logo text

Bab 25 Bukan nasab.

TAK MAU DIMADU
BAB. 25
***
"Monita? Sedang apa kamu di sini?" Seketika mataku membeliak tak percaya, untuk apa parasit ini ke mari?
Ingin menarik lenganku yang dia rangkul, tapi aku sadar diri tubuh ini terlalu lemah untuk melakukan itu. Aku belum sanggup berjalan sendiri.
"Nanti aku jelaskan," ujarnya tanpa menoleh. Entah ekspresi apa yang dia pasang sekarang, tidak terlihat dari arahku. Walau netra ini terus mengarah padanya, wanita tinggi semampai itu tetap terlihat santai.
Dia cantik, dilihat dari jauh maupun dekat sekalipun. Cantik banget malahan. Sepertinya, aku tudak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya. Dia secantik Barbie yang sering kumainkan sewaktu kecil.
Kulit putih, wajah bersih tanpa jerawat maupun bekasnya satupun. Walau hanya memakai sedikit riasan, kecantikannya tetap terpancar, membuatnya semakin mempesona.
Hidungnya pun mancung, bulu mata panjang dan lentik, bibir tebal nan seksi. Rambut hitam legam sepanjang punggung di gerai dengan rapi. Dia sungguh rupawan, secantik bidadari.
Wanita itu membaringkan tubuh lemah ini dengan perlahan ke ranjang. Mungkinkah, dia tak seburuk yang aku pikirkan?
Beberapa menit berlalu dalam kebisuan. Dia hanya berdiri, mematung tak bergerak di sampingku. Kepalanya tertunduk, mungkin sedang merangkai kata untuk disampaikan padaku. Aku pun turut membungkam mulut, enggan membuka pembicaraan terlebih dulu.
Aku meraih ponselku di nakas. "Kalau kamu masih ingin diam, biar aku panggil Mas Ilham saja," sungutku, heningnya suasana membuatku canggung, dan itu membuatku tak nyaman dan serba salah.
Tiba-tiba monita merebut ponsel itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Aku berteriak, menatapnya nyalang, punggung pun menegang seketika,
"Ma-maaf." Dia tergagap, wajah putih itu terlihat semakin putih, pucat pasi. Mimiknya panik. Tangannya gemetaran saat mengembalikan ponsel itu padaku.
"Aldo ...." Suaranya tercekat, nampak mau berucap lagi, tapi dia mengurungkan niatan itu, entah apa penyebabnya aku malas bertanya. Bibirnya berulangkali membuka dan langsung mengatup rapat.
Monita menatapku lekat yang juga sedang melihatnya. Sepasang netra sipit itu berlinang, nampaknya air bening itu hampir jatuh dari penampungannya.
Bibir seksi warna merah muda milik Monita bergetar, dan sang pemilik menggigit bibir bawahnya untuk mengurai rasa gugup, kurasa demikian.
Monita menarik napas dalam-dalam. "Aku mohon, biarkan malam ini Mas Ilham bersama Aldo, Mba." Tiba-tiba air matanya tumpah, melimpah ruah.
"Aku mohon, Mba." Dia mulai terisak.
Netraku membelalak tak percaya, melihat kejadian ini. Jadi, Mas Ilham sedari tadi bersama mereka? Benarkah seperti itu? Aku tak boleh langsung percaya pada omongannya.
Ibu jariku segera menari-nari pada layar sentuh ponsel dalam genggaman. Menghubungi nomor suami yang ternyata sedang tidak aktif.
Ah, lagi ngapain sih kamu mas, sampai telepon pun tak sempat kamu angkat. Jengkel sekali rasanya. Panas menjalar saat teringat perkataan Monita untuk membiarkan Mas Ilham bersama putranya. Sialan, bibir ini ingin mengumpat rasanya.
"Aldo sakit, dia terus-terusan memanggil ayahnya. Aku benar-benar nggak tega melihatnya begitu, Mba." Dia semakin tergugu.
Di sini sepertinya aku yang jahat. Ya Allah, sungguh hati ini tak rela bila Mas Ilham beneran bersama putra pertamanya. Aku tahu Aldo sedang sakit, tapi bukankah sebelum-sebelumnya juga tak pernah menanyakan ayahnya? Kenapa sekarang harus begini? Aku juga … butuh suamiku.
"Maaf, ini bukan kesengajaan, Mba." Dengan air muka kesedihan dia mengatupkan kedua tangannya di dada. Sepasang netra sendunya menatap penuh permohonan, mengiba dan meminta pengertian.
"Saat di London aku masih bisa memberinya pengertian, tapi sekarang setelah bertemu ayah kandungnya ini menjadi sulit. Dia hanya ingin manja pada sosok ayah yang begitu dia rindukan selama ini," ucapnya di sela-sela isakan tangis yang menyayat hati.
Jika dia sudah begini aku harus bagaimana? Dia seolah membekap mulutku dengan kepedihan hati anak semata wayangnya itu.
Sungguh, ini terasa berat. Aku pun sedang sakit, di tambah rahim ini tengah mengandung benih Mas Ilham. Ini juga anaknya, aku juga membutuhkanmu mas. Akan tetapi, sepertinya lelaki itu lebih memilih anak pertamanya dengan wanita lain daripada di sini menemaniku.
Memang Mas Ilham tidak mendua, tapi kenapa aku merasa dia sedang memposisikan dirinya di antara dua rumah tangga dengan satu kepala keluarga? Aku istrinya, tapi dia tidak di sini. Aku mengandung anaknya, tapi dia memilih anaknya yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya.
Tanpa mengabari lebih dulu dia datang ke tempat mereka, padahal aku menanti kedatangannya dengan gelisah.
"Aldo bukan anak Mas Ilham! Dia bukan nasabnya!" Mas Ilham memang wajib memberikan nafkah untuknya. Suaraku melengking tak peduli bila ada orang di luar sana yang mendengar pertengkaran ini. Sepertinya amarah ini memberikan kekuatan lebih padaku.
"Tapi, Mas Ilham ayah kandungnya!" Dia ikutan berteriak.
"Dia anakmu, selamanya akan seperti itu. Itulah hukumnya yang sebenarnya!" Aku menunjuk wajahnya dengan tatapan nyalang.
Iya, aku tahu Mas Ilham ayah biologisnya. Tapi … ah, kenapa berat sekali rasanya.
"Tega sekali kamu berkata seperti itu, Mba?" Dia tersedu-sedu lagi.
"Itu faktanya Monita! Jangan kira aku nggak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya? Kamu sengaja menjadikan Aldo umpan untuk menjerat Mas Ilham, 'kan?" tuduhku berapi-api. Api amarah telah membakar diriku seluruhnya.
"Apa agamamu? Islam bukan?" tanyaku memastikan.
"Islam," jawabnya singkat sambil menyeka sudut mata.
"Seharusnya kamu tahu hukumnya!" Telunjukku masih menunjuk wajahnya dengan bebas. Dari yang aku tahu, dalam Islam anak dari hasil hubungan zina maka anak itu bernasab pada ibunya. Anak ibu kami menyebutnya. Sedangkan ayahnya, bertanggung jawab boleh, tapi anak itu tetap anak ibunya, bahkan warisan pun anak tersebut tidak mendapatkannya.
"Aku kira, Mba Ina wanita muslimah yang pandai menjaga kata, ternyata aku salah menilai." Isakanya telah berhenti.
"Maksud kamu apa bicara begitu?" Kutatap wanita yang juga sedang melihatku. Apa salahku? Aku hanya berbicara hukum sebenarnya dalam Islam, dari kaca mataku.
"Mba Ina, nggak usah khawatir sebagai gantinya biar aku yang di sini gantikan Mas Ilham. Mba Ina nggak usah cemas dan cemburu buta begitu, sekarang aku nggak bakal rebut suamimu," katanya setelah menyusut hidung.
Sekarang tidak? Tapi, nanti iya maksudnya begitu?
Aku menghela napas panjang, lalu menganggukan kepala tanda mengiyakan. Jujur, aku tak ingin dia di sini, diri ini hanya menginginkan Mas Ilham. Aku juga membutuhkannya di kala sakit seperti ini, tapi aku harus bersikap dewasa, tak boleh terus-terusan marah-marah demi janin yang kukandung. Lagi pula, Monita di sini, dia tidak mungkin mencuri kesempatan pada lelakiku.
Mas Ilham, cepatlah kembali, kamu punya janji di sini. Di tempat ini juga ada anakmu, ada juga istrimu yang membutuhkan perawatan tambahan.
"Mba Ina, enak ya, selama hamil ada suami. Suami yang baik, suami yang perhatian, suami pengertian, siap siaga dan juga ... tampan." Dia melirikku sinis sambil meraih kursi sebelahnya lalu mendudukinya. Tanpa air mata sedikitpun yang tersisa di pelupuk matanya. Kontras sekali dengan drama penuh air mata yang barusan terjadi. Seperti orang dengan dua kepribadian berbeda. Mata teduh penuh air mata saat tadi menatapku, kini berubah tajam dan kejam hanya dalam sekejap saja.
Deg!
Apa yang baru saja dia katakan? Maksudnya wanita ini apa sih? Kenapa dia berbicara seperti itu? Dan ... kenapa tiba-tiba, ekspresinya mengibanya berubah drastis? Yang sebelumnya minta dikasihani dan sekarang malahan mengintimidasiku. Aneh.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru