logo text

Bab 89 KELICIKAN CHOI YANG TERUNGKAP SOFI MUNCUL

“Tidak! Lepaskan aku! Aku harus memberitahukan Harry! Harry! Harry!” pekik Elly yang terbangun dari mimpi buruknya. Peluh dingin sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Gadis itu terduduk sejenak. Ia mencoba mengulang isi mimpi yang baru saja dialaminya itu.
“Harry … Harry ….” Lirihnya mengulang nama Harry. Elly merasa kerongkongannya kering. Ia pun langsung keluar untuk mengambil air minum. Namun langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara Choi yang sedang melakukan percakapan seluler. Elly terkejut mendengar satu fakta tentang keberadaan perampok yang hampir melenyapkan nyawa Harry. Gadis itu pun segera kembali ke kamarnya dan mengurunkan niatnya untuk minum.
“Apa? Jadi semua itu adalah rekayasa Choi dan … dengan siapa Choi berbicara lewat telpon?” Elly bermonolog sendiri di dalam kamarnya.
Jantung Elly serasa berhenti berdetak. Ia tidak menduga jika semua adalah perbuatan Choi bayangkan saja, teringat bagaimana Harry berkali-kali mengorbankan dirinya hanya demi melindungi dirinya.
“Mereka jahat sekali. Choi? Aku tidak menyangka dia bisaa berubah jahat begitu. Ada apa denganya?”
Sejak mengetahui kelicikan Choi dan teman misteriusnya itu, Elly memutuskan untuk meninggalkan rumah Choi pagi-pagi sekali. Dengan langkah cepat, Elly terus berjalan menelusuri jalanan. Ia seperti orang yang limbung, sehingga tanpa sadar tubuhnya membentur sebuah tiang listrik dan akhirnya tersungkur jatuh.
Para pejalan kaki yang melintasi jalanan itu menatap Elly heran. Seperti melihat seorang pengemis yang tersesat. Elly yang tersadar dari pingsannya mengedarkan pandangan dan mengenali tempat ia bersimpuh.
“Di mana aku ini?” desisnya memegangi kepalanya yang terasa berat.
“Aku harus pulang. Aku harus menemui Harry. Aku akan mengatakan semuanya pada Harry.” Kalimat yang lima tahun lalu ia dengungkan kini kembali terucap. Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa Elly menelusuri jalan untuk sampai di rumahnya dan Harry.
Cerita lain datang dari rumah Harry. Lelaki itu tersenyum begitu melihat sosok Sofi sudah berdiri dengan Fane. Lelaki itu tampak sangat bahagia melihat kedatangan peri kecilnya.
“Hei kupu-kupu kecilku. Akhirnya kau datang menemuiku,” kata Harry berjalan mendekat dan menyambut tubuh kecil Fane. Seluruh anak kembar Harry saling melempar tatapan. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan gadis kecil dan tante cantik yang sangat akrab dengan ayah mereka itu.
“Hei semua!” sapa Sofi tampak semringah melihat ke arah enam anak kembar Harry.
“Ya Tuhan, aku tidak percaya ini. Harry. Selena melahirkan enam anak kembar? Luar biasa.”
“Anda siapa?” Dean membuka suara.
“Ouh, perkenalkan aku tante Sofi. Tante adalah sahabat ayah kalian. Dan itu yang ada di gendongan ayah kalian, adalah putri tante, namanya Fanetta. Tapi maafkan tante, Tante harap kaian jangan cemburu, sebab Fanetta sangat manja pada unclenya. Apakah kalian tidak keberatan?” Sofi memasang wajah puppynya. Dean dan yang lainnya saling memandang dan mengangguk ke arah Sofi.
“Terima kasih sayang. Well, sebelum ini. Fane sering mengunjungi ayah kalian. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jadi Tante mohon, kalian bisa menganggap Fane sebagai adik kalian sendiri. Bagaimana?” sekali lagi, Dean dan yang lainnya mengangguk. Sofi sangat bahagia begitu juga dengan Harry yang sudah menggendong Fane dalam dekapannya.
Dari arah Amea, gadis itu tidak sengaja menangkap tubuh Elly yang sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan gadis itu berdiri di sana. Barang kali ia melihat semuanya sejak kedatangan Sofi di sini.
“Oh, Elly?! Kau sudah pulang rupanya!” seru Amea. Semua mata tertuju pada Elly yang berdiri memojok di sudut ruangan. Ia tampak jengah. Namun serbuan anak-anaknya dan Amea membuat Elly sedikit teralihkan.
“Selena?” lirih Sofi.
“Dia Elly. Dia Selena yang hilang ingatan, Sofi. Dan dia lebih suka dipanggil dengan sebutan Elly, bukan Selena,” terang Harry.
“Ouh,” desis Sofi.
Sofi beranjak mendekati Elly. Dia tampak canggung menghadapi Elly. Adalah wajar, mengingat bagaimana Sofi sukses besar menorah kebencian di hati Harry untuk Selena. Ada rasa bersalah dan malu mencetak di hati Sofi.
“H …Hai, Elly,” sapa Sofi canggung.
“Hai.” Elly menyumbang senyum singkat dan palsu.
“Aku Sofi. Aku sahabat Harry. Aku kemari karena Fane meminta ingin bertemu dengan Harry. Kau tahu … dia sangat menyayangi Harry.”
“Ya tentu saja, karena Fane bisa jadi anak kalian,” batin Elly menjawab.
“Ouh, benarkah? Itu bagus. Dengan begitu anak-anakku juga akan mendapat teman baru,” jawab Elly berdusta.
“Eh, maafkan aku Nona Sofi. Aku lelah. Aku butuh istirahat. Jika kau tidak berkeberatan aku ingin istirahat di kamarku,” pamit Elly.
“Ouh, tentu saja. Silahkan, Elly.” Jawab Sofi langsung mempersilahakn Elly ke kamarnya.
Melihat hubungan antara dua wanita itu, hati Harry sedikit tenang. Namun tidak dengan Peter dan Amea. Keduanya tahu persis bagaimana dua wanita itu lima tahun yang silam. Dan tidak menutup kemungkinan denga kehadiran Sofi lagi seperti saat ini justru akan semakin memperkeruh situasi.
Hening
Entah kenapa atmosfer seketika terasa berbeda begitu tubuh Elly muncul di tengah-tengah mereka. Amea harus mencairkan suasana ini agar terasa akrab dan hangat.
“Eh, Dean! Evan, Alley, Aaron, Lexy dan Brush! Ayo! Kalian harus ke sekolah. Harry kau juga harus ke kantor. Peter bukankah sudah waktunya kau kembali bekerja. Aku akan menyiapkan sarapan untuk Elly dulu. Dia pasti belum sarapan.” Seru Amea yang melengkingkan suaranya di tengah suasana yan terasa kaku itu.
Semua menuruti perkataan Amea. Dean dan kelima adiknya segera mengikuti Peter yang lebih dulu berjalan menuju mobil. Sementara Harry segera memindahkan Fane kepada ibunya.
“Baiklah, Fane. Kau besama Mommymu dulu, Uncle akan pergi bekerja. Buatlah dirimu nyaman sayang.” Harry mengusap puncak kepala gadis kecil itu seraya melayangkan kecupan di kening Fane. Dari kejauhan yang tidak terlihat, ada Elly yang mencuri pandang melihat adegan hangat antara Harry dengan anak dari Sofi.
Entah kenapa perasaan tak suka menyeruak ketika melihat kebersamaan mereka. Seperti sebuah rasa cemburu.
“Hm, mereka memang serasi. Mungkin kedatanganku memang tidak tepat,” gumam Elly melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Sofi beranjak menuju kamar yang dulu pernah ia tempati da selalu tempati setiap kali ia dan Morri berkunjung dan menginap di rumah Harry. Tapi itu dulu, saat lelaki itu sedang terpuruk. Beruntung Fane sedang kelelahan selama perjalanan. Gadis kecil itu pun akhirnya menjemput lenanya.
Sembari menunggu Fane terjaga dari tidurnya, Sofi mengunjungi Elly di dalam kamarnya. dulu mungkin ia akan mengganggu atau membuat ulah. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Tidak ada permusuhan di mata Sofi untuk Elly.
“Boleh aku masuk?” pintanya memunculkan kepala di balik daun pintu. Elly yang sedang duduk bersandar di bibir ranjang hanya tersenyum dan mengangguk.
Mendapat peretujuan dari Elly, Sofi yang begitu bahagia berjalan masuk dan mendekat di sisi Elly.
“Hei.” Sapa Sofi saat wanita itu duduk dan memberikan wajah bersahabatnya.
“Lama tidak bertemu denganmu. Kau terlihat berbeda,” kata Sofi lagi.
“Benarkah? Memangnya apa perbedaan antara aku yang dulu dengan yang sekarang?” sidik Elly. Hatinya saat ini tidak begitu menyukai gadis itu. tetapi saat ini dia adalah tamu. Sama seperti dulu saat Sofi baru muncul, sekali lagi, sebagai Elly , Selena harus menjaga sikapnya.
“Euumm … dulu, kau begitu sederhana. Sekarang kau seperti berbeda. Wajahmu sepertinya sudah terbiasa dengan sentuhan make up.”
“Benarkah? Berarti aku dulu tidak pernah merawat diriku. Pantas saja Harry berselingkuh dariku.”
Wajah Sofi yang tadinya tersenyum hangat berubah serius. Ia tersentak dengan kalimat yang diucapkan oleh Elly.
“Apakah ingatanmu sudah kembali Selena?” Sofi menatap curiga pada gadis itu.
“Apa maksudmu nona Sofi? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah padaku. Memang kau merasa aku bagaimana?” Elly balik menyidik.
“Eh, tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya … merasa sedang berbicara dengan Selena, bukan Elly,” Sofi meralat pikirannya.
“Terima kasih kau mau kembali dan melahirkan anak untuk Harry. Aku … aku meminta maaf atas masa lalu kita yang buruk, Elly. Aku menyesal.”
“Menyesal?” sidik Elly mengerutkan keningnya.

Komentar Buku (427)

  • avatar
    Ema Nur Anisya

    alur ceritanya bagus dan menarik...KL di jadiin film nonton nya greget banget. ..sukses terus buat kamu Thor ...bdw...ini masih lanjutkah ceritanya. ... dan tunggu episode berikutnya...💜💜💜

    16/02/2022

      3
  • avatar
    Yulia Wati

    ga sabar sama kelanjutannya ceritanya bikin gereget kira kira endingnya sama siapa ya selena? harry atau choi

    08/02/2022

      2
  • avatar
    Nyamox jrAira

    Baguss..ceritanya bkin gereget banget ya..thor, harusnya selena itu jgan dibkin jadi wanita yg lemah..bkin selena jadi wanita yg berani mngungkapkan sedih dan sakit hatinya kpd harry...smangat ya nulisnya..jangan lama2 up nya thor,pnasaran ni sm crita slanjutnya..

    22/01/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru