logo text

Bab 18 Keluarga Bahagia.

TAK MAU DIMADU
BAB. 18
***
Sejak pagi tadi perutku terasa aneh. Rasa mual terus mengaduk perut yang tak kunjung mengeluarkan isinya. Mempermainkan emosiku. Bulir bening terus-terusan menetes dari pelupuk mata saat mencoba memuntahkanya. Rasa mual yang datang pergi silih berganti benar-benar mengganggu.
Badanku lemas, lemah, pun tak selera makan, sampai mandi pun tak ada gairah, tidak seperti biasanya yang rajin bersih-bersih. Rasa malas benar benar menguasaiku sekarang.
Suara azan ashar berkumandang, tapi aku masih rebahan di atas ranjang. Aku menghembuskan napas berat, tubuh ini harus dipaksa untuk bangun, Jika kemalasan ini terus dibiarkan semuanya akan terbengkalai dan menjadi beban.
Lekas aku berwudhu, berharap air dingin nan segar yang menyentuh langsung ke kulit akan membuatku tersadar dan lepas dari rasa malas. Siap mendirikan salat wajib empat rakaat.
Benar saja, setelah salat tubuhku membaik, wajah terasa segar, kekuatan pulih perlahan, semangat pun kembali membara. Aku segera beranjak setelah membereskan perlengkapan salat yang kugunakan, mengambil langkah menuju kamar mandi, aku harus segera membersihkan diri sebelum kemalasan menghampiri lagi.
Ritual mandi selesai, kini giliran perdapuran yang harus segera di selesaikan. Kali ini masakanku sedikit lebih variatif. Ada tumis kangkung, tempe dan tahu goreng, balado telur ceplok dan sayur sup ayam. Semuanya telah tertata rapi di meja kayu sebelah dapur.
Seharian ini aku sempat merenung, pasti ada alasannya kenapa Mas Ilham sampai berpaling dariku. Salah satu penyebabnya mungkin menu yang sering kali sama setiap harinya. Bukan karena aku malas atau tidak pandai memasak, karena sudah terbiasa makan-makanan dengan lauk sederhana dan apa adanya-lah yang menyebabkan aku demikian.
Aku harus berusaha merubah sikap, mengimbangi dengan apa yang dia inginkan. Manusia tidak ada yang sempurna, jika suami mulai melirik wanita lain pasti ada yang kurang dari sang istri. Lebih baik instrospeksi diri dari pada mencari pembelaan diri.
Sekarang aku sedang duduk manis di sofa sembari menonton televisi. Kartun dua anak kembar botak sebagai pemain utamanya menjadi temanku menunggu kepulangan suami.
Jam bulat di dinding sudah menunjuk angka enam, sore hari. Biasanya Mas Ilham sudah berada di rumah sekarang, tapi sampai adzan maghrib selesai, deru kendaraan roda duanya belum juga terdengar.
Petang telah berganti malam, tapi Mas Ilham belum juga ada kabar. Entah sudah berapa kali nomornya aku hubungi, entah sudah berapa pesan yang sudah aku kirimkan, akan tetapi tak kunjung ada balasan. Apa lembur? Tapi tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Lagi-lagi tidak seperti biasa.
Aku tidak pernah berlebihan begini saat suami pulang telat, tapi sekarang berbeda keadaannya. Lagi-lagi karena curiga berdasar yang aku rasakan semakin besar. Dia … banyak berubah.
Kuremas kuat ponsel dalam genggaman. Tiba-tiba Mas Anton --rekan kerja Mas Ilham-- terlintas dalam benak. Lebih baik aku mencari tahu, dari pada terus-terusan seperti ini, dan menjadi penyakit hati.
[Assalamualaikum, Mas Anton, ini Ina istri Mas Ilham.] Pesan ynag kukirim pada nomor sahabat suamiku itu pada aplikasi WhatsApp. Beruntungnya aku selalu memiliki kontak teman-teman dekat Mas Ilham.
[Mas Ilham hari ini lembur nggak ya, Mas?] Pesan kedua terkirim, centang dua abu-abu langsung menyambut. Cukup lama aku menunggu, tapi centang dua warna biru tak kunjung muncul.
Kuletakkan benda pipih itu ke meja, lantas menuju jendela, siapa tahu pemilik motor matik hitam sudah sampai di gerbang depan. Aku menghela napas panjang, sepi, tidak ada seorang pun di sana.
Ting!
Dering singkat dari ponselku terdengar. Gegas aku menujunya.
[Wa'alaikumsallam. Nggak ada yang lembur hari ini Ina.] Balasan pertama dari Mas Anton membuat alisku bertaut. Kalau nggak lembur, kenapa jam segini belum pulang? Tanpa kabar lagi.
[Tadi Ilham sudah keluar kantor, kok, aku lihat sendiri. Memangnya Ilham belum sampai rumah?] Balasan kedua Mas Anton membuatku semakin khawatir, debaran jantung pun kian tak beraturan, pertanyaan Mas Anton aku abaikan.
Ke mana Mas Ilham?
Tak berselang lama ponselku kembali berdering, kukira balasan dari Mas Anton lagi, ternyata bukan. Nomor baru.
[Anak ku dan Mas Ilham.] Isi pesan yang baru masuk membuatku membeliakkan mata seketika. Anaknya dan Mas Ilham?

Setelahnya pesan gambar pun masuk dari nomor yang sama, memperlihatkan Mas Ilham tengah bergandengan dengan remaja laki laki. Meskipun hanya terlihat dari samping, tapi aku tahu lelaki itu sedang tersenyum lebar.
Aku menarik udara sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan. Mencoba santai, meskipun tak bisa. Pesan asing ini semakin menambah kalut suasana hatiku.
[Nggak usah ngelawak,] balasku dengan tambahan emoticon marah warna merah.
[Datanglah ke apartemen anggrek, dekat kantor Mas Ilham, kamu akan tahu semuanya.] Pesan itu datang lagi.
Apartemen anggrek? Bukankah Monita baru pindah ke sana? Apa ini nomor jalang itu?
Aku berlari menuju lemari, segera mengganti daster yang kukenakan dengan gamis, dan tak lupa jilbab penutup kepala.
Aku menelepon Bang Rojak, tukang ojek langgananku. Secepat kilat mendatangi apartemen wanita itu. Setelah sampai halaman depan gedung bertingkat itu, aku lekas turun, tak lupa meminta Bang Rojak untuk menunggu di pinggiran jalan. Aku masih berharap ini benar-benar pesan iseng.
Sedikit ragu, tetapi pada akhirnya kaki ini tetap melangkah menuju apartemen depan sana. Sesampainya di pintu masuk, betapa terkejutnya diri ini melihat sosok dua laki-laki yang berjalan penuh bahagia setelah dari lift.
Salah satu lelaki di sana adalah suamiku, lantas siapa yang bergandengan bersamanya? Remaja itu terlihat asing, tapi juga merasa aneh secara bersamaan. Wajah anak lelaki itu sekilas mirip foto Mas Ilham sewaktu kecil yang kulihat saat berkunjung ke rumah mertua.
"Ayah aku mau yang rasa coklat, yang gede," ucap remaja itu manja, seraya menarik-narik lengan suamiku.
Aku meremas ujung jilbab yang kukenakan. "Ayah?" aku bergumam.
"Siap kapten," sahutan dari lelaki dewasa itu seperti menginjak-injak remukan hatiku menjadi lebih kecil lagi. Apalagi Mas Ilham terlihat sangat bahagia bersama remaja yang memanggilnya ayah itu.
Ya Allah apa artinya semua ini. Siapa gerangan ibu dari remaja itu? Aku harap, tidak seperti dugaanku. Jangan! Jika itu sampai terjadi, aku nggak tahu lagi harus menanggapinya seperti apa. Ini terlalu menyakitkan.
"Mas Ilham." Aku sudah tak sanggup lagi melihat kehangatan dan kebahagiaan yang mereka pamerkan.
Lelaki itu sempat celingukan. Netranya terbuka lebar saat menemukanku yang mematung di depan pintu kaca. Mata kami beradu. Kusunggingkan senyuman tipis yang diikuti dengan turunnya air mata yang membelai pipiku.
Wajah pria itu memucat. Tak berselang lama, seorang wanita muncul dan membaur bersama meraka.
"Mas Ilham." Monita memanggil dengan manja.
Wanita dengan gaun hitam selutut itu entah datang dari mana tiba-tiba saja sudah berada di antara mereka. Tangannya bergelayut manja di lengan suamiku, betapa serasinya mereka berdua. Benar-benar gambaran keluarga bahagia yang sempat aku impikan.
Tanpa berkata apapun aku langsung berbalik, berjalan cepat pergi dari area apartemen. Berlari menghampiri motor Bang Rojak di tepian jalan besar, tempat di mana aku turun tadi.
"Ke mana Bang Rojak?" lirihku celingukan mencari sosok pemilik motor yang terparkir di depanku. Aku menoleh ke belakang, bahkan Mas ilham pun tidak mengejar. Kasihan sekali diriku ini. Aku menyeka air bening pada wajah, saat kulihat Bang Rojak datang menghampiri dari samping.
"Sudah, Neng?" tanyanya sambil mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya.
"Iya, Bang. Langsung pulang ya, Bang," pintaku, dan langsung mendapat anggukan kepala dari beliau.

Sepanjang jalan malam ini menjadi saksi bisu kekecewaan dan luka yang Mas Ilham torehkan pada hatiku. Jangankan menjelaskan semuanya, mengejar pun tidak dia lakukan, jahat kamu mas.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru