episode 21

Dengan napas terengah-engah dan dada bidangnya yang naik turun, Saga baru saja melepaskan bibirnya dari bibir Agatha, ketika cewek itu terbatuk dan perlahan-lahan mulai tersadar juga dari pingsannya.
Saga melakukan ini karena tidak ada cara lain.
"Ssshh.. kepala gue sakit banget,"
Sambil memegangi kepalanya yang terasa diremas-remas, cenat-cenut dan dihujani jarum yang menusuk-nusuk, Agatha dibantu oleh Saga bangun dari posisinya tergeletak.
"Akhirnya lo sadar juga," dan Saga sudah menaruh khawatir padanya. "muka lo pucet banget, Tha.."
"Saga lo disini juga?" Agatha lalu mengerjap melihat cowok di depan mukanya itu. Ia sudah cukup sadar untuk mengetahui jika tadi sesuatu telah menekan bibirnya dalam-dalam.
Hingga kini wajah yang masih pucat itu terlihat sedikit shock, sambil Agatha menggerakkan jemarinya menyentuh bibir mungil itu. Dan mendapatinya Saga merasa bersalah.
"Saga.. lo.. lo.." dan cewek itu sampai mendadak gagu, disertai cairan hangat yang sudah berkumpul pelupuk mata. Bibirnya bergetar.
Dengan paniknya, Saga menggaruk kepala lalu mengatupkan bibirnya. "Tha, sori, gue.. tadi.. gue gatau lagi mau gimana supaya lo sadar, jadi.. gu.. gue.. gue terpaksa kasih napas buatan ke elo.. Atha gue minta maaf banget sama lo, Tha, sumpah gue gak bermaksud apa-apa.. gue—"
"Ini first kiss gue, Saga.."
Akhirnya pertahanannya runtuh kembali, untuk kesekian kali. Agatha menutup sebagian wajahnya untuk membungkam suara tangisan itu. Dan Saga semakin panik melihatnya.
Ciuman pertama. Sebagian besar seorang gadis pasti mendambakan hal itu dilakukan dengan orang yang dicintai. Tapi sekarang, Saga malah mencurinya dengan cuma-cuma.
"Atha sori, Tha, gue lancang.. tapi suwer demi apapun gue bener-bener gak ada maksud apa-apa.."
Agatha buru-buru beranjak berdiri, dan Saga membantunya dengan memegangi kedua lengannya. Rasa sakit di kepala semakin terasa saja saat Agatha menangis. Hingga kini dia hanya terus memijat pelipisnya.
Masih dengan sesegukan, cewek itu melepaskan dirinya dari pegangan Saga dan bergerak maju selangkah. Dalam hatinya kalut, Agatha menatap kosong ke depan. Di depan matanya yang hanya ada hembusan angin.
"Saga lo tega ya.. hikz, bisa-bisanya lo ngelakuin ini ke gue.. first kiss gue, Ga! Padahal lo tau.. gue cuma cinta sama Satria.. lo mestinya mikir, gue cuma bakal kasih ini sama Satria.. tapi kenapa malah elo ambil?!!"
Di belakangnya, Saga mengusap penuh mukanya. Lalu berkacak setengah pinggang dan menyugar rambut. Digigitnya kuat-kuat bibir bawah saat melihat bahu Agatha bergetar. Pedih. Kali ini Saga yang menjadi alasan air matanya turun.
"Hikz.. Saga lo tuh jahat, tau gak?!!"
Miris. Kelamahan Saga berada di cewek itu, apalagi tangisannya yang semakin kencang. Dalam dirinya, Saga merasa tersayat-sayat. Ternyata apa yang dilakukannya ini salah.
"Sekali lagi, please.. maafin gue, Tha.. lo boleh kok pukul gue, atau tampar gue silahkan sepuas lo.. gue tau gue emang salah, tapi.. gue bener-bener gaada niat buat ngambil first kiss lo."
"Apa?!! Emang dengan maaf bisa balikin keadaan kaya semula?!! Lo udah ngambil first kiss gue, Saga!!" lalu Agatha balik badan dengan berlinang air mata, bahkan sampai bawah hidungnya juga basah.
"Ini yang gue jaga selama ini buat Satria!! Tapi apa?!! Lo malah dengan gampangnya ngambil gitu aja!! Dan elo bukan Satria!! Sekarang lo mikir gak gimana perasaan gue?!!" dia lalu menyeka ingusnya sebentar.
"Meskipun cuma hal kecil kaya gini, dan gue gatau apa Satria juga cinta sama gue apa engga, tapi gue selalu menginginkan first kiss gue bakalan sama dia, Saga.. hikz.. dan ini sangat berarti buat gue, tapi kenapa lo tega ngambil ini dari dia.. hikz,"
Agatha lalu tertunduk.
Persis. Dahinya bertumpu di sebelah pundak Saga. Perih. Membuat Saga kini langsung memejam merasakan sesak yang menelusup di dadanya.
Satria yang lo cari ada di sisi lo, Tha.. di depan lo.. dan gue gak bakal kemana-mana, andai lo tau..
Hingga tangan Saga tergerak untuk mengusap pelan rambut Agatha.
"Gue belum ketemu sama Satria tapi Farel udah ngiket gue, Saga.. hikz, terus gue mesti gimana.. apa yang bisa gue lakuin.. hikz.. gue cuma cinta sama Satria, Ga.. bukan Farel.."
Lama kelamaan, Saga tidak kuasa mendengar isakan tangisnya. Ini terlalu menyakitkan. Hingga kini dia langsung melingkarkan tangan kekarnya untuk memeluk Agatha.
Gue disini, Tha..
Dan sekarang batin Saga benar-benar tersiksa.
"Kenapa hidup gue mesti kaya gini, Ga.. Rasanya gue pengen kembali ke masa kecil aja.. hikz.. hikz.. saat gue menghabiskan hari-hari gue sama sama Satria.. main.. main.. dan main.. tanpa memikul beban kaya gini.."
Agatha benar-benar hancur di depan Saga, cowok yang sekarang baju seragamnya tengah dia basahi. Dengan memeluknya, Saga bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Mereka, sama-sama bisa merasakan debaran jantung satu sama lain. Keduanya sama-sama berada dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, saling membutuhkan, tapi terhalang oleh masalah Armand, yang notabene ini mengurung niat Saga untuk mengakui dirinya adalah Satria.
Belum lagi, Agatha yang terpaksa harus terikat sama Farel. Pada dasarnya gara-gara Armand juga.
Aneh, papinya sendiri yang menjadi poros kehidupan Agatha.
Sampai akhirnya satu sudut mata Saga keluar air. Air mata seorang lelaki, yang teramat sedih karena melihat gadisnya terpuruk.
Iya, kamu janji ya sama aku, jangan sedih-sedih lagi. Kamu harus inget baik-baik, Bulan itu gak pernah berhenti bersinar. Karena Ksatria akan selalu bersama Bulan.
Barisan kalimat itu, pada malam perpisahan mereka. Saga masih teringat jelas. Tapi, sekarang rasanya ia memang sudah mengingkari janji. Karena semestinya Saga hadir untuk Agatha, disana, itu sebagai Satria.
Bukan Saga, si murid baru.
"Tha, lo gak sendiri.. ada gue, ada temen-temen yang laen. Kalo emang berat lo bawa beban itu di kepala dan pundak lo, lo gak perlu khawatir.. karena gue bakal ada di belakang lo terus. Kapanpun lo butuh sandaran, gue pastikan gue ada di sisi lo."
Tapi Agatha masih terisak disana.
"Gue minta maaf, Tha, sekali lagi.. gue gak bermaksud ngambil first kiss lo. Gue tadi.. bingung, lo pingsan, kalo gue gendong lo ke UKS, gue takutnya ntar ketemu Farel. Gue cuma gamau lo kenapa-kenapa sama dia."
Lalu, ketika pelukan itu merenggang, dan terlepas dengan rasa canggung, Agatha langsung mengusap pipinya. "So..sori Saga,"
"Tha, kalo lo mau.. lo bisa kok, ehm, anggep gue itu.. Satria."
Mendengarnya, satu sudut bibir cewek itu naik.
"Paling gue cuma perlu jadi heroik dikit, biar kaya Ksatria beneran.." gumam Saga lalu mengidikkan bahu.
Barulah kali ini Agatha langsung mendelik menatapnya. "Apa lo bilang? Ksatria? Lo.. lo.. kok—"
Dan Saga memang goblok. Dia segera menepuk jidatnya sambil meringis. "Eh, maksud gue, Tha.. kan Satria itu pujaan hati lo yakan.. dan pasti udah punya tempat tersendiri di hati lo lah, ya gue mikirnya.. Satria udah pasti hebat dong sampe bisa bikin lo jatuh cinta setengah hidup kaya gini, yaa.. mungkin aja dia emang.. jelmaan seorang Ksatria, gitu, Ksatria yang hebat, yang heroik, yakan.."
Padahal, Agatha sudah berpikir kalau Saga tahu sesuatu tentang Satria. Ternyata tidak, hingga cewek itu kembali murung dengan kepalanya menatap ke bawah, lantai rooftop.
Lalu Saga mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, dan meletakkan di atas satu telapak tangan Agatha. "Udah, jangan sedih lagi ya, pasti semua ada jalan keluarnya kok."
Matanya mengerjap melihat sebuah permen disana, dengan tulisannya; jangan lupa senyum😋 hingga cewek itu lalu beralih ke Saga dengan bibir mengerucut. Setelah di kelas tempo hari, ini adalah kali keduanya.
"Lo pikir gue anak kecil apa, abis nangis dikasih permen terus diem?!!"
Saga terkekeh melihatnya. "Elo kan emang masih piyik, buktinya sampe sekarang lo masih ngerasain cinta monyet, Satria kan cinta monyet lo,"
"Cinta monyet apaan?! Gue yakin kok Satria pasti cinta sejati gue!! Dari kemarin sotoy dipelihara!!" dengan sebal dan tidak terimanya Agatha melipat kedua tangannya di bawah dada, berbalik memunggungi Saga.
Dalam hati cowok itu terkikik geli, kalau saja Agatha tahu bahwa Saga itu Satria, pasti ia sudah tengsin sendiri dan tidak punya muka lagi. Karena dia secara tidak langsung sudah mengakui sendiri perasaannya.
"Kalo seandainya lo ketemu Satria dan dia cintanya sama cewek lain gimana?" dan lagi, Saga tertawa kecil, ketika aura jahil kini sudah menelusup merasuki tubuhnya.
Segala kemungkinan memang ada, dan Agatha berdecak sebal karena ucapan Saga. "Ngomong apaan si, lo? Gue yakin kok.. Satria pasti.. dia juga cinta sama gue!! Dari dulu malah!! Gue kan cantik dari orok.. ya.. gak mungkin kalo Satria gak cinta sama gue!! Itu mustahil!!"
Agatha memang pede selangit jika menyangkut Satria. Setelah itu, dia menghentakkan kaki kesal. Dan balik badan lagi menatap Saga, dengan muka ditekuk cemberut. Seketika menghentikan tawa geli cowok itu.
"Apaan ketawa-ketawa?!! Lo pasti sebenernya ngiri kan sama Satria?!! Karena cuma Satria yang gue cintai sampe hampir gila kaya gini?!!" ujar Agatha dengan begitu sewotnya, sampai ia harus berjinjit untuk menunjuk-nunjuk muka Saga.
"Lo pasti pengen jadi Satria kan?!! Sampe-sampe elo nekat nyolong first kiss gue padahal itu gue jaga selama ini buat Satria!! Lu tuh jahat tau gak?!! Maling ayam aja dipenjara!! Mestinya elo juga dipenjara karena udah maling first kiss gue!!"
Lalu Agatha menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. Hari ini semuanya memang menyebalkan. Dan Saga benar-benar tidak bisa untuk tidak meledakkan tawanya kali ini, hingga dia terbahak-bahak.
"Gak heran sih, semua cowok emang langsung jatuh cinta kalo ketemu gue, tapi gue sih sori sori aja.. orang gue maunya nunggu Satria doang, sampe lebaran monyet apa lebaran gajah sekalipun.. gue bakal jabanin,"
Bahkan elo bener-bener marah dan kecewa, pas ada orang lain ngambil first kiss lo.. tapi ini gue, Tha.. Satria-nya elo.. namanya jodoh sih ini..
Saga sampai geleng-geleng kepala sendiri di sela-sela tawanya. Baru kali ini ia melihat sosok Agatha yang ternyata mempunyai tingkat ke-pede-an yang lumayan tinggi juga.
"Saga lo apa banget si orang gue ngomong serius juga," ujar cewek itu lalu berdecak sebal saat membuka permen yang tadi diberi oleh Saga.
Dan dilemparnya ke mulut, cuek saja.
Seandainya lo tau, betapa senengnya gue denger elo ngomong kaya tadi, Tha.. dan perasaan kita sama.. tapi maaf, gue belum bisa jujur sekarang..
Saga menghela napas panjang dan memasukkan tangan di saku celana abu-abunya, memperhatikan gadis cantik di hadapannya yang tengah membuang muka, dengan permen rasa cherry-mint di dalam mulutnya.
Hingga Agatha menoleh, sampai matanya terhenti di mata hazel Saga. "Kenapa lo selalu nyimpen permen?"
Dan ini rasanya dejavu.

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru