"Bunda!" Tubuhku beku, kaku, tak bisa digerakkan. Bahkan, seluruh bulu halus dalam diriku meremang melihat kehadirannya yang tiba-tiba. "Bunda boleh masuk?" Senyumnya merekah melihat menantunya.
"Ma-masuk, Bunda." Wanita dengan gamis coklat tua itu melajukan kakinya ke arahku. Semakin dekat jarak beliau denganku, semakin cepat pula jantung ini memompa. Mas Ilham, kamu kemana? Kok bisa-bisanya mengizinkan Bunda masuk kamar, sedangkan di sini ada Monita. Tenang Ina, tenangkan dirimu. Mungkin saja bunda tidak tahu prihal wanita di masa-masa kelam anak semata wayangnya. Namun, ada yang janggal. Saat aku melihat pada Monita, wanita itu tengah menundukkan kepala dalam-dalam, seolah menyembunyikan wajahnya dari wanita paruh baya itu. Langkah bunda terhenti, netranya mengarah pada wanita yang terduduk di pinggiran ranjang. "Dia … siapa?" Sepasang netra itu memicing, mengamati wanita berpakaian longgar yang terus menunduk. "Di-dia teman aku, Bunda," jawabku asal. Teman? Ya, hanya itu yang yang terpikirkan dalam benak ini. "Siapa? Bunda merasa tidak asing dengannya." "Nita. Monita." Aku menghela napas panjang, susah payah meredam debar dalam dada ini. Entah seperti apa raut wajahku sekarang, yang jelas aku ketakutan. "Monita …." Beliau memiringkan kepalanya, nampak berpikir. Seketika sepasang netra bulat itu menatap tajam pada Monita. Tatapan yang belum pernah aku dapatkan maupun lihat dari beliau. "Jangan-jangan …." Kakinya mengayun cepat ke arah wanita dengan gamis merah tua itu. "Kamu?!" Bunda memekik setelah mengangkat dagu Monita hingga wajah mereka saling berhadapan. "Ngapain kamu ke sini?" Netra melototnya membuat wanita di depannya dilanda keresahan. Sepertinya, ibu mertuaku tahu masa lalu putranya yang satu ini. Membungkam mulut, hanya itu yang mampu Monita lakukan sekarang.
"Ngapain kamu disini!" Bentak mertuaku lagi, menyentak kasar janggut Monita, lalu mendengus kesal seraya menyilangkan tangan di dada. "Bu-bunda, apa kabar?" Dengan berani wanita itu mengulurkan tangan sembari menatap wajah lawan bicaranya yang terlihat menahan marah. Akan tetapi, wanita paruh baya itu langsung menepisnya kasar. Lalu ... Plakk! Bunda mengayunkan tangannya ke pipi kanan Monita hingga dia tersungkur ke kasur. Dan adegan selanjutnya membuat netraku membola dengan mulut mengaga lebar saat wanita berbadan tinggi nan langsing itu menarik paksa khimar yang menutup aurat atas Monita yang kini telah menangis tersedu-sedu. "Wanita nggak tahu diri!" Beliau menjambak rambut Monita yang diikat satu di belakang, menarik wanita itu untuk bangkit, lantas mendorongnya hingga terjerembab ke lantai. "Bu-bunda, tunggu!" Aku hendak bangkit, tapi nyeri di perut mendadak muncul dan ngilu sekali. Kenapa harus lemah di saat seperti ini? Perut ini pun sakitnya terasa berbeda, kaku, mulas, melebihi nyeri saat kram haid. Ribuan jarum serasa menusuk-nusuk area perut bagian bawah. "Bunda, jangan begini." Aku menggigit bibir, menguatkan diri untuk beranjak dari peraduan. Sakit sekali, tapi harus bisa menahannya. Aku harus melerai perkelahian membabi buta yang berat sebelah ini. Meskipun terseok-seok dan kesusahan mengambil langkah. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" Tamparan bertubi-tubi beliau daratkan pada wajah Monita membuat tangis wanita itu kian mengeras. "Nggak usah nangis! Air mata palsu!" Bunda menjambak rambut Monita, menyeretnya hingga depan pintu kamar. "Pergi kamu!" Wanita setengah baya itu mendorong Monita hingga tersungkur lagi ke lantai. "Mommy?" Aku terkesiap saat Aldo tiba-tiba muncul di sana. Secepat kilat aku ke arahnya, menutup mata remaja itu. Tidak bisa membiarkan anak seusianya menjadi saksi pilu saat mommy-nya diadili seperti itu, ditambah penampilan wanita yang melahirkannya benar-benar dalam keadaan berantakan, tak enak dipandang. "Kenapa, Bunda, seperti ini padaku? Apa salahku?" raung Monita. Mertuaku tidak menjawab, malahan menampar Monita sekali lagi. Segera aku mendekap Aldo, memeluknya sangat. Terasa remaja itu membekap mulutnya, menahan isak tangis yang hendak keluar dari mulutnya. Tubuh jangkungnya bergetar, jagoan kecilku tengah menangis sekarang. "Aldo, tidur dulu ya, sudah malam." Aku mengurai pelukan, langsung menyeka netra dan pipinya yang terlihat basah. Remaja itu mengangguk, menyusut hidung, lalu berbalik dan berderap menuju kamar sebelah. Tanpa sadar air mataku luruh melihat punggung merunduk anak lelaki itu, rasa iba melesak tanpa permisi menembus relung hati, hingga raga rapuh itu