logo text

Bab 15 Lakukan Sesukamu.

TAK MAU DIMADU
BAB. 15
***
Pagi ini masih seperti biasa. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun pagi langsung membawa handuk ke kamar mandi. Ritual mandi pagi dari dulu sudah ibu ajarkan dan harus pakai air dingin, katanya agar pikiran segar dan badan lebih sehat. Fakta atau mitos aku pun tak tahu pasti.
Setelah itu lanjut menunaikan salat wajib dua rakaat. Lekas itu menuju dapur, membuat sarapan untuk Mas Ilham. Seperti biasa, menunya sama seperti makan malam sebelumnya. Hanya saja ada tambahan menu nasi goreng sosis untuk alternatif barang kali lelaki itu merasa bosan dan enggan menyantap masakan yang sama seperti kemarin-kemarin.
Setelah sarapan tersaji di meja, aku menuju kamar, membangunkan sang suami. Dia memiliki kebiasaan buruk sehabis salat subuh selalu tidur lagi dan paling susah untuk membangunkannya.
Namun, lagi-lagi pemandangan aneh terpampang jelas didepan mata. Mas Ilham sudah beranjak dari peraduan. Berdiri mengahadap luar jendela dengan ponsel di telinga.
Bagaikan mendapat hadiah langsung tunai seratus juta, senyum merekahnya tak pernah lepas dari bibir itu. Sesekali tertawa kecil, terlihat bahagia sekali dia.
Kesambet apa suamiku pagi-pagi begini? Pemandangan asing itu membuatku menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkahnya.
Hebat juga wanita itu, bisa merubah Mas Ilham 360°. Kebiasaan yang sudah terpatri diingatan enam tahun lamanya, berubah hanya dengan beberapa minggu saja. Luar biasa bukan?
"Iya, nanti ketemu. Setelah dari kantor ya." Samar-samar aku mendengar kalimat itu terlontar dari bibir tebal itu. Berarti orang kantor yang telepon. Tapi siapa? Apa Monita? Dan apa yang bakal mereka lakukan setelah bekerja?
"Mas." Aju tak bisa menahan penasaran ini.
"Eh, sudah dulu ya nanti sambung lagi." Buru-buru dia mematikan panggilan teleponnya. Senyum merekah hilang sekita, tergantikan wajah pucat pasi, pandangan yang tak fokus ke arahku.
"Siapa mas? Kok langsung dimatiin?" cecarku, memicingkan mata ke arahnya..
"Teman," jawabnya singkat, masih salah tingkah.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kayak kepergok lagi telepon selingkuhan aja kamu," sindirku seraya tersenyum sinis.
"Ngawur! Selingkuh apaan?" Mengelak menjadi andalannya. "Mas mau mandi dulu, Dek." Dia mau kabur. Langkahnya terburu-buru masuk kamar mandi, ponsel pun turut serta masuk ke dalam.
Lagi-lagi bukan kebiasaan Mas Ilham selama ini. Kepalaku menggeleng melihat tingkah barunya. Apa puber ke-duanya nggak datang kecepatan? Usianya baru tiga puluh tahun.
Kita lihat saja, mau sampai mana kamu bertingkah mas.
Dulu, selama Mas Ilham di rumah jarang sekali bermain ponsel. Sepulang kerja, dia selalu meletakkan ponsel di nakas sebelah ranjang. Mementingkan menghabiskan waktunya bersamaku. Walau hanya obrolan seputar kejadian sehari itu, cerita-cerita nggak jelas, dan seringnya Mas Ilham menjadi pendengar yang baik. Sederhana, tapi terlihat sangat harmonis.
Sekarang ponsel itu menjadi prioritas utamanya. Tidak pernah lepas dari genggaman tangan, kecuali saat tidur. Semua karena wanita sialan itu. Monita.
Ya, dialah menjadi tersangka utama atas perubahan sikap suamiku. Kalau sampai terbukti perselingkuhan mereka, lihat saja apa yang bisa aku lakukan pada pisangmu itu, mas.
****
"Mas! Ponselnya bisa dilepas dulu gak! Kita lagi sarapan loh," pintaku menatapnya tanpa ekspresi. Benar-benar naik pitam aku, sampai meja makan pun Mas Ilham masih asik dengan benda pipih berlayar sentuh.
"I-iya, Dek, maaf ya." Dia meringis. "senyum dong, dari kemarin merengut terus." Tangannya menggenggam tanganku di meja.
Aku memaksa bibir ini mengulas senyum. Lalu menarik tangan, beralasan melanjutkan makan.
"Monita tinggal dimana, Mas?" tanyaku mulai menggali informasi.
"Hem? Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?" Lelaki hadapanku bertanya balik. Wajahnya datar, tidak ada kegugupan sedikitpun.
"Tanya aja, nggak boleh?"
"Boleh," jawabnya singkat, lalu memasukan sesendok besar nasi goreng ke mulutnya. Kulihat, jakunnya bergerak menelan hasil kunyahan.
"Hari ini dia mau pindah ke apartemen anggrek yang dekat kantor itu, Dek. Sebelumnya tinggal dengan Bu Retno dia," katanya sambil manggut-manggut.
"Sendiri?" Aku menatap lekat wajah itu, sampai melupakan isi dalam piringku yang tersisa setengah.
Lelaki itu meletakkan sendok, bersidekap dengan punggung bersandar. Tatapannya setajam belati, menghunus padaku.
"Kenapa, Dek? Tumben kamu kepoin temen kantor mas, kamu masih curiga sama mas?" tanyanya.
Aku segera menunduk, tangan memainkan isi dalam piring menggunakan sendok. Keheningan mulai menyergap. Mas Ilham pun tak kunjung melanjutkan santapan.
Aku berdeham, lalu mengangkat wajah. "Semalam Monita telepon loh, Mas. Tengah malam," ungkapku menopang dagu dengan punggung tangan.
uhuk! uhuk!
Seketika suamiku terbatuk-batuk.
"Ma-masa, Dek." Tergagap saat menyahut. Menegangkan punggung, kembali memegang sendok.
Sudut bibirku terangkat sebelah, kena kamu mas. Mulai gugup 'kan?
"Lah iya, Mas. Emang mau ngomongin apa sih, Mas, kok nungguin aku tidur?" tanyaku lagi. Mas Ilham beringsut, mulai tak fokus memandangku.
Tangannya mengaduk aduk nasi dengan sendok yang dipegangnya. Lalu menunduk tak berani menatapku.
"Maaf ya, Mas, aku lancang mengangkat telepon untukmu." Aku berpura-pura menyesal.
"Eng-enggak apa-apa, Dek."
"Wajar 'kan ya antara suami dan istri nggak ada privasi?" Senyumku semakin mengembang. Berbeda dengan lelaki depanku, pucat dengan bibir seputih kertas.
"Iy-iya, Dek. Ak-aku nggak masalah, kok."
Sepertinya, mulai hari ini suamiku akan menjadi gagap bicaranya. Lucu kamu mas, sebenarnya apa yang kamu takutkan hingga seperti itu? Padahal kamu yang berpenghasilan, rumah ini pun atas namamu, tak ada ruginya jika kita berpisah nantinya. Tapi, kamu bertingkah seperti orang yang bakal kehilangan segalanya.
"Suara Monita kalau di telepon seksi manja gitu ya, Mas. Bikin gemes nggak sih, Mas? Pasti banyak lelaki yang terperdaya sama suaranya," ucapku mendapatkan reaksi berlebihan darinya.
Seketika pria itu beranjak dari duduk. Celingukan, terlihat bingung mau melakukan apa.
Aku menyeringai, sejauh mana kau akan menyembunyikan bangkai mas, pasti akan tercium olehku.
"Dek, mas berangkat sekarang aja ya. Takut kesiangan." Menggantung tas kerjanya ke bahu dengan panik.
Kesiangan apanya? Mas Ilham biasanya berangkat jam tujuh lewat lima belas menit, sekarang baru setengah 7, kok telat? Aneh, bilang aja mau kabur dariku.

