TAK MAU DIMADU BAB. 28 *** "Mas ...." Aku memanggil sambil membelai rambut sang suami yang tengah tertidur pulas, dengan lengannya sebagai bantal sebelah tanganku. Menyisipkan kelima jariku ke dalam rambut hitam legam lelaki berkulit coklat itu. Memainkan helai demi helai rambutnya yang kusut, lalu menyisirnya perlahan menggunakan jemari tangan. "Em ... Dek." Priaku bergumam, mengangkat kepalanya sembari mengerjapkan mata. Tangannya mengusap-usap sepasang netra itu saat enggan terbuka. "Kenapa di sini, Mas? 'Kan bisa berbaring di sofa itu." Telunjukku mengarah pada sofa yang didominasi warna krem, berjarak satu meter dari ranjang. Sofa panjang yang kurasa cukup nyaman bila dipakai tidur. "Mas, mau di sini sama kamu, Dek. Terasa lebih dekat. Mas … " Suamiku menjeda kalimatnya. "Kangen sama kamu, Dek." Manik kecoklatan itu menatap lekat dan dalam. Wajahnya kuyu, terlihat tak ada semangat hidup. Ada apa dengan suamiku? Sejak kedatangannya dini hari tadi, dia terlihat aneh. Aneh sekali, murung dan sering menghela napas panjang. Seolah ada batu besar menindih dadanya. Sesak. "Ada apa, Mas?" Rasa ingin tahuku teramat besar sekarang. Khawatir mendera, cemas merasuk hingga relung jiwa. "Mas …." Lelaki itu tak kunjung menyahut, sepasang netranya masih terpaku padaku, tapi terlihat kosong. Tangan membelai pipi bersihnya. "Dek," seru suamiku tiba-tiba. Bibirnya membuat senyuman, tapi air bening menggenang di pelupuk matanya. Dia mengambil tanganku dari pipinya, menggenggamnya erat lalu memberikan kecupan berulang-ulang di sana. "Ada apa, Mas?" tanyaku lembut membalas tatapan sendunya. Raut sedih yang dia tampilkan membuat hati ini semakin bertanya-tanya. Ada apa dengan suamiku? Semalam lelakiku datang lewat tengah malam, beberapa jam setelah kepergian Monita. Semalaman wanita itu nampak tidak tenang, resah, dan diliputi kepanikan setelah melihat ponselnya yang dia genggam terus-terusan. Aku bertanya gerangan yang terjadi, dia menjawab ' Aldo semakin parah', dengan apa yang diucapkannya tidak mungkin aku menahannya lebih lama di sini. Tanpa curiga sedikitpun, aku menyuruhnya untuk pulang. Melihat reaksi Monita yang seperti itu, kemungkinan terbesar Aldo bakal dibawa ke rumah sakit. Jadi, tidak ada kemungkinan untuk dia berduaan dalam rumah dengan suamiku. Akan tetapi, kenapa Mas Ilham datang dalam keadaan lesu? Apa yang terjadi? Apa karena terlalu khawatir pada putranya makannya dia begitu? Tak berselang lama dia duduk, menggenggam tanganku, dan suara tangisan pun mulai terdengar, memecah keheningan. Tangannya membekap mulut saat tangisannya semakin pecah setelah meninggalkan kecupan di perutku. Apa terjadi sesuatu pada Aldo? "Aku mencintaimu, Dek." Berulang-ulang dia mengatakan itu di sela-sela isakanya yang memilukan semalam. Setelah puas menangis, lelaki gagah itu merebahkan kepalanya tepat di atas tanganku, hingga terlelap tanpa sadar. Menurutku, seorang pria akan menitikkan air matanya saat wanita yang benar-benar dicintainya terluka, sakit hati atas dirinya. Dan, takut kehilangan. "Kenapa, Mas? Mata kamu juga terlihat bengkak kayak habis nangis," kataku memancing reaksinya. Mungkinkah dia akan jujur? Aku tahu betul semalam dia memang habis menangis, karena aku sudah terbangun saat dia datang. Namun, aku membiarkannya, hingga dia tenang dengan sendirinya. Lelaki itu menunduk dalam. Namun, detik berikutnya apa yang terlihat di tengkuk lehernya membuatku terbelalak, wajah memanas karena amarah yang mulai membakar, jantung pun bergemuruh hebat. "Apa itu, Mas?" tanyaku bernada ketus saat tanda kepemilikan terlihat di tengkuknya. Tak peduli meskipun pria itu tengah memendam kesedihan. Samar, tapi aku yakin tanda merah kehitaman itu sama persis seperti yang biasa ditinggalkan suamiku setelah memadu kasih. Aku menarik napas panjang, mengurai amarah tidaklah mudah. Apa yang suamiku lakukan semalam? Bayang-bayang adegan kotor lelakiku bersama Monita meracuni pikiranku sekarang. "Mas! Kenapa bisa ada tanda merah di tengkuk lehermu?" Aku meninggikan suara, sedari tadi suamiku tidak menjawab malahan memasang wajah bingung berselimut kepolosan, dan itu membuatku gemas. Lelaki itu menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang diduduki, lalu mengusap kasar wajahnya. "Semalam, kenapa kamu mengizinkan wanita itu pulang?" Suaranya lemah, netranya layu saat menatap. Apa aku melakukan kesalahan dengan itu? "Aldo. Dia menjadikan Aldo alasannya. Ada apa, Mas? Apa wanita itu melakukan sesuatu?" Mas Ilham menganggukkan kepala, lalu mengusap kasar tengkuknya. "Ini menjijikkan!" Dia menggeram setelahnya. "Apa yang dia lakukan padamu, Mas? Mas Ilham nggak …." Aku tak sanggup melanjutkan kalimat. Ah, bibirku kelu, sesak ada yang meremas ulu hatiku. Lelakiku mengangkat wajahnya, menatap kosong awang-awang. "Dia … dia menggodaku semalam," jawabnya. Mataku mendelik seketika, mulut menganga lebar, napas pun tersengal. Berani-beraninya jalang itu! "Wanita rubah nggak tahu diri! Dikasih empati malah menusukku dari belakang! Rasanya ingin sekali kucabik-cabik wajah cantiknya itu! Sialan!" Aku sangat marah, hingga tak sadar mengucapkan kata-kata makian tak pantas. "Su-sungguh semalam aku tak melakukan 'itu' dengannya." Mas Ilham gelagapan, kepalanya menggeleng cepat, wajahnya tegang dan memucat. Bagaimana mungkin aku percaya jika wanita yang menggoda adalah wanita cantik, seksi, dan nyaris sempurna seperti Monita. "Jika tidak terjadi sesuatu, lantas bagaimana mungkin ada bekas cupangan di sana, Mas?!" Netraku menatap nyalang, menuntut penjelasan. "I-itu di-dia semalam tiba-tiba sudah memelukku dari belakang. Su-sungguh, aku nggak tahu kapan dia melakukan itu padaku." Mas Ilham terus-terusan tergagap, netranya tak fokus memandang. Ditambah tatapan tajam dariku yang terus mengintimidasinya, membuatnya semakin salah tingkah. "Terus?!" Aku memanyunkan bibir. "Ya, ng-gak ada te-rusannya, Dek." Mau sampai kapan kamu gelagapan seperti itu, mas? Membuat ragu saja. "Sejak kapan kamu gagap, Mas?" Mataku mendelik, tapi tiba-tiba ... Cup. Lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di bibir ini, singkat, tetapi berhasil membuatku merona, raga membeku seketika, netra mengerjap tak percaya. "Apa sih!" sungutku setelah sadar dari buaian yang memabukkan. Membuang muka, menyembunyikan senyum malu-malu yang sulit dihilangkan.
Kau terkesiap saat lelaki itu meraih tanganku dari pangkuan. "Aku terlalu lelap semalam, Aldo pindah kamar pun aku tidak menyadarinya. Entah sejak kapan tiba-tiba saja wanita itu sudah di belakangku, memeluk, dan membuka kancing kemejaku. Aku pun kaget bukan main, sungguh semalam dia berani sekali melakukan itu. Waktu itu pun suasana kamar gelap gulita, aku kira dia neng Kunti yang coba godain, Mas," ucapnya sambil terkekeh, lalu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya. Bisa-bisanya dia bergurau saat suasana sedang panas begini? "Lucu ya, Mas. Ha-ha-ha." Tawaku dibuat-buat. "Iya, iya, maaf. Dia cuma pakai lingerie tipis, Dek, mas benar-benar tak habis pikir. Berani sekali dia!" Netranya menatapku, memainkan alisnya, ditambah senyuman menggoda. "Kamu aja nggak pernah pakai lingerie ya, Dek?" Dia berdecak berkali-kali seraya menggelengkan kepalanya. Aku memang tidak pernah memakai baju kurang bahan berbahan satin itu kala malam, tapi mini dress tanpa lengan nan transparan yang sering kukenakan sudah mampu membuatmu kejang-kejang di atas ranjang mas. Menyebalkan! Berani-beraninya dia membandingkan aku dengan si jalang murahan. "Seksi dong!" Sepasang netraku meliriknya tajam saat pria yang duduk di kursi itu mengangguk-angguk penuh semangat. "Jelas!" Mas Ilham mengulum senyum, lalu menyandarkan punggungnya lagi. "Menggoda dong!" Aku semakin bersungut-sungut. 'Sebenarnya maumu apa sih, Mas, Manas-manasin kayak gini?' batinku menjerit. Mas Ilham malah membalas dengan tawanya yang terpingkal-pingkal. "Tentu saja, aku pria normal. Bahkan sampai membuatku susah payah meneguk saliva!" Tawanya semakin pecah ketika melihat wajahku yang kian memerah karena marah. "Adek, cemburu?" tanyanya sambil menjadikan hidungku. "Nggak!" sahutku ketus, seketika memalingkan wajah. Tanpa ditanya pun seharusnya dia tahu, bahwa aku … cemburu. Bukan hanya itu, amarah pun meletup-letup dalam dadaku. "Ya sudah, aku ke sana lagi deh, di sini dicuekin istri!" Terdengar kursi digeser, sepertinya Mas Ilham bangkit dari tempat duduknya. Detik itu pula isakanku berhasil lolos dari bibir ini. Entah sejak kapan air mata ini turun melewati pipi, rasanya aku tak kuat lagi menahan sesak dalam dada ini. "Loh kok nangis, Dek? mas kan hanya bercanda!" Dia menyentuh bahuku, menarikku ke arahnya. "Jangan nangis." Tangannya menyeka mata dan pipiku yang basah. Bercandanya nggak lucu, sumpah! "Kamu istriku, hanya kamu yang berhak atas diriku. Hati dan pikiran ku hanya terisi namamu, mana mungkin aku berpaling!" katanya dengan tangan menangkup kedua pipiku. "Aku nggak suka kamu dekat sama dia, Mas! Apalagi sampai membandingkan kami. Walaupun itu bercanda aku tetap nggak suka! Aku benci!" ucapku sambil terisak. Istri mana yang kuat saat suaminya menjadikan cemburunya sebagai bercandaan, apalagi memuji-muji wanita lain. "Nggak lah! Kalau ngomongin Aldo boleh kan? Dia seneng loh mau dapet dedek bayi dari kamu," ungkapnya membuat netraku berbinar seketika. "Seriusan, Mas?" Senyumku mengembang. "Iya, semalam mas bicara dengannya. Dia pun tak sabar ingin bertemu denganmu," ungkapnya lagi menambah lebar lengkungan di bibir ini. Aku menyusut hidung, lalu berkata, "Boleh. Kapan-kapan bawa Aldo ke rumah ya, Mas. Mau lihat Mas Ilham junior!" Aku pun terkekeh saat mengatakannya. Mas Ilham pun mengangguk antusias. Kini keceriaan menghiasi wajah kami berdua. "Aku harap keceriaan itu selalu menghiasi wajahmu ya, Dek." "Kamu juga, Mas." Kami tutup pembicaraan pagi ini dengan pelukan penuh sayang.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua