episode 9

Pukul delapan malam konser bubar. Terhitung empat jam berdiri, kaki-punggung Agatha rasanya pegal-pegal. Lautan Slankers perlahan mulai meninggalkan area itu. Lagi, masih berdesak-desakan. Dan bising kendaraan bermotor pun mulai berkoar-koar di jalanan.
Agatha duduk di kap mobil Farel, dari satu arah pemuda itu datang sambil membawa minuman jus dan sekotak pop corn yang tadi dibelinya di booth/stand di sekitar tempat itu.
"Nih, minum."
Agatha sejenak memperhatikan gelas minuman di depan matanya tersebut, lalu beralih ke Farel. Dalam hati sedikit kagum ternyata dia bisa pengertian juga, kalau sekarang tenggorokan Agatha haus.
"Makasih," dan ia lalu menerimanya kemudian meminum sedikit demi sedikit dengan sedotan. Rasanya dingin dan lega.
Farel ikut duduk di sebelahnya.
"Sori ya lo jadi capek kaya gini gara-gara nemenin gue nonton,"
Agatha menengok, dan muka tampan di depannya itu sedang menatapnya. Ia lalu berdehem. "Engga, gak kerasa capek kok. Gue hepi, seru juga."
Farel merapikan tepi rambut Agatha dan tersenyum kecil. "Syukurlah, karena gue gasuka liat elo murung gitu, kaya tadi pas berangkat."
"Minum gak? Masa gue aja yang minum elo engga." cewek itu menyodorkan gelasnya.
"Gausah, lo aja."
"Gapapa, emang lo gak aus apa?"
Agatha memaksa, mau tak mau Farel mencoba jus strawberry itu sedikit. "Gue kan beliinnya buat elo,"
"Santai kali,"
"Makan nih," lalu Farel memberikan pop-cornnya. Dan mereka menikmati bersama sambil ngobrol ringan.
Kalaupun bisa membuka hati, Agatha nanti pasti akan mencobanya. Farel, memang tampang sudah tidak perlu diragukan tapi Agatha belum tahu pasti bagaimana kepribadiannya. Yang ia ketahui di sekolah hanya tingkah songong dan tengilnya.
Seperti yang pernah terjadi dulu, saat ada adik kelas cewek yang memberi kue coklat sambil menembaknya, tapi belum apa-apa Farel sudah langsung melempar kue tersebut ke muka itu cewek, dan mempermalukannya di depan murid-murid lain dengan ledakan tawa yang menghina.
Semua hanya karena penampilan cewek itu yang udik dan cupu. Memakai kaca mata besar, rambut dikepang kuda, dan rok sekolahnya dipakein belt yang menggantung di pundak. Cewek model seperti itu ingin Farel menjadi pacarnya?
"NGIMPI LO KETINGGIAN!!"
Demikian, Farel membentaknya dulu. Padahal sebenarnya cewek itu hanya menjalankan permainan ToD yang sebelumnya dipaksa ikutan oleh teman-teman cewek di kelasnya.
Dan kebetulan juga waktu itu Agatha sedang berada di tempat kejadian, di sekitar koridor IPS, niatnya ingin menghampiri Steva di kelasnya untuk mengambil buku catatan Sejarah, tapi malah dihadapkan pemandangan seperti itu.
Farel yang tidak berperikecewekan.
Sangat tidak ada pantasnya jika tadi pagi dia memaki Agatha tidak mau menghargainya, karena Farel sendiri tidak bisa menghargai orang lain.
"Eh, Rel, lo disini juga?"
Seorang cewek tiba-tiba menghampiri Farel-Agatha sambil menepuk sebelah pundak Farel, seketika membuatnya langsung menengok. Ternyata cewek itu datang bersama tiga orang cowok.
"Nadifa?"
Nadifa Ernesta. Teman dekat Farel yang sudah lama tidak berjumpa sejak lulus dari SMP. Lalu keduanya saling berpelukan, sambil tertawa.
"Masih inget gue lu, Rel? Kirain udah lupa!! Hahahaha.."
"Elaah.. mana mungkin gua lupa sama ratu gossip ini.."
"Anjir lu!! Hahahaa.."
Dan tiga cowok temannya adalah; Erick--cowok dengan rambut sedikit jabrik dan memakai anting hitam di telinga kiri. Lalu, Marvel--cowok keturunan Jerman agak-agak bule dan kulitnya paling bersih diantara lainnya. Dan satu lagi, Tomy--si black manis yang kini mulutnya bergoyang karena mengunyah permen karet.
"Weeessehh.. cumi-cumi juga pada disini!! Hahhaha!! Whasupp, bro!!"
Farel lalu berhigh-five dengan mereka. Bersalaman ala-ala cowok, kemudian saling menabrakkan bahu dan menepuk-nepuk belakang punggung.
"Hahahahaa.. yoman.. kita-kita kan Slankers, coy! Slankers ada dimana-mana! Hahahaaa.."
"Hahahaa.. betul betul betul!!"
"Hahahaha.. btw, kemana aja lu pada baru nongol, hah?!! Setaun lebih ngilang semuanya gak ada kabar!!"
Farel yang terlalu seneng sampai menempeleng kepala tiga temannya itu satu-satu, dan malah berakhir dengan saling dorong-dorongan di halaman parkir itu sambil tertawa.
"Hahahaa.. udah gak bawa botol air lagi lu, Rel? Biasanya kemana-kemana dulu dibawain sama nyokap lu sambil digantung di leher.."
"Anjayyy! Itu gua masih piyik, Bego!" Farel menjitak Erick dengan gemas.
"Piyik apaan kelas tiga esempe?!! Dasar anak mami!! Bhahahahaa.." Tomy langsung nyembur lalu menghindar saat Farel hendak memberinya sebuah jitakan.
"Woy, Tom!! Mana Jerry?!! Biasanya lu kejar-kejaran ama Jerry!! Biasanya elu mancing-mancing pake keju!! Biasanya juga elu nyolong tulang terus dikejar sama Bulldog?!! Mana Jerry ama Bulldog?!! Bhahahaa.. Tom-Tom kucing garong lu bhahahaaa.."
Kini berganti Tomy yang mengejar Farel. "Woy!! Muke lu gile kucing garong!! Ngasih bunga adek kelas kena labrak ama pacarnya sampe nyungsep di pojokan aja belagu lu!! Bhahahaha.. petok-petok-petok.."
"Bhahahaaa.. chicken, chicken.." Marvel dan Erick ikut tertawa.
"Ah, tai, lu! Hahaha.. gausah flashback lah tengsin gua!!"
"Hahahahaa... ada-ada aja lu, Rel! Rel! Btw, gimana kabar lu ini? Lama gak ketemu kangen gua.. hahaha!!" ujar Nadifa yang rambutnya dikuncir kuda itu, dengan wajah berseri-serinya.
"Baek-baek lah gua, lu-lu pada juga kan? Hahahaha.. gua juga kangen ama lu, Dif, kontak lu udah gak aktif semua. Susah lah gue ngehubungin.." Farel menghela napas lalu berdecak.
"Baek juga lah kita-kita.. meskipun masih pada jojoba ini.. jomblo-jomblo bahagia hahahaa.." ujar Marvel lalu mendengus, dan tetap tersenyum.
"Ciah.. kesian amat si idup lu pada, tai!! Bhahahahaaa!! Dasar umat-umat kurang belaian semua!!"
"Waaaahhhhhh...."
Erick, Marvel, dan Tomy dengan gigi-gigi mereka yang menggertak dan bola mata seperti mau menggelinding keluar dari sangkarnya itu sudah mengangkat telunjuk kearah Farel sambil melempar pandang satu sama lain. Merasa harga diri diinjak-injak.
Nadifa geleng-geleng kepala sambil tertawa geli melihatnya. "Emang lu udah taken, Rel? Sama siapa?"
"Belom! hahahaa.."
Ketiga teman itu sudah bersiap-siap melayangkan kepalan tangan mereka kalau saja Farel tidak buru-buru kabur kesana-kesini di halaman parkir yang minim penerangan itu. Nadifa juga sama, ikut mengejar Farel karena tangannya juga sudah gatal ingin menjitak kepalanya.
"WOY! SINI LU, BANGKE BABI!!"
Terus saja kejar-kejaran seperti itu, menit demi menit, sampai Agatha yang masih duduk di kap mobilnya jamuran. Meskipun sendirinya itu cuek, tapi ia juga benci dicuekin.
"FAREEEL!!! UDAH MALEM AYO PULANG!!"
Agatha sudah menjerit meneriakinya. Tapi nihil. Farel masih asik ketawa-ketawa sambil lari-larian dengan kawan-kawan lamanya.
"FAREEELLL?!!!!"
Dan keadaan masih tidak berubah.
Katanya sih cinta, namun apakah sebegitu terlupakannya Agatha oleh Farel? Sampai-sampai cowok itu tidak menyadari ia sudah jengah menunggunya disana sendiri, gelap, dan persis seperti orang hilang.
Agatha mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat Farel yang sama sekali tidak mengingatnya. Apa boleh buat, ia segera beranjak pergi dari mobil Farel dengan sedikit kecewa.
"Ck!"
Tempat itu masih ramai, Agatha mengeratkan pegangannya pada tali tas selempang kecilnya sambil terus berjalan keluar parkiran itu, dengan muka ditekuk kesal. Terpaksa ia harus pulang naik kendaraan umum.
"Farel nyebelin banget si!"
Agatha menggerutu sendiri. Dalam hati rasanya sebel, kesel, gedek. Sampai-sampai ia tidak sengaja menendang kaleng pepsi di depan kakinya karena sebegitu muaknya.
"Aww!"
Suara bariton memekik di satu arah. Dan menghentikan langkah Agatha.
"Lu kenapa, Ga?"
"SIAPA NGELEMPAR INI?!!"
Disana, ada dua motor sport yang juga hendak keluar dari parkiran. Motor sport dengan bodi warna merah yang terkena getahnya dari tindakan Agatha tadi sekarang sudah mengangkat tinggi-tinggi kaleng itu.
B 5494 SAT.
Agatha menutup mulutnya.
Sampai sorot mata cowok di balik helm full facenya itu melihat Agatha. Dibuangnya segera kaleng itu dan meluncur menghampiri Agatha. Diikuti motor satunya lagi yang notabene dinaiki dua cowok.
"Tha.."
Kini Agatha menyatukan kedua tangannya di depan wajah dengan muka memelas minta belas kasihan.
"Sori sori, mas.. gue gak sengaja beneran, sori.."
Tapi cowok itu langsung membuka helmnya. Demikian dua teman lainnya. Dan Agatha mengerjap melihat mereka.
"Saga.. Rendy.. Iksan.. loh, kalian ada disini juga?" gumamnya. "Saga, sori gue tadi gak bermaksud nendang kaleng itu, gue lagi kes--"
"Lo kok sendirian, Tha?" tanya Saga. "bukannya sama Farel?"
Iksan meloncat turun dari jok belakang motor Rendy. "Mana itu bocah? Kok gak sama dia? Jangan bilang lu ditinggalin?"
Agatha menghela napas panjang, lalu menengok ke belakang, ke satu arah dimana Farel masih asik disana. Saga-Iksan-Rendy mengikuti arah pandangnya, dan mereka melihat itu.
"Farel tadi abis ketemu sama temen-temen SMP-nya, iya rame gitu lah ngobrolnya sampe gue dicuekin. Yaudah.. gue mau pulang sendiri aja." Agatha lalu memasukkan tangan ke saku baju panjangnya.
"Masyaaaendeber, Tha.. yagila! Keterlaluan banget itu kunyuk!" Rendy geleng-geleng kepala. "tega banget elo sampe dilupain,"
"Kalo gue jadi elo, bêêêhh.. udah gue patahin lehernya!!" dan Iksan yang geram langsung mengepalkan tangannya dan memukulkan di telapak tangan satunya lagi.
"Ah apaan si lo pada udah biarin aja gue juga mau cari angkot aja kok."
Agatha baru saja hendak pergi, tapi Iksan menahannya.
"Heh! Lo ngapain cari angkot segala, belakang Saga kosong tuh! Gak ada yang nempatin. Lagi juga bahaya cewek malem-malem pulang sendiri."
Teman yang sangat peka. Membuat Saga kini mematung, dan Agatha beralih menatapnya. Jadi maksudnya dia harus nebeng sama Saga?
"Sama Saga lebih aman, yakan Ga? Searah juga rumah kalian," celetuk Rendy, dengan senyum jail. "mayan kan bisa dua-dua-an ciee.."
Di waktu yang sama, dia langsung mendapat jitakan dobel. Dari Saga, dan Agatha. Persis, kepala Rendy rasanya cenat-cenut sampai matanya merem-melek. Iksan pun terbahak.
"Ngawur aja kalo ngomong!" kesal Agatha dengan bibir mengerucut.
"Cabein tu bibir baru tau rasa," Saga menggerutu sambil membuang muka.
"Ah elaah kejem amat si lu pada, orang mau dicomblangin juga."
"Apa?!" SagAtha memekik bersamaan. Lalu saling berpandangan. Agatha sama Saga? Dicomblangin? Rendy memang terlalu blak-blakan. Tidak tau saja cewek itu langsung dag-dig-dug akibat ucapannya tersebut.
Kontak mata itu lalu terputus, Agatha menarik napas sejenak. Sekarang saja grogi, bagaimana jika ia duduk di belakang punggung Saga? Sepertinya ada yang aneh dengan sesuatu dalam diri Agatha, padahal saat bersama Farel tidak demikian.
Saga pun tidak jauh berbeda. Di dalam jantungnya berdegup tidak karuan. Sebenarnya ia mau-mau saja mengantar Agatha pulang, karena ini kesempatan, untuk tau alamatnya, Saga tidak boleh melewatkan.
"Yaudah, gue anter Atha pulang."

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru