Sendok dan garpu terus berdenting di ruang makan, Saga sama sekali tidak ada napsu makan selain hanya memainkan lauk diatas piringnya dengan pandangan kosong. Seketika membuat Ferdian dan Rosaline saling melempar tatapan bingung. Bayang-bayang Agatha dan Farel hari ini tidak kunjung hilang dari otaknya. Saga benar-benar cemburu melihat mereka, tidak menyangka Agatha akan dengan mudahnya berpindah ke lain hati, tanpa mau mendengarkan penjelasannya dulu. Sakit, hatinya. Sampai akhirnya, aktivitas terhenti. Sendok-garpu terlepas dari tangan dan Saga menyandarkan punggung di sandaran kursi. Tertunduk. Mau makan pun rasanya tak enak, karena Saga sudah kenyang, makan hati. "Satria," dan Rosaline memanggil dengan sedikit cemas. "kamu kenapa sih? Dari tadi makanannya cuma diliatin aja, gak dimakan-makan." "Iya, kamu ada masalah apa? Cerita-cerita dong sama mama sama papa." lalu Ferdian ikut menimpali. Saga mendengus, dan memijat pelipis. Sejenak hening menyelimuti ruangan disana. Seakan merasakan beban berat di kepala dan pundaknya, muka Saga berubah masam mengingat Armand dan ucapannya tadi pagi. "Om Armand suruh aku ngejauhin Agatha, ma, pa." susah payah satu kalimat akhirnya berhasil lolos dari bibirnya. "dan, ternyata beliau dari dulu benci sama aku karena nganggepnya aku yang udah bikin tante Agnesa dan janin yang dikandungnya meninggal." Pedih, karena tidak sesuai kenyataan yang sebenarnya. Dan sukses ini membuat bola mata kedua orangtua itu seolah ingin menggelinding keluar dari sangkarnya. Shock. "Apa!?" jerit mereka tertahan, disertai gebrakan di meja oleh Rosaline. "kamu dituduh begitu!? Kok bisa!? Wah.. kurang ajar! Gak bener ini!" "Iya, papa juga gak terima! Seenaknya saja dia nuduh-nuduh kamu seperti itu! Emangnya dia punya bukti apa?! Pokoknya besok kita mesti bikin perhitungan sama dia! Jangan cuma tinggal diam, Sat, papa gak rela kamu difitnah seperti itu!" Ferdian emosi sendiri dengan dada menggebu-gebu sambil membenarkan kaca mata minus yang bertengger di hidungnya, Saga menghela napas karenanya. "Udahlah, pa, gak perlu, aku gak mau bikin ribut, ntar bukannya nyelesein masalah tapi malah bikin tambah ribet, ini cuma salah paham aja." "Tapi kamu memang gak melakukan itu kan, Sat?" "Mana mungkin ma, demi apapun aku sama sekali gak ngedorong tante Agnes waktu itu, justru aku berusaha ngingetin kalo di depannya tuh ada jurang, aku berusaha buat nahan tante Agnes terus supaya dia gak ngedeketin jurang, tapi.. om Armand ngeliatnya lain." Kecewa. Sebenarnya Saga yang paling merasakan ini. "Papa sama mama sangat percaya sama kamu, Sat." Ferdian menyahut dengan emosinya yang mereda. "terus, Agatha gimana sama kamu?" "Dia ngejauhin aku, pa." Rosaline melihatnya merasa iba, sungguh beliau sangat mengerti bagaimana perasaan anak perjakanya kini. "Mama yakin, Sat, Agatha gak sepenuhnya mau ngejauh dari kamu, mungkin dia hanya shock aja. Kalo dia cinta sama kamu, mestinya dia percaya, tudingan Armand ke kamu itu gak bener." "Tapi dia gak mau ngomong sama aku ma, dia gak percaya sama aku." Putus asa. Tanpa Agatha, Saga bagai burung yang patah sayapnya. Tidak bisa terbang. Apalagi sekarang Farel gencar mendekati cewek itu lagi, disaat Armand melarang Saga dekat-dekat dengannya, lengkap lah sudah. "Jangan nyerah, Satria, papa yakin, dan papa bisa liat dari matanya, Agatha benar-benar cinta sama kamu, bahkan sejak kalian masih kecil. Apa-apa pasti dia nyariin kamu, jadi.. apapun yang terjadi kamu jangan ngelepasin dia. Kamu mesti bisa ngeyakinin, kamu sama sekali bukan penyebab ibunya meninggal. Tapi semua itu adalah takdir." Sebuah semangat yang membuat Saga bangkit dari perasaan kacau balaunya, dan berpikir keras-keras. Mungkin disinilah letaknya, apa itu definisi berjuang. Berjuang untuk orang yang dicintainya, ini tidak akan ada salah dan larangannya. "Papa bener!" Dan, tanpa basa-basi lagi Saga sudah angkat pantat dan lari terbirit-birit meniti tangga menuju ke kamarnya. Rosaline mengerjap melihat itu lalu berpandangan dengan Ferdian, dan tak ada satu menit Saga sudah kembali, memakai jaketnya dengan terburu-buru sambil mencium tangan kedua orang tua itu. "Ma, pa, aku pamit dulu!" Lagi, dia maraton meninggalkan ruang makan. "Bentar lagi hujan, Sat! Kamu mau kemana!?" "Keluar bentar ma!" Memang, diluar langit sudah dipenuhi oleh gumpalan-gumpalan awan mendung. Saga melengang dengan motor sportnya membelah jalan di ibukota dengan kecepatan penuh. Menuju ke rumah Agatha. "THA!! BUKA PINTUNYA!! AKU MAU NGOMONG SAMA KAMU!!" Setibanya di tempat, dia langsung mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran. Pintu yang tentu dikunci dari dalam, sesekali Saga mengintip lewat jendela di sampingnya, tapi nihil. Bi Esih pun tidak kelihatan. "AGATHA!! AKU CINTA KAMU!! DENGERIN AKU SEBENTAR, THA!! AKU MOHON KAMU KELUAR!!" Masih sama, Saga tetap bersikeras mengetuk pintu, kadang menekan gagangnya beberapa kali walaupun tidak membuahkan hasil apa-apa. Sementara di dalam sana Agatha yang tengah berjalan menuruni anak tangga buru-buru menahan bi Esih yang hendak keluar. Karena ia tahu dan sangat hafal, itu suara Saga. "Bi, jangan dibukain, biarin aja." Bingung dan garuk-garuk kepala, wanita paruh baya itu menatap anak majikannya dengan innocent. "Memangnya kenapa sih non? Kan kasian dari tadi teriak-teriak terus, ntar habis lagi suaranya." "Itu Satria, bi. Aku lagi gamau ketemu sama dia, aku masih kecewa sama dia. Udah ya, pokoknya bibi dengerin aku, jangan sampe dibukain pintu." Telunjuknya terangkat sampai di depan mata bi Esih dan seolah-olah mengintimidasi, membuat beliau mengangguk-angguk menyetujui. "Iya deh, non." Lalu, Agatha kembali naik ke kamarnya, dan berdiri di dekat jendela. Di bawah sana Saga masih terus meneriaki sambil mengetuk-ketuk pintu, mungkin karena capek suaranya berubah menjadi gedoran. "THA!! BUKA PINTUNYA!! AKU MOHON SEBENTAR AJA!! AKU BISA JELASIN SEMUANYA SAMA KAMU!! AKU SAYANG KAMU, THA!! AKU GAK MAU KAMU GINIIN AKU TERUS!!" Area mata Agatha kini mulai berkaca-kaca. Sejujurnya ia juga tidak bisa jika harus jaga jarak dengan saga seperti sekarang, tapi di sisi lain Agatha masih sangat kecewa padanya. "Mestinya aku yang nanya kaya gitu, Satria, kenapa kamu giniin aku? Kenapa bisa-bisanya kamu bikin aku terombang-ambing kaya gini? Aku juga sayang sama kamu, tapi.. tapi kenapa kamu juga yang harus jadi penyebab mama pergi? Kenapa mesti kamu? Mama adalah malaikat yang paling aku sayangi di dunia ini Sat," Bimbang. Agatha tidak bisa berbut apa-apa selain menghabiskan air matanya, bahkan kini Saga yang menengadah bisa melihatnya. Dimana dia sudah berpindah ke halaman setapak di depan teras rumah itu. Saga terdiam kala itu, mendapati dibalik kaca jendela di lantai dua yang tirainya kebetulan terbuka lebar itu Agatha tengah tertunduk memainkan jemari kuku dengan muka sedihnya. Sampai akhirnya dia melihat keluar, persis di mata Saga. Dan, sesegera mungkin dia lalu mengusap basah di pipinya dan menyentakkan tirai sampai tertutup. "AKU MOHON THA!! TEMUIN AKU SEBENTAR AJA!! AKU GAK AKAN PERGI DARI SINI SAMPE KAMU KELUAR DAN DENGERIN AKU!!" Persis, suara geledek pun langsung menggelegar di langit, begitu besar frekuensinya sampai menggetarkan jiwa. Agatha hanya memejamkan mata dibalik tirai itu. Hingga turun hujan, tanpa ampun titik-titik airnya dengan deras menerpa dari atas kepala Saga sampai ke bawah. Basah, bersama dingin yang mulai merasuk ke dalam tubuh, tapi Saga menikmatinya, dan air yang terus berjatuhan dari atas kelopak mata sampai membuat Saga susah melek. "Kenapa gak pergi aja sih," dan Agatha yang mengintip dibalik tirainya dibuat kesal sendiri. Di bawah gelapnya mendung yang tebal, dan hujan lebat, Saga memeluk lengannya sendiri sambil terus menatap ke arah kamar Agatha. Disana, samar-samar bibirnya tersenyum saat mendapati cewek itu masih terus memperhatikannya. Aku tau, kamu gak akan tega liat aku kaya gini, Tha.. Dingin terasa menusuk-nusuk tulang, tapi Saga tetap keras kepala dan tidak bergeming satu inchi pun dari tempatnya. Demi Agatha, ia rela melakukan apapun. Dan, sekarang ini bagi Saga tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dinginnya sikap Agatha. "Nyebelin banget sih! Udah tau gue gak mau ketemu dia dulu, masih aja gak balik-balik!" ngedumel sendiri dengan bibir mengerucut, Agatha duduk di tepi tempat tidur sambil meraih satu bantal. "mana deres lagi hujannya! Ntar kalo sakit gimana!?" Mumet, Agatha dibuat semakin cemas dan khawatir saat geledek masih terus bersaut-sautan di langit. Seakan-akan menunjukkan siapa yang paling besar suaranya. Lagi, ketika kembali melihat dari jendela, Saga yang wajah tamvannya mulai pucat saat diguyur hujan terus-menerus, Agatha kini mulai tersentuh hatinya. Bagaimanapun juga, cintanya masih abadi untuk Saga dan akan tetap seperti itu sampai napasnya berhenti. "SATRIA!! PULANG!!" Setelah membuka sedikit jendelanya, akhirnya Agatha memberanikan diri untuk menerikai cowok itu, sekeras yang dia bisa sampai mengalahkan gemuruh hujan di luar. Saga hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Keteguhan pada pendiriannya ini yang membuat Agatha menggeram. "PULANG!! JANGAN HUJAN-HUJANAN NTAR LO SAKIT!!" Ada kepedulian dibalik ucapan itu, Saga sangat mengetahui. Mendadak hatinya kini kesenengan sendiri. "AKU GAK AKAN PULANG, THA!! SAMPE KAMU MAU DENGERIN PENJELASAN AKU!!" Kepala batu! Agatha mengumpatnya demikian dalam hati. Sebelum akhirnya ia bergegas turun dan menyambar sebuah payung. Dan tak lama Saga melihat pintu itu terbuka, lalu menampilkan sosok Agatha dengan rambut dikuncir cepol. Saga tersenyum disaat badannya yang kaku mulai terasa lemas, karena seharian ini perutnya memang belum terganjal makanan, selain sarapan jam enam pagi tadi. Gila, hati galau membuat napsu makan Saga hilang. "Kenapa masih disini sih!!? Gue kan udah bilang!! Pulang, Saga!! Pikirin kesehatan lo sendiri juga!! Gak usah mikirin yang laen!! Sekali-kali egois dikit jadi orang!!" Lalu, satu pukulan yang tak seberapa oleh Agatha langsung mendarat di sebelah pundak Saga, ketika payung itu melindungi kepala mereka berdua. Namun Saga dibuat senang, karena bagaimanapun juga marah-marahnya ini adalah sebuah bentuk perhatian. Seketika saja tangan mungil Agatha dikunci oleh genggaman erat Saga, yang menjadikan cewek itu terbelalak karena dingin di tangannya yang persis saat masuk ke dalam lemari es. "Kesehatan aku udah gak penting lagi Tha, ketika kamu gak mau ngomong lagi sama aku. Aku sedih, aku cemburu, saat liat kamu sama Farel. Aku bener-bener gak mau kehilangan kamu, Tha.." Dan Agatha selalu mudah rapuh saat berhadapan dengan Saga. Sampai kini satu bulir cairan hangat lolos begitu saja dari pelupuk mata. "Tapi gue udah terlanjur kecewa sama lo, Saga!! Kenapa lo gak pernah bilang kalo lo ada sangkut-pautnya sama kepergian nyokap gue!!? Orang nomer satu buat gue di dunia ini!! Lo mikir gak gimana perasaan gue!!? Hah!! Gue sakit denger dari papi, Ga!!" Pilu. Membuat Saga tergerak untuk mendekapnya bersamaan dengan jatuhnya payung itu, dalam hati ikut hancur berkeping-keping mengingat kejadian sembilan tahun silam. "Aku gak seperti yang kamu pikir, Tha." Basah bersama-sama, dan hujan menyamarkan air mata mereka.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (33)
intancadangan
keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang
keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang
29/06/2025
0saya sangat suka
05/07/2024
0ceritanya bagus
14/06/2024
0Lihat Semua