episode 13

Di lapangan basket sudah terbentuk dua kubu yang akan segera bermain. Diantaranya kubu cewek; Agatha, Meisya, Rani, Viola, dan Revi. Yang melawan kubu cowok; Saga, Iksan, Rendy, Andra, dan juga Viky.
Tidak seimbang memang. Tapi ini hanya permainan. Sementara murid-murid lain bermain voli di lapangan satunya lagi, yang notabene di SMA Taruna Bangsa mempunyai dua buah lapangan outdoor. Basket dan voli.
Agatha, mewakili kubu cewek, sudah bersiap untuk melakukan jump ball dengan Saga di hadapannya. Ya! Lagi-lagi dua anak muda ini yang ditunjuk teman-teman mereka, berdasarkan ukuran tinggi badan.
Meskipun selisih dua puluh senti tetap tidak menyurutkan rasa percaya diri Agatha. Sampai akhirnya pak Harsono yang berada di tengah-tengah, diantaranya dan Saga, kini mulai meniup panjang peluitnya.
Sambil melayangkan bola basket itu ke atas.
Dan, Saga yang mendapatkannya.
Lalu, dia mulai mendribble ke daerah kubu cewek, di waktu yang sama teman-teman lelaki satu teamnya langsung menyerang. Satu per satu cewek dilewatinya dengan mulus.
Agatha dengan sigap mengejar Saga dan mencoba-coba menghalangi.
Ke kanan, ke kiri, ke atas, Agatha merentangkan tangannya untuk menghambat pergerakan Saga. Dan, mata mereka bertemu untuk kesekian kali. Agatha sengaja memberikan senyum andalannya sampai Saga seperti mulai hilang kendali.
"Woy! Ga! Oper bolanya!!"
Rendy sudah meneriakinya di arah lain sembari terus dihalangi oleh Meisya. Sampai akhirnya Agatha dengan gesit bisa mengambil alih bola basket itu dari tangan Saga dan membawanya ke daerah kubu cowok.
"Hahahahaaa..." dan cewek itu tertawa puas melihat ulahnya.
Saga pula langsung tersadar, rasa-rasanya seperti habis dihipnotis saja.
"Huuuuuu!! Jangan mau dikibulin sama Atha, woy!! Gimana sih?!!"
Dan teriakan Iksan membuatnya paham. Buru-buru ia mengejar Agatha dengan senyum gelinya.
"Awas aja lo, Tha."
Bisa diakui, cewek itu memang lumayan bisa bermain basket. Kini dia terus berusaha memunggungi Saga yang mencoba merebut, Agatha tetap berhati-hati menjaga bolanya.
Sampai Saga bisa menempatkan dirinya di depan Agatha, persis menghalangi langkahnya. Kini gantian Saga yang menghipnotisnya dengan si senyum pamungkas.
Tampan.
Tak ada yang lain, selain itu. Tapi Agatha masih sadar, dia tidak boleh lengah. Buru-buru dipantulkan bola itu diantara kaki Saga, lalu Agatha menangkapnya lagi dengan mudah.
Dan, dia melompat sambil melayangkan ke ring.
Pas. Masuk!
"Yeeeee!!!!"
Agatha dan teman-teman ceweknya langsung bersorak kegirangan sambil meloncat-loncat dan berpegangan tangan. Saga berdecak sambil geleng-geleng melihatnya. Sebelum akhirnya Rendy datang dan menempelengnya.
"Atha gak kemakan balik sama pesona lu!! Gak usah te-pe-te-pe!!"
Disusul dengan gelak tawa Iksan.
"Sialan tu cewek," gerutu Saga sambil berkacak pinggang dan disana Agatha terkekeh geli melihatnya.
Tapi pertandingan belum selesai.
Kubu cowok kali ini tidak mau kalah lagi. Mereka lebih gesit bermain. Saga-Rendy saling mengoper sementara cewek-cewek berpencar dan terus mencoba merebut siapapun pemegang bola itu.
Dan, Saga dengan mudahnya bisa menembakkan bola itu menjebol ring cewek, dari sisi lapangan. Menit demi menit, sorakan demi sorakan terus menghujaninya. Walaupun sesekali team cewek juga berhasil memasukkan bola ke ring, tetap saja team cowok yang menang telak.
20 : 8
Dan sepertinya ini wajar. Saga hanya tersenyum mengejek kearah Agatha, yang kini mandi keringat sampai beberapa helai rambutnya menempel di wajah. Tapi ini terlihat manis.
"Kasian, capek banget ya?"
Saga ikut duduk di samping cewek itu, di bangku pinggir lapangan. Begitu waktu pertandingan telah habis, dan berganti murid-murid lain yang menggunakan lapangan itu.
"Apa? Lo mau ngeledekin gue, karena team gue kalah?"
Saga terkekeh mendengarnya. "Lo ngomong apa sih, Tha? Engga lah, kan cuma permainan."
"Cewek ngelawan cowok, ya udah pasti kalah lah. Cewek-ceweknya juga ga terlalu bisa-bisa amat, amatir lah, dan ga sebanding sama cowo-cowo yang, yaa.. lumayan jago-jago si."
"Contohnya gue, ya, Tha?" dan Saga tersenyum dengan alis naik-turun. "gue keren gak tadi maennya?"
Bibir Agatha terkatup rapat, sebisa mungkin dia menyembunyikan senyumnya. Karena ucapan Saga itu benar, dan skill bermainnya pantas diacungi jempol. Tapi Agatha terlalu gengsi untuk mengakui itu. Enak saja.
Dan kini cewek itu berdehem. "Yaa.. biasa aja sih, standart, sama aja kaya yang lain. Main opernya, shootingnya, yaa.. biasa lah ya.. rata-rata.."
Dan ini mengundang sebelah alis Saga terangkat tinggi-tinggi. Tapi ia tidak tertipu dengan gesture Agatha. Mungkin cewek itu sedikit malu kalau ingin mengakui Saga itu keren.
Memikirkannya, Saga terkikik geli di dalam hati, sambil senyum-senyum sendiri. Kadang cewek memang suka begitu, dan sebagai lelaki Saga harus mengalah daripada dibilang kepedean, apalagi dengan statusnya yang masih 'anak baru' baru hadir.
"Oh, ya.. Saga, gue.. cabut dulu ya."
Tidak tahu kenapa Agatha jadi gugup sendiri, buru-buru ia angkat pantat dan berlalu pergi dari hadapan Saga. Meninggalkan cowok itu yang kini menggaruk belakang kepalanya.
Kakinya melangkah di sepanjang koridor yang sepi bersama Meisya, karena pak Harsono sudah memberi waktu untuk istirahat. Dan sekarang, keduanya ingin pergi ke kantin.
"Bu, soto ayam dua ya."
Meisya memesan kepada ibu kantin, sementara Agatha mengambil dua botol teh rasa buah yang dingin dari counter minuman, dimana satu botolnya untuk Meisya. Mereka lalu duduk di salah satu bangku disana.
"Minum dulu, Sya.."
Tempat itu masih sepi, karena masih pukul delapan. Sementara jam istirahat pukul sepuluh. Dan hanya terdapat segelintir murid laki-laki yang nongkrong di pojok kantin, sambil merokok. Padahal ini melanggar peraturan sekolah.
Sampai Agatha melihat satu diantara mereka adalah Farel. Demikian Farel yang juga menyadari kehadirannya.
Agatha baru tahu, dia merokok.
Tapi buru-buru cewek itu memutus kontak mata diantara mereka, lalu menyudahi minumnya dan beralih fokus ke soto ayam yang baru saja diantar oleh si ibu kantin.
"Hmm.. enak banget," gumam Meisya dengan mulut bergoyang.
Hingga Farel tiba-tiba saja sudah menduduki satu kursi lain yang ada di meja itu--dengan aroma rokok di badannya yang sedikit tercium--dan menginterupsi Agatha yang handak menyuapkan satu sendok ke mulut.
"Abis olahraga ya?"
Sudah tahu nanya. Agatha lalu memutar bola matanya malas. "Lo ngapain duduk disini? Pergi sana! Gue gak suka bau rokok tau gak,"
Farel memang sudah membuang putung rokoknya yang tadi hanya tinggal sedikit, tapi tetap saja napasnya masih tercium rokok. Dan Agatha merasa terganggu olehnya.
"Lo kok masih marah-marah aja, sih, Tha? Padahal kemarin lo lembut. Apa masih kurang gue minta maafnya?"
"Gue minta lo pergi dari hadapan gue! Se.ka.rang!!"
"Gak."
"Pergi! Gue mau makan,"
"Makan ya tinggal makan aja kenapa sih? Repot banget,"
"Gue bilang pergi!"
"Engga."
"Pergi, Farel!!"
"Engga mau, Agatha-ku sayang."
Meisya hampir saja tersedak kala itu jika tidak buru-buru menyumpal bibirnya dengan botol minumnya lalu meneguk sedikit. Sayang? Mereka pacaran? Kenapa Agatha tidak memberitahu apa-apa? Dalam hatinya, Meisya bertanya-tanya.
Berbeda dengan Agatha yang dibuat pusing. Belum ada sehari Farel sudah dua kali memanggilnya sayang. Padahal Agatha sangat tidak suka dengan cowok perokok. Sama sekali itu tidak masuk ke dalam daftar kriteria cowok idamannya.
"Farel, lagian lo tuh ngapain sih bolos-bolos gak jelas gini? Mending elo balik ke kelas sana dan belajar yang bener, gak usah gangguin gue. Mana, kemarin katanya ngomong soal ngehargain orang, lo aja gak ngehargain guru lo ini, malah bolos. Emang lo gak kasian apa sama guru lo, udah belajar semaleman biar gak ngecewain murid-muridnya, mikirin metode belajar yang asik biar gak pada bosen muridnya, dateng ke sekolah pagi-pagi buat nyiapin materi, pas elu masih molor mungkin. Nah ini elo malah bol—"
"Kelas gue free, pak Wahyu guru Geografi gue lagi ada diklat."
Dan ceramah Agatha terasa hanya menguap saja. Membuat tawa Meisya tertahan saat melihat ekspresi wajah temannya itu yang seperti.. jangkrik bos! Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Agatha hanya mengerjap.
"Bodo amat lah! Pokonya sekarang, gue minta, dengan tidak mengurangi rasa hormat lo, elo pergi dari hadapan gue. Gue mohon.."
Sepelan mungkin, Agatha berusha berkata baik-baik. Tapi jawaban Farel masih tidak berubah seperti tadi.
"Engga."
Capek. Agatha memutar bola matanya. "Sebenernya mau lo tuh apa sih?! Lo ngilangin selera makan gue tau gak?"
"Ikut gue,"
Tanpa aba-aba, Farel sudah menarik Agatha dari tempat duduknya. Meisya yang melihatnya langsung melongo, ia ditinggal sendiri seperti jones?
"Farel! Lo apaan sih?!"
Farel mendorong Agatha ketika mereka sampai di gudang sekolah, yang letaknya paling belakang, pojok, sepi, banyak debu dan barang-barang tidak terpakai seperti; papan tulis, meja, kursi, dan lain-lain.
"Awhhh.."
Dan, cewek itu meringis kesakitan saat sebelah sikunya membentur meja yang permukaan kayunya tidak rata, sampai merobek sedikit kulit lengan Agatha dan mengeluarkan darah.
Perih, dan Farel tidak mengetahui. Justru sekarang cowok itu sudah berkilat-kilat matanya sambil berjongkok mendekati Agatha, yang menggigit bibir ketakutan.
"GUE TUH SAYANG SAMA ELO, THA!! GUE SENENG ELO BERSIKAP MANIS KAYA KEMARIN!! TAPI KENAPA SEKARANG ELO BERUBAH LAGI?!! KENAPA LO MASIH MARAH SAMA GUE PADAHAL GUE UDAH MINTA MAAF?!! SECUEK-CUEKNYA ELO SAMA GUE DULU TUH GAK GINI-GINI JUGA, THA!! DULU LO GAK PERNAH BENTAK-BENTAK GUE!! TAPI SEKARANG LO BEDA!! APA INI KARENA SAGA?!! ANAK BARU DI KELAS LO ITU?!! HAH?!! IYA?!! LO SUKA SAMA SAGA?!!"
Farel dengan sangat lantang berucap di dekat telinga Agatha. Sampai urat-urat lehernya keluar, mau putus, entah kesurupan dari mana.
Mendengar suaranya saja badan Agatha sampai menggigil, apalagi jika menatap mukanya. Agatha hanya bisa tertunduk dengan mata berkaca-kaca, sambil memegangi tangannya. Dan, darah kental itu terus keluar disana.
Tapi dia tadi menyebut Saga. Saga? Apa hubungannya dengan dia?
"JAWAB, THA!! LO PUNYA MULUT KAN?!!" dan Farel mencengkram erat kedua pundak Agatha sambil mengangkat dagunya.
Jantung Agatha sudah berpacu tidak karuan di dalam tubuhnya, namun kelopak mata itu hanya menutup selagi cairan di dalamnya berlomba-lomba keluar, dan membuat sungai kecil di wajahnya. Bibir itu pula ikut bergetar. Farel tidak tega melihatnya.
"Hikz,"
"Buka mata lo, Tha."
Entah, kali ini suara Farel melembut. Dan Agatha yang masih terisak hanya menurutinya, mata itu terbuka dengan perlahan dan ketakutan.
Farel goblok! Hatinya sendiri menyuarakan itu.
Tepat, cowok itu menatap Agatha dalam. Dan ada aura kecemburuan disana. Tapi Farel buru-buru menghapus air mata itu, dengan sesuatu dalam dada yang masih bergemuruh dan sesak melihat Agatha menangis tersedu-sedu.
"Gue cinta sama elo, Tha.."

Komentar Buku (33)

  • avatar
    intancadangan

    keren ka, aku suka sama cerita yang kaka buat kedua orang yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dengan segala cobaan, suka sama novel nya, kaka keren sii aku dulu ga suka novel jadi suka baca novel sekarang

    29/06/2025

      0
  • avatar
    FahriZul

    saya sangat suka

    05/07/2024

      0
  • avatar
    NgarsoDenbagus

    ceritanya bagus

    14/06/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru