27. Syok

Sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah Shaka. Susah payah Shaina memapah Shaka turun kemudian membawa masuk ke rumah itu. Berat, itu yang dirasakan oleh Shaina hingga beberapa kali langkahnya limbung nyaris ingin jatuh, belum lagi bau alkohol kental sekali melekat di badan Shaka membuat ia mabuk kepayang.
"Permisi .. tante Velia! Permisi!" Shaina berteriak kencang sambil mengetuk pintu bahkan sampai menggedor-gedor, tapi sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.
Ketika mendorong masuk, ternyata pintu tidak dikunci. Sudah tidak tahan mendengar Shaka melantur sejak tadi, terkadang senyum-senyum kegilaan dan tertawa sendiri, tanpa pikir panjang Shaina langsung membantu Shaka masuk. Saat itu juga ia sadar kalau rumah itu kosong.
"Argghh, akhirnya sampai juga.."
Benar-benar merepotkan, Shaina menghela napas lega setelah membanting badan Shaka ke tempat tidur king size di kamarnya. Shaina membenarkan posisi kaki besar itu kemudian melepaskan sepatunya ke lantai. Terhitung ini kedua kalinya Shaina menginjakkan kaki disana, tapi sekarang beda, Shaka berada di bawah alam sadarnya.
"Ya ampun, gimana nih, bonyok lo kemana lagi sih, Ka. Gak mungkin gue tinggalin lo pulang dalam keadaan kaya gini." Shaina terduduk di tepi kasur dengan gusar, agak miris saat menatap wajah tampan yang sudah teler itu.
Bingung apa yang harus dilakukan, Shaina berniat pergi ke dapur untuk mengambil minum namun tak disangka lengannya ditarik saat ingin bangkit. Mungkin cekalan terlalu kencang, dalam sekejap Shaina sudah menimpa dada bidang itu dan bertemu pandang dengan Shaka.
Deg!
"Bidadari cantik mau kemana, sih, buru-buru banget, temenin gue lebih lama lagi dong." ujar Shaka dengan suara serak-serak disertai kekehan yang mengerikan, bukan seperti Shaka biasanya. Sedikitpun Shaka tidak memberi celah untuk Shaina menghindar. Justru, Shaka membalikkan posisi dan Shaina tertindih di bawahnya.
"Kyaaaaaaaaaaaaaa-" jerit Shaina tertahan ketika Shaka menekan kedua tangannya di samping kepala. Ia lalu bergerak cepat meraup bibir Shaina tanpa ampun.
Benar-benar bahaya, panik. Shaina mendadak senam jantung, nyaris bola matanya ingin mencuat keluar melihat kelopak mata Shaka terpejam menciumnya. Pikiran Shaina terus meracau tidak karuan hingga tak sadar sweater-nya telah melayang ke sembarang arah.
"SHAKA! LO MAU APA!" Shaina memekik kencang ketika Shaka melucuti jaket dan kausnya hingga bertelanjang dada. Shaka menyambar lagi bibir Shaina dengan ganas membabi-buta, melumat dan menghadirkan rasa perih.
Tidak disangka akan menjadi seperti ini, bulir-bulir cairan lolos dari pelupuk mata Shaina. Beruntung, tak sengaja ia melihat segelas air putih di nakas. Shaina bergegas meraih gelas itu dan menumpahkan airnya membasahi wajah Shaka. Sempat lengah, Shaka menggeram kesal.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Shaina langsung mendorong Shaka hingga terhempas ke belakang. Lalu, dengan langkah seribu Shaina berlari keluar tapi naas-nya ia terpeleset dengan mengenaskan. Saat itu juga, gelak tawa menggelegar, dan terdengar lebih menyeramkan.
"Hei, gue bilang apa, kita seneng-seneng dulu."
"Shaka, sadar .." Shaina terisak-isak sambil mencengkram pergelangan kaki yang keseleo, sementara Shaka berjalan mendekat dengan senyum setan merekah di wajahnya, pun matanya tertutup oleh rambut yang acak-acakan.
Sekujur tubuh Shaina bergetar hebat ketika Shaka tiba-tiba sudah merengkuh wajahnya, namun Shaina hanya bisa menunduk tidak berani menatap. Bahunya terus berguncang seiring air mata berlomba-lomba turun.
"Jangan menangis, sayang, gue benci air mata itu." ujar Shaka mengintimidasi, lalu mengangkat paksa kedua pundak Shaina dan menuntun kembali ke tempat tidur. Shaina terus meronta-ronta dan melakukan perlawanan sebisa mungkin, meski tenaganya tidak cukup sebanding.
Berakhir tubuh Shaina terjerembab di kasur empuk itu, dan Shaka melepas kilat sabuknya penuh hawa nafsu.
"Gue mohon Shaka jangan! Aaaaaaaaa-"
Sebuah malapetaka untuk Shaina.
Pagi datang menjelma, berulang kali Shaka mengerjap saat cahaya silau mengusiknya. Perlahan menyesuaikan penglihatan, Shaka mendesah memegang kepala yang terasa pusing sekali. Sesaat mengedarkan pandangan ke sekitar, Shaka terbangun dan tatapannya terhenti pada seseorang yang kini meringkuk di bawah tempat tidur.
"Shaina .." gumam Shaka memanggilnya, tapi gadis itu tetap tak bergeming dari tempatnya, melainkan hanya menengok sedikit dan kembali menangis tersedu-sedu.
Ketika menyibakkan selimut itu, Shaka baru menyadari kalau tubuhnya tak terbalut apapun selain celana boxer. Beberapa helai pakaian justru berserakan di lantai. Pun, terdapat bekas kemerahan di bagian-bagian tubuh Shaka, seperti cakaran. Shaka turun dari tempat tidur dengan langkah limbung, sambil mencengkram sisi kepalanya.
"Ada apa-" persis, Shaina bergerak menjauh ketika Shaka mendekatinya. Raut wajah itu nampak ketakutan dengan derai air mata yang membuat sungai kecil di area pipinya.
"Ke-kenapa, lo bisa disini?" lanjut Shaka terbata-bata sekaligus kebingungan. "a-apa yang terjadi, Shaina?"
Tanpa sepatah kata terucap, Shaina memeluk lengannya sendiri dan mengalihkan perhatian keluar jendela. Hanya seutas tanktop hitam yang masih melekat, rambutnya berantakan, dan lututnya tertutupi oleh jaket Shaka.
"Shaina, gue engga melakukan apa-apa kan?" Shaka bertanya sembari mendaratkan tepukannya di pundak rapuh itu. "Bilang sama gue, gue beneran gak inget-"
"Hampir." tutur Shaina dengan suara parau.
"Hampir?" Shaka membeo setengah tak percaya.
"Lo hampir memperkosa gue." jelasnya.
Mendelik, Shaka terkesiap tak habis pikir.
"Lo itu mabok, Ka, niatnya gue mau peduli sama lo, tapi malah .." Shaina mengatupkan bibir rapat-rapat enggan melanjutkan kata-katanya, bersamaan dengan itu Shaka menghadapkan wajahnya hingga mereka bertatapan. Kentara sekali rasa bersalah dari tatapan teduh Shaka.
"Gue benci sama lo, Ka." kata Shaina kemudian.
"Tapi gue sama sekali engga sadar, Shaina, gue bahkan engga inget apa-apa selain .. di pub semalem. Setelahnya gue .." Shaka menggeleng lemah dan menjambak rambut frustasi, matanya memanas hingga berkaca-kaca, relung dadanya ikut sesak, dalam sekejap napas seakan tercekat.
Apa yang sudah ia perbuat dengan gadisnya?
Shaka beringsut di samping Shaina, lalu menyandarkan kepala pada tepi tempat tidur dan meluruskan kaki. Shaka memejamkan mata erat-erat, dan cairan bening penuh penyesalan berjatuhan menuruni di rahang kokohnya. Shaina melihat itu persis, namun ia memilih bungkam.
Hampir, rusak.
Siang yang cerah, Shaina menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di pinggir danau, tempat jadian dengan Shaka dulu. Shaina duduk di bangku semen di bawah pohon itu dan menikmati setiap terpaan angin sejuk yang menerbangkan rambutnya, dalam kebisuan.
Sejauh mata memandang, yang ada hanya kekosongan. Bayang-bayang kejadian itu masih menghantui pikiran, merandang di dalam hati hingga ke syaraf. Shaina tak tau lagi akan jadi apa kalau dirinya benar-benar kecolongan.
Karena, jika kasus ini diusut, mungkin kesalahan berada pada Shaina sendiri. Menjemput orang mabuk, sama saja dengan menggali lubang sendiri. Shaina memang tolol. Entah sudah berapa kali ia me-reject telepon dari Shaka, semua pesan masuk dari Shaka tidak mendapat respon.
"Awas jangan ngelamun, ntar kerasukan berabe."
Tiba-tiba suara bariton menyeletuk di belakang ketika Shaina sedang syahdu-syahdunya melihat air danau yang tenang, dan tak lama seorang cowok dengan jaket bomber biru dongker mengambil tempat di sebelah Shaina. Dia menyugar rambut, dan tersenyum tipis.
"Mas Adi kok bisa kesini?" Shaina tampak menyipit, sembari menyelipkan anak rambut dibalik telinga.
"Kenapa melamun? Sendirian lagi, ada masalah? Gue liat-liat dari jauh, wajah lo suntuk banget." tutur Adi disusul helaan napas, alih-alih menjawab pertanyaan Shaina tadi.
Pun, hanya gelengan kepala Adi dapatkan. Shaina kembali memperhatikan ke depan dan enggan berbicara apapun. Membuat Adi semakin yakin jika dia sedang ada masalah.
"Yah, maaf deh, kalo kedatangan gue mengganggu lo. Gue cuma mau balikin sesuatu, kok." ujar Adi lagi, lalu merogoh saku jaket dan menunjukkkan benda kecil di tangannya. "kemarin gue menemukan ini di mobil pas jalan pulang, mungkin aja lo merasa kehilangan, gitu?"
Shaina menggapainya dan menatap lekat-lekat setiap sisinya. Jepit rambut dengan hiasan boneka, pemberian Shaka waktu itu. Sebuah tanda mata yang sangat berarti bagi Shaina. Tidak sadar Shaina telah menjatuhannya.
"Makasih ya mas Adi, jauh-jauh kesini cuma ngasih ini." Shaina tersenyum sekilas ke arah Adi, dan lebih memilih untuk menyimpan jepit itu di saku dari pada memakainya.
"Iya, engga papa dek, gue juga lagi free kok." Adi melipat tangan di dada, menikmati desiran udara sekitar. "oiya, kalo misalnya lo emang ada masalah dan gak enak buat cerita sama orang, lo bisa kok sharing sama gue, tentang apa aja, masalah sama pacar atau masalah sekolah. Gue bisa menampung keluh kesah lo, ya itupun kalo lo mau."
Selalu saja, Adi bersikap baik kepada Shaina. Sehingga tak memungkiri hal itu berpotensi disalah-artikan olehnya, mungkinkah Adi ada tujuan lain? Kalau seperti ini terus-terusan, sulit untuk Shaina menjaga perasaan Shaka, yang ada mungkin Shaina dicap sebagai cewek murah.
"Mm, sebelumnya sori ya mas Adi, kayanya kita-"
"Engga terlalu deket, lo mau bilang itu? Ya ampun dek, perasaan lo pernah ngomong ini deh, dulu. Inget gak?"
Shaina hanya diam, dan diam berarti iya. Adi terkekeh sebentar, seakan mengerti jalan pikirnya. "Shaina, Shaina, iya, gue paham kok, lo pasti takut pacar lo cemburu kan?"
"Bukan gitu juga sih." gumam Shaina.
"Gue jelasin ya, gue begini bukan karena ada maksud apa-apa. Gue kenal deket sama mas lo udah lama, jadi engga salah dong kalo gue ingin berteman sama adeknya?"
Dalam konteks berteman memang tidak salah, tapi .. siapa yang bisa menebak isi hati orang? Batin Shaina.
"Yah, gatau lah mas gue lagi pusing."
"Kalo pusing minum bodrex dong."
"Terus dioplos sama big cola, mantap."
Lagi-lagi Adi dibuat tertawa. Entah, Shaina begitu lucu ketika sedang tidak mood. Bibirnya manyun seperti meminta dicium, dan Adi terlalu berharap untuk itu.
"Beneran pusing dek?" tanya Adi serius.
"Engga mas, cuma rada migrain."
"Yaudah, gue cariin bodrex ya?"
"Yang bodrexin aja deh kalo ada."
Adi tidak jadi pergi, malah terpingkal-pingkal.
Persetan dianggap seperti anak kemarin sore yang doyan bodrexin rasa jeruk, Shaina masih syok akan skandal yang terjadi semalam. Andaikan tidak menemukan pentungan maling di atas headboard tempat tidur Shaka, kemudian memukulkan di kepala Shaka sampai akhirnya pingsan, mungkin saat ini Shaina sudah digantung hidup-hidup oleh Naufal, atau bahkan dikutuk jadi batu oleh Kanaya.
Nyaris, diperawanin.

Komentar Buku (96)

  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    23/09/2025

      0
  • avatar
    ChanelTas

    aplikasi nya bagus

    11/07/2025

      0
  • avatar
    alaydruszuresh

    keren

    04/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru