episode 36

Agatha menyentakkan standar sepedanya di halaman rumah Saga. Sore ini memang benar Saga sudah pulang, makanya cewek itu ingin datang menjenguk. Untuk yang pertama kali, menginjakkan kaki di rumah besar bergaya Eropa itu.
"Sore, tante.."
Ketika pintu itu dibuka dari dalam, Rosaline langsung menyambutnya dengan senyum hangat dan cipika-cipiki. Wanita yang dulunya adalah sahabat Agnesa, mungkin karena terlalu sering keduanya bersama sejak SMA, Agatha melihat Rosaline rasa-rasanya melihat Agnesa. Mirip.
"Kamu sendirian, Tha?" dan ketika melihat sepedanya sudah nangkring di halaman, Rosaline mengangkat telunjuknya dengan bingung. "itu.."
Kedua sudut bibir Agatha tertarik membentuk senyum. "Sekalian olah raga tan," dan dia nyengir kuda.
Ternyata masih tidak berubah, jika waktu kecil cewek itu hanya bisa nebeng sama Saga sambil menghadap ke belakang, sekarang dia kemana-mana juga masih suka naik sepeda.
"Yaudah yuk masuk, Satria ada di dalem."
Melangkah masuk, Agatha hanya mengekor di belakang saat Rosaline menuntunnya naik ke lantai dua, sampai berhenti di depan satu-satunya pintu yang bercat putih. Heran, Agatha mendadak deg-deg-an hanya ingin bertemu dengan Saga.
"Satria! Ada yang nyariin nih!"
Ketukannya, lima detik tak ada jawaban, wanita itu mendorong masuk gagang pintu. Kosong, batang hidung Saga tak kelihatan di dalam sana. Yang ada hanyalah suara gemercik air yang terdengar dari arah kamar mandi di pintu pojok.
"Sini, tunggu dulu, Satria-nya lagi mandi."
"Emang, dia udah sembuh beneran ya, tan?"
"Sebenernya lusa baru boleh pulang, tapi dia ngotot banget, katanya sih udah baikan. Yaudah deh,"
Agatha berdehem pelan, saat wanita itu mengusap sebentar lengannya. "Yaudah, tante lanjut masak dulu ya, paling bentaran lagi selesai."
"Iya, tan."
Sekeluarnya Rosaline, Agatha lalu melihat-lihat sekeliling kamar itu, yang bisa dikatakan rapih untuk ukuran cowok. Tempat tidur bersprei putih. Cat dinding abu-abu, bersih tanpa poster. Di lemari kecil tertata miniatur bummblebee, optimus prime, dan sekawanan action figure lainnya.
"Atha, kamu disini.."
Agatha baru saja ingin meraih satu, tapi urung ketika terdengar suara bariton di depan pintu kamar mandi. Saga yang hanya dibalut oleh lilitan handuk di pinggang. Rambut basah yang masih menetes-netes airnya ke wajah Saga lalu turun ke leher. Juga, dada bidang dan perut kotak-kotak terekspos yang tanpa penghalang.
"AAAAAAAAA!!!!"
Kembang-kempis sendiri hidungnya, Agatha langsung menjerit sambil menutup mata. Mengerjap melihat itu, terbit cengiran kecil di bibir Saga, sambil menggaruk-garuk  kepala.
Selang beberapa menit kemudian, Agatha langsung meneguk cepat-cepat air dalam gelas yang diberikan oleh Saga, dimana kini dia sudah lengkap dengan pakaian santainya.
"Makasih," mengusap bibir dengan punggung tangan, Agatha lalu mengembalikan gelas itu ke Saga, dengan gemuruh dalam dadanya.
"Masih shock ya?"
Jail, kedengarannya. Membuat Agatha buru-buru memalingkan mukanya ke luar jendela di kamar itu dengan bibir mengerucut. Dengan menyandarkan lima jari ke dinding dan satu lagi dimasukkan ke saku celana. Saga memperhatikannya.
"Huh! Rese banget, zina mata deh!"
"Mana aku tau ada kamu disini, lagian ini kamar-kamar aku, jadi.. bukan salah aku juga dong?"
"Ah tau ah, gausah dibahas."
"Terus bahas apa? Cinta kita?"
Satu alis Agatha lalu naik. "Apaan orang aku mau nengokin kamu,"
"Oh jadi kamu masih mau ngerawat aku kayak kemarin? Nyuapin aku makan, nemenin aku sampe tidur, nyiapin segala macem yang aku but--"
"Emang aku babbysitter kamu!?"
Lalu, kekehan kecil terbit di bibirnya. "Yaudah, jalan-jalan aja yok."
Dan, Saga langsung menggenggam sebelah tangan Agatha. Menuruni tangga bersama dan keluar rumah. Persis. Senyumnya merekah melihat sebuah sepeda sudah terparkir manis di depan rumahnya.
Sepanjang perjalanan menyusuri kompleks dengan cuaca yang agak mendung, Saga tidak henti-hentinya tersenyum saat menggoes bersama Agatha yang duduk di belakangnya sambil memeluk perut ratanya. Hal ini memang sangat-sangat dejavu.
"Naik sepeda bareng gini bikin nostalgia, ya, Tha?" dan Saga lalu menyeletuk di sela-sela kayuhannya. "tapi dulu kamu boncengnya madep ke belakang, sekarang meluk aku."
"Terus.." sebisa mungkin Agatha menyamarkan senyumnya. "jadi kamu gamau dipeluk nih?"
"Ehh.. engga lah!"
Baru saja ingin merenggang, sejurus kemudian Saga sudah mengunci kedua tangan cewek itu dengan satu tangan kekarnya. Lalu menengok ke belakang dengan bibir manyun.
"Gaboleh dilepas pokonya, kalo dilepas dosa!"
Dan, tawa Agatha langsung meledak. "Woy! Aturan dari mana!?"
Berkeliling terus kesana-kemari, tak sengaja mereka bertemu Nadifa yang membuang sampah di depan rumah, Saga lalu menarik remnya. Sementara cewek itu sudah geleng-geleng kepala sambil berdecak, melihat dua sejoli yang melebur dimabuk cinta itu bersepeda bersama sambil peluk-pelukan di sepanjang jalan.
"Parah! Ini orang berdua enak bat idupnya, pacaraann mulu!"
Tapi buru-buru Agatha menarik tangannya dengan canggung. Dan Saga tertawa. "Apaan si, Nad! Ngiri aja lo, makanya gebet terus si Farel dong, biar punya pacar, jan cuma ngurusin sampah terus."
Kontan Nadifa terbelalak karenanya. Karena Saga baru saja membeberkan perasaannya sampai telinga Agatha. Melengking sekali. Hingga kini dia mengerutkan alis. "Farel? Jadi lo.. lo suka sama Farel?"
"Engga!!" Nadifa panik sendiri sambil geleng-geleng. "Satria asal jeplak doang!! Gue gak ada perasaan apa-apa sama dia!! Suwer deh!!"
"Suwer omongan gue bener,"
Lagi, Saga jail. Sampai membuat Agatha terkekeh, ternyata ada yang diam-diam menyukai seorang Farel yang begitu tengilnya. Dan orang itu teman SMP-nya sendiri. Nadifa.
"Tha!! Tha!! Tha!! Jan dengerin omongannya si monyet ini!! Gue gamungkin ngerebut gebetan lo!! Ciyus!! Gua gak sejahat itu!!"
Menggelikan sekali. Padahal sudah jelas-jelas Agatha cinta sama Saga, tapi Nadifa tetap merasa tidak enak. Karena bagaimanapun yang ada di hati dan pikiran Farel tetap Agatha.
"Farel abis kena skors, Nad, dan sekarang dia gak dibolehin keluar rumah dulu sama bokapnya. Tadi gue juga ditelfon, beliau minta maaf sama gue karena semua fasilitas Farel disita. Dia bener-bener gaboleh kontekan. Tapi kalo sama lo, secara gitu lo udah temanan lama ama dia, mungkin aja dibolehin ketemu."
Saga menjentikkan jari menyetujui. Ini membuat Nadifa tampak berpikir.
"Gue yakin si, mungkin elo emang cinta sejatinya Farel, Nad. Disaat Farel terus ngejar-ngejar Atha, lo tetep masih mencintai dia."
Satu motivasi lagi. Nadifa masih bungkam. Ia sangat tidak percaya, Farel bisa mencintainya balik. Mengingat kemarin dia ngigo saja menyebut Agatha, dan Agatha. Nadifa sama sekali tidak punya ruang di hati dan pikiran Farel.
"Gak usah mikirin hubungan gue ama dia, gue cuma cinta ama ini cecunguk doang," dan cewek itu mendapat jambakan kecil di rambut.
Berkeliling dan terus keliling, sampai di taman yang tak begitu banyak dikunjungi orang. Saga berhenti mengayuh dan mengajak Agatha untuk duduk bersama di salah satu kursi panjang di bawah pohon.
Helaan napas pelan keluar dari bibir Agatha, sejenak tak ada pembicaraan diantaranya dan Saga. Mendadak mereka disibukkan dengan pikiran masing-masing, yang nyatanya sama.
Memori otak yang sering flashback, mengingat masa kecil yang penuh dengan bermain, canda dan tawa, bukan cinta-cintaan seperti sekarang.
"Tha, aku punya kejutan buat kamu. tunggu sini ya."
Hingga pertamanya membuka suara, Saga sudah beranjak pergi lagi dari tempat itu. Agatha baru saja ingin meneriakinya, tapi dia hanya mengisyaratkan dengan tangan, supaya Agatha tetap disana.
"Ish! Mau kemana si,"
Menit demi menit berlalu, Saga tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Agatha sudah beberapa kali celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri tapi nihil. Ia sudah dibuat jengah karena menunggu lama.
"Tha,"
Hingga tak lama, Saga sudah mengetukkan telunjuk di sebelah pundaknya. Persis. Saat Agatha menoleh, berikat-ikat balon warna-warni sudah berada si depan mata. Saga lalu melongokkan kepala dibalik itu semua, dengan senyum tipis.
"Taraaa!"
"Kamu dapet ini darimana?"
Menggelitik, Agatha dibuat tertawa karena ulahnya. Sebelum akhirnya menerima kumpulan balon itu lalu membolak-balikkan setiap sisinya dan Saga duduk lagi di sebelahnya.
"Gimana? Seneng? Aku gasengaja liat aja tadi, aku pikir kayanya kamu bakal seneng kalo aku beliin."
Ada-ada saja, dan Agatha masih senyum-senyum sendiri dibuatnya. Sampai dia tepok jidat dan memukul pundak Saga pelan. "Kamu tuh.. dasar ya! Emang kamu pikir aku anak kecil apa dikasih ginian!?"
"Jadi kamu gak suka?"
Tak menjawabnya, Agatha lalu mengikatkan benang balon itu ke sampingnya. "Dah, biar disini aja."
"Kamu ngerasain apa yang aku rasain, gak, Tha?"
Sekarang Saga sudah memasang muka seriusnya, beralih menghadap ke Agatha sambil menyandarkan sebelah siku di sandaran kursi. Cewek itu menatapnya innocent. "Emang kamu ngerasain apa?"
"Bahagia."
Satu kata. Perasaan yang diam-diam menelusup ke dalam dada. Sejak Saga masuk rumah sakit dan mendapat perhatian penuh dari Agatha.
"Aku juga bahagia bisa nemuin kamu lagi, Sat. Karena dari dulu emang.. sumber kebahagiaan aku tuh, kamu."
"Ini perasaan aku saat deket kamu, Tha."
Dan, dia meraih satu tangan cewek itu lalu menuntun ke dada bidangnya sebelah kiri, sampai menempel. Saga menekannya dalam-dalam, hingga Agatha mengatupkan bibirnya saat merasakan degupan yang begitu keras oleh satu organ di dalamnya.
"Jantung aku gak bisa santai, Tha. Kadang tangan aku sampe dingin, asal kamu tau. Apa mungkin aku grogi ya, liat wajah cantik kamu?"
Ujung-ujungnya gombal, Agatha menarik kembali tangannya dengan decakan kesal. "Gak usah ngerayu!"
Tertawa, Saga mengacak-acak gemas puncak rambut itu dan menariknya ke dalam pelukan. Agatha dengan muka memerah melingkarkan tangannya di pinggang Saga.
"Aku sayang kamu, Tha."
Satu kalimat itu meluncur dengan mulus dari bibir Saga, seketika mendapat anggukan kecil oleh Agatha. Ini membuat cewek itu kehabisan kata-kata. "Aku juga, Sat."
Serasa dunia milik berdua, dan yang lain ngontrak. Agatha memejamkan mata saat menikmati pelukan hangat itu. Sepertinya bunga-bunga sudah bermekaran di dalam hatinya. Indah, dengan guguran daun-daun kering yang berjatuhan dari atas pohon.
Menghujani mereka.
Waktu-waktu seperti ini, Agatha merasakan kembali dengan orang yang sama. Saga. Memang hanya dia yang bisa membuatnya jatuh cinta, jatuh, dan jatuh terlalu dalam.
Sampai ia lupa caranya bangun, bila mana cinta itu patah. Tapi, Agatha tidak pernah berpikir sejauh itu. Baginya, ia mencintai Saga dan Saga juga sebaliknya. Sudah. Biarkan Semesta memberikannya kesempatan untuk merasakan, apa itu bahagia.

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru