episode 25

Paginya di sekolah, Agatha datang seperti biasa. Bertepatan dengan bel masuk. Dan gara-gara hari kemarin, semalaman sampai detik ini cewek itu suka senyum-senyum sendiri.
Memang, tidak ada status yang jelas meski bendera cinta sudah berkibar. Tapi, Satria memang benar-benar berbeda dari yang lain. Dia tidak ingin berpacaran dengan Agatha, TTMan, atau bahkan backstreet.
Disaat kebanyakan cowok begitu nembak langsung jadian, tapi Satria lebih mengajaknya ke jalan yang benar, ta'aruf. Atau dalam artian; kenal lebih dekat, dan Agatha dibuat tersanjung dengan caranya itu.
Namun goessannya pada pedal sepeda seketika terhenti ketika ia melihat Farel berdiri di tengah-tengah halaman parkiran motor.
Mencegatnya.
Dengan melipat tangan di dada, dan tampang coolnya. Dimana ada Farel pasti ada Restu, memang mereka sudah seperti kacang dan kulitnya.
"Stop!" lalu dia berujar dengan lantang sambil mengulurkan lima jarinya, tepat di depan Agatha.
Dengan alis naik sebelah, cewek itu dibuat terheran-heran saat murid-murid berdatangan dan berhambur membuat lingkaran di sekitarnya, begitu Farel menjentikkan jari.
"Ini apaan sih?" Agatha bergumam sambil menggaruk kepala dan melihat ke sekeliling, yang barisan terdepan membawa setangkai bunga mawar.
Sampai Farel tiba-tiba sudah menenteng sebuah gitar akustik.
"Bidadari tak bersayap datang padaku, dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu, dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu.." Farel tersenyum penuh arti ke arah Agatha, disertai sorakan cie-cie yang mulai bersahut-sahutan.
"Sungguh tenang kurasa saat bersamamu, sederhana namun indah kau mencintaiku, sederhana namun indah kau mencintaiku.." persis, suara ngebass-nya mampu membuat bulu kuduk cewek-cewek meremang.
Farel memang mahir bermain gitar, baginya itu hanya seujung kuku, kecil. Tapi Agatha juga bingung, kenapa dia bisa punya hobi yang sangat-sangat-amat anti mainstrem; mempermalukannya di depan umum.
Hingga kini cewek itu hanya bisa memasang muka bete dan melipat tangan di bawah dada, masih tidak bergeming dari sedel sepedanya.
Disaat semua kaum hawa merasa iri padanya, pagi-pagi di langit masih berkabut tapi Agatha yang membalut seragam sekolahnya dengan round hand sweater warna hijau tosca itu sudah mendapat surprise yang begitu romantis dari sang pacar, yang notabene pujaan semua cewek.
"Sampai habis umurku, sampai habis usia, maukah dirimu jadi teman hidupku.. kaulah satu di hati, kau yang teristimewa, mau kah dirimu hidup denganku.."
Pilihan lagunya juga romantis, dan Farel sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari Agatha, yang kini mulai jengah. Jadi tontonan, lagi.
"Diam-diam aku memandangi wajahnya, Tuhan kusayang sekali wanita ini.. Tuhan kusayang sekali wanita ini.. sampai habis nyawaku sampai habis usia, maukah dirimu jadi teman hidupku.. kaulah satu di hati, kau yang teristimewa, maukah dirimu hidup denganku, katakan yes i do, jadi teman hidupku.. dududududu.."
Dan kebetulan dari arah pintu gerbang Saga baru saja datang dengan motor sportnya. Lalu dia parkir di tempat yang kosong, di barisan motor dekat trotoar pembatas yang ditumbuhi deretan pohon.
Begitu melepas helm full facenya, Saga terperangah melihat kerumunan itu.
Disana, dia melihat Agatha dan Farel-Restu yang berada tengah-tengah halaman parkir. Agatha yang tidak berkutik dan Farel yang terus memetik gitarnya sambil bernyanyi.
Sampai akhirnya cewek itu tidak sengaja menatap ke arah Saga berada. Dimana Saga lalu menyunggingkan senyum tipisnya, yang sedikit pilu.
"Hooo.. sampai habis umurku sampai habis usia, maukah dirimu jadi teman hidupku, kaulah satu di hati, kau yang teristimewa, maukah dirimu hidup denganku, katakan yes i do, jadi teman hidupku.."
Setelah itu, barulah Farel melangkah mendekat, dengan lemparan bunga yang tertuju kepada mereka berdua disertai siulan dan cie-cie. Agatha langsung menutup kepala saat bunga-bunga itu menghujaninya.
"Apa banget si,"
Bahkan sampai ada beberapa yang nyangkut di rambut, ia berdecak sambil menyingkirkan satu persatu.
"Katakan yes i do.. hiduplah denganku.. jadi teman hidupku.."
Dan, dua batang chunky bar yang diikat pita warna pink sudah nampak jelas di depan mata, begitu Agatha menyibakkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajahnya.
Yang kini terlihat innocent.
Lagi, semua murid SMA Taruna Bangsa dengan hebohnya bertepuk tangan sambil menyoraki. Bahkan Steva yang berada di antara mereka juga menyempatkan diri untuk memotret momen romantis itu.
"Ini spesial buat elo, Tha.."
"Farel lo ngapain si,"
Tapi dia hanya mengerjap sekali, tetap menunggu.
Dan, agak ragu-ragu Agatha terpaksa menerima coklat itu, dengan senyum ala kadarnya. Malas-malasan, ogah-ogahan. "Ehm.. iya makasih, Rel, tapi kan ini.. bukan hari valentine?"
"Emang bukan, tapi setiap hari gue ketemu elo adalah hari kasih sayang."
Miris, bagai teriris-iris. Saga lebih memilih untuk meninggalkan tempatnya dan berlalu ke kelas. Kebetulan bel langsung berbunyi, yang membubarkan semua murid disana. Agatha juga bergegas memarkirkan sepedanya ketika seorang guru berjalan mendekat.
"SIAPA YANG MEMBUANG BUNGA SEMBARANGAN DISINI?!!"
Beliau adalah pak Dadang, guru bahasa inggris yang terkenal killer di SMA Taruna Bangsa. Tampilannya selalu rapih, dengan tatapan tajam dan membunuh, apalagi jenggot putih yang tumbuh panjang di dagunya, ini yang mematikan.
"Duh, mampus deh!"
Dan, urat-urat di lehernya nyaris keluar saat dilihatnya lantai parkiran yang berserakan akan bunga mawar. Agatha terkikik geli saat mendapati Farel dan Restu mati kutu disana.
"CEPAT BERSIHKAN!!"
"I..iya.. iya pak,"
Karena pak Dadang lebih disiplin daripada pak Harsono.
Sementara itu sampai di kelas, Agatha lagi-lagi masuk terakhir, dan semua sudah heboh sendiri menanyakan tugas. Beberapa juga ada yang sedang menyalin pekerjaan milik temannya.
Memperhatikan mereka sambil berjalan ke bangkunya, Agatha menggaruk kepala dengan bingung. "Ada tugas apaan si ribet amat,"
"Woy, Tha!! Santai bener muke lu udah ngerjain tugas apa?!!" dan Meisya yang sedang kalang kabut menyalin pekerjaan Iksan langsung menyembur dengan suara toa, ketika Agatha duduk di bangku sebelahnya.
"Tugas yang mana sih, Sya.."
"Ah elahhh.. Tha.. tugas bahasa inggris!! Yang grammar focus halaman 50!! Lo udah ngerjain belom?!!"
Memang, sedari tadi Meisya sibuk di kelas. Dan sobekan kertas tugas Iksan yang berisi goresan tinta dua lembar bolak-balik buku ukuran big itu sudah menjadi rebutannya dan Rendy, yang ikut menimbrung juga dan sesekali ditarik kesana kesini oleh satu sama lain dan berakhir dengan pertengkaran kecil.
"Hah! Bahasa inggris.." dan Agatha buru-buru mengecek isi dalam tas selempangnya itu, semua barang termasuk buku dikeluarkan, dan sialnya kertas tugasnya sama sekali tidak terselip dimanapun.
Agatha mendadak panik.
"Yah.. kok gak ada sih?!! Perasaan gue udah siapin deh tadi pagi.. masa iya ketinggalan?!!"
Heboh sendiri, buku-bukunya dibongkar lagi dengan tergesa-gesa.
Dan ini membuat Saga yang hendak menggoreskan pena ke atas kertasnya untuk memberi nama, nomor absen, dan kelas, menjadi terurungkan.
"Alah gausah gengges kali, Tha, kalo mau nyontek ya tinggal nyontek aja kali.. sekalian ama dua sejoli noh, gua mah anak sholeh ikhlas yee.. lagi udah mepet nih waktunya." Iksan yang hanya tinggal duduk manis di tempatnya kini melihat jam tangan.
"Yok!! Cepet!! Cepet!! Cepet!! Sebelum pak Dadang dateng nih!! Bisa jadi dendeng lu pada!!" dan dia berdiri sambil ngomporin Rendy-Meisya dan teman-teman lain, yang semakin membuat mereka kelabakan sendiri.
"Woy bisa mingkem gak sih lu tai!! Gua robek juga tugas lo nih?!!"
Selalu saja seperti itu, dan Iksan yang tertawa geli sangat bangga dengan dirinya. "Woy, Tha!! Gas lah lu nunggu apaan!! Gue bilang kaga usah gengges!! Lu kaga ngerjain juga kan? Mikirin Saga mulu sih jadi lupa tugas kan?!! Buru kek nyontek!!"
Tapi Agatha tidak suka dengan tuduhannya, sehingga membuat Saga yang sedari tadi hanya diam saja kini melihat ke arah cewek itu. Begitupun sebaliknya, disertai sorakan dari Rendy dan Meisya.
"Cie-cie~ yang kemarin abis ehem-ehem!! Ahaide!! Hahahaa!! Jan lupa pajaknya woy!! Awas kalo engga!! Gue teror terus!!"
Padahal pandangan Meisya masih fokus menulis.
Dan satu sudut bibir Agatha naik saat melihat Iksan dengan tengilnya kini menaik-turunkan alis. "Heh Suprapto!! Sembarangan aja ya lo kalo ngomong!! Gue udah ngerjain tugasnya semaleman!! Gak usah sotoy lo!! Enak aja!! Gue bukan tukang nyontek kali,"
Kemudian, dia jadi gugup sendiri ketika dilihatnya Saga terkekeh geli. Sementara Rendy-Meisya terbahak.
"Suprapto.. Suprapto.." Rendy geleng-geleng kepala sendiri di sela-sela aktivitasnya, gara-gara dirinya kini Agatha jadi ikut-ikutan memanggil Iksan dengan sebutan bokapnya.
"Ah, gak asik lo pada, emang.." dan Iksan jadi sok-sok mellow sendiri.
Agatha lalu memeriksa kembali tas dan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, tapi nihil, dan semakin panik saja mukanya begitu pak Dadang muncul dari balik pintu, sambil tersenyum kecil.
"Jam saya kan?"
Seketika ini membuat semua murid kembali ke bangku masing-masing, sambil menjawab. "Iya pak!!"
"Yah.. mampus.."
"Lo mah, udah dibilang suruh nyontek juga ih,"
"Tapi tadi tuh udah gue masukin, Sya, tugas gue.."
"Dan itu cuma perasaan lo aja, padahal.. ketinggalan kali di meja belajar lo," Meisya lalu mengangkat bahu dan telapak tangan bersamaan.
"Terus gimana dong.."
Saga melihatnya tidak tega, Agatha dengan pasrah menenggelamkan kepala diantara lekukan tangannya saat pak Dadang mulai berjalan ke depan kelas, dan.. "Tugas, dua hari yang lalu, di buku LKS, kesepakatan dikumpulkan hari ini? Betul?"
"BETUL!!"
Tamatlah riwayatnya.
"Dan.. yang tidak mengerjakan.. siap menerima hukuman? Betul?" lagi, beliau berbicara dengan sedikit pelan namun tetap berwibawa.
"BETUL!!"
Meisya kali ini ikutan ngegass persis di dekat telinga Agatha, sepertinya dia senang melihat temannya itu akan mendapat hukuman nanti.
"Sya lo rese banget si?!!" dengan sebal Agatha berdecak dan mendelik, tapi Meisya hanya tertawa geli. "Emang lo udah selesai apa?!!"
"Udah.." lalu dia menjulurkan lidah meledek, yang semakin membuat Agatha gemas ingin mencakar-cakar wajahnya. Namun Meisya terus saja meledeknya. "emangnya elo.. apaan.. udah datengnya telat, gak pernah piket, gak ngerjain tugas, astajim.."
"Eh!! Gue tuh semalem—"
"MARI DIKUMPULKAN KE DEPAN.. JANGAN LUPA DIBERI NAMA.." tiba-tiba Pak Dadang menyela ucapannya.
Dan Saga tersenyum tipis melihat sebuah nama yang baru saja ia tulis di pojok kanan atas kertas tugasnya.
            name : Agatha Shanina
            class : XI IPA-2
            no.   : 07
Sebelum akhirnya Saga bangun dari duduknya dan berjalan maju untuk mengumpulkan di meja terdepan, bersama murid-murid lain. Biarlah, ia memang sengaja melakukan ini. Tak apa, karena nalurinya tidak pernah lekang dari niatan melindungi,
Agatha.
Lalu pak Dadang mengecek semua tugas yang masuk. Sebelum akhirnya, "Ada yang tidak mengumpulkan?"
Mampus! Agatha dengan dag-dig-dug sudah menutup kuping ketika lelaki yang rambutnya hampir semuanya ubanan itu meneliti nama-nama satu persatu dengan daftar absen kelas.
"Ressaga Praditya,"
Hingga semua pasang mata mengarah ke Saga, termasuk cewek itu. Iksan yang duduk di depannya langsung balik badan dan protes, karena sebelumnya Saga memang sudah mengerjakan, dan Iksan lihat sendiri.
"Ga, lu bukannya—"
Tapi Saga sudah lebih dulu berdiri. "Saya siap dihukum pak."
Dan Agatha seakan-akan dibuat gagu karena perlakuannya itu. Apa-apaan dia? Kenapa harus melakukan ini?

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru