Aku mengedarkan pandanganku, kepalaku masih berat dan pusing. Entah siapa yang mengangkatku sehingga aku sudah berada di tempat tidurku. Ingatanku samar-samar mulai kembali, villa itu, Sandrina yang aku siram air dan … ooh Tuhan … apakah aku sudah mengatakannya? Apa aku sudah sempat mengatakan siapa ayah kandungnya pada Sandrina? Perlahan aku bangun dan tampak Rico masuk membawakan aku segelas air putih dan beberapa butir suplemen vitamin. “Tante sudah bangun rupanya, apa Tante ingin ke rumah sakit memeriksakan diri?” tanyanya sambil menyodorkan air minum. Aku mengambilnya dan meneguknya beberapa kali. “Tidak perlu, Co. Oh ya, kenapa bisa kamu ada di sini dan siapa yang membawa Tante ke kamar?” aku meletakkan gelas itu, sejuknya air putih yang ku minum memberiku sedikit rasa segar. “Budi mengabari Rico ketika Tante sudah menemukan Sandrina dan membawanya pulang jadi Rico kemari untuk melihat keadaannya. Pas Rico tiba Tante sudah pingsan di lantai, kasihan Nenek sampai panik.” Aku menghela nafas, aku merasa ini adalah hari paling buruk yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. “Sandrina, di mana anak itu?” aku tak tahu apa aku masih bisa menghadapinya dengan segala ouh … dengan setengah pengakuanku kepadanya. Aku merasa jika aku belum sempat mengatakan siapa Ariel atau Ben sebenarnya. “Dia masih ada di kamarnya. Hmmm … kalau boleh Rico tahu, apa yang sedang terjadi sebenarnya?” dengan hati-hati Rico mempertanyakan apa telah terjadi barusan. “Sandrina terlihat sangat syok, dia hanya diam saja tanpa merespon siapapun. Tante juga sampai pingsan begini, pasti ini adalah hal yang sangat besar. Jika Tante merasa berat dengan beban Tante, Rico siap membantu meringankannya, jika Tante bersedia.” “Kamu anak baik Rico, Tante masih bisa mengatasi ini, terima kasih atas tawaranmu, Nak. Namun, jika kau ingin membantu, mulai lah dari Sandrina, hibur dia atau lakukan apa saja agar dia bisa menerima kenyataan yang baru saja didengarnya.” “Kenyataan apa, Tante?” Rico menatapku dengan tanda tanya besar. Air mataku tidak terbendung lagi, luka lama itu kembali menganga dan hanya mas Andy yang tahu kebenarannya. Aku tidak yakin jika ayahnya Rico, pak Rudi tahu juga hal yang sebenarnya karena rahasia ini hanya mendiang bapak dan ibu Sanjaya yang tahu serta mas Andy. “Tante belum bisa cerita sekarang, mungkin nanti jika Sandrina sudah merasa lebih tenang. Temani dia ya Rico.” pintaku sambil menepuk punggung tangannya lembut. Rico mengangguk tanda setuju. “Jangan lupa minum vitaminnya yaa, Tante. Tante harus segera pulih.” Rico pun bangkit dari tempat duduknya, sebelum dia pergi dengan telaten tangannya memperbaiki selimutku. Hatiku semakin teriris mengingat kenyataan Sandrina malah memilih laki-laki bejat ketimbang anak baik di depanku ini. Kini bergantian ibuku yang masuk untuk melihatku dan Rico sempat membimbing ibu duduk ke tempat duduknya tadi sungguh perilaku anak yang berbakti, kemudian dia pamit dan menghilang di balik pintu. “Bagaimana keadaan San, Ibu?” aku memegangi ujung pelipisku yang masih berdenyut. Ibu hanya menghela napas panjang sambil menatapku prihatin. “Pastinya hal ini sulit untuk kalian berdua, tak mudah bagimu berterus terang kepadanya dan San juga tidak akan mudah untuk menerima kebenarannya.” suara ibu bergetar dan meraih jemariku sambil menggenggamnya erat. “Jadi Sandrina sudah tahu kebenarannya jika … Ben alias Ariel adalah ayah kandungnya?” tanyaku lagi tapi sungguh saat mengatakan itu aku tak mampu melihat ke arah ibuku. “jadi benar jika laki-laki itu yang sudah merudapaksamu sehingga hamil Sandrina? Apa bapak dan ibu Sanjaya tahu hal ini?” air mata ibu pun tak kuasa ditahannya hingga berlinangan. Aku mengangguk mengiyakan. “Mas Andy, suamiku juga tahu karena mereka bersaudara seayah beda ibu. Mas Andy sempat merasa bersalah sekian tahun karena di malam itu dia memintaku memeriksa tamu di kamar itu, dia tidak tahu jika tamu yang dimaksudnya adalah adiknya. Mas Andy sangat terpukul juga ketika tahu aku dirudapaksa adiknya sendiri.” Isak tangisku kembali pecah, kini bukan masa lalu yang ku tangisi tapi tanpa kehadiran mas Andy di saat seperti ini membuatku merasa sangat sangat lemah. “Jadi Ariel tidak tahu kalau kau hamil anaknya dan mengira jika Sandrina adalah anak dari mendiang pak Sanjaya? Ooh Tuhan … kisah hidup macam apa ini?” Ibuku ikut menangis dia memelukku dengan erat dan mengelus punggungku. “Hari ini adalah hari yang paling aku takutkan terjadi dalam hidupku, Bu. Hari dimana aku harus mengatakan kebenarannya pada Sandrina. Entah takdir ingi bermain seperti apa hingga harus mempertemukan Sandrina dan Ariel untuk saling mencintai. Rasanya aku mau mati saja, Buuu…” aku membalas pelukan ibu dengan erat dan tergugu dalam pelukannya. “Sudah Airin … sudahlah … kau harus kuat, Nak. Semua sudah terjadi dan paling tidak semuanya belum terlambat. Sandrina juga tahu ini lebih awal hingga hubungan mereka tidak semakin jauh.” Hibur ibuku yang berusaha menghentikan tangisnya sendiri. “Biar ibu yang bicara pelan-pelan dengan Sandrina, dia akan paham dan mengerti semua ini. Sebenarnya dia anak yang baik, hanya saja dia merasa kurang kasih sayang darimu. Semuanya akan baik-baik saja, Airin, semuanya akan baik-baik saja.” Ibu melepas pelukannya dan mengusap kepalaku, merapikan rambutku dan menghapus air mataku. “Kau istirahatlah dulu, kita harus tenang menghadapi apa yang akan terjadi setelah ini. Apapun kemungkinan yang terjadi kau harus kuat yaa, Nak?” ibu mengusap bahuku dengan lembut. “Istirahatlah, jangan sampai kau harus dirawat lagi di rumah sakit. Ibu mau melihat Sandrina lagi.” Aku mengangguk, dan kembali berbaring. Ibu menyelimuti dan mengecup kepalaku kemudian keluar dari kamarku dengan pelan. “Aku merindukanmu, Mas. Cepatlah sadar, cepatlah pulih dan temani aku menghadapi semua ini. Kau pernah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku, aku menagih janjimu, Mas.” Mataku terpejam ku peluk bantal guling di depanku dengan sangat erat. Rasa rindu dan tak berdaya ini benar-benar menghujam jantungku.
Sandrina tidak keluar kamar dua hari ini sementara aku harus memaksakan diri ke kantor dan mengurusi pekerjaanku yang tertunda. Meskipun Rico memintaku untuk tetap beristirahat tapi aku tidak tega melihat anak itu bekerja keras sendirian. Kartika yang selama ini memegang cabang harus turun tangan membantu di hotel pusat untuk event itu. Aku mengabarkan pada kolegaku serta staf di hotel jika dia sedang jatuh sakit dan tidak bisa bekerja untuk sementara waktu. “Halo, Darwis, apa kau tetap mengawasi Ben seperti yang aku minta?” aku kembali menelpon laki-laki itu karena memang hanya dia yang bisa kuandalkan selama ini. “Iya, Nyonya. Dia bekerja seperti biasa dan kembali ke apartemennya. Menghadiri rapat dan sesekali mengontrol restorannya. Sikapnya sangat tenang dan tidak ada hal yang mencurigakan.” “Baiklah, tolong awasi jangan sampai dia mendekati Sandrina lagi. Perketat pengawasamu kalau perlu tambahkan beberapa orang untuk menjadi anak buahmu.” “Siap, Nyonya seperti yang Anda inginkan.” Budi mendengarkanku dengan seksama, dia pun semakin siaga akhir-akhir ini bahkan dia tidak menunggu di ruang khusus para sopir lagi tapi berjaga bersama security dekat dengan ruanganku. Aku tak tahu bagaimana reaksi Ariel jika dia sudah tahu tentang ini, dia tak mungkin menginginkan Sandrina lagi dan dia harus menebus rasa bersalahnya berkali-kali lipat. Ponselku bergetar dan sebuah pesan masuk dari Ariel. Aku mendengkus, dia seperti memiliki indra keenam, dimana aku memikirkannya dia pun seketika ada menghubungiku. [aku sudah membongkar muslihatmu, dan aku sudah bilang akan tetap menjadikan Sandrina bagian dari hidupku] Aku sangat gemas membaca pesannya itu, ingin rasanya aku banting saja ponselku ini. [bodoh! Kau memang laki-laki bodoh! Kau tidak sadar jika karma saat ini tengah bekerja padamu!] [apa maksudmu, Airin?] [maksudku adalah… SANDRINA MASIH BAGIAN DARI HIDUPMU KARENA SEBENARNYA DIA ADALAH PUTRI KANDUNGMU!] Aku tak dapat menahan diri lagi untuk mengatakan itu pada Ariel. Senyap. Tidak ada balasan, aku yakin saat ini Ariel sedang menjatuhkan ponselnya. Aku berharap dia terkena serangan jantung dan nyawanya tercabut seketika.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget
24/04/2022
0mantap
05/07
0mantap
23/12
0Lihat Semua