Malam ini di kediaman Shaina. Meja makan besar itu sudah dipenuhi oleh lima orang. Andika berada di ujung, Kanaya dan Naufal bersebelahan, sementara di seberang ada Shaina dan juga Shaka. Belum sempat Shaka tadi berpamitan pulang, Kanaya memaksanya untuk dinner bersama. Sekaligus untuk mengenal Shaka lebih dekat. Di menit-menit awal, denting sendok dan piring keras sekali terdengar membawa kesan suasana hening amat kentara di ruangan itu. Namun lambat-laun nasi dan lauk di piring-piring mulai habis berpindah masuk perut, Andika sebagai tuan rumah membuka pembicaraan lebih dulu; "Orang tuamu bekerja dimana, Shaka?" kemungkinan itu pertanyaan paling mendasar dalam sebuah perkenalan. "Ayah saya pebisnis om, bergeraknya di bidang jasa. Dan ibu saya seorang konsultan hukum, dari saya masih kecil." Shaka menjawab setelah meneguk sedikit air putihnya. Persis. Baik Andika maupun Kanaya sempat terperangah begitu mendengar pekerjaan bunda Shaka. Keren sekali bergelut dalam dunia hukum. Pikir mereka. Dulu Shaina pernah mengatakan bahwa bunda Shaka juga langganan menjahit di tempat tante Jihan tapi Kanaya belum tau. "Ibumu namanya siapa sih, Shaka?" "Ibu saya? Namanya Velia, tante." "Ohhh, jeng Ve yang itu? Pantes." "Loh, tante kenal?" Shaka terkejut. "Engga terlalu, sih, tapi sering ketemu kalo ngejahitin baju. Kami juga suka ngerumpifikasi bareng lho, hehe." Lain halnya dengan Shaka yang terkekeh geli merespon pengakuan itu, Shaina memutar bola mata malas seraya menelan habis makanan di mulut. Kebiasaan emak-emak kalau sudah berkumpul pasti langsung ke pojok rumpi. "Lalu, hubunganmu dengan Shaina sudah sedekat apa?" Andika bertanya lagi, berbeda haluan dengan yang awal. Dan, kali ini Shaka dan Shaina saling melempar pandang. Apa harus berbohong atau jujur, meski sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa tapi Shaina hanya malu mengakui. Apalagi, mengingat mereka bisa jadian itu karena Shaina yang nembak Shaka duluan, alamat tak punya muka lagi. "Mereka tuh pacaran pah." Naufal menyambar kilat, intonasinya rendah tapi terasa bagai petir di telinga Shaina. Sungguh mulut ember, dari mana dia tau itu. "Sudah pacaran!?" Andika dan Kanaya sontak menyahut dengan kompaknya, lalu memandang ke arah Shaina dan Shaka bergantian. Namun dua sejoli itu hanya tertunduk menggaruk belakang kepala, lebih tepatnya lagi Shaina tersipu malu sedangkan Shaka tetap berusaha stay cool. "Mm .. memangnya salah ya, om tante? Shaina engga dibolehin?" tanya Shaka ragu-ragu. "kalo boleh saya bicara jujur, sebenarnya kami bisa jadian itu karena .." Nyaris Shaka mempermalukan Shaina di depan orang tuanya sendiri, kalau saja Shaina tidak segera memberi pelototan tajam yang disusul oleh celetukan Kanaya; "Kata siapa Shaina gak boleh pacaran? Boleh kok. Apalagi tante kenal sama mama kamu, Shaka, boleh banget dong, kalo perlu sampe kalian nikah. Tante bakal dukung terus!" Shaka dan Shaina melongo berjamaah. Pukul sembilan. Shaka sudah pulang ke rumahnya, Shaina naik ke kamar dan bersiap tidur. Tapi, rasa kantuk masih tidak kunjung datang selama Shaina terngiang-ngiang ucapan Kanaya, tak disangka wanita itu benar-benar memberikan lampu hijau. Shaina jadi senyum-senyum sendiri hingga tak lama ketukan terdengar di pintu dan Naufal langsung nyelonong masuk karena tidak dikunci. "Dek, lo masih mau manjat gak sih, si Adi nanyain lo terus nih." celetukan Naufal sejurus kemudian mengundang Shaina menyibakkan selimutnya dan lantas terbangun. "Apa? Mas Adi?" beo Shaina. "Iya, siang tadi tuh si Adi nungguin lo di gor, dan katanya lo gak bales chat dia." tutur Naufal sambil melipat kaki. Bagaimana mungkin Shaina masih sempat wall climbing bareng cowok lain, disaat Shaka sudah menjadi pacarnya. Jelas-jelas Shaina tidak mau, bisa akrab dengan Shaka itu bukan perkara mudah, mustahil kalau Shaina serakah dekat-dekat dengan Adi. Meski Adi tak kalah ganteng dari Shaka tetap saja hati Shaina sudah menetapkan pilihan. "Jangan mainin dia dong dek, gak enak gue jadinya nih. Masa cuma latian sekali doang langsung udahan gitu aja." Bukannya terlalu percaya diri, tapi kesan yang ditangkap oleh Shaina yaitu Adi sangat mengharapkannya. Entah. "Mas, ya lo ngerti lah kasusnya kaya gimana, kemarin gue pengen manjat karena Shaka. Tapi sekarang Shaka gak mau liat gue melakukan olahraga ekstrem itu. Yaudah kan apalagi." Shaina mencoba meluruskan pikiran Naufal. "Iya juga ya," gumam cowok itu. Bersamaan dengan itu ponsel Shaina bergetar. Adi : shaina manjat lagi dong Adi : dari awal ada lo tuh seru Tak salah lagi, Adi memang menginginkan Shaina. Dan, Naufal sempat curi-curi pandang melihat pesan di layar itu. Sebenarnya di sisi lain Shaina masih ingin memanjat tapi mau bagaimana pun ia harus menjaga hati Shaka. "Mas gak bilang gue udah punya pacar?" "Gak kepikiran." tukas Naufal cepat. Tolol. Kicauan burung menyapa hari minggu pagi yang cerah. Shaka keluar dari kamar mandi dengan balutan kaos oblong yang bagian lengan longgar sampai setengah dada, dan celana boxer. Begitu segar wajahnya, setelah dibuka lebar-lebar jendela kamar, Shaka terduduk sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. Ting! Ting! Ting! Sebuah suara terdengar tak lama kemudian. Seperti suara bel sepeda, benar saja ketika Shaka menurunkan handuknya tampak di bawah sudah ada Shaina yang melambaikan tangan dengan raut wajah berseri-seri. "Shaka!" panggilnya antusias. "Ngapain kesini!?" balas Shaka tak kalah kenceng. Seketika lekukan senyum luntur di bibir Shaina. Batinnya mengumpat kalau pertanyaan Shaka itu aneh sekali. "Maen yuk keluar!" "Males." Lagi, Shaina manyun. "Yaudah, turun dong!" "Mager." "Ihh, rese!" "Lo aja yang kesini." "Kemana?" "Ya, kesini." "Masa di kamar!?" "Hm." "Terus ngapain!?" "Gantung diri." "Ih, Shaka! Becanda terus sih!" "Emang maunya? Diseriusin?" Di atas sepeda itu Shaina terpaku. Dan Shaka terkekeh memperhatikan di kejauhan wajah manis itu tersipu dan samar-samar bibirnya mengerucut dengan garis-garis senyum yang sedikit tertahan. Lucu juga. Pikir Shaka. Setelah menginteruksi supaya menunggu, beberapa saat kemudian Shaka menghampiri Shaina yang terduduk di sebuah ayunan di pekarangan rumah. Shaina lantas menengok mendapati kursi ayunan di sebelah berderit, bersama datangnya aroma maskulin dan juga harum shampo yang merambat masuk dalam rongga hidung. "Rajin banget sih pagi-pagi udah apel." celetuk Shaka sambil melipat sebelah lututnya pada ayunan itu dengan posisi menyamping menghadap Shaina, sehingga ia bisa menyender pada rantai ayunan di belakang punggung. "Biarin dong, Ka, lain kali gue pengen dateng subuh aja deh biar bisa bangunin, hehe." "Bangunin siapa?" "Ya elo lah, masa adek lo." "Adek gue, maksudnya?" Mendadak kaki Shaina berhenti mengayun. Shaka menatapnya dengan kedua alis menyatu, sebelum akhirnya pandangan Shaka perlahan turun dan Shaina langsung ngeh. Sepersekian detik melongo dengan napas tertahan Shaina lalu menggeleng keras dan menggerakkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri. "Bu-bukan! Bukan itu maksud gue, Shaka! Ya ampun kenapa lo ngeres banget sih astaga!" Shaina mencak-mencak tak karuan persis seperti cacing kepanasan. "Ngeres dari mana-nya, ini ada daun jatuh." kata Shaka sambil mengangkat selembar daun kering yang sempat nyangsang di antara kakinya. "Emang lo pikir apaan?" "Hah!" Shaina cengo setengah mampus. Wajahnya kian memerah, Shaina mengalihkan pandangannya cepat. "Dasar, Naruto. Pasti ketularan sama-" "Udah lah, Ka, lupain." Tengsin sendiri. Shaina merogoh ponselnya di dalam tas selempang dan berkutat dengan sebuah permainan tembak-tembakan untuk menghindari tatapan intens oleh Shaka. Sempat mendengar kekehan kecil yang terkesan agak meledek, sebisa mungkin Shaina menyembunyikan senyumnya. "Shaina," "Hm." "Kenapa bisa suka sama gue?" Shaina sejenak mengerjap sebelum menekan id home pada ponselnya. Nada bicara Shaka yang kelewat serius mengundang kepala Shaina menoleh. Persis, pandangan Shaka hanya fokus kepadanya, sama sekali tak melihat ke arah lain selain manic mata yang mirip batu emerald itu. "Apa boleh gue tau alasannya, kenapa lo suka sama gue? Sepertinya gue belum pernah menanyakan hal ini ke elo." "Belum." Shaina lalu menarik napas dalam-dalam. "dan menurut gue pertanyaan lo itu gak ada jawabannya, Ka." "Kenapa begitu?" tanya Shaka. "Iya, karena emang cinta gak butuh alasan." "Kalau seandainya, gue gak akan pernah mau terima cinta lo, apa yang bakal lo lakuin? Apa lo bakal gila?" "Gue akan manjat tebing seperti yang lo katakan waktu itu, mungkin dengan itu hati lo bisa luluh meski sedikit." "Kalo engga?" timpal Shaka. "Palingan gue lompat dari atas tebing." Walau agak skeptis. Lanjut Shaina dalam hati. Dan Shaka tertawa kecil karenanya. Ternyata Shaina memang nekat. "Kalau seandainya lagi, gue bukan takdir lo?" Shaina terkesiap, batinnya mencelos bak paru-parunya menyempit. Apa maksud dibalik perkataan Shaka. Sama sekali Shaina tidak pernah membayangkan dirinya putus dengan Shaka. Dalam kurun waktu sebentar saja Shaina sudah menjatuhkan hati dengan Shaka, untuk melupakan itu pasti sulit, Shaina tidak akan sanggup jika terhianati. "Ka, jangan bilang lo cuma pura-pura cinta sama gue." "Bukan, cuma intermezzo aja kok, kita kan gak tau ke depannya hubungan ini bakal kaya gimana." kata Shaka. "Tapi kenapa lo menanyakan hal yang berandai-andai, kenapa gak yang pasti aja. Seperti gue, pastinya gue sayang lo dan sampai kapan pun gak akan berubah." "Hati orang bisa berubah, Shaina." "Tapi gue engga, Ka." "Jangan terlalu dalam mencintai orang, lo juga harus mencintai diri lo. Nanti lo susah move on kalo kita-" "Harus berapa kali sih gue bilang, gak usah kebanyakan mikir, Ka! Jalanin aja apa adanya! Simple-nya ibarat air yang mengalir! Ngerti gak sih hah!" Shaina menyela ucapan Shaka dengan penuh penakanan. Lama-lama Shaina naik tensi kalau Shaka bersikap seperti itu terus. "Kok jadi marah sih, gue kan ngomong baik-baik." dan, lagi-lagi Shaka tertawa geli. Seakan menganggap semua ucapannya tadi hanya sekedar lelucon garing belaka. "Bodo." Shaina memberengut kesal. "Yaudah, maaf." tutur Shaka lembut. "Jangan harap!" "Serius, gue gak bermaksud apa-apa." "Persetan!" "Beneran gue minta maaf." "Engga!" Shaina melipat tangan di bawah dada acuh. Dasar keras kepala. Batin Shaka. Sebelum akhirnya, "Nikah aja yuk."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seruuu
23/09/2025
0aplikasi nya bagus
11/07/2025
0keren
04/05/2025
0Lihat Semua