TAK MAU DIMADU BAB. 14A *** "Dek …," panggilan terdengar setelah pintu kamar terbuka, tapi tidak kuhiraukan. Netra pura-pura terpejam. Untung saja aku dalam posisi miring, membelakanginya. Derap kaki terdengar semakin mendekat. "Mas baru pulang dari masjid kok nggak di sambut?" Aku masih tak menjawab. Lalu sisi kasur sebelahku merangsek tanda ditindih seseorang. "Istriku sudah tidur?" Kurasakan tangannya melewatiku. "tumben." Napasnya membelai pipi, tak berselang lama dia menarik diri. "Dek, bangun." Tanganku digoyang-goyangkan karena tak kunjung mendapat respon. Malas rasanya, amarah masih bercokol dalam dada. Aku masih ngambek. "Dek, kenapa sih mas panggil diam aja?" Sebuah tangan besar kini melingkari pinggangku. "Dek." Suaranya parau, lirih seperti …. "Dek …." Terbakar gairah, meminta jatah. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia ingin menjamah? Tidak akan aku biarkan. Sesuai dugaan, lelaki itu semakin mendekatkan tubuhnya, memeluk kian erat, mengikis jarak. "Sayang …." panggilnya semakin mendayu. Kini, tidak ada lagi jarak. Aku menarik napas berat serta membuangnya perlahan, mencoba mengontrol emosi yang semakin menggunung. Tahan Ina, tahan. Aku harus mendapatkan bukti valid sebelum melabrak pria ini bersama selingkuhannya. Jangan sampai amarah ini tiba-tiba meluap, tapi aku tidak mendapatkan keuntungan apapun dari itu. Mas Ilham bisa saja mengelak, dan aku tidak mau itu terjadi. Pasti hanya berputar pada firasat, curiga, marah-marah, mengelak sambil meminta maaf, lalu memberikan maaf. Seperti itu terus, mbulet tanpa titik terang. Sungguh aku ingin menjerit sekarang. Netraku semakin erat memejam, berpura-pura tidur tanpa mengantuk nyatanya tidak semudah yang aku pikirkan. Raga ini menegang saat tangan besar itu mulai memberikan sentuhan memabukkannya. Bagai tersengat aliran listrik, gelenyar aneh pun bangkit, merambat ke seluruhan tubuh. Membuatku dirundung gelisah. Semakin tak terkendali kala tangan itu menelusup ke dalam piyama yang kukenakan. Bergerilya menggelitik rasa. Beruntungnya aku masih sanggup mengontrol hasrat yang mulai membara walau susah payah menelan saliva. Tak sampai di situ, bibir tebalnya juga turut serta menggoda. Tak kenal lelah bergerak lincah menjamah titik-titik sensitifku. Mulai dari wajah, tengkuk, bahkan telinga, tak luput dari jajahannya yang membutku melayang. Lelaki ini memang lihai membangkitkan sensasi mengerikan dalam tubuh ini. Akan tetapi, usahaku menahan gelora tidak akan mengkhianati hasil. Akhirnya dia menyerah. Lelaki itu menarik kuasanya atas diriku, permainannya telah usai. Terdengar helaan napas panjang dari belakang, tapi aku tidak peduli. Bahkan saat lelaki itu bergerak-gerak tak tenang, aku lebih memilih tetap memejamkan mata. Dia menggeram frustasi, tak berselang lama berlari menuju kamar mandi. aku tersenyum puas, paham betul apa yang akan dilakukannya di dalam sana. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran lelaki itu. Sudah punya halal, kenapa harus mencari yang haram? Sudah punya satu istri di rumah yang bebas dijamah kapan saja, tetapi dia tidak bersyukur, malah mencari wanita lain di luaran sana yang setiap sentuhannya adalah zina. Aku terduduk sambil mengurut dada saat gemiricik air terdengar. Apakah aku berdosa karena menolak ajakannya? Sungguh, aku ingin melayaninya dengan sukarela, tapi hati ini sudah terlanjur luka. Aku kembali merebahkan diri, menutup seluruh badan menggunankan selimut saat kunci pintu kamar mandi dibuka. Sisi kosong sebelahku kembali merangsek, pria itu menaikinya perlahan. Entah apa tujuannya melakukan itu. Lalu, memasukkan dirinya ke dalam selimut yang sama denganku. Kembali memeluk dan mengikis jarak. Meletakkan dagunya pada puncak kepalaku, meninggalkan satu kecupan di sana. "Selamat malam, Sayang. Mimpi indah," bisiknya lembut sambil mengeratkan pelukan. Diperlakukan manis seperti itu membuatku merasa … bersalah. **** Aku terbangun dari tidur saat kandung kemih merasakan sebuah tekanan. Aku harus segera ke kamar mandi. Perlahan aku menyingkirkan tangan Mas Ilham yang masih melingkari pinggangku. Berlari menuju sepetak ruangan di ujung sana. Setelah hajat terbuang dan kelegaan mendera, segera aku mengambil air untuk berwudhu. Salat malam menjadi tujuanku sekarang. Banyak sekali kalimat yang sudah kususun rapi untuk diadukan pada-Nya seusai salat. Sebelum memulai salat, netraku memandang lekat lelakiku yang terlelap di ranjang. Tak kusangka wajah teduh itu menyimpan banyak rahasia. Tak kusangka pula, dirinya bakal membagi cinta. Dulu, dia menangis tak mau kehilanganku, sekarang gantian aku yang menangisinya karena dikhianati. Sekarang, saatnya aku menghadap ilahi, mencurahkan segala isi hati yang bertambah kusut setiap hari. Berdzikir, mengagungkan nama Allah, berharap mendapatkan ketenangan hati sekaligus petunjuk untuk menjawab kegalauan yang tengah kurasakan saat ini. Aktivitasku terhenti, menoleh kebelakang tertuju pada nakas. Getar pada ponsel Mas Ilham membuat konsentrasiku terbagi. Aku bangkit dari posisi duduk bersila di atas sajadah, melangkah menuju benda pipih yang sedari tadi tak hentinya bergetar. Ponsel itu benar-benar menyita perhatianku. Siapa yang telepon tengah malam begini ke ponselmu laki-yabg sudah bersuami? Aku meraih benda pipih itu. Seketika jantungku berdetak tak berirama, melihat nama yang tertera pada layarnya yang menyala. Monita. Nama wanita yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangan rumah tanggaku. Wanita yang membuat diri ini selalu menaruh curiga pada Mas Ilham. Wanita yang menjadi bagian dari masa lalu kelam suamiku, menghubungi di jam segini? Yang benar saja! Untuk apa wanita itu menghubungi suamiku? Sepertinya mereka takut hubungannya terendus olehku, makannya menghubungi di jam-jam biasanya aku sudah tertidur lelap. Hati yang sudah mulai tertata rapi, mendapatkan ketenangan seusai salat, kini kembali meradang, rapuh, dan siap remuk kapan saja. Aku menggeser ke atas ikon berwarna hijau yang bergerak naik turun di layar, lalu menempelkannya di telinga. Bibir mengatup rapat, tak ada suara sedikitpun keluar. Aku menjadi bisu. "Mas ... Mas Ilham …." Wanita seberang sana tidak sabaran, cenderung terburu-buru. "Mas Ilham, lagi ngapain sih? Diangkat tapi diam aja, Mas?" Intonasinya menurun drastis. Seolah dibuat mendayu supaya terdengar manja nan seksi. "Mas Ilham …." panggilnya lagi, tapi tak kunjung mendapat respon dariku. Untuk beberapa saat wanita itu terdiam, membuatku keheranan. Ada apa? Lalu …
Tut! Tut! Tut! Panggilan tiba-tiba terputus, ditutup sepihak. Tak berselang lama setelah telepon mati, ponsel pun kembali bergetar sekilas. Notifikasi pesan masuk dari nama wanita yang sama. Ponsel pintar sudah dalam keadaan terkunci, langsung saja kutekan tanggal, bulan, dan dua digit terakhir tahun lahirku, untuk membukanya. Bagaimana bisa pria yang sedang selingkuh masih memakai hari kelahiran istrinya sebagai kata kunci? Tapi, aku tak ingin memikirkannya, lebih baik langsung membuka pesan yang baru saja masuk. [Mas.] [Katanya malam ini mau nelpon setelah istrimu tidur? Tapi nggak ada panggilan masuk.] Dibubuhi wajah cemberut. [Aku telepon malah diam aja kamu, Mas!] Kali ini di akhiri dengan wajah menangis berderai-derai. Aku tercengang setelah membacanya, isi pesan dari wanita itu membuat tekanan darahku kembali naik sampai ubun-ubun. Seketika pusing mendera. Ingin sekali melayangkan bogem di perut lelaki yang tengah tertidur pulas di kasur. Oh, jadi begini cara mainmu, mas? Kuikuti kalau begitu. Tidak tinggal diam, aku langsung mengecek semua daftar pesan masuk maupun keluar di ponsel Mas Ilham. Penasaran dengan siapa saja dia berkirim pesan. Mungkin aku bisa tahu siapa yang mengirim pesan saat makan malam tadi hingga dia abai pada istri, sekaligus mendapat bukti. Namun, nihil. Nampaknya dia telah menghapus semua pesan. Menyisakan beberapa pesan dari rekan kantornya yang menurutku biasa saja, tidak ada yang menarik. Wah, benar-benar kamu mas, mau berlagak jadi pemain profesional ternyata. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Kutandai belum dibaca pesan dari Monita tadi pada pengaturan pesan. Biar saja Mas Ilham anggap aku belum tahu permainannya. Aku memang polos, tapi kamu salah jika menganggapku bodoh mas. Monita, nama itu akan selalu kuingat.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
06/08/2025
0Lihat Semua