menghilang di balik pintu. "Siapa anak itu?!" Bunda memekik lagi, telunjuknya mengarah ke wajah wanita yang terduduk di lantai. Aku berdecak kesal, di sini ada anak di bawah umur tidak bisakah bicarakan dengan baik-baik saja tanpa urat yang menegang? "Ada apa ini, Bun?" Ayah dan suamiku mendekat dari arah pintu depan, mungkin mereka habis keluar bersama, hingga tak tahu peperangan telah terjadi di rumah ini. Aku menarik napas panjang. "Namanya Aldo. Anak dari Monita bersama Mas Ilham," kataku seraya menyeka pipi. Melengos saat netra ini bertemu dengan sepasang netra milik Mas Ilham. "Ada apa sih, Dek?!" Mas Ilham mencekram lenganku. Aku bergeming, memilih diam daripada menyahut. Aku tahu, suamiku sedang marah sekarang karena aku membongkar rahasianya tanpa persetujuan. "Oh, jadi dia anak di luar nikah yang kamu ceritakan bersama wanita ini, Ilham!" Kini telunjuk Bunda mengarah tepat ke wajah pria sebelahku. Sepertinya, Mas Ilham sudah berkata jujur tentang Aldo kepada kedua orangtuanya. Syukurlah, setidaknya tidak ada kebohongan lagi yang bakal tercipta. "Bunda tenang dulu, kita bicarakan dengan kepala dingin. Nggak bisa pakai urat begini, Bun." Ayah mertuaku mengusap punggung istrinya. Bunda nurut, menghela napas panjang seraya mengusap-ngusap dadanya. Baliau pun turut saat ayah menuntunnya menuju meja makan. Dan kami pun mengikuti sepasang suami istri itu. Niat hati ingin membantu Monita berdiri, tapi Mas Ilham keburu manarik tangan ini untuk pergi segera. "Apa kamu menikahi dia Ilham?" Belum sempat kami semua duduk, beliau sudah menggebrak meja, matanya melotot, nafasnya semakin tak beraturan. Jelas saja napasnya tersengal, sedari tadi hanya nada tinggi yang beliau gunakan. Meja makan beralih fungsi menjadi meja sidang, dengan Monita sebagai terdakwa dan bunda sebagai hakim utamanya, kami menjadi saksi. "Sumpah demi Allah, Bun, Ina satu satunya istriku. Diri ini tidak akan terbagi!" ucap suamiku yang seharusnya membuat haru, malah membuat hati ini semakin pilu. "Untuk apa wanita itu di sini?" tanyanya lagi, lalu kembali menunjuk Monita. "Apa kamu ingin merebut Ilham dari Ina, hah?" Semua terdiam, wajah bunda merah padam, tanganya mengepal kuat di meja. Ayah yang tadinya sangat bijak, tiba-tiba terdiam, bersandar dikursi duduknya sambil bersidekap. Entah apa yang beliau pikirkan sekarang, mungkin terlalu asik menonton drama rumah tangga secara langsung. "Jawab!" Bunda menggebrak meja lagi. "Cukup, Bunda!" Aku berteriak, sudah tak tahan dengan keadaan ini. Kenapa orang-orang tak bisa mengerti, ada anak di bawah umur di rumah ini? Dan kondisiku yang masih memerlukan perhatian extra, kejiwaan terguncang, aku hampir kehilangan calon bayi. Bukankah seharusnya merek tenang? Egois. Mereka benar-benar egois. "Anak. Aku di sini hanya karena anak!" Monita mengangkat kepalanya setelah sekian lama menunduk dan hanya mendengar, sekarang gilirannya bicara. "Kalau begitu, bawa anak kamu pergi dari sini," ucap bunda sengit. Tidak! Aldo tidak boleh pergi dari sini. Mas Ilham matahari dan Aldo adalah rembulanku, mereka pelengkap hidupku. Tidak akan aku biarkan siapapun membawanya pergi. Monita bangkit dari duduknya, berjalan gontai dengan rambut acak-acakan menuju kamar putranya, pandangannya pun terlihat kosong ke depan. "Jangan! Jangan bawa Aldo!" Seketika aku berdiri, berjalan ke Monita. "Jangan bawa Aldo," kataku menarik lengan Monita. Wanita itu mengehentikan langkah di depan kamar. "Dia anakku, Mba!" Monita menepis kasar, amarah yang sedari tadi dia tahan kini dia tunjukkan padaku. Tangannya mengepal kuat, dengan mata melebar, air mata yang sedari tadi hanya menggenang di pelupuk matanya, kini berjatuhan semakin deras. "Dia juga anakku." Aku mengiba. "Biarkan saja dia pergi!" Ayah mertuaku sekali bersuara malah menambah runyam suasana. Lebih baik diam kalau hanya itu yang bisa diucapkan. Aku kesal. Sangat kesal. "Mas Ilham akan menikahimu!" kataku tiba-tiba. Entahlah hanya itu yang terlintas dalam benak ini. Air mataku terus menerus jatuh, kaki terasa lemas, aku langsung terperosok ke lantai. Tangan mengepal kuat lalu memukul-mukul dada. Sesak sekali rasanya. Aku tak mau dimadu, tapi demi mempertahankan anak di luar nikah suamiku, aku rela melakukannya. Aku bodoh. Ya, aku memang sebodoh itu. Sungguh, kejadian ini membuatku hampir gila. Kenapa rasa cinta ini begitu besar untuk anak suamiku bersama wanita lain? Kenapa aku begitu mendambanya berada di sisiku? Kenapa?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua