Saga beberapa kali menggosokkan kedua telapak tangannya dan meniupkan udara, sekedar mengusir hawa dingin di pagi hari yang berkabut ini. Di depan gerbang sekolah, dia berdiri dengan jumper membalut seragam OSISnya, menunggu kedatangan Agatha. Hanya ingin menyambut, maklum, lagi kasamaran, bunga-bunga masih bermekaran indah di hatinya. "Atha mana ya," Menggerutu, Saga sesekali menyeka bawah hidungnya dan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, disaat murid-murid lain ramai berdatangan silih berganti. Kini sudah menunjuk pukul tujuh kurang lima belas. "Bentar lagi pasti dateng," Sabar, hingga jarum terus berputar. Tak lama kemudian berhentilah sebuah mobil tepat di depannya. Saga tak berkedip saat melihat sebuah sepatu hitam mengkilap ala-ala orang kantoran turun dari pintu kemudi. Sedikit demi sedikit, menampilkan sosok Armand dengan muka tegas, rambut klimis dan tangan menyelip di saku celana. Menyusul Agatha, di pintu lain. Tumben dia diantar seperti ini, pikir Saga rada bingung. Calon mertua! Tapi dalam hati dia tetap percaya diri. Cepat-cepat ia bergerak mendekat dengan muka berseri-seri, sedikit merundukkan punggungnya yang tinggi dan meraih tangan Armand. "Selamat pagi om—" Mengejutkan, lelaki setengah baya itu menghempaskan tangan Saga kuat-kuat. Dan meniup tangan beliau sendiri, seolah-olah najis. Seketika, hati Saga dibuat mencelos, sampai terbengong-bengong ia menatapnya, dengan senyum yang perlahan luntur. "Siapa kamu!? Saya tidak mengenal anak seperti kamu! Tidak usah berlagak mengenal saya!" Terheran-heran, apa maksudnya? Saga bertanya-tanya dalam hati. Armand yang dulu sangat ramah, mendadak sekarang seperti singa. Agatha lalu berjalan memutari mobil, sampai berdiri di sebelah Armand, ia menghela napas dan mengeratkan pegangan pada tali tas selempangnya. Dia sama anehnya, dan membuat Saga semakin melongo, bahkan ketika mendapati mata itu membengkak merah dengan kantung di bawahnya. "Tha, kamu kenapa?" Lirih, suara baritonnya melembut. Tapi Agatha hanya membuang muka, sebelum Armand menyentuh punggungnya. "Masuk," Cium tangan, selesai. Dia berlalu tanpa sepatah katapun dari bibirnya. Benar-benar membuat tanda tanya besar di kepala Saga, dan begitu dia menahan tangan mungil itu, Agatha langsung melepaskannya dengan senyum kecut dan pergi. "Jangan dekati anak saya lagi!" Dan sebuah ultimatum membuatnya terasa bak disambar gledek. Armand menatapnya dengan muka datar, sama sekali di otaknya tidak bisa melupakan kejadian sembilan tahun silam. Saat Satria mendorong Agnesa sampai terperosok ke dalam jurang, sepenglihatan beliau. "Om.. sebenernya ini ada apa sih om? Kenapa sama Atha? Om kenapa?" Susah payah Saga menelan salivanya, sementara murid-murid lain yang berlalu-lalang sudah melihat ke arah mereka. Memang, sama sekali Saga tidak paham dan tahu-menahu apa yang membuat Armand menaruh rasa kebenci padanya. "Kamu, masih bisa bertanya seperti itu!?" lelaki itu berdecak sinis. "setelah apa yang kamu lakukan dulu, sekarang kamu masih bisa bertanya kenapa!? Cih!" Bingung tujuh keliling, Saga memijat pelipis sambil berkacak setengah pinggang, lalu mengusap penuh wajahnya. "Om! Kalo emang saya punya kesalahan sama om, tolong jelaskan pada saya.. biar saya sadar. Dan saya minta maaf yang setulus-tulusnya sama om, kalau memang kesalahan saya terlalu besar. Saya sekarang benar-benar tidak mengerti kenapa om masih membenci saya," Armand dengan segenap emosi yang terpendam di dalam dirinya buru-buru mendorong bahu Saga menjauh dari depan gerbang, sampai-sampai Saga hampir terpental kalau saja kakinya tidak mengerem. "Heh! Kamu tidak usah pura-pura lagi di depan saya! Saya sudah tau siapa kamu sebenernya! Kamu Satria, kan!?" Dengan tatapan tajam, sebuah pukulan oleh Armand mendarat di sebelah pundak Saga, yang kini terbengong dengan mata terbelalak, disertai jantung mendadak panik. Dan, lelaki yang tenggorokannya kini terasa tersendat itu mengangkat telunjuk tepat di depan mata Saga, bergetar. Jemari yang sedikit keriput itu sampai bergetar ketika otot-otot di dalamnya menegang dan segerumul amarah yang berkecamuk dalam dirinya. "Gara. Gara. Kamu. Istri. Saya. Mati. Gara. Gara. Kamu. Calon. Anak. Kedua. Saya. Mati. Dan. Sampai. Sekarang. Kamu. Masih. Bersikap. Seolah. Olah. Tidak. Pernah. Terjadi. Apa. Apa!!?" Armand berujar dengan penuh penekanan di setiap katanya dan gemuruh di dalam dada yang membuatnya menggebu-gebu. "Apakah hati kamu terbuat dari batu.. seribu maaf pun tidak akan bisa mengembalikan keadaan," Pedih. Gledek pun apa, lewat, kali ini Saga seperti diterpa sengatan listrik dalam ribuan kilatan petir. Menyakitkan. Sampai kakinya lunglai bak tak bertulang. Saga mulai memucat wajahnya. Ngedrop, seakan-akan tekanan darahnya menurun drastis. Tidak salah dengar kah dia, dengan apa yang dikatakan Armand barusan? Saga penyebab Agnesa dan Arsen meninggal? Ini sangat diluar dugaan. "Diam kan kamu sekarang!?" beliau lalu berdecak sinis. "bagaimana kalau kamu yang berada di posisi saya.. saat orang yang sudah menyebabkan istri dan calon anakmu mati sia-sia, masih berani menunjukkan batang hidungnya di depan mata kamu! Apalagi dia dengan tanpa rasa bersalahnya mendekati anakmu yang lain.. apakah itu pantas? Pernahkah berpikir jika kamu menjadi saya? Oh, tidak. Mana mungkin? Karena kamu tidak pernah merasakan." Persis, ucapannya seakan memberikan tamparan yang keras untuk Saga. Tamparan yang menyadarkan, betapa besarnya kesalahan dirinya di mata Armand, yang mungkin saja melebihi gelombang yang sedang ngamuk di lautan. "Sekarang, permintaan saya cuma satu. Tolong kamu jauhi Agatha.. dan buang jauh-jauh perasaan kamu sama dia. Karena sampai kapanpun, saya tidak akan pernah bisa memaafkan kamu, apalagi merestui hubungan kalian. Mimpi!" Remuk. Hati kecilnya hancur di balik pagar gerbang sekolah itu, ini adalah kenyataan terburuk dalam hidupnya. Agatha mengatupkan telapak tangan di mulut, membungkam isakannya disaat satu bulir cairan hangat berhasil lolos dari pelupuk mata. Terkadang, rasa kecewa bisa menguasai rasa cinta. Dan Saga tidak sengaja melihat dengan pandangan sayunya, saat punggung mungil itu berbalik dan pergi. Maafin aku, Tha. "Sekali lagi, saya peringatkan.. jangan pernah dekati anak saya! Agatha sudah saya jodohkan dengan Farel, dan tentu dia tidak picik seperti kamu, yang gampang melupakan kesalahannya begitu saja. Saya sudah terlanjur sakit hati sama kamu sejak istri saya meninggal!" Selesai. Selama pelajaran di kelas, Meisya-Rendy-Iksan dibuat heran dengan sikap Agatha dan Saga yang saling diam seribu bahasa dan tertunduk fokus ke buku berisi rumus-rumus Kimia di hadapan mereka, tanpa sepatah kata pun. Mendadak kelas hari ini tidak seramai biasanya, karena ketiganya tidak bisa bercanda disaat dua sejoli itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dimana sesekali, Agatha dan Saga saling menengok. Saat inilah, benteng itu benar-benar terasa membatasi keduanya. Ini semua emang salah aku, Tha, sekarang aku sadar, aku bener-bener gak tau diri. Aku sangat gak pantes untuk mendapatkan cinta kamu. Sampai bel istirahat berkumandang, Saga yang sejak tadi dirundung rasa bersalah kini memberanikan diri untuk menahan Agatha pergi. Persis, saat cewek itu selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan hendak bangun dari duduknya Saga langsung mencegat. "Tha," Dan, Meisya-Rendy-Iksan memusatkan perhatian pada keduanya. "Aku bisa jelasin semuanya, Tha. Aku mohon, kasih kesempatan aku ngomong." Agnesa, adalah orang yang jasanya paling penting dalam kehidupan Agatha. Kesayangan Agatha nomor satu di dunia ini. Tapi dengan waktu yang cepat Saga sudah berhasil memisahkan dimensi diantara ibu dan anak itu; surga dan bumi. Dan, dia tidak pernah bilang apa-apa sama Agatha. Kenyataan inilah yang terasa lebih menyakitkan daripada mendengar dari mulut papinya tadi malam. Jadi, jika sekarang Agatha tutup kuping, sepertinya itu tidak salah. "Sori, Saga, tapi gue lagi pengen sendiri." Bak membuka luka lama, perasaan Agatha yang ada hanya terpukul dan terpukul. Lalu dia pergi dari hadapan Saga dengan helaan napas pelan. Sepelan nada bicaranya, yang mulai enggan menggunakan; aku-kamu, lagi, bahkan panggilan; Satria pun. "Ga! Kalian ada masalah ada apaan dah," dan Rendy menepuk pundak Saga, yang kini memejamkan mata sambil menjambak rambut ke belakang. "Iya, cerita-cerita dong," lalu Meisya ikut menimpali, diikuti anggukan dari Iksan. Mungkin dengan sharing bisa meringankan beban, Saga lalu menceritakan semuanya, secara garis besarnya. Sementara itu, dengan langkah kecil-kecilnya Agatha berjalan menyusuri koridor yang ramai dengan kepala tertunduk dan memainkan jarinya. Disaat ia sudah jatuh terlalu dalam pada cinta Saga, kini hanya untuk membungkam mulut sebentar darinya saja rasanya sulit, apalagi menjauh. Tapi kamu udah buat aku kecewa, Sat.. kamu tega boongin aku selama ini.. padahal kita udah bareng-bareng dari kecil.. aku gak abis pikir kamu bisa sejahat itu.. yang kamu lakuin tuh jahat, Sat.. Lain halnya dengan Agatha yang asik melamun, di arah lain Farel justru cengar-cengir sendiri membaca chattingan dirinya dan Nadifa sambil berjalan. Iya, Farel. Farel yang nekat tetap masuk sekolah meski diskors, setelah koordinasi lagi dengan Bagaskara dan kepala sekolah. Anak orang paling berpengaruh di SMA Taruna Bangsa, apa saja bisa dia lakukan. Tapi tetap, dia tidak diijinkan mengikuti pelajaran. Berkebalikan dengan Agatha dan Saga yang terpaksa menjauh, kini Farel dan Nadifa justru saling mendekat. Sejak kemarin Nadifa membagi gado-gado dengannya, perasaan Farel yang dulu kala mulai naik ke permukaan, sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, di satu tikungan Agatha menabrak pundak kokohnya. "Eh!" dan langkah Farel langsung terhenti saat cewek itu sudah tersungkur dengan pantat mencium lantai. "Agatha! Sori sori sori! Gue gak sengaja!" Panik, dia langsung membantu Agatha bangkit. Dan mendapati auranya yang berbeda, Farel lalu mengangkat pelan dua sisi wajah cantik itu dan menelusuri iris cokelatnya dengan cemas. "Mata lo bengkak, lo kenapa?" Perhatiannya, sama sekali tidak diindahkan oleh Agatha. Dia buru-buru melepaskan diri dan tersenyum kecut. "Gak, gue gapapa." "Jan boong." Agatha hanya diam dan membuang muka. Rasanya, hari ini ia benar-benar malas sekolah, malas bertemu orang-orang, malas ngomong, rasanya ingin cepat-cepat pulang dan hibernasi di kamar. Di sisi lain, keadaan ini juga tidak memungkinkan untuknya bisa menerima pelajaran. Mungkin besok, Agatha akan cari-cari alasan untuk tidak masuk. "Tha," dan Farel pun meraih satu tangannya, dalam hati merasakan perubahan sikap Agatha. "mungkin lo dari dulu udah benci sama gue yang tengil ini, gue tau, gue ngerti, tapi.. sekarang gue bener-bener gak tega liat lo kaya gini, lo kenapa?" Nadanya melembut, disertai dengan gerakan jari yang menghadapkan dagunya menatap cowok itu. Baru kali ini, Agatha dibuat terkesiap hanya karena kata-katanya, dimana dari sepasang mata zamrud itu tidak menyiratkan satu kebohongan apapun. Kali ini Farel tulus. "Gue sadar, gue paham, lo emang gak bisa cinta sama gue, tapi kalo lo emang lagi ada masalah, jangan pernah sungkan, Tha, bahu gue bakalan siap sedia buat lo, kapan pun lo butuh." Lagi, tak diduga ternyata ini membuat Agatha semakin lemah. Memang, berada di posisinya sekarang teramat sulit. Hingga dia mengatupkan bibir rapat-rapat, tak hanya tenggorokan yang tercekat, tapi pembuluh darah pun nyaris sama. Dan satu bulir cairan keluar begitu saja dari sudut mata. Ditengah-tengah lalu lalang murid-murid lain, Agatha berakhir ke dalam dekapan Farel, dengan usapan lembut di rambutnya. "Anggep gue ada, Tha, sekali ini aja gue mohon." Dan Saga mungkin lebih hancur saat melihat mereka.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (33)
intancadangan
keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang
keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang
29/06/2025
0saya sangat suka
05/07/2024
0ceritanya bagus
14/06/2024
0Lihat Semua