"Belum habis sarapannya loh, Mas," kataku meraih tangannya yang terulur, mengecup punggungnya takzim. Tangannya gemetaran dan basah, keringat bercucuran dari pelipisnya.
Hatiku terbahak-bahak melihatnya ketakutan seperti itu. Baru segini saja kamu sudah kocar-kacir mas. Kok berani-beraninya bermain api di belakang. Aku belum melakukan apa-apa padahal.
Setelah mengucap salam, Mas Ilham melajukan motornya pelan keluar pagar. Namun, lajunya terhenti saat berpapasan dengan Bu minto. Sepertinya beliau sehabis pulang dari warung, terlihat dari plastik bening yang dibawanya berisi gula putih.
"Pagi, Bu minto," sapa Mas Ilham ramah. Namun, berbeda dengan wanita paruh baya itu.
"Pagi, Neng Ina." Bu Minto malahan menyapaku yang mematung di depan pintu rumah, tanpa menoleh ke arah Mas Ilham yang barusan menegurnya. Seolah tak melihat ada tanda kehidupan di sana.
Aku terkekeh geli, lucu sekali drama ini.
"Pagi, Bu," balasku dengan senyum kubuat seindah mungkin.
Rasain kamu mas, bala bantuanku di sini banyak. Kalau sampai kamu benar-benar selingkuh, tamat riwayatmu dihajar ibu-ibu satu komplek. Mereka pasti membelaku, bahkan bukan hanya satu komplek, se-Indonesia raya juga memihakku.
"Ibu masuk dulu, ya, Neng," pungkasnya sambil melambaikan tangan, lalu berjalan menuju rumahnya.
"Nggak berangkat, Mas?" tanyaku saat lelaki itu tak kunjung beranjak. Mas Ilham menoleh dengan senyuman di bibirnya, melambaikan tangan, dan mulai pergi meninggalkan.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    Indah Putri

    Ceritanya bagus

    22/02

      0
  • avatar
    IkbalMaul

    bagus ini

    21/01

      0
  • avatar
    Cinggli Patrchia Ponengoh

    Bagus sekali

    06/08/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru