episode 30

Sekitar pukul setengah tujuh malam, Armand tiba-tiba saja meluncurkan ultimatum tak terbantahkannya lewat sambungan telfon, memerintahkan supaya Agatha cepat-cepat pulang.
Entah, padahal biasanya beliau sampai rumah di atas jam delapan.
Dan ini menginterupsi aktivitas Agatha yang tadinya sedang asik menyuapi Saga sambil berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya, sambil sesekali flashback masa kecil, terpaksa harus segera keluar dari kamar rawat inap nomor 59 itu.
"Taksi mana ya, kok gak lewat-lewat.."
Lampu-lampu kota berkerlap-kerlip di setiap sudutnya, dan sekarang di depan pintu pagar gerbang rumah sakit Medika, Agatha sibuk celingak-celinguk ke jalanan di depannya.
Jalan raya yang basah setelah tadi sore diguyur hujan, dimana kini sudah mereda. Suasana yang paling dia sukai, udara yang dingin-dingin tapi segar dan aroma petrikor yang menguar di indera penciumannya.
"Ck!"
Yang ditunggu tidak kunjung datang juga, sampai titik-titik air berjatuhan lagi. Agatha berdecak, dan menghela napas, lalu angkat laki, berjalan cepat menyusuri trotoar menuju halte yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.
[[satria]] : kalo udah sampe rumah jan lupa kabarin😊
Baru juga berteduh, ponselnya kini bergetar dan sebuah pesan masuk. Agatha cengar-cengir sendiri saat mendapati itu ternyata dari Saga.
[[agatha]] : iyaaa bawel😜🙉
Sama, di tempatnya, cowok itu juga tersenyum sendiri membacanya. Dan Ferdian-Rosaline saling menggeleng melihatnya. Kini bergantian wanita itu yang menyuapi Saga, bubur.
Yang awalnya hambar di lidah, tapi tidak sejak tangan Agatha yang tulus dengan kasih sayang menyuapinya.
[[satria]] : besok aku ga masuk sekolah, jan kangen😉😸
Asik menatap ponselnya sambil terus ketawa-ketiwi sendiri seperti orang stres yang lagi kumat, bahkan Agatha tidak menyadari jika sebuah taksi baru saja lewat di depannya.
[[agatha]] : ntar aku coretin pke tipex salam kangenku di meja kamu😁
Gila. Benar-benar gila. Gelak tawa Saga langsung menghiasi ruangan itu, seakan-akan rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang begitu saja dalam sekejap. Tak ada hentinya Ferdian-Rosaline tersenyum geli karenanya. Ampuh, sekaligus aneh.
Jatuh cinta jaman now.
[[satria]] : iya sayang *eh🙊
Sama anehnya juga, hanya dua kata tapi Agatha langsung blushing. Dan jadi bingung sendiri ingin menjawab apa. Beberapa kali menulis, lalu di hapus, menulis lagi, dihapus lagi, sambil menggaruk-garuk kepala.
Dan taksi kedua pun kini melengang begitu saja tanpa sepengetahuannya.
[[agatha]] : dasar bang-sat-ria😅 pulang sekolah besok aku dateng lagi sma yg laen, jan kangen jan mikirin aku terus ntar crazy😜😄 nyari obatnya susah😸
Menelan habis bubur dalam mulut dan dibantu minum oleh Rosaline, Saga kini berdecak melihat pesan itu. Dalam hati memang sebenarnya ia selalu merindu setiap waktu pada Agatha. Seperti sekarang ini juga.
[[satria]] : dasar bulbul-shit ngangenin😂 makasih buat bibirnya tadi, meskipun kilat, btw😒 lain kali boleh lagi ya hm😌
Bulbul. Entah, dengan tiba-tiba kata itu melintas di kepala, dengan embel-embel shit, membalas panggilan tidak mengenakkan dari Agatha tadi.
Namun tetap menjadikan cewek itu terkikik geli tanpa henti melihatnya. Karena salah satu kebahagiaannya adalah saat chatting dengan Saga.
Simple, saling bertukar pikiran lewat sambungan data, tapi selalu ada rasa cinta di setiap proses mengetiknya.
[[agatha]] : cie ngemis😁 enak aja besok aja kalo udah halal😅 *eh🙈
Kali ini Saga dibuat ngefly. Sebuah sinyal kuat, lampu hijau, kini sudah benar-benar ada di depan matanya. Hanya saja, tembok tinggi masih membentengi keduanya. Dan perlu perjuangan segenap hati dan tenaga untuk Saga menggapai seutuhnya.
[[satria]] : cie cie asikk😍 udah ditungguin lamarannya ini😁 sabar yah😌 perjuanganku belum selesai disini a.k.a masih bersambung😤
Lagi. Taksi ketiga kembali nyelonong di jalan raya di depan Agatha tanpa permisi. Diaat cewek itu masih sibuk dengan ponselnya. Di tengah lalu-lalang orang di sekitar, pikirannya sudah melayang-layang entah kemana meninggalkan raganya.
Seperti angan-angan yang bebas berterbangan, tak tau arah-tujuan.
[[agatha]] : apaan si😁
Belum selesai kalimat balasannya, bulir-bulir air tiba-tiba saja mencuat dari arah jalan raya ke pakaiannya. Ini yang berhasil menyadarkannya.
Agatha terkesiap. "Eh!"
Dan ternyata sebuah mobil Sedan yang amat dikenalnya sudah terhenti di depan Agatha, lalu kaca itu turun perlahan. Menampilkan seseorang di dalam sana, di depan setir mobilnya.
"Farel.." Agatha mengerjap melihat cowok itu, dengan jumper hitam bergambar tengkorak di dadanya.
"Tha, lo ngapain disitu? Masuk,"
Sebenarnya Agtha masih sangat-amat kecewa padanya soal Saga dikeroyok, apalagi sekarang bajunya dibuat basah karena dia ngerem mendadak. Cowok macam apakah Farel ini?
Memutar bola mata, tanpa sepatah katapun Agatha lalu membuka pintu mobil itu dan masuk. Sengaja menepuk-nepuk ujung bajunya supaya Farel peka, nyatanya tidak.
"Kamu dari mana?"
Ini malah kepo. Bahkan, sama sekali dia tidak merasa bersalah setelah tadi siang Saga digebukin sama temen-temennya, yang pasti suruhannya. Agatha sebisa mungkin menetralisir aura bete yang kini menjalarinya.
"Toko buku,"
Cuek bebek, sebodo amat. Dalam batinnya menggerutu seperti itu.
"Boong, mana bukunya?"
Dengan muka datar dan sorot mata yang memincing agak curiga, Farel menyandarkan sebelah lengannya di setir mobil, mengintimidasi cewek itu dengan tatapan tajam menusuknya.
"Stocknya abis, gajadi beli." lalu Agatha menatap Farel dengan muka jengahnya, sepertinya ini alasan yang cukup jelas dan masuk akal.
Pacaran macam apa kalau seperti itu caranya, ngobrol sinis dan suasana persis seperti di tempat pembuangan sampah, dimana Agatha sebenarnya ingin enyah dari sana, tapi Farel pasti tidak akan mengijinkannya.
"Emang nyari buku apa?"
"Novel,"
"Novel apa?"
"Fiksi remaja,"
"Judulnya.."
"Pacarku Posesif,"
Pas sekali, seketika mulut kepo itu berhenti berkicau lagi, dan Agatha lalu menangkap dari gerak-geriknya sepertinya Farel sedikit tersinggung. Padahal ia hanya asal ceplos saja. Tapi cowok itu mempercayainya.
"Yaudah, sekarang kita ke rumah lo."
Memasukkan gigi, Farel kemudian tancap gas membelah jalan di ibukota dengan kecepatan sedang, disaat gerimis manja masih awet saja.
Agatha lebih memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, selama perjalanan. Mengacuhkan Farel yang sesekali melihatnya. Agatha sudah dibuat muak karena bajunya yang basah itu.
"Malem ini, kita dinner di rumah lo, dan bonyok gue udah on the way."
Celetukkannya, memaksa cewek itu memutar kepala, kearah Farel, lalu sebelah alisnya naik tinggi-tinggi. "Apa? Lo bilang, dinner? Bonyok lo?"
Pantesan, Armand menyuruhnya cepat pulang. Ternyata ini alasannya.
Disana, cowok itu tersenyum tipis. "Bonyok gue pengen kenal sama lo,"
Dan ini namanya sudah tanda-tanda. Tanda-tanda keseriusan Farel sama Agatha. Mampus! Dia mendengus kesal, dan menggigit bibir bawahnya. Lalu bagaimana dengan Saga, jika ia benar-benar dijodohin sama Farel?
Pusing, Agatha hanya memejamkan mata dan memijat pelan pelipisnya.
Yalord, jangan cinta gue ama Satria yang kandas, si Tengil aja..
Entah, Agatha juga tidak tahu persis bagaimana kehidupannya jika orang yang pertama ia lihat saat bangun tidur, dan orang yang terakhir ia lihat ketika mau tidur lagi adalah anak konglomerat yang kepribadian dan semua perilakunya minus itu.
Agatha mungkin lebih memilih hidup dengan ikan-ikan nila ganteng dan cantik di kolam belakang rumahnya.
Dan, setibanya di rumah. Ternyata sebuah mobil alphard putih sudah terparkir manis di halaman. Mereka turun bersama lalu berjalan masuk.
"Nah, itu dia anaknya.."
Di ruang tamu, sudah ada Armand, Bagas, dan Meriska. Spontan langkah Agatha berhenti, begitupula Farel yang berjalan di belakangnya. Ya! Menjunjung prinsip; ladies first.
"Jadi ini, yang namanya Agatha?" dan Meriska menyeletuk dengan senyum ramah, sambil melihat Agatha dari atas sampai bawah.
Cewek itu hanya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, dan menggigit bibirnya canggung.
"Pantes, Farel ngebet banget, cantik begini." lalu disusul Bagas, disertai decakan kagum dan geleng kepala.
Armand terkekeh karenanya.
"Selamat malam, om, tante.." dengan senyum kecil, Agatha lalu mendekat dan mencium tangan mereka sopan.
"Malem om,"
Sementara Farel dengan cengiran khasnya mencium tangan papinya. Mungkin karena sudah akrab, dan klop, Armand ikut tertawa kecil sambil menepuk-nepuk bahu anak muda itu.
"Gimana ceritanya kok bisa bareng sama Agatha?"
"Kebetulan ketemu di jalan om, tadi, yaudah sekalian bareng."
Dan Farel juga yang dengan kurang ajar sudah membuat bajunya basah dengan bekas air hujan di jalanan, tanpa rasa bersalah dan kata maaf.
Agatha menambahkan itu di dalam hati, dengan muka ditekuknya.
"Wah.. berarti kalian jodoh!" dan Mersika kembali menyeletuk dengan antusias. Diikuti anggukan mantap dari Bagas. "papa setuju, ma!"
"Hah!?"
Sudut bibirnya naik, keduanya yang berdiri bersebelahan saling melempar pandang. Bedanya, Farel kini justru terlihat berseri-seri muka tampannya.
"Berarti pilihan aku udah tepat dong, ma? Agatha, calon menantu mama?"
"Hah!?" untuk kedua kalinya, Agatha dibuat cengo, karena ucapan singkat ibunda dan anak lelakinya itu.
"Om Armand mau kan Farel jadi anak menantu om?"
Dan lelaki itu lagi-lagi tertawa. "Ya jelas mau lah!"
Apa-apaan? Agatha mendengus dalam hatinya. Jelas ia menolak mentah-mentah, meskipun paras di atas rata-rata tetap saja Farel itu belum bisa mengambil hatinya.
Akhir-akhir ini yang ada dia malah membuat Agatha semakin yakin, Tuhan tidak mungkin menjodohkan dirinya dengan sosok lelaki seperti Farel. Mengingat guru agamanya dulu pernah menyampaikan; jodoh kamu berasal dari jenismu sendiri.
Cukup berkaca.
Yang baik, akan mendapat yang baik. Yang buruk akan mendapat yang buruk. Dan menurut Agatha, Farel itu buruk. Jelas, tidak diragukan lagi.
"Permisi, tuan, nyonya, aden, non.. makanannya sudah siap."
Hingga tak lama kemudian, bi Esih datang diantara mereka. Armand langsung bangun dari duduknya.
"Ya sudah, mari.. mari.. ruang makan di sebelah sana,"
Pria berbadan sedikit gempal itu lalu menunjuk satu arah dengan ibu jari, sambil memimpin terlebih dahulu.
Dan Farel sempat merangkul Agatha di sela-sela langkahnya ketika para orang tua sudah jalan di depan.
"Apaan si, Rel?!"
Tapi gerutuannya dibalas senyum andalan oleh Farel. "Biar romantis,"
"Sok romantis!!"
"Heh ngomongnya yang baik sama calon suami,"
Agatha ingin muntah saat itu juga.
Sampai meja makan, sudah banyak menu hidangan, buah, dan minum; syrup orange, beserta air putih. Farel duduk di samping Agatha, sementara Bagas-Meriska di hadapan masing-masing, dan Armand sebagai tuan rumah duduk di kursi paling ujung.
"Pak, bu.. mari silahkan dinikmati, jangan sungkan-sungkan.. anggap saja di rumah sendiri ya.."
"Iya, iya, terimakasih.."
Lalu ketiganya tertawa bersama.
"Tha, tolong Farel diambilin ya nasinya, sama lauknya dia mau apa sekalian," beliau menyahut lagi saat Agatha dengan malas dan ogah-ogahan membalikkan piringnya.
"Apa!?"
Dan Farel tersenyum lebar serasa di atas awan kala itu. Sebelum akhirnya dia berbisik di dekat telinga Agatha. "Latian jadi istri gue, buru.. nasi ama dada ayam, sambelnya dikit aja."
Dia menggeram kesal, karena semestinya Saga yang berucap seperti itu padanya, bukan Farel.
Dan acara makan malam itu pun berlangsung dengan penuh obrolan hangat yang dominan membahas hubungan Farel-Agatha. Disaat seperti ini ia jadi teringat Saga.
Harusnya, yang ada disana tuh; om Ferdi, tante Rosa, sama Saga. Udah.
Sabar, Tha.. mungkin suatu saat..

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru