampak sempurna di penglihatan. Aku pria biasa yang jauh dari kata sempurna, tetapi obsesi Monita terhadapku memberikan tanda tanya besar dalam benak. Apa yang spesial dari diriku hingga Monita melakukan segala cara untuk mendapatkannya, bahkan cara kotor sekalipun? Apa? Sekeras apapun aku memikirkannya, tak kunjung mendapatkan jawaban. "Mobilnya sudah siap?" tanyaku lirih pada remaja yang berdiri tepat di belakangku. Sepasang netra ini masih menatap miris badan yang terpantul di kaca. "Sudah, Ayah." Melihat dari pantulan dirinya di cermin, anak lelaki itu sedang menganggukan kepalanya, seraya melihatku dengan sorot sayu. "Kamu mirip sekali denganku!" ucapku seraya membalik badan, lalu merangkul pundak Aldo, membawanya keluar kamar. "Jangan sampai kamu seperti ayah, ya," ucapku seraya mengacak-acak rambutnya yang klimis dan tertata rapi. Waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi, kami bersama-sama bertandang ke KUA tempat dilaksanakannya ijab kabul pasangan yang saling jatuh cinta. Namun, untuk apa aku ke sana? Di sana tidak ada wanita yang kucinta. Berulangkali aku menepuk dada, mencoba mengurai sesak yang mulai mendera. *** Mega di atas sana terlihat hitam, segelap hatiku yang diterpa badai semenjak beberapa hari yang lalu. Nampaknya, mentari pun tidak merestui pernikahan ini. Bibirku kaku saat mengucapkan kalimat sakral pengikat dua insan, tetapi biarpun terdengar tidak jelas para saksi-saksi tetap menyerukan satu kata, ialah 'sah' dengan kompak.
Orangtuaku tidak bisa hadir. Bukan, tapi memang tidak akan menghadirinya. Hanya laki-laki berbadan tinggi besar dan berwajah bule yang Monita panggil ayah, dan beberapa orang dari pihaknya yang berperan sebagai saksi yang datang ke sini. Senyuman lebar tak pernah lepas dari bibir Monita yang kini menyandang sebagai istri keduaku. Madu untuk Raina. Madu yang siap membunuh Ina kapanpun Monita mau. Madu yang aslinya racun berkamuflase. Hanya satu setengah jam acara pun telah usai, kami langsung kembali ke rumah. Sesampainya di rumah pun sepi karena memang tidak ada resepsi ataupun syukuran, sesuai permintaanku. Bahkan dekorasi penuh bunga yang Monita impikan tidak terlihat. "Ayah." Aku yang hendak mendudukan diri di sofa seketika menoleh ke belakang. Aldo mendekatiku dengan ponselku di tangan. Selama di KUA tadi ponsel memang sengaja kutitipkan padanya. "Ada apa, Aldo?" tanyaku setelah duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Monita entah pergi ke mana. Setelah keluar dari mobilnya tadi, dia masuk lebih dulu ke dalam rumah. Mungkin ke kamar mandi. "Bundanya ayah dari tadi telepon," katanya seraya menyerahkan benda pipih itu. Aku meraihnya dengan kening terlipat. Ada apa? Mungkinkah ada apa-apa dengan Raina? Segara, tangan ini menekan tombol telepon pada layar, menghubungi nomor bunda. Dua kali dering akhirnya panggilan telepon dariku diangkat oleh pemiliknya di seberang sana. "Assalamualaikum, Bunda," sapaku segera. "Ilham, kamu ke sini sekarang ya. Istrimu nanyain kamu terus, sudah hampir satu minggu dirawat tapi kamu nggak nongol-nongol katanya. Nangis terus dari tadi. Bunda bingung, di sini nggak ada yang bisa nenangin dia," katanya membuat hatiku gerimis seketika. Ina …. "Iya, Bun, aku ke sana sekarang juga!" Aku langsung beranjak dari duduk. Melepas jas serta dasi, melemparkannya begitu saja ke sofa. "Aldo, ayah pergi dulu ya," pamitku dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari remaja jangkung itu. "Mau kemana, Mas?" Baru saja melewati pintu, sebuah suara perempuan menghentikan langkahku yang cepat melaju. Aku terdiam, di enggan menanggapinya. "Mas!" Dia menarik paksa tanganku untuk menghadapnya. "Apa?!" pekikku menatapnya nyalang. "Mau kema--" "Diam!" Bentakku hingga wanita itu tersentak dan tak mampu melanjutkan kalimat. "Tolong! Jangan uji lagi kesabaranku yang sudah diambang batas ini. Aku meminta waktu darimu satu bulan. Selama waktu itu aku ingin menghabiskannya bersama wanita yang benar-benar aku cinta! Cukup satu bulan! Tahanlah segala obsesimu terhadapku! Hanya satu bulan!" kataku dengan telunjuk mengarah ke wajahnya, lalu kembali melanjutkan langkah yang tertunda. Aku marah, sangat marah sekarang. Wanita itu tidak mengejarku yang dengan tergesa-gesa mengeluarkan motor dari garasi. Entah apa lagi yang bakal dia rencanakan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua