logo text

Bab 23 Actual garis dua.

TAK MAU DIMADU
BAB. 23
***
"Aku harus mengeceknya lagi, jika kali ini masih garis dua, aku harus segera periksakan ke dokter. Aku takut terjadi apa-apa pada janinku dengan kondisi psikis yang seperti ini," gumamku seraya meraih testpack baru, testpack terakhir dari kotak penyimpanan. Mengulang tahapan demi tahapan seperti semalam. Menunggunya dengan tak sabar.
Tangan mengangkat benda pipih dari wadah berisi cairan urin. Sesuai dugaan, hasilnya sama persis seperti semalam, yang membedakan garis dua-nya lebih jelas sekarang.
"Aku ... hamil!" Mataku membelalak tak percaya, tangan menutup mulut yang menganga. Ada rasa senang, bingung, haru dan takut, kurasakan secara bersamaan. Tangan mulai gemetaran, tak mampu mengontrol berbagai emosi yang menyergap bertubi-tubi.
Aku harus apa?
Siapkah aku untuk ini? Menjadi seorang ibu tidaklah mudah, apalagi saat dilema akan keberadaan Aldo --anak suamiku bersama wanita lain-- tengah diujung tanduk.
Apa Mas Ilham masih menginginkan anak dariku? Cemas, resah, gelisah, menjadi kekhawatiran tak berdasar yang terus menghantui, melemahkan ragaku.
Aku tak ingin seperti ini, tapi perasaan itu datang dengan sendirinya, tak bisa dicegah. Aku tak berdaya, hanya pasrah membiarkan ketidakmampuan ini menggerogoti hati.
Perasaan ini sungguh menyesakkan, selah napasku terhenti di tenggorokan, aku tak mampu lagi menahan prasangka buruk ini sendirian, tubuh sempoyongan mencari tempat untuk bersandar. Pandangan mata tiba-tiba saja menggelap, ingin limbung.
"Mas! Mas Ilham!" Teriakku dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Tanpa sadar aku terperosok ke lantai sambil memegangi perut.
"Mas Ilham!" Aku masih berusaha, berharap lelaki di balik pintu mampu mendengarnya.
Selang beberapa menit, pintu kayu penutup kamar mandi didorong dengan paksa. Mas Ilham mencoba mendobraknya.
Aku beringsut, susah payah menarik diri ke belakang agar saat pintunya terbuka tidak mengenaiku.
Akhirnya, penghalang itu pun terbuka, menampilkan wajah tegang lelakiku di sana.
"Astaghfirullah, Dek!" pekiknya seraya berlari mendekat.
"Mas …." lirihku hampir tak bersuara.
"Jangan ngomong dulu," katanya. Dengan sigap pria berkaos oblong warna putih itu menelusupkan tangannya di tengkuk dan ke bawah lututku. Mengangkatku keluar dari tempat lembab ini. Pelan membaringkanku di ranjang.
"Bentar, Dek, mas pesan taksi online dulu!" pamitnya, sebelum beranjak dia sempatkan mengecup singkat keningku. Memberikan ketenangan, itulah tujuannya.
Dengan panik Mas Ilham meraih ponsel di nakas. Dengan gemetaran jemarinya menari-nari di atas layar sentuh yang menyala itu.
Lelaki berkumis tipis itu berdecak berkali-kali, entah apa yang terjadi. Wajahnya memucat tanda kepanikan tengah menguasai dirinya.
"Mas ...." Aku mencoba untuk duduk.
Seketika lelaki itu langsung mendekat. "Iya, Sayang, bentar lagi taksi datang. Sabar ya. Kamu butuh apa, Dek? Biar mas ambilkan," katanya lembut sekali, memberikan debaran tak biasa dalam dada. Ditambah saat tangannya membelai puncak kepalaku yang baru saja dia pakaikan jilbab, lalu meninggalkan beberapa kecupan di sana.
Sikapnya hangatnya yang seperti itu selalu membuatku terpesona. Dia benar-benar pandai membuai membuatku melayang karena terlalu senang.
Aku menarik tangan kanan suamiku, meletakkan tapak tangannya ke atas perut yang masih rata.
"Mas, bagaimana ini?" Dengan senyuman dan mata berkaca-kaca aku melihatnya.
"Ad-ada apa? Jangan membuat mas takut." Lelaki depanku gelagapan, wajah khawatirnya sekarang sangat lucu untuk dipandang.
Senyumku semakin merekah. "Aku nggak tahu kamu bakal senang dengan ini atau tidak," kataku seraya meletakkan alat tes kehamilan bergaris dua ke telapak tangannya.
Mas Ilham diam, melihat benda pipih di tangannya dengan kening berkerut dalam. Tak berselang lama sudut bibirnya membuat lengkungan panjang. Wajah mendungnya pun seketika berganti cerah.
"Hamil?" Lelaki depanku menatap lekat manik mata ini. Aku manggut-manggut.
"Adek, tanya apa mas bakal senang dengan ini?" tanyanya dengan sepasang netra yang sudah berkaca-kaca. Aku hanya mampu menganggukan kepala, lagi seraya menggigit bibir bawah kuat-kuat. Aku gugup mendengar jawabannya.
"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu? Apa karena sudah ada Aldo dalam hidupku?" Tangannya menangkup kedua pipiku. Bukan anggukan maupun gelengan kepala untuk menjawab pertanyaannya kali ini, tapi sebuah tangisan. Susah payah aku menahannya agar butiran air bening ini tidak keluar dari peraduannya, tapi netra ini tak sanggup lagi menampungnya.
Mas Ilham lalu memberikan pelukannya padaku, menyembunyikan wajah basah ini di dadanya.
"Maaf karena membuatmu berpikir seperti itu." Usapan lembut terasa di punggung, membuatku kembali larut dalam tangisan.
Berulang-ulang aku menghela napas panjang, berusaha keras mengontrol emosi dalam dada. "Aku hamil, Mas?" tanyaku di sela isakan.
"Alhamdulillah, Dek." Mas Ilham semakin mengeratkan pelukan. Terasa punggung kokohnya berguncang hebat, mungkinkah dia sedang menangis sekarang?
"Apa kamu bahagia, Mas." Aku bertanya lagi. Entahlah, rasanya belum puas dengan jawabannya yang terdengar belum pas di hatiku.
"Tentu saja aku senang. Apa yang kamu katakan? Ini impian kita selama ini, bagaimana mungkin aku tidak bahagia?" Mas Ilham menarik dirinya dariku, menampilkan wajahnya yang basah karena air mata. Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar. Apa itu senyuman kebahagiaan?
"Ayo, Dek, taksi nya sudah di depan," ucap lelaki itu setelah mengecek pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Aku mengangguk seraya menurunkan kedua kaki.
"Mau digendong?" tawarnya sambil membungkuk di depanku.
Aku terkekeh, lalu berucap, "Nggak usah, Mas. Aku masih sanggup berjalan." Kudorong punggungnya untuk menjauh.
"Sini, biar mas bantu." Tanpa persetujuan, lelaki itu langsung mengalungkan tanganku ke lehernya. Memapahku keluar hingga sampai di samping badan mobil yang dia pesan. Dengan sabar lelaki itu membantuku memasuki mobil.
Mas Ilham benar-benar sudah seperti suami siaga sekarang, dan berhasil membuat hati ini luluh yang entah sudah keberapa kalinya.
***
Aku mengerjapkan mata perlahan, mengamati sekeliling, ruang perawatan rumah sakit ini sangat sunyi dan kosong, tidak ada seorangpun di dalamnya, kecuali aku. Sepertinya aku terlelap setelah meminum obat yang diresepkan perawat tadi setelah mendapat pemeriksaan dari dokter kandungan.
Netraku melihat keluar ruangan, sebelah jendela sana ada mas Ilham berdiri dengan ponsel melekat di telinganya. Aku tidak peduli dengan siapa lelaki itu berbincang lewat udara. Aku tak ingin berfikiran negatif lagi. Mulai sekarang aku percaya lagi padanya.
Aku tak ingin merusak kebahagiaan yang mulai merambati rumah tangga kami hanya karena prasangka buruk dariku.
Aku sudah terlalu bahagia dan terharu atas perhatian yang ditunjukan Mas Ilham hari ini. Dia benar-benar panik saat melihat tubuh ringkihku di kamar mandi pagi tadi, apalagi tangis bahagianya saat tahu kehamilan ini.
Dan betapa protektifnya dia saat dokter yang memeriksa mengatakan bahwa aku harus bedrest selama kehamilan trimester pertama. Janinku memang cukup lemah, tapi aku yakin kasih sayang kedua orang tuanya mampu membuatnya berpegang kuat di dalam sana.
Ternyata memang calon jabang bayi ini-lah solusi dari permasalahan rumah tanggaku.
"Dek, kamu sudah bangun?" Mas Ilham masuk ke dalam kamar rawat dengan senyum tak lepas dari wajahnya. Senyum yang membuat kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
"Sumringah banget kamu, Mas," ledekku mengikutinya tersenyum lebar.
Mas Ilham berjalan semakin cepat, setelah sampai sampingku dia langsung mendudukan diri di pinggiran ranjang pasien.
"Jangan, Mas, malu." Aku mendorong dadanya yang kian mendekat.
"Nggak ada orang, kok." Dia terkekeh, terus mendekatkan tubuhnya, lalu mencuri sebuah kecupan di bibir ini. Curang.
Aku menempati ruangan inap kelas dua. Satu kamar diisi dua ranjang pasien, satu sofa panjang di masing-masing barisan yang hanya dipisahkan tirai warna krem, yang menjulang tinggi sampai langit-langit kamar di antara ranjang.
"Mas ...." panggilku saat lelaki itu diam sambil menatapku dalam, tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya. Sungguh jantungku berdebar-debar saat dia melakukan itu.
Tiba-tiba sepasang netra itu melihat perut rataku, meninggalkan kecupan hangat di sana.
"Bundanya enggak?" tanyaku manja dengan bibir mengerucut, berpura-pura merajuk padanya.
"Udah tadi, emang mau lagi?" Sebelah matanya berkedip menggoda. Secepat kilat aku menggelengkan kepala. Jangan sampai terjadi lagi, bisa-bisa sebuah kecupan berubah menjadi ciuman panas. Aku tahu betul watak lelaki ini.
"Tadi Anton telepon, ngabarin kalau cuti dadakan mas di acc sama Bu Retno. Dia juga titip salam buat kamu dan calon anak kita," ungkapnya tanpa kutanya lebih dulu.
"Wa'alaikumsallam, Mas," jawabku.
Alhamdulillah Mas Ilham mulai terbuka lagi sekarang. Tanpa kutanya pun, kini dia akan menjelaskan secara detail. Suamiku yang menjunjung tinggi kejujuran telah kembali.